
Tepat menjelang masuk magrib Syakira sampai dirumahnya. Rama membukakan pintu mobil untuk Syakira namun, belum sempat turun dari mobil ponsel milik Rama Berdering.
*Apa? nenek masuk rumah sakit?
Syakira membeku. Ada rasa bersalah dalam dirinya. namun hatinya bertolak belakang.
"Masuklah. Aku harus pergi. Sekali lagi maafkan aku."
Syakira melihat mobil Rama berlalu. Ibu Fatima cukup penasaran. Syakira berbalik
"Ibu?"
"Nak Rama kenapa sayang?" Tanya ibu.
Syakira diam. diamnya Syakira, ibu Fatima tidak bertanya lagi. Ibu Fatima meminta Syakira bersiap untuk magrib. Laila cukup penasaran apa yang terjadi mengapa wajah Syakira cemberut. Laila melihat ibu mertua, Ibu mertua hanya memejamkan mata pelan. Laila mengerti.
"Sayang dimana baju kokohnya? aku dan ayah akan shalat jamaah di mesji...-" Fajri tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat Syakira baru sampai.
Laila memberi kode pada suaminya untuk tidak bertanya dulu. Laila mendorong tubuh Fajri sekuat tenaga masuk kamar.
"Ayo! aku ambilkan bajunya."
Dikamar Laila begitu sibuk membantu suaminya mengancing bajunya. Fajri terus menatap intens istrinya.
"Kenapa melihatku seperti itu, apa aku terlihat gemuk? elak Laila.
" Kamu sudah pandai mengelak ya... "
"ih siapa mengelak, sayang. memang waktunya belum tepat untuk bertanya. Biarkan saja dulu untuk beberapa saat.
Fajri langsung mengeratkan pelukannya dan mengecup kening Laila
" Kamu memang selalu bisa, sayang. Aku tidak menyesal mengenalmu dan menikahi dirimu. Justru aku yang sedikit kehilangan dirimu. Aku mencintaimu Laila David Tamin.
Laila bersemu merah. Keduanya melakukan sedikit kontak mata. Cukup lama. keduanya seakan tidak bisa mengalihkan pandangan. Keduanya seakan baru bertemu dan saling jatuh cinta.
"Sudah cepat pergi, ayah sudah menunggu diluar.
" Kau mengusirku, sayang?
"Sudah sana! hus.. hus...
Fajri tertawa dan mencubit pipi istrinya dengan gemas.
Laila membukakan pintu kamar untuk suaminya sambil mengelus lembut perutnya yang sudah mulai kelihatan. Fajri mengecup kening istrinya dan berlanjut turun di perut buncit Laila dan berlalu. Laila kembali masuk kamar juga bersiap.
Laila masih kepikiran dengan Syakira. Ada begitu banyak pertanyaan dibenaknya. ada apa? apa yang terjadi? Laila melenggang masuk kamar mandi.
Sementara Syakira di kamarnya masih termenung mengingat wajah sedih dan kecewa nenek Rama. Usai magrib, Syakira melantunkan ayat-ayat itu dengan cengkok suara yang begitu merdu. siapa pun mendengarnya akan ikut terhanyut. Air mata Syakira menetes Seketika.
__ADS_1
Laila mendengar ayat-ayat itu dilantunkan ikut terhenyak. Hatinya merasa damai dan tenang. Laila mencari sumber suara itu. sangat jelas arah suara itu berada dikamar Syakira
Setelah beberapa menit Syakira mengakhiri dan Laila mengetuk pintu untuk masuk. Syakira tersenyum melihat kedatangan kakak iparnya.
"boleh kakak masuk?"
Syakira mengangguk. Laila ikut duduk di tepi ranjang. kemudian Laila angkat bicara.
"Sebenarnya kamu sudah melakukan keputusan yang terbaik. Jangan merasa bersalah. Terkadang menyelesaikan masalah harus berhadapan suka dan tidak suka, itu wajar. Tergantung apakah bisa diterima atau tidak. Dari pada itu menyiksa kita pada akhirnya, lebih baik menuntaskan nya lebih awal. Yang pada akhir cerita, hasilnya juga sama. Iya kan?
Syakira mengangguk. lalu menceritakan pada Laila dari awal datang ke rumah Rama sampai dia pulang. Laila terdiam mendengar kisah Rama.
Laila keluar dari kamar Syakira dan bertemu dengan ibu mertua menanyakan keadaan Syakira. Lila menjelaskan jika Syakira sudah baikan.
"Apa masalahnya sudah selesai?
" Iya. Bu. namun nenek Rama syok hingga masuk rumah sakit.
"kok bisa?
" Iya. nenek Rama begitu berharap pada Rama namun pengharapan itu juga tidak terwujud.
"Kasihan."
"Ya. begitulah ibu. suka tidak suka harus Terima. mungkin Rama punya alasan sendiri.
beberapa menit kemudian Laila keluar teras rumah yang disusul oleh Syakira. Laila mondar mandir menunggu kedatangan suaminya dan ayah mertua yang belum juga kunjung tiba. Syakira ikut gusar melihat Laila mondar mandir dari tadi.
