
Saat matahari semakin meninggi pasangan sejoli itu meninggalkan hotel, mobil yang dikemudikan oleh Andra membelah jalanan yang terlihat sangat gersang meski angin bertiup sepoy sepoy. Dibeberapa titik terjadi kemacetan yang cukup menyita waktu perjalanan mereka maklum saja hari ini hari dimana banyak orang pergi keluar rumah untuk sekedar berkeliling kota bersama keluarga.
Sepanjang perjalanan mereka terlihat sangat bahagia, seperti sedang menikmati masa masa pasangan pengantin baru yang tertunda. Bercanda dan tertawa menikmati perjalanan yang terasa sangat indah meski berkali-kali terhalang oleh kemacetan.
Memakan waktu lama untuk sampai di papiliun, namun begitu sampai di tempat yang dituju ada sebuah pemandangan yang tak biasa, sebuah mobil asing terparkir di pelatara papiliun itu.
"mobil siapa itu...?" tanya Jingga pada Andra yang mendapat gelengan kepala dari laki laki itu, mobil itu asing baginya, bukan milik ibunya atau pun mobil Raga, papiliun itu di kunci dan kuncinya ada padanya saat ini.
"entahlah, mungkin ibu..." jawab Andra menebak asal.
Mereka turun dari mobil itu dan melangkah masuk kedalam bangunan mungil itu, membuka pintu dan mendapatkan sebuah kejutan yang sangat diluar dugaan.
Seorang laki laki tengah duduk di kursi sofa dengan posisi membelakangi mereka yang baru datang, laki laki itu terlihat santai dan tak terisak dengan kedatangan yang punya rumah.
"kau...?" ucap Andra, sesaat kemudian laki laki yang terlihat berperawakan berisi dengan rambut tercukur rapi dari belakang.
Namun sebelum laki laki itu membalikan badannya tiba tiba satu rasa di dada Jingga bergejolak seakan hendak bertemu dengan seseorang yang telah lama tak bertemu, dadanya seakan bergemuruh saat sedikit demi sedikit wajah seseorang itu mulai menghadap kepadanya juga Andra.
"kak Andra..." ucap seseorang itu sambil tersenyum penuh sayang pada Andra yang ia sebut dengan kakak.
Seketika jantung Jingga terasa terhenti, saat laki laki itu sempurna memperlihatkan wajahnya, suara dan wajahnya sangat ia kenal bahkan mungkin Jingga masih hafal meski sudah lama tak jumpa.
"Yuda..." ucap Andra.
Deg, sesaat dunia terasa mencekik Jingga, tak memberinya sedikit pun oksigen untuk bernafas barang sedikit, Andra tersenyum menyapa laki laki itu. Ya laki laki yang di hadapan Jingga kini adalah Riza, seseorang yang pernah bersamanya di masa lalu.
Ya, Riza yang Jingga kenal adalah Yuda, Yuda Riza Rahardian, ia adalah adik laki laki Andra. Selama ini ia tak pernah tau jika inisial Y di name tag Riza dahulu adalah Yuda dan R untuk Rahardian, dulu baginya itu tidak penting mengingat tak ada tulus berteman dengannya dulu jadi saat Riza atau Yuda mendekatinya untuk berteman Jingga tak ambil pusing dengan namanya, toh nama hanyalah sebuah nama tak ada yang spesial.
__ADS_1
"kapan kau datang ke rumah ku, kenapa kau tak izin dulu padaku...?" pertanyaan Andra bertubi tubi pada adiknya itu, bila dilihat wajah mereka agak mirip hanya saja potongan rambut mereka yang berbeda serta bola mata Andra yang lebih tajam dibanding dengan Riza atau Yuda yang terlihat teduh saat orang memandangnya.
"kakak ku sayang, aku baru saja sampai, ibu menyuruhku datang kesini karena beliau bilang aku harus memberi selamat padamu atas pernikahan mu dan ibu juga yang memberi aku kunci rumah ini, rumahnya nyaman aku suka..." panjang kali lebar Yuda menjawab pertanyaan Andra.
Sedang Jingga masih tak percaya dengan takdir Tuhan saat ini, seolah Tuhan sedang mempermainkan dirinya atas dua laki laki yang pernah dan sedang membuat dirinya nyaman. Ia melihat sorot mata penuh kasih dari Yuda untuk Andra meski Andra membalasnya dengan tatapan yang datar bahkan cenderung biasa saja.
"wah, ini kakak ipar ku, hai kakak apa kabar, namaku Yuda Rriizzaa Rahardian..." ucap Yuda, ia melempar tangan untuk berjabatan dengan Jingga, perkataan penuh penekanan terdengar jelas dari Yuda terlebih saat melihat dirinya Jingga terlihat pucat pasi seolah melihat makhluk dari dunia lain.
"hai adik ipar, namaku Jingga, senang bertemu dengan mu..." sambut Jingga, ia meraih tangan Yuda meski perasaannya campur aduk saat itu. Namun ia tak akan bisa untuk berbuat banyak kini keadaannya berbeda, Andra adalah kakak dari Yudha, sepantasnya jika Jingga harus bisa berlagak seperti biasa saja saat bertemu dengan Yudha saat ini terlebih baru semalam sepenuhnya Jingga termiliki oleh Andra.
