Yang Membolak-balikkan Hati

Yang Membolak-balikkan Hati
Episode 59 Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Sepasang suami istri yang masih gagal malam pertamanya, terlihat masih enggan untuk bangun. Rasa lelah setelah pulang dari kejadian yang menimpa sahabatnya membuatnya lupa jika ada seorang suami yang harus disiapkan keperluannya.


Ramli tersenyum, sengaja tidak membangunkan Mala. menatap kedua mata yang masih terpejam itu dengan rapat. sesekali Mala bergelut.


"Lucu." Gumam Ramli.


Dengan pelan matanya hampir terbuka dan Ramli hanya menutup mulutnya untuk tidak bersuara.


"Siapa sih yang buka jendela. masih pagi tahu? lirih Mala yang belum sadar sepenuhnya.


Mala mengendus mencium aroma parfum laki-laki. Mala membuka matanya dan kembali memperbaiki daya ingatnya. Mala berbalik dengan pelan. Wajahnya dan wajah Ramli sudah hampir berdekatan.


" kamu... kenapa kamu di kamarku hah? Mala dengan segera bangun dan menutup tubuhnya sampai dada.


"Hei kamu lupa? aku siapa mu? aku adalah.......


Mala baru sadar jika dirinya sudah menikah. Mala berbalik dan membelakangi Ramli.


" Oh... astaga Mala, kok bisa kamu lupa kalau dia suami mesum mu."Lirihnya


Timbul ide jahil dibenak Ramli. Ramli merapatkan tubuhnya ke tubuh Mala. Mala membulatkan matanya. jantungnya seakan mau melompat keluar.


"Kamu merasakannya?bisik Ramli. Membuat bulu roma Mala berdiri seketika jantungnya berdenyut cepat.


"Ih... apa itu? jangan ngaco, Ramli."


"Apakah boleh?


" Boleh apa? Mala pura-pura tidak tahu karena sudah sangat malu.


"Ih..... benar yang di katan perias itu? oh... tidak, dia akan melihat..... melihat semuanya..... itu, ini..... oh tidak......." jeritan Mala dalam hatinya.


Ramli semakin menempelkan tubuhnya. Posisi keduanya sekarang seperti orang yang sedang berboncengan. Kedua tangan Ramli melingkar diperut Mala.


"Ramli ini sudah pagi. Apa maksudmu aku tidak paham. kita harus kekantor." Elak Mala


Ramli tidak menghiraukan ucapan Mala. Dirinya terbuai mencium aroma istrinya. sambil kembali berbisik.


"Jangan menyiksaku Mala. Aku pria normal. jangan kamu pura-pura tidak tau."

__ADS_1


"Tapi aku... aku belum siap, Ramli. maafkan aku." Mala menoleh


mendengar pengakuan Mala Ramli pun tertunduk lesu. Awalnya ingin mengerjai istrinya justru dirinya yang terperangkap. Mala berbalik melihat suaminya.


"Aku takut. juga aku malu. kau tahu kan? ini pertama bagiku dan aku tidak punya pengalaman tentang hal........


Ramli tertawa terbahak mendengar pengajuan polos istrinya. Tidak menyangka jika kelakuan istrinya tidak sesuai dengan apa yang didengarnya. Ramli ingat betul bagaimana pertama kali mengenal istrinya dengan baju yang cukup terbuka. ternyata istrinya begitu polos dan lugu.


"Kenapa kamu menertawakan aku? adakah yang salah? tapi apa yang aku katakan itu benar. Kata orang hal itu sakit... sangat sakit.... juga aku.... ih... gak deh... pokoknya aku belum siap!"


Melihat kepolosan itu Ramli begitu geregetan dengan istrinya. dan segera Ramli meraih kepala istrinya dan merebut ciuman pertamanya itu.


"oak....... Mala merasa mual dan memukul dada Ramli minta dilepaskan.


Ramli kembali tertawa. melihat istrinya yang mual atas sikapnya.


" Ramli kau jahat! kau mengambilnya tanpa keluar surat izinnya


"itu baru pemanasan, Sayang aku." kenapa harus tunggu surat izinnya. SIMnya serta STNK nya pun sudah keluar dua hari yang lalu, jadi apa lagi, tinggal isi bensinnya, uda gas deh."


"Memangnya motor." Mala cemberut dan meminta Ramli keluar karena dirinya mau mandi dan berganti pakaian.


