
Tak mendapat perlawanan dari Jingga membuat Andra ingin segera menuntaskan keinginannya, keinginan yang secara naluri datang pada semua orang yang sudah menikah, dengan mudah Andra memindahkan tubuh Jingga hingga kini Jingga berada sejajar dengannya karena duduk di meja yang cukup tinggi itu. Suasana malam yang hening dengan udara yang semakin dingin, kelakuan dua insan itu membuat jejak hangat di sana, kedua tangan Jingga entah sejak kapan menggulung di leher Andra, memberi penekanan disana agar Andra tak melepaskan dekapannya.
Semakin lama semakin panas, tubuh Jingga sudah beberapa kali melenting bak busur panas yang hendak di lepaskan, hasrat membawa mereka kedalam suasana yang indah bagi pasangan pengantin yang baru akan menikmati surganya dunia.
"Andra..." ucap Jingga, ia melepaskan tautan itu saat dirasa Andra sudah semakin tak bisa mengontrol dirinya sendiri, terlihat dari tangan laki laki itu yang sudah bergerak kesana kemari menjelajah tubuh Jingga.
"hmmm..." jawab Andra, nafsu laki laki itu sudah hampir memuncak, tapi nampaknya masih bisa di atasi meski deru nafasnya terdengar berat. "aku memintanya apa kau siap...?" tanya Andra tepat di telinga gadis itu yang membuatnya merasa geli.
"Andra, maaf.... aku belum siap..." ucap Jingga, ia yakin jika Andra pasti akan kecewa atas jawabannya itu.
Mendengar ucapan Jingga sebenarnya Andra kecewa, tapi ia bisa meredam rasa kecewanya. Dipejamkanya kedua matanya itu, cukup sulit rupanya meredam hasrat yang sudah bergemuruh, sudah berada di sepertiga puncaknya. Jingga sebenarnya tak sampai hati mengatakan itu tapi tak mungkin melakukannya bila ia memang sedang tak boleh di masuki.
"Andra..." Ucap Jingga, sebenarnya gadis itu ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi namun melihat Andra dengan tatapan sendunya membuat hatinya jadi tak tega.
"baiklah aku mengerti..." jawab Andra, kecewa memang Andra rasakan, terlebih ia sudah kepalang bernafsu saat itu.
"Andra dengarkan aku dulu..."
"sudah Jingga, aku tidak akan memaksa mu bila kau belum siap..."
"tapi Andra..."
"sudah, ini sudah hampir dini hari cepatlah tidur..." ucap Andra, meski sebenarnya sesuatu sudah sesak di bawah sana tapi mengetahui Jingga yang belum siap Andra berpikir untuk mencari jalan terbaik saja.
"baiklah, tak apa jika kau tak mau mendengarkan penjelasan ku dulu..." Jingga terlihat kecewa. Padahal jika tidak sedang berada di posisi seperti ini nampaknya Jingga pun ingin sekali melakukan hal itu, lihat saja tadi ia menggeliat beberapa kali bagai cacing kepanasan.
"tidurlah bersamaku..." ucap Andra.
__ADS_1
Selama ini Jingga memang tidur sekamar dengan Andra tapi ia tak pernah tidur seranjang, Jingga tidur di sebuah sofa bed yang sebenarnya kurang nyaman untuk tidur tapi apa mau di kata, ia hanya bisa menurutinya lagi pula sudah jadi hal biasa baginya untuk tidur di tempat yang bukan semestinya, saat tinggal bersama kedua adiknya Jingga lebih sering tidur di kasur yang sudah tak layak lagi, ia lebih mengutamakan adik adiknya.
"tidur bersama...?" tanya Jingga.
"ya tidur bersama, aku janji tak akan melakukan apa pun padamu..." jawab Andra.
"baiklah..." saat itu seandainya bisa ingin rasa Jingga membuka seluruh pakaiannya, melucutinya hingga tiada satu benang tipis pun yang tersisa, namun situasinya memang tidak memungkinkan, seperti wanita normal pada umumnya Jingga tengah mendapatkan masa periodnya sebagai perempuan.