"Suami kakak gak akan hilang. percayalah. Kak Fajri itu orang setia. ledek Syakira sambil mengulang hafalannya.
" Kamu gak akan tahu. rindu dan cinta sebenarnya itu seperti apa."
"Kakak meledek aku nih."
Laila tertawa berhasil memancing Syakira.
"Sorry. memang kamu itu cocok sama Rama. Rama kan juga jomblo akut juga.
" Ih. kakak nyebelin deh. Tidak usah ingatkan aku sama laki-laki itu. gak akan. Syakira cemberut.
"Hus.... gak boleh benci orang berlebihan begitu juga sebaliknya. jangan sampai apa yang kamu tidak suka itulah yang terbaik untukmu. begitupun juga apa yang kamu sukai belum tentu yang terbaik untukmu. karena kenapa?
" karena hati itu bisa berbolak balik. atas izinnya" lanjut Syakira.
Keduanya duduk terdiam sambil menikmati pancaran sinar bulan malam itu Sambil terus melanjutkan obrolannya tentang masalah hati dan perasaan.
******
Sementara orang yang ditunggu masih setia berdiri didekat mobilnya sedang menunggu seseorang. Dari tadi Fajri sudah gelisah untuk pulang. Ada rasa rindu untu memeluk sang istri tercinta.
__ADS_1
Saat sedang menunggu ayahnya untuk pulang dari mesjid Fajri dikagetkan dengan seorang wanita berhijab, putri dari pak Solihin imam mesjid yang baru datang dari Yaman menyelesaikan studinya dia bernama Alya dan bersama temannya.
"Assalamu'alaikum kak, Fajri."
Fajri menoleh melihat siapa yang menyebut namanya sambil menjawab salam itu.
"Kak Fajri tidak ingat saya?
Fajri mengerutkan kening.
"Saya Alya kak.teman kecil kakak.
" Alya?
"Iya. anak pak sholihin."
"Benarkah kamu Alya? Masya Allah, maaf saya lupa, mungkin karena begitu lama kita bertemu kembali. Terakhir kita bertemu saat reunian di pondok dan saat itu kamu berangkat ke Yaman. Fajri mengingat hal itu.
Pipi Alya bersemu merah mendengar Fajri masih mengingat pertemuan terakhirnya. Alya masih ingat sebelum berangkat dia menitipkan surat pada Herman untuk Fajri. Sambil memainkan tangannya Alya mengangkat satu pertanyaan
"Kak apa kakak sudah mene -. " pertanyaan Alya terpotong saat pak ikhsan menegur Fajri.
"Fajri ayo kita pulang, ajaknya dan menoleh melihat siapa gadis berhijab di depannya.
" Dia Alya pak ikhsan. putri saya. Sahut pak sholihin yang baru keluar dari mesjid.
"Alya? sudah sebesar ini? Masya Allah. Soga kamu panjang umur nak. om masih ingat saat Fajri merebut mainan mu dan kamu menangis sampai lupa berhenti.
"Ah... om bisa saja" Alya melihat Fajri dengan wajah berseri. Ada sebuah pengharapan baginya. harapan besar yang pernah tertunda.
Fajri sedikit mengerutkan kening melihat cara Alya menatapnya. entah apa itu?
" Ayo ayah kita pulang! " Fajri sudah naik di mobil.
Pandangan Alya tidak lepas dari Fajri hingga mobil Fajri tidak terlihat lagi. Alya dan temannya pamit duluan pada ayahnya.
Sepanjang perjalanan pulang Alya di penuhi tanda tanya. apakah surat beberapa tahun lalu Fajri sudah menerimanya. Alya ingat betul sehari setelah surat itu dia titip sebuah kado kotak musik dia terima.
Alya beranggapan bahwa kotak musik tersebut, itu dari Fajri. Namun sekarang hatinya dipenuhi tanda tanya.
"Jika kotak musik ini benar dari Fajri, lalu kenapa ekspresi Fajri biasa saja?
Alya dalam dilema. Alya kembali mengingat pertemuannya dengan Fajri sebelumnya. Bagi Alya Fajri tidak berubah masih datar seperti dulu. terlihat datar tapi tetap ramah.
Ada rasa sesal dalam dirinya mengapa harus melalui surat saat itu. mengapa saat itu dirinya tidak berani mengutarakan langsung isi hatinya Alya menarik napas panjangnya.
Alya berencana akan berkunjung ke rumah ibu Fatimah esok harinya. Alya ingin semuanya jelas dan pasti. karena ini sangat menyiksa perasaannya
Berperang tentang masalah hati yang melibatkan perasaan memang sulit untuk dikendalikan. Karena hati adalah merupakan kunci dari segalanya. jika hati bermasalah seluruh tubuh akan berpengaruh. Hal itulah yang sekarang Alya rasakan. matanya sangat sulit untuk dipejamkan. waktu berputar seakan terasa begitu lama.
__ADS_1