
Jingga beranjak, meninggalkan Andra dan masuk kamar mandi, disana Jingga termenung membayangkan adegan semalam yang diawali dengan tingkah konyol dirinya yang seolah memancing Andra, memancing beruang yang sedang tidur dan ia rela menjadi korbannya dengan suka rela.
Betapa kagetnya Jingga saat membuka balutan handuk yang tadi menutupi dirinya, ada banyak sekali noda merah hampir keunguan di beberapa bagian dada dan beberapa di lehernya, Jingga mendungus kesal karena ia tau jika semua itu adalah ulah dari Andra.
Setelah beberapa saat di kamar mandi...
"Andra..." ucap Jingga, gadis itu sudah berdiri di dekat kursi yang Andra duduki dengan kondisi yang sangat menggoda, satu kain mengikat dirinya juga kondisi rambut yang masih setengah basah.
Andra berbalik, merespon panggilan Jingga terhadap dirinya, lagi lagi ia terperangah melihat kondisi gadis yang sudah tak perawan itu yang seolah siap diterkam lagi oleh dirinya.
"Andra, malah melamun..." Jingga kesal karena Andra hanya menatap dirinya dengan kondisi yang sangat meresahkan seperti itu.
"ehh maaf maaf, wah kau menggoda ku..." ucap Andra malah balik menggoda Jingga yang memang sangat menggoda itu, handuk yang hanya sebatas paha sangat memperlihatkan kaki panjang Jingga yang sangat indah, di tambah dengan kulit bersih yang ia miliki.
"aku tak menggoda mu Andra..."
"lalu...?"
"tak ada yang bisa aku pakai selain ini..." ucap Jingga, perempuan itu melihat baju yang ia kenakan kemarin sudah basah di lantai kamar mandi, beserta pakaian yang juga di kenakan oleh Andra kemarin, perbuatan mereka semalam sampai melupakan pakaian.
"pakai itu saja, aku suka melihatnya..." ucap Andra sambil mendekati Jingga, lalu memberikan sebuah paper bag berukuran agak besar.
"apa ini...?" tanya Jingga sambil menyambut pemberian Andra.
"baju mu, apa lagi, apa kau nyaman menggunakan handuk itu agar aku tergoda...?" entah sejak kapan Andra begitu nyaman menggodai Jingga.
"baju ku, kau dapat dari mana...?" tanya Jingga sambil mengeluarkan isiannya yang ternyata lengkap, dari pakaian dalam hingga bagian intimnya pun ada.
"tentu aku mempersiapkannya..."
"maksud mu...?"
Andra tersenyum melihat Jingga yang mengerutkan dahi tak mengerti atas perkataannya Jingga.
__ADS_1
"maafkan aku, semua ini sudah aku rencana kan..."
"kau menjebak ku...?"
"ya, aku menjebakmu, maafkan aku, aku sudah tak sanggup menahan, sejumlah sekamar dengan mu sangat menyiksaku..." ucap Andra penuh penyesalan, kata katanya berat seumpama membawa beban karena telah membohongi istrinya sendiri.
"aku tidak melakukan apapun, kenapa kau merasa tersiksa...?" ucap Jingga, entah bodoh atau memang tak tau ia mengatakan itu dihadapan laki laki yang jelas jelas normal yang pasti akan menuntut bila bersama dengan wanita, apalagi mereka telah boleh melakukan hal yang di haramkan bagi yang belum menikah.
"Jingga, kau ini bodoh atau apa hah, aku ini normal mana mungkin aku bisa tahan melihat mu yang selalu menggodaku, melihatmu menggigit bibir mu membuatku ingin ********** habis..." jelas Andra, laki laki itu sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk menjelaskan pada Jingga, ia benar benar tak habis pikir dengan sikap Jingga yang benar benar lurus itu.
"menggigit bibir saja aku terlihat menggoda, benarkah...?" tanya Jingga dengan masih bermuka polos tanpa beban, malah ia menggigit bibirnya yang telah menjadi kebiasaannya sejak lama dan ia tak sadar bila itu ternyata sangat menggoda.
"ah Jingga kau benar benar menguji ku, kemarilah mari kita lakukan lagi supaya kau tau bahwa kau sangat membuat ku tergoda..." ucap Andra seolah tak tahan melihat perempuan yang berada di hadapannya itu terus saja bersikap polos tanpa memperdulikan keadaan dirinya yang kini justru terbakar gejolak untuk menerkam gadis itu.
"aku tak menguji mu, aku hanya mencontohkan saja Andra tidak bermaksud menggoda mu..." ketus Jingga menjawab suaminya itu, ia benar benar tak habis pikir bagaimana mungkin laki laki itu bisa tergoda dengan hanya gigitan bibir saja.
"ah sudahlah kau memang bodoh, cepat gunakan pakaian mu lalu lekas pulang..." perintah Andra pada Jingga yang masih saja mempraktekan apa yang membuat Andra tak bisa menahan diri terhadap dirinya, rupanya bodoh dan polos itu beda tipis.
Beberapa saat Jingga berganti pakaian dan keluar telah menggunakan baju yang ada di dalam paper bag itu, hanya kaos polos berwarna hitam dengan celana jeans panjang berwarna biru gelap namun meski begitu sungguh kontras dengan warna kulit Jingga yang bersih membuat Andra terkesima melihatnya.
