Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
obrolan dua perempuan


__ADS_3

Percobaan pertama Jingga untuk mempersatukan kembali Andra dan Freeya gagal, saat tadi di butik milik Freeya tak disangka Andra malah meninggalkan tempat itu bahkan tanpa menunggu Jingga.


Terlihat wajah Freeya yang sedikit kecewa atas sikap kakaknya itu, tapi Freeya cukup dewasa dengan itu semua karena ia sudah paham dengan sikap keras kepala kakaknya itu.


Andra sudah jauh entah kemana sedangkan Jingga masih bersama Freeya di butik milik gadis cantik itu.


"maafkan aku yang belum berhasil mempersatukan kalian lagi..." ucap Jingga, saat itu mereka memilih duduk di kursi yang sengaja di sediakan di depan butik itu.


"kak Jingga kenapa bicara seperti itu..."


"aku hanya merasa gagal, aku terlalu berharap pada Andra, aku kira ia akan menepati janjinya..."


"janji...?"


"ya janji, kemarin aku berhasil membujuk Andra untuk datang ke sini menemui mu, meski Andra memberikan beberapa syarat..."


Kemudian Jingga menceritakan semua kejadian semalam, termasuk syarat dua anak yang mendapat respon gelak tawa dari Freeya, bukan karena apa tapi itu semua justru terdengar seperti lelucon karena dari semua syarat semua lebih terdengar seperti kata kunci untuk tidak pergi.


"kak, harusnya aku yang berterima kasih, kakak sudah bisa membawa kak Andra ke tempat ini, kakak tau dia belum pernah datang ke sini sekalipun..." jelas Freeya. Gadis itu menunduk, menahan air mata yang hendak jatuh dari matanya.


"benarkah...?"


"ya, kak Andra belum pernah datang ke sini sekalipun, tempat ini memang ibu yang memberikannya untukku, katanya sebagai hadiah atas semua yang telah aku capai..."


"ini semua pantas untuk mu Freey, kau cantik pintar juga baik, ibu pasti bahagia memiliki putri seperti mu..." puji Jingga.

__ADS_1


Freeya tersenyum, memang benar apa yang di katakan oleh Jingga, semua ini adalah buah kerja keras yang selama ini Jingga lakukan, belajar dengan sungguh sungguh sebagai pelarian dari semua kesedihan yang membelenggunya selama ini, kehilangan ayah lalu kehilangan kakak sulungnya yang dulu sangat menyayanginya itu semua bukan perihal mudah untuk di lewati, butuh kekuatan hati untuk menjalaninya.


"kak Jingga, aku ingin bercerita, apa kak Jingga mau mendengarnya...? tanya Freeya.


Jingga tersenyum dan mengangguk mengiyakan keinginan adik iparnya itu, saat itu memang sudah nanggung juga karena Andra sudah pergi begitu saja jadi lebih baik Jingga membiarkan Andra untuk pergi sekalian, mudah mudahan di jalan ada malaikat yang membuat Andra sadar bahwa semua yang ia lakukan tadi itu salah.


"dengan senang hati aku akan mendengarkannya..."


Senyum Jingga di balas oleh Freeya. Gadis cantik membenarkan posisi duduknya, mendekat pada Jingga seolah tak mau jauh dari kakak iparnya itu, ternyata benar memiliki kakak ipar yang mengerti itu memang sangat menyenangkan.


"aku sayang sekali pada kak Andra..."


Ucapan Freeya tak membuat Jingga cemburu, ia malah memaklumi jika perasaan itu dimiliki oleh Freeya, memiliki seorang kakak yang pengertian merupakan impian semua adik di dunia.


"tapi sayang sekali sekarang aku kehilangan kakakku itu..."


"tidak Freey, kau tidak kehilangan Andra sama sekali, semua ini hanya masalah waktu, karena aku yakin cepat atau lambat Andra akan menyadari semua ini..." ucap Jingga seolah tak mau adiknya itu bersedih atas semua kesalahan masa lalu yang terjadi.


