Yang Membolak-balikkan Hati

Yang Membolak-balikkan Hati
Episode 13 Kebingungan Laila


__ADS_3

Laila sesekali melihat Fajri. Sepanjang perjalanan Laila tampak kembali gusar ditempatnya. Laila menarik napas sedalam mungkin dan memberanikan kembali meminta jawaban dari Fajri.


" Kau belum memberiku jawaban? Aku membutuhkan jawabanmu. Jangan membuatku menunggu." ucapnya tiba-tiba


Fajri menghentikan mobilnya di tempat keramaian tanpa mematikan mesin mobilnya. lama terdiam sambil pandangannya lurus ke depan.


"Apa yang kau lihat dari ku? Hingga kau tertarik? Fajri melihat Laila.


Ketampanan? Jika iya. Bagaimana jika suatu saat Allah mengambil itu dari ku? Apa kau masih mau?hah?


Akhlak? Bagaimana jika suatu saat nanti Allah membolak-balikan hatiku menjadi orang yang paling jahat? Apa kau masih mau? jawab?


" Harta? Bagaimana jika suatu saat nanti Allah mengambilnya? Apa kau masih mau? ayo katakan?


"Kepintaran? Bagaimana jika suatu saat nanti tragedi menimpaku dan Allah menjadikanku orang bodoh. Apa kira-kira rasa cintamu padaku masih ada?


" Apa jawabanmu? Fajri menghembuskan napasnya.


Laila terdiam....... dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Kamu tidak bisa menjawab kan? Itu artinya perasaan yang kau miliki padaku bukan perasaan sebenarnya.


Laila tidak mengerti apa maksud Fajri berkata seperti itu. dari lubuh hatinya Laila sedikit takut melihat raut wajah Fajri


" Apa maksudmu? aku menginginkanmu. aku ingin kau selalu ada untukku. Laila kurang mengerti maksud Fajri.


"Kau hanya menginginkan aku? itu bukan perasaan yang sesungguhnya. Tapi, cintamu padaku dilandasi dengan nafsu, Laila." Laila bungkam.


"Aku yang akan menantikan jawabanmu.


Belajarlah mencintai yang menciptakanmu sebelum kau mencintai makhluknya. Fajri terus melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Laila hanya terdiam membisu memikirkan perkataan fajri. "Kau hanya menginginkan aku? itu bukan perasaan yang sesungguhnya. tapi, cintamu padaku dilandasi dengan nafsu.


Tak ada suara. Keduanya saling diam hanya suara mesin mobil yang terdengar. Laila kembali melihat Fajri,


" Hentikan mobilnya! "


Fajri tidak menghiraukan ucapan Laila dia terus melajukan mobil itu.


"Fajri, aku katakan hentikan mobilnya! kalau tidak...


Fajri pun akhirnya menuruti kemauan Laila. Laila turun dari mobil dan berlari ke sebuah taman, di sana Laila duduk dan menangis sejadi nya. Menumpahkan segala rasa. Tak ada suara selain isak tangisnya yang pecah. Dari belakang Fajri menyusulnya. Melihat dari jarak jauh


Hal inilah yang di takutkan Fajri. Walau Fajri belum terlalu lama bekerja sebagai supir pribadi sekaligus pengawal pribadi Laila, tap Fajri sudah bisa mengenal kehidupan Laila seperti bagaimana.


"Aku benci! aku benci semua ini....... "


Fajri mendekat untuk mengajak Laila pulang.

__ADS_1


"Tinggalkan aku sendiri. Jangan menyentuhku! kau boleh pulang sekarang.


" Saya tidak akan pulang sebelum kau sampai di rumah. "


"Apa peduli mu padaku? Laila terus menangis.


" Karena kau tanggung jawabku yang diamanahkan ayahmu padaku, Laila. "


"Jika aku tidak mau pulang kau mau apa? hah?


Fajri berdiri di depan Laila yang kini masih terisak. Laila tidak peduli apa yang akan Fajri lakukan padanya walau dalam dirinya ada rada takut melihat tatapan Fajri seperti itu.


" Kau mau apa?


Fajri langsung mengangkat Laila memaksanya untuk pulang.


"Turunkan aku. dasar! aku membencimu.... aku membencimu.... turunkan aku..... !"Laila mengigit selangka Fajri dan Fajri tidak menghiraukan itu. Fajri turunkan aku! "


Laila terus memberontak namun Fajri terus melangkah. Fajri tidak peduli jika Laila terus memukulnya. Fajri menurunkan Laila pas didekat mobil.


" Masuk! " perintah Fajri dengan tegas.