Jangan ditanya bagaimana reaksi Andra, tentu saja terpesona. Sikap polosnya Jingga, apa adanya ia hingga sederhana gadis itu membuat Andra sedikit demi sedikit mulai memakai hati saat berhubungan dengan Jingga.
"cantik..." ucap Andra saat melihat Jingga keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap meski sebenarnya ia masih ingin menerkam gadis itu namun melihat kondisi yang tak memungkinkan ia harus menahannya.
"apa, coba ulangi..." kata Jingga, gadis itu berjalan menuju suaminya yang masih termangu menatap dirinya yang baru keluar dari kamar mandi.
"ah sudah lupakan..." Andra tak mau mengulang, tentu gengsi baginya.
Jingga lalu tersenyum, ia tau betul bagaimana sikap Andra pasti laki laki itu akan tidak mau mengulang perkataannya barusan.
Tak mau memperpanjang urusan ucapan Andra kini perhatian Jingga beralih pada rambut Andra yang terlihat basah, lalu gadis itu menuntun Andra untuk duduk di kursi dekat jendela besar di kamar itu.
"duduklah..." ucap Jingga mempersilahkan suaminya duduk, lalu ia beralih mengambil handuk lalu mengeringkan rambut suaminya.
__ADS_1
Awalnya Andra bertanya tanya dengan sikap Jingga, namun saat Jingga mengeringkan rambutnya dengan handuk membuat Andra mengerti apa maksud dari Jingga. Dengan lembut Jingga melakukannya, sesekali memberi sensasi pijatan di kepala Andra dan membuat Andra nyaman. Lama Jingga melakukan itu, hingga tangan itu berhenti melakukan gerakan itu yang membuat mata Andra yang tadinya terpejam langsung terbuka.
"kenapa...?" tanya Andra seolah ia tak ingin Jingga melakukan hal itu.
"sudah selesai, rambut mu sudah lumayan kering..." jawab Jingga, gadis itu manis sekali tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
Jingga hendak pergi tiba tiba tangannya di cegah oleh Andra dan membuat dirinya kembali berbalik.
"kenapa...?" tanya Jingga.
Dengan satu langkah Andra berdiri dan memeluk tubuh Jingga yang saat itu malah diam mematung. Andra mendekap erat tubuh ramping Jingga, tak peduli dengan respon Jingga yang saat itu masih terkeget karena ulahnya yang tiba tiba.
"Andra..." ucap Jingga memecah keheningan yang terjadi.
"diamlah, aku ingin memeluk mu sebentar saja..." kata Andra, ia semakin mempererat pelukannya sampai sampai ia lupa jika Jingga juga butuh bernafas.
Melihat sikap Andra yang sedikit aneh untuk Jingga mau tak mau Jingga harus membiarkan laki laki itu melakukan hal yang ia ingin, pelukan darinya mungkin bisa membuat Andra nyaman saat ini, tangan Jingga memberikan sentuhan di punggung Andra seolah memberikan dukungan pada laki laki yang kini memeluknya erat.
Sesaat kemudian pelukan itu lepas, Jingga kemudian bisa menarik nafas panjang setelah tadi ia sedikit sesak karena Andra memeluknya begitu erat. Jingga menyambut senyum manis dari Andra yang terlihat sedikit tenang setelah memeluknya barusan. Dan adegan selanjutnya bukan hanya nafasnya yang akan sesak tapi jantungnya juga yang akan berdetak tak karuan karena detik berikutnya bibir mungil milik Jingga telah di kuasai oleh Andra, memberikan sentuhan sentuhan yang membuat Jingga merona malu karena kelakuan Andra. Kecupan kecupan itu begitu lembut, tak ada tuntutan namun gerakan itu sangat penuh kasih sayang.
Jingga menjadi orang yang pertama terhanyut oleh perlakuan itu, gadis manis itu menutup matanya seolah menikmati apa yang Andra lakukan padahal tadi ia hendak melawan karena tak ingin mandi lagi. Sentuhan itu cukup lama, Andra sangat pintar membuat Jingga tak berdaya, terbukti kini gadis itu telah mengalungkan kedua tangannya di leher Andra.
Setelah beberapa saat ciuman itu terlepas dan Jingga menjadi orang yang paling tak mau ciuman itu terlepas terlihat dari bibirnya yang seolah ingin menangkap lagi bibir Andra yang menjauh, melihat itu justru membuat Andra senang, gadis yang kini tengah bersamanya kini sudah candu padanya. Jingga mulai sadar, gurat malu tergambar di wajahnya, melihat Andra yang tersenyum menang sungguh membuatnya ingin bersembunyi di kolong bumi.
"terima kasih..." ucap Andra sesaat setelah membiarkan Jingga tenggelam dengan malunya, menyelamatkan diri gadis itu agar tidak merasa jadi pihak yang paling menyedihkan.
Ibu jari Andra mengelus lembut bibir Jingga yang terlihat dan terasa basah setelah ciuman manis namun singkat tadi, Jingga tersipu lalu memandang Andra yang masih tersenyum padanya, pandangan mereka bertemu membuat suasana berubah menjadi hangat saat itu.
.
..
☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1