
Kini Laila sudah berada diruang ayahnya bersama kedua sahabatnya yaitu Mala dan Rani, sementara Fajri memilih masuk ke ruangannya.
Selang beberapa waktu ayah Laila datang dan terkejut melihat Laila berada di ruangannya. Tampaknya Laila sedang melihat-lihat ruangan ayahnya. Laila tampak kagum melihat foto dirinya dan ibunya berada di atas meja kerja ayahnya. Laila mengambil foto itu dan tersenyum.
"Ayah tidak pernah melupakan keluarga ayah." Laila berbalik dan melihat ayahnya. Tampaknya wajah ayahnya basah. Laila menduga jika ayahnya selepas melaksanakan kewajibannya.
"Ayah! Laila menghampiri ayahnya dan meraih tangan dan mencium punggung tangan ayahnya begitu juga Mala dan Rani. "Ayah dari mushalla?"
" David Tamin tersenyum. "Mungkin belum terlambat bagi ayah untuk tetap bersyukur, duduklah kalian. Ada apa? tumben menemui ayah." David Tamin duduk bersama mereka.
"Laila tersenyum mendengar perkataan ayahnya. "Ayah aku kemari ingin ayah menempatkan kedua sahabatku di kantor ayah. bisa kan?
" Oh... kirain putri ayah yang bersedia menggantikan posisi ayah sekarang." senyum David Tamin.
"Insyaallah ayah. tapi, mungkin belum saatnya. maafkan Laila ayah."
" Tidak apa-apa, ayah paham. kebetulan ada dua lowongan yang belum terisi, sebentar ayah akan menelpon Sekertaris Haris mengantarkan temanmu.
Mendengar hal itu Mala dan Rani begitu bersyukur jika ada lowongan untuknya.
"Terimakasih om. e...pak, kami sangat bersyukur. Rani grogi hingga semua ikut tertawa.
" Oanggil saja seperti biasanya. David Tamin menimpali. Mala dan Rani sering memanggil David Tamin panggilan Om. Namun karena mereka akan bekerja di kantor miliknya Mala dan Rani akan memanggil seperti panggilan karyawan lainnya.
"Anda sekarang bos kami jadi, biarkan kami memanggil seperti karyawan lainnya." sahut Mala
"Terserah kalian.
Tok..
Tok..
pintu terbuka sekertaris haris datang.
" Tuan memanggil saya?
"Ya... antar kan kedua sahabat putri saya melihat ruangannya. Pastikan tempatnya lengkap dengan kebutuhannya.
Setelah kedua sahabat Laila berlalu, David Tamin meminta Laila untuk memikirkan dengan baik keputusannya melanjutkan studinya keluar negri, namun Laila tetap yakin akan keputusannya.
__ADS_1
Nendengar keputusan putrinya David Tamin tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa diam. Diamnya David Tamin membuat Laila ingin bertanya namun, diurungkan.
Tok...
Tok...
"Masuklah perintah David Tamin.
Tak..
Tak..
Tak...
Fajri masuk dengan wajah sedikit gusar ini berhubungan dengan urusan kantor, namun Fajri mengurungkan niatnya untuk menyampaikan karena ternyata Laila masi ditempat. Laila yang melihat Fajri dengan segera meminta izin pada ayahnya untuk menemui kedua sahabatnya.
"Sahabat tuan putri sudah kembali." sahut Fajri
" Apa?"
"Iya, besok mereka akan mulai bekerja. jawab Fajri yang masih berdiri.
"Lihatlah ponselnya tuan putri, mungkin mereka sudah mengirim pesan.
David Tamin yang berada diantara keduanya hanya tersenyum kecil melihat keduanya beradu mulut dan memilih mengambil dokumen untuk di tandatangani.
" Kenapa anda tahu? Laila membuka tas kecilnya dan mengambil benda pipi itu dan melihat sebuah panggilan masuk satu kali dan sebuah pesan. Laila akhirnya meminta izin pada ayahnya untuk kembali.
"Biarkan Fajri mengantarmu pulang."
" Tidak ayah, aku bisa pulang sendiri. Aku... a.. ku bisa jaga diri sendiri.
"Tidak, biarkan Fajri mengantarmu, mobilmu nanti ayah suruh seorang mengantarnya pulang. Jangan bantah ayah."
" Baiklah ayah.
