Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
tamu


__ADS_3

Setelah pertengkaran itu terjadi, saling menyalahkan dan saling menyudutkan, suasana unit apartemen itu menjadi dingin, sangat dingin. Tak ada lagi gelak tawa untuk saling membahagiakan atau saling sapa untuk akhirnya saling bercengkrama satu sama lainnya. Yang ada kini hanya diam satu sama lain, tak ada bicara dan tak ada sua. Keduanya masih keras kepala tak ada yang mau mengalah dan tak ada yang mau menepis segala ego untuk mengakhiri perang yang sebenarnya tak perlu terjadi itu.


Bel berbunyi saat Jingga tengah menyiapkan makanan untuk Andra yang saat ini tengah berada di dalam kamar yang mungkin sedang membersihkan diri, semalam ia tidur di sofa menghindari Jingga.


Setelah mematikan kompor, Jingga sedikit berlari membukakan pintu yang sedari tadi tak sabaran untuk di buka.


"ya, cari siapa..." ucap Jingga saat membukakan pintu.


Dan, bagai petir di siang bolong, seorang gadis sedang berdiri di ambang pintu, senyumnya merekah saat Jingga membukakan pintu yang lama ia buka itu.


"selamat siang, aku mencari Andra..." ucap gadis itu.


Jingga terkejut, bola matanya bulat sempurna. Gadis yang selama ini menjadi biang keladi pertengkarannya dengan Andra akhirnya menampakkan diri. Jingga tertegun melihat gadis cantik itu, tingginya standar tapi tubuhnya begitu indah sangat cantik.


"mbak..." tanya gadis itu.


"ohh ya maaf, silahkan masuk..." perintah Jingga.


Gadis yang baru datang masuk dengan sopan, sebenarnya unit ini tak asing baginya beberapa kali ia pernah datang ketempat ini bersama dengan ibunya, hanya untuk mengunjungi kakak laki lakinya karena takut berbuat yang tidak tidak.


Namun langkah kaki gadis itu berhenti saat ia menemukan sosok yang selama ini ia rindukan, bertahun tak jumpa membuat gejolak dihatinya meronta ingin berlari menghampiri kakak laki lakinya itu namun ia harus bisa menguasai diri, ia tak boleh melakukan itu, ia harus sabar sebelum bisa memeluk tubuh lelaki itu.


"kenapa kau datang ke tempat ku..." ucapan selamat datang yang tak ramah dari Andra.


Ucapan itu sukses membuat gadis itu mencengkram erat tali tas yang ia bawa seolah mencari pegangan akibat rasa sakit dari perkataan yang begitu menikam dari lelaki yang ia rindukan itu.


"jangan berkata seperti itu, nona ini baru datang, bersikaplah yang sopan..." ucap Jingga dengan wajah tak suka pada Andra. "nona silahkan duduk..." ramah Jingga mempersilahkan Freeya untuk duduk.


Freeya lebih menurut pada Jingga, yang dilihat Freeya saat itu adalah Jingga yang begitu ramah menyambut kedatangannya ditambah dengan benarnya ucapan Yudha yang mengatakan jika kakak iparnya itu memang cantik, meski tak memakai maka tapi Jingga tetap terlihat begitu menawan dengan baju rumahan yang ala kadarnya saja.


"nona tunggu sebentar biar aku buatkan minuman..." ucap Jingga.


Jingga berlalu menyisakan tamu yang datang itu yang masih memandangi Andra yang juga masih berdiri di tempat dengan wajah dan tatapan yang tak suka akan kedatangannya.


"apa kabar kak Andra...?" tanya Freeya. Gadis itu melengkungkan senyum, hatinya sangat bahagia akhirnya bisa melihat orang yang selama ini ia rindukan.


"ada apa kau datang ke sini..." Andra malah menjawabnya dengan perkataan yang membuat hati Freeya tercekik.


"aku, aku merindukan mu... jawab Freeya.


Jingga yang tak mendengar percakapan sebelumnya hanya mendengar ucapan Freeya yang merindukan Andra. Hati istri mana yang tak hancur bila ternyata ada seorang gadis yang merindukan keberadaan suaminya, sungguh hatinya terluka.

__ADS_1


"Andra duduklah, tak sopan bila hanya berdiri seperti itu..." ucap Jingga, meski hatinya bak ditusuk sembilu tapi tak ada cara lain yang bisa ia lakukan selain menutupi semuanya.


"tidak usah, aku sibuk..." Andra hendak melangkah.


"Andra ku mohon, duduklah, nona ini sudah jauh datang ke tempat ini untuk bertemu dengan mu..." ucap Jingga.


Freeya tersentuh, tak menyangka jika kakak iparnya begitu lembut tutur katanya, begitu penuh cinta pada Andra padahal yang ia lihat Andra begitu dingin, bahkan sangat dingin.