"Enak minum susu pagi-pagi? apaan itu." lirih Mala berusaha melepaskan diri


"Iya. Sebentar aku buatkan susu setelah mandi. ayo keluar! susu panas kan?" ulang Mala lagi


"Sayang kenapa polos sekali sih." Ramli semakin gemas


Mala terus menarik tangan suaminya untuk keluar dari kamar. Namun saat di depan pintu kamar, ibu mertua orang tua Mala datang dan melihat anak dan menantunya saling tarik menarik.


" Sayang ada apa? kenapa kamu tarik suamimu? tanya ibu Mala


"itu mah... ada kecoak." ucap Ramli dan Mala menginjak kaki suaminya.


Ramli tersenyum kecut di hadapan ibu mertua sambil menahan rasa sakit di bagian kaki akibat ulah istrinya. Ibu Mala mengerutkan keningnya sambil menyampaikan untuk segera bersiap dan sarapan bersama.


"Iya,bunda. nanti kami menyusul." jawab Mala


"Sayang ini sakit lho." keluh Ramli dan mengikuti Mala masuk kamar kembali

__ADS_1


"Itu hukuman buat suami mesum."


"Sayang kok gitu sih.... gak baik tau? Ramli ingin kembali memeluk istrinya


" Stop mau ngapain. mau aku ulang yang tadi?


Ramli tersenyum dan segera mengambil handuk. Ramli tidak peduli dengan tatapan Mala. Ramli buka baju di hadapan Mala. Mala segera berbalik untuk tidak melihat roti sobek di sana. Bahkan Ramli membuka seluruh pakaiannya di hadapan Mala tanpa malu.


" Gila nih orang. Sudah belum? tanya Mala yang masih membelakangi Ramli.


Ramli kembali mendekat dan memeluk Mala dari belakang. Mala langsung membulatkan Matanya yang merasakan ada pergerakan di bawah sana menyentuhnya.


"Sekali kau memberontak maka aku pastikan, aku tidak akan melepaskan mu! jadi biarkan dulu begini. Siapkan dirimu sebentar malam. kamu tahu kan hukumnya istri menolak permintaan suami? jangan menyiksaku, Mala." bisik Ramli dan berlalu masuk kamar mandi.


***


Di itempat lain Laila terjaga dari tidurnya dan melihat suaminya sudah duduk di dekatnya lengkap dengan pakaian kantornya.


"Sayang, maaf ya..., aku tidak menyiapkan pakaianmu. Apakah sepagi ini kau akan kekantor? apakah tidak boleh kamu cuti dulu?


" Hari ini ada rapat di kantor Ayah. Aku harus datang lebih awal. kasihan para klien jika harus menunggu.


Laila bangun dan bergelut manja di dada suaminya sambil mencium aroma pakaian suaminya. Entah mengapa aroma itu sangat menariknya dan meminta untuk ikut kekantor. Fajri heran tidak biasanya Laila mau ikut ke kantor.


"Bersamamu membuat hatiku tenang dan damai. Bahkan aku tak ingin jauh darimu. Boleh ya aku ikut? sekaligus pulang kantor kita singgah rumah ibu bermalam.


Fajri akhirnya mengalah sambil mengusap perut istrinya. setelah sarapan bersama Fajri dan Laila pamit pada ayah Tamin dan ibu Lucia.


Fajri membukakan pintu mobil untuk istrinya dan kemudian dirinya menyusul. Dayan di sana menyaksikan keromantisan mereka sangat bersyukur. tak ada lagi Laila yang sering menangis dan marah semua sirna setelah hadirnya Fajri dalam kehidupan Laila.


Tinggal menunggu waktu bahagia itu akan melengkapi hingga berubah menjadi sebuah momen keluarga yang dipenuhi dengan tangis dan tawa riang anak yang lucu dan menggemaskan.


Ibu Lucia dan David Tamin juga keluar ke suatu tempat setelah Fajri dan Laila berlalu. Dayan siti kembali bersuara setelah nyonya dan tuannya pergi.


"Ayo semuanya kembali kerja! kerjakan tugas kalian Masing-masing, bagian laundry silahkan kembali kebelakang. Hari ini kalian akan terima gaji, jadi tepat jam sepuluh sebentar semua berkumpul di ruangan ku. Paham!" ucapnya.


Tidak lama sebuah panggilan masuk ke ponsel miliknya. Tertera di sana panggilan dari tuan besar. Tampak senyum mereka di wajah Dayan Siti.


Entah apa yang membuatnya tersenyum. Dayan atung yang raja kepo tidak mau penasaran segera bertanya membuat Dayan Siti membulatkan matanya.

__ADS_1


.


__ADS_2