Dengan perasaan kesal dan rasa bencinya Laila masuk dalam mobil. Laila membelakangi Fajri. Ya.... begitulah Laila saat keinginannya tidak terpenuhi ada rasa benci yang berkecamuk dihatinya.


Fajri hanya memilih diam. entah mengapa ucapan kata maaf itu begitu berat terucap dari bibirnya. Fajri hanya tidak ingin memperpanjang masalah hingga ia memilih diam.


"Hapus air matamu. " Fajri memberikan tissue.


"Apa peduli mu dengan air mataku. bahkan kau tidak peduli bagaimana perasaanku. Kau tidak mengerti, Fajri. kecewa itu lebih menyakitkan.


Fajri mendengar perkataan Laila dan kembali menghentikan mobilnya.


" Rasa kecewa pada manusia itu biasa saja karena bukan kita pemilik hati itu. jika sang pemilik hati sudah menentukan maka itulah yang terjadi.


Laila berbalik dan mengambil tissue yang disimpan di belakang oleh Fajri sebelumnya dan menghapus air matanya.


"Berikan alsan mu mengapa kamu menolak ku? dan berikan aku jawaban yang meyakinkan apakah kamu tidak memiliki perasaan padaku sedikit saja?


Fajri kembali memilih diam. jika dia menjawab yang ada urusannya akan semakin rumit. Laila yang tidak mendapatkan jawaban merasa sangat kesal.


" Aku membencimu, Fajri. Laila memukul bahu Fajri dan kembali membelakanginya.


Fajri hanya diam setidaknya Putri tuannya tidak memberontak atau memecahkan apa yang perlu dipecahkannya. jika dengan memukul dirinya Laila bisa diam Fajri pasrah.


***


Mala dan Rani duduk berdua di tepi pantai menikmati pemandangan di sore hari. saat berbalik mata mala dan Ramli bertemu.


"Kau kan yang waktu itu? tanya Ramli mengingat dimana dia menggantikan ban mobil milik mala. "kau menipuku dengan memberiku no yang salah. apa kau tahu siapa yang aku hubungi?

__ADS_1


Mala tidak tahan tidak tertawa. dan menarik tangan Rani untuk pindah.


" Hei....tunggu! "Aku butuh penjelasan darimu. Ramli mengejar Mala.


"Mala berhenti dan berbalik. Emang enak pacaran ama beti. Mala terus tertawa.


"Mala kau mengerjai aku?"


" Iya. emang enak." Mala berteriak membuat Ramli berkacak pinggang.


Rama bingung dengan Ramli dan Mala. "Apaan sih... kalian kenal?


" kau masih ingat waktu kita pulang dari pantai? aku menggantikan ban mobilnya dan meminta no ponselnya.


"Lalu apa urusannya? " tanya Rama penasaran.


"Ternyata nomor ponsel yang diberikan aku, itu nomor ponsel seorang banci yang juga bernama Mala. saat aku mengajak ketemuan, tahu-tahunya seorang banci. gila..... ih... amit-amit.


"Lalu kamu pacaran dengan banci itu? tawa Rama.


" Enak aja. aku masih normal."udah ah... yuk.. kita makan di restoran di sana aku yang traktir.


Rama dan Ramli masuk di restoran dan kembali lagi bertemu dengan Mala dan Rani.


"Pas banget kau ada disini. Ramli langsung mengambil tempat didekat Mala. dan memanggil pelayan dan memesan makanan untuk dirinya dan Rama.


" Ngapain lho disini?" Mala menggeser kursinya mendekat dengan Rani yang sedang melahap makanannya.


"Urusan kita belum selesai dan lho harus tanggung jawab."


" Emang gue salah apa sama lho? ganggu aja orang makan. Harusnya lho bersyukur bisa pacaran ama banci."


"O... jadi lho emang sengaja ya.... ngerjain aku. begitu?"


" Iya... puas lho." Mala terus menyantap makanannya seakan tidak merasa bersalah telah mengerjai Ramli dan tidak peduli dengan keberadaan Ramli dan Rama.


Sementara Rani dan Rama hanya menyaksikan kedua anak muda di samping mereka terus berdebat. sesekali Rama dan Rani tertawa melihat kelakuan Mala dan Ramli.


Saat Mala dan Rani hendak membayar, Ramli mencegahnya.


"Terimakasih. ucap Mala.


" Hei tunggu dulu! kau masih berutang waktu itu denganku. sini nomor aslimu!"


Mala mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Ramli. Ramli pun berhasil mengambil nomor Mala.


"Ok. ucap Ramli


Mala dan Rani berlalu.

__ADS_1


__ADS_2