Sejenak suasana hening, memang ruko tempat Freeya itu sedikit jauh dari ramainya jalanan kota, letaknya berada di deretan toko toko yang sepertinya sudah memiliki pelanggan tetap, cenderung tenang.


"kak Jingga, sebenarnya dulu aku tak ingin pergi, aku ingin menemani ibu saat beliau sedang sedih sedihnya di tinggal ayah, aku ingin bersama dengan kak Andra saat ia sangat terlihat begitu stres dengan apa yang ayah tinggalkan..." cerita Freeya.


Jingga terperanjat, cerita ini belum pernah ia dengar dari siapapun dan ia yakin jika Andra tak tau tentang ini semua.


"saat aku tengah meyakinkan ibu untuk tidak mengirimkan aku ke luar negri saat itu pula aku harus melihat kak Andra membenci aku, karena pasti versi kak Andra akulah yang ingin pergi ke luar negri..." sambung Freeya.

__ADS_1


"aku nyaris bunuh diri karena tak siap dengan semuanya, aku bingung dan aku butuh pegangan, aku tak tau harus bercerita pada siapa, kak Andra yang sebelum ayah pergi selalu ada untukku berubah menjadi sibuk sesibuk sibuknya karena terjadi pengalihan kekuasaan yang awalnya atas nama ayah. Aku buntu kak, aku tak tau harus bagaimana..."


Sejenak Jingga melihat Freeya yang terisak, mengingat kembali masa lalu yang kelam bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi ada luka yang sangat dalam disana, luka yang selamanya akan terukir bahkan terpatri.


Jingga mencoba menenangkan adik iparnya itu, ia yang sejak kecil ditinggal orang tua, tak tau bagaimana wajahnya, tak tau bagaimana kasih sayang dari orang tua hanya bisa tersenyum nanar, ia tak bisa menyamakan kisah hidupnya dengan Freeya karena bagaimana pun kisah mereka berbeda, tak mungkin juga Jingga menceritakan kisah hidupnya karena itu bukan hal yang baik di lakukan, keadaannya belum memungkinkan.


"akhirnya aku menuruti keinginan ibuku, di kirim keluar negri dan meninggalkan kak Andra yang pasti sedang marah marahnya padaku, tapi mau bagaimana lagi aku seolah tak punya kekuatan saat itu untuk menolak keinginan ibu, karena di sana pun aku menjalani pengobatan agar aku tak semakin stres dan menjadi gila karena keadaan yang belum siap aku terima..."


Soal kehilangan memang tak akan ada yang siap kehilangan, tak ada pelatihan untuk menyiapkan mental untuk ditinggalkan oleh orang kesayangan, tapi semua harus terjadi, meninggalkan dan ditinggalkan memang harus memiliki mental baja untuk menjalaninya.


Freeya menceritakan semuanya, saat ia pergi meninggalkan Andra, bagaimana keadaan Andra saat ditinggal ayah hingga sesuatu yang belum Jingga tau pun di ceritakan oleh Freeya.


Dua perempuan itu saling paham dan mencoba saling memahami, satu sama lain mendapatkan tempat untuk tau dan tempat untuk bercerita. Terutama Jingga, ia jadi tau sisi lain dari suaminya, meski cenderung kasar tapi semua itu beralasan meski tak ada hubungannya dengan Jingga tapi semua itu hanya karena waktu. Suatu saat Andra pasti paham bahwa keadaan mungkin kejam tapi pelajaran yang bisa di ambil cukup mendewasakan.


Sekali lagi, kehilangan mampu membuat seseorang menjadi berubah, keluar dari zona nyamannya selama ini butuh penyesuaian yang harus dilakukan secara sabar dan ekstra, terlebih menjadi kakak dan ayah juga jadi patner bisnis yang tepat untuk ibunya di dunia yang harus ia jalani kini bukan hal yang mudah.


"tolong jaga kak Andra, sayangi dia cintai dia, seandainya aku tak bisa lagi memeluk kak Andra sedikitnya aku bisa tenang karena kak Andra sudah memiliki kak Jingga.


.


.


.


.

__ADS_1


&&&&&


__ADS_2