Andra menurut, akhirnya ia duduk di seberang Freeya duduk yang terhalang oleh meja yang terbuat dari kaca.


"nona silahkan nikmati cemilannya..." ucap Jingga, ia hendak mundur meninggalkan dua orang yang nampak seperti saling tak mengenal itu.


"duduk..." perintah Andra.


Tangannya berhasil menghentikan gerak Jingga hingga membuat Jingga berhenti melakukan niatnya untuk meninggalkan mereka berdua, ia hanya akan menjadi kambing conge melihat dua orang yang saling merindukan bertemu.


"tapi ada yang harus aku lakukan..." tolak Jingha


"kau tak bisa mendengarkan aku, duduk kataku..."


Jingga, kikuk rasanya ia malu bila harus berdebat dengan Andra dihadapan orang apalagi orang ini asing bagi Jingga. Akhirnya Jingga memilih untuk mengikuti keinginan Andra, duduk di samping Andra dan berhadapan dengan seorang gadis yang tadi ia berkata merindukan Andra, sungguh situasi ini sangat membuat Jingga merasa tercekik bahkan sampai sampai rasanya ia sulit menelan salivanya sendiri.


"aku, aku merindukan mu, sudah lama aku merindukan mu..." jawab Freeya.


Dan Jingga semakin sulit bernafas, dadanya sesak.


"itu saja, lebih baik kau pulang..." ucap Andra yang semakin terlihat menakutkan.


Freeya menggigit bibirnya sendiri, ternyata benar kata Yudha tak mudah meluluhkan hati Andra apalagi marahnya Andra pada dirinya telah lama terjadi, sifat keras kepala Andra memang menyebalkan.


"kau tak merindukan aku, sudah lama kita tak bertemu..." ucap Freeya masih dengan nada bicara yang terdengar lembut namun menusuk hati Jingga yang membuatnya semakin perih.


"kau pikir aku merindukan mu, setelah kau pergi saat kau tau aku marah, tidak sama sekali..." jawab Andra ketus. Pandangannya lurus kedepan melihat sinis gadis yang duduk dihadapannya.


Freeya diam, benar juga yang Andra katakan, dirinya terlalu percaya diri bila Andra merindukannya.


Disatu sisi asa hati yang semakin menjerit, Jingga meremas ujung bantal sofa yang ada di dekatnya, ia hanya bisa melakukan itu untuk menahan rasa sesak yang hinggap di hatinya.


"kau belum bisa memaafkan aku...?"


"tidak..."

__ADS_1


"apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan aku..."


"aku tidak tau, pulanglah aku tak suka kau disini..."


Freeya terbelalak ia tak habis pikir ternyata sebenci itu kakaknya terhadap dirinya, rasa marah yang muncul saat itu ternyata membawa efek yang luar biasa pada Andra hari ini.


"kau mengusir ku...?"


"ya, ini tempat ku, aku bebas melakukan apa pun..."


Andra beranjak dari duduknya, sudah berdiri dengan angkuh dan tatapan tak suka pada Freeya. Saat beberapa langkah Andra berjalan tiba tiba Freeya menahannya dengan kata kata yang sangat memilukan.


"kak Andra, kau tau seberapa menderita aku selama ini, aku tau aku salah karena telah pergi saat kau marah, tak mendatangi mu saat aku hendak pergi tapi ini semua impian ku kak, ibu pun setuju dengan apa yang menjadi keputusan ku..." ungkap Freeya.


"kau pikir ibu membiarkan mu pergi karena setuju dengan semua yang kau mau, sadar Freeya saat itu harusnya kau tau seberapa terpuruknya ibu setelah ayah tiada, ibu memerlukan mu untuk menemani hari harinya yang berat tapi kau malah meminta pergi begitu..." ujar Andra dengan nada marah.


Pembicaraan mereka berdua membuat Jingga bingung, ada kata ayah dan ibu serta panggilan kakak yang Jingga dengar. Jingga semakin bingung dengan apa yang terjadi saat ini, pertengkaran antara dua orang yang sangat membuatnya pusing.


"kak Andra tau itu semua impian ku..." bela Freeya.


"tapi saat itu bukan waktu yang tepat Freeya..."


"kau pergi saat kau tau semua orang tengah saling menguatkan tapi apa yang kau lakukan hah..." Andra berbicara setengah berteriak.


Freeya menunduk.


Jingga semakin bingung 'Freeya, diakah gadis yang mengirim bunga itu...' batin Jingga.


Freeya lalu menatap Jingga.


"kakak ipar, tolong aku...."


.


.


.


.


¤¤¤¤¤

__ADS_1


__ADS_2