"pantas saja kak Andra mau menikah dengan mu kakak, ternyata cantik sekali rupanya, aku menyesal tidak menyetujui untuk menikah dengan mu dulu..." ucap Yudha sambil tersenyum iblis di hadapan Jingga, jabatan tangan mereka belum lepas sebelum akhirnya Andra yang melepaskan jabatan tangan mereka.
"tentu saja kau menyesal, ternyata gadis yang awalnya akan dinikahkan pada mu ternyata sangat cantik dan kini jadi milik ku dan kau jangan coba coba mengambilnya..." timpal Andra tak mau kalah.
Dulu sebelum Andra akhirnya berjanji di hadapan Tuhan bersama Jingga, ibunya menawarkan tawaran itu pada Yudha namun mentah mentah Yudha menolaknya dengan alasan masih ingin berkonsentrasi dengan studi yang sedang ia tempuh, apa lagi tak tanggung tanggung Yudha mengambil studi dokter spesialis jantung, namun sepertinya Yudha menyesali perbuatannya itu saat tau jika gadis yang akan dinikahkan padanya secantik Jingga.
"jaga omongan mu Yudha..." ucap Andra dengan emosi yang sedikit naik.
"Andra..." Jingga menggelengkan kepala memberikan isyarat pada Andra untuk tidak terpancing emosi terhadap Yudha.
Akhirnya Jingga dan Andra meninggalkan Yudha, meski perasaan Andra masih kesal oleh tingkah Yudha yang sedikit keterlaluan terhadapnya.
Dilain sisi Jingga merasa sedikit merasakan sesuatu yang tak nyaman dari hatinya, dulu ia memang mengharapkan Riza untuk bisa bersamanya namun saat Jingga berharap Riza malah pergi begitu saja tanpa kabar setelah ia berjanji untuk selalu bersamanya. Semakin keras hati Jingga untuk dapat diluluhkan terlebih ditengah pengharapan ia malah mendapatkan pesakitan hati atas dasar kecewa.
Namun bila ia berpikir tentang hidupnya kini telah ada Andra yang telah menjadi suaminya dan kelak akan menjadi ayah bagi anak anaknya, tak mungkin bila Jingga mempermasalahkan kehadiran Riza atau Yudha saat ini, itu bukan hal yang sangat rasional terlebih saat ini Yudha sudah menjadi adik iparnya.
Jingga menatap Andra yang baru saja keluar dari kamar mandi, laki laki itu masih menggunakan handuk di bagian bawah tubuhnya, hanya menutupi bagian intimnya saja.
__ADS_1
"kenapa, apa ada masalah...?" tanya Andra sambil menghampiri Jingga yang tengah terduduk di kursi yang menghadap sebuah meja.
"tidak Andra, aku baik baik saja..." ucap Jingga sambil tersenyum, tangannya membelai rambut Andra yang masih basah karena laki laki itu berjongkok di hadapannya kini.
"kau tak pandai berbohong sayang..." ucap Andra, laki laki itu menemukan satu gurat kebohongan di mata Jingga yang tak bisa gadis itu tutupi.
"wah kau memanggilku sayang, aku terkejut..." ungkap Jingga sebagai jalan pengalihan pembicaraan karena ia sadar tak akan bisa berbohong pada Andra, laki laki itu sudah tau kelemahannya.
"biasakan, mulai sekarang aku akan memanggil mu begitu..." jawab Andra, membalas senyuman manis Jingga, ia mencium punggung tangan perempuan itu, membuat yang punya jadi malu dan wajahnya merah padam.
"ya kau membuat ku malu..." perempuan itu di buat tersipu oleh suaminya sendiri, wajahnya yang putih mulus langsung berubah merona.
"aku suka bila kau malu malu begini..." Andra kembali tersenyum sambil menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
"baiklah akan aku biasakan diri untuk itu..." jawab Jingga, tangannya beralih membelai pipi Andra, rasanya ia merasa bersalah karena telah merasakan sesuatu saat tadi bertemu dengan Yudha padahal sudah dengan jelas jika ada Andra sebagai suaminya kini, Yudha dan dirinya hanya masa lalu dan tak akan pernah menjadi harapan di masa depan.
"jangan di biasakan, aku lebih suka kau yang malu malu seperti ini..." ucap Andra, ia menatap perempuan yang begitu manis itu, alisnya tebal tanpa riasan, pipinya merona apalagi bila tengah ia goda.
Akhirnya mereka larut dalam canda, saling menggoda dan saling memberikan gombalan garing satu sama lain, namun itu semua terasa sangat manis karena dilakukan bersama orang tersayang, mereka sampa melupakan dunia yang mungkin saat ini tengah iri pada mereka yang tengah merasakan bagaimana indahnya dunia pernikahan.
.
.
.
♡♡♡♡♡♡
__ADS_1