"pergilah dulu, aku ingin mengambil sesuatu di dapur.." ucap Andra, ia meninggalkan Jingga di ambang pintu, berjalan ke lain arah menuju dapur untuk mengambil sesuatu yang dingin agar ia bisa kembali pada titik normal, ingin rasanya ia mandi namun kondisi tidak memungkinkan karena suhu udara sudah sangat dingin.
Setelah selesai dengan aktivitasnya Andra menyusul Jingga yang sudah terlebih dulu pergi ke kamarnya, di lihatnya Jingga sedang menata bantal untuk tidur.
"tidurlah..." ucap Jingga sambil menepuk nepuk bantal yang sudah ia siapkan untuk Andra.
Andra mengangguk ia membaringkan tubuhnya meski belum stabil, ia takut jika berdekatan dengan Jingga akan membuatnya kembali turn on. Awalnya Andra merasa tak mampu menahan namun lama dari itu akhirnya ia bisa mengkondisikan semuanya sebaik mungkin.
"ya..."
"boleh aku memeluk mu..." kalimat tanya yang sebenarnya belum waktunya keluar itu akhirnya lolos keluar dari mulut Andra, ia bahkan tak sadar jika melakukan itu sama saja ia bunuh diri.
Awalnya Jingga ragu namun akhirnya ia mengiyakan keinginan lawan jenisnya itu. Jingga berbalik memunggungi Andra sehingga Andra berposisi memeluknya dari belakang. Dan Awalnya pula sentuhan itu hanya sekedar sentuhan, namun lama kelamaan tubuh Andra semakin memanas, sesuatu yang mendesak itu tiba tiba bangun lagi setelah susah payah Andra menenangkan.
Andra memejamkan kedua matanya, sebelah tangannya mencengkram kuat sprey yang digunakan saat itu, bahkan keringat sudah terlihat begitu nyata di keningnya. Andra semakin terdesak, situasi ini sungguh tak menguntungkan untuknya, andai saja saat ini Jingga sudah siap mungkin semua ini bisa tersalurkan tepat di jalannya tapi Tuhan ingin mengajarinya cara menghargai seseorang jadi ia siksa Andra dengan sesuatu itu padahal diri Jingga sudah terhalalkan untuk Andra.
Akhirnya Andra menyerah, tak peduli pukul berapa saat itu yang jelas ia harus mencari jalan lain untuk dirinya agar selamat dunia akhirat. Laki laki itu beranjak menuju kamar mandi, sesampainya di dalam di lucurinya semua pakaian yang di kenakannya dan benar saja sesuatu itu kini tengah berada dalam keadaan turn on.
"Andra..."
__ADS_1
Andra tak menggubris panggilan Jingga, ada yang harus ia tuntaskan jika tidak bisa saja Andra kalap hingga menyerang Jingga.
"oh Tuhan..." ucap Andra, ia benar benar bingung harus bagaimana. Hingga akhirnya Andra membiarkan tubuhnya di guyur air dingin dari shower itu, supaya suhu tubuhnya kembali normal.
Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, Jingga mengerutkan dahi mengapa Andra mandi selarut ini, gadis itu tak tau jika Andra sedang berada di tempat yang sangat mengerikan bagi seorang laki laki.
Tak lama kemudian Andra keluar, dengan kondisi badan yang sudah lumayan dingin daripada tadi setelah tadi ia berperang dengan hasratnya sendiri.
"kau mandi...?" tanya Jingga, ia mendapati suaminya itu mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"ya..." singkat Andra menjawab.
"kenapa...?" tanya Jingga bingung.
"aku hanya gerah, sudah sudah cepat tidur..." ucap Andra sambil duduk di tepian ranjang.
"kau pun harus tidur..." ungkap Jingga yang mendapat anggukan dari Andra tanda setuju.
Akhirnya Jingga kembali berbaring meski satu tanya muncul di benaknya tentang mengapa Andra mandi selarut ini, hendak bertanya namun Jingga urungkan karena ia nampak melihat Andra yang pun juga mulai releks supaya bisa terpejam.
Dan benar saja, Andra dengan mudah terpejam menjemput mimpi, dengkuran halus sudah terdengar. Jingga menatap wajah Andra dalam, wajah itu begitu tenang dalam tidurnya, garis wajahnya begitu indah sungguh ciptaan Tuhan begitu indah.
.
.
.
__ADS_1
■■■●●●■■■