David Tamin pun menganggukkan kepalanya.
"Laila pun keluar mengikuti Fajri. "Kenapa anda terlihat ketakutan melihat saya, apa saya tukang makan orang? ucap Fajri
__ADS_1
"Siapa yang takut?
" Lalu?
"Aku malas bicara. "
"Teruslah berhijrah. " ucap Fajri
Laila dan Fajri terus melangkah, semua mata karyawan melihat keduanya. wanita yang hampir menampar Laila berdiri dan menghampiri Laila.
"Nona maafkan aku yang sudah lancang, jangan pecat aku dari pekerjaan ini.
Fajri dan Laila berhenti . Fajri bertanya dalam dirinya apa reaksi Laila.
" Memecat mu bukan hak ku. Seketika wajahnya karyawan itu merona. Tapi, jika aku mau hal itu bisa terjadi." Mendengar kata itu, wajah karyawan itu berubah. Tapi aku harap jangan kau ulangi perbuatan mu. Siapa pun orang itu. belajarlah menghargai orang lain. Dengan harga diri, orang lain juga akan menghargai dan menghormatimu. Namun, kamu juga harus bisa memaknai harga diri dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai merugikan orang lain, hanya atas dasar harga diri."
semua karyawan di sana terpaku mendengar kata yang dilontarkan dari anak bosnya itu. Mereka mengira selama ini anak dari tempat mereka bekerja begitu angkuh. seketika mereka mengidolakan anak bosnya itu.
Semua karyawan wanita maupun karyawan laki-laki datang meminta maaf. Laila kaget, karena kini posisi Laila dan Fajri sudah dikelilingi oleh para karyawan kantor. Laila melihat Fajri. Fajri hanya diam dan memberikan isyarat pada Laila untuk menyelesaikan urusannya.
"Aku memaafkan kalian. Kualitas diri anda dinilai dari bagaimana diri anda bukan apa yang anda miliki. "Sangat mudah mengetahui kualitas seseorang Simak ucapannya dan perhatikan kelakuannya. Fokus pada kualitas ketika bekerja, fokus pada kuantitas ketika bersama keluarga. Dengan merendahkan orang lain sama saja kamu telah merendahkan diri sendiri, karena perlu diingat dirimu belum tentu lebih baik dari orang yang kamu rendahkan.
"Laila diam sejenak kemudian melanjutkan perkataannya. Selain itu merendahkan orang lain di depan umum tidak akan membuatmu semakin kuat, namun sebaliknya hal tersebut akan memperlihatkan bahwa dirimu adalah orang yang lemah.Tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, merendahkan orang lain juga dapat membuat mereka menjadi sakit hati, bahkan berujung dengan Depresi. Aku pamit. kembalilah bekerja.
saat Laila dan Fajri hendak melangkah tepuk tangan seorang terdengar. Laila berbalik.
"Ayah....
" Terimakasih telah memberikan saran untuk karyawan ku. David Tamin ikut bergabung ditengah tengah mereka secara tidak langsung David Tamin memperkenalkan putri satu-satunya. pergilah biarkan ayah yang mengurus mereka.
Melihat bos mereka para karyawan menundukkan kepalanya dan kembali bekerja. sementara Laila dan Fajri setelah pamit yang kedua kalinya juga melanjutkan tujuannya.
Kini Fajri tersenyum kecil. Melihat sisi lain dari Laila jika dulu saat masih sebagai pengawal pribadi Laila, Fajri menilai jika sikap Laila yang dulu agresif hanya butuh perhatian dari orang terdekatnya. Itulah alsan Fajri sebenarnya mengapa tidak menjawab isi hati Laila antara iya atau tidak. Tapi tanggapan Laila bertolak belakang dengan Fajri karena sikap Fajri padanya begitu dingin dan cuek.
Namun entah mengapa perasaan Fajri semakin kemari semakin mengagumi Laila. Tapi, Faji tidak yakin dengan perasaannya.
Kini Fajri dan Laila sudah di tempat parkir. Saat Fajri hendak membukakan pintu mobil Laila menolak dan memilih membuka sendiri pintu mobil tersebut.
"Maaf, anda bukan supir saya dan kita bukan muhrim, jadi tolong jaga jarak." Laila masuk mobil dan Fajri hanya tersenyum mendengar ocehan Laila.
__ADS_1