Yang Membolak-balikkan Hati

Yang Membolak-balikkan Hati
Episode 62 Momen Indah


__ADS_3

Up...


up....


Author kembali up... semoga suka ya... dan terus dukung author


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


Laila dan Fajri berada di sebuah warung pinggir jalan menikmati siomay bakar bang gadang. Dua porsi siomay sayur di lahap habis oleh Laila.


"Anggaplah kita dalam tahap pacaran. makan seperti ini bersama kekasih halal ku serasa hidupku begitu bahagia.


" Mas, apakah memang selama ini kau tidak memiliki kekasih? Laila ingin lebih yakin pengakuan suaminya.


"Iya. Kaulah pertama dan terakhirku. Pertama aku melihatmu aku tidak tahu perasaan apa itu." Fajri menggenggam tangan Laila serta mencium punggung tangan itu.


"Jika kita sudah punya anak nanti mungkin momen ini sudah jarang kita lakukan karena kau pasti sudah sibuk mengurusnya." Lanjut Fajri


Selesai makan. Fajri membawa Laila kesebuah tempat yang cukup romantis. Laila awalnya cukup bingung. Fajri menarik tangan Laila masuk kesebuah taman yang sudah disulap seindah mungkin.


Fajri langsung berlutut di depan Laila. membuat Laila tidak percaya atas apa yang dilakukan Fajri.


"Satu jiwa dua tubuh dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan hingga dia menjadi kekasih halal ku. Kau wanita mengisi ruang hatiku, kau masa depanku. Laila Adzkia. Aku mencintaimu, Maukah kau hidup bersamaku sampai menua?


Laila tidak bisa berucap lagi. satu tetes air matanya lolos membasahi pipinya yang kini berdiri mematung dengan penuh rasa haru. Fajri segera berdiri mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, memeluk istrinya, kemudian keduanya saling ******** cukup lama.


Fajri mengeluarkan sebuah cincin yang begitu indah kemudian disematkan di jari tengah milik Laila. lanjut mengecup kening Laila juga mengecup calon buah hatinya dan berbisik.


"Hai jagoan ayah... jangan bikin ibu lelah ya... Ayah sudah mengutarakan isi hati ayah yang begitu dalam sama ibu. Apakah kalian merestui ayah?"


" Iya ayah. ibu juga cinta kok sama ayah. sangat mencintai ayah." Ujar Laila


Fajri mengajak Laila pulang. Sepanjang perjalanan pulang Laila menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dan sambil menyetir Fajri juga tak lepas menggenggam tangan istrinya itu.


Ibu Fatima menyambut kedatangan Laila dan Fajri. Laila meraih tangan ayah dan ibu mertuanya. Syakira begitu bahagia melihat kedatangan kakak iparnya.


"Kak Laila selamat ya. akhirnya aku tidak lama jadi aunty. u... senangnya." Syakira melihat Fajri langsung angkat bicara


"Kak Fajri. kak Fajri tahu gak? Sekertaris kakak sangat nyebelin. Apa kakak tahu begitu lama aku menunggu dibuatnya.


" Hoya.... Lalu apakah dia tidak macam-macam denganmu?


"Awas saja kalau dia sampai macam-macam. Aku akan beri satu pelajaran dengan ilmu bela diriku.


puas bercengkrama Laila dan Fajri masuk kamar mengistirahatkan tubuh mereka.

__ADS_1


***


dilain tempat Mala terlihat begitu gelisah teringat ucapan suaminya memintanya bersiap. Mala segera mungkin naik ke atas kasur untuk berpura-pura tidur.


Ramli keluar dari kamar mandi dan melihat Mala sudah tertidur. Ramli mendekat dan merasa lucu melihat orang di depannya tidur tapi kelopak matanya bergerak-gerak.


Ramli naik ikut berbaring dan memeluk tubuh Mala dari belakang. Tangannya mulai menjelajahi di beberapa daerah.


"Aku tau kau belum tidur." Bisik Ramli


Deg.... Jantung Mala berdenyut hebat. matanya tetap berusaha tertutup. entah perasaan apa saat sebuah tangan menyelinap masuk di bukit yang tinggi itu.


Melihat tidak ada penolakan, Ramli terus dan terus melanjutkan aktifitasnya sementara Mala sudah tidak bisa mengelak ada rasa sulit untuk menolak saat sentuhan itu tepat di daerah terlarang.


"Oh... Tuhan kok aku suka ya.... batin Mala yang masih memejamkan matanya.


"Kau jangan membohongiku. Aku tahu kau berpura-pura tidur. dan aku juga tahu kau menikmatinya kan?


Mala terdiam dan merasa sangat malu. Bagaimana seorang laki-laki menyentuh sebuah barang berharga itu. bahkan sudah melebihi dari kata sentuh


" Percayalah, sakitnya hanya sebentar.


Mala tetap diam dan terlihat juga begitu menginginkan lebih dari hal itu.


"Aku takut. juga malu." Ucapnya tiba-tiba


" Tapi kenapa kau terlihat santai."


"Sayang, aku laki-laki normal. aku menginginkanmu. lihatlah aku, kita akan melakukannya dengan pelan.


Ramli terus menggoda istrinya dengan caranya. Hingga Mala ikut terbuai. awal ci*** itu Mala hampir kembali mual namun lama kelamaan dirinya juga sudah larut.


tidak sadar seluruh ******* tinggal *** keduanya tertutupi dengan selimut tebal. Ramli terus berusaha menembus benteng pertahanan itu dan terlihat Mala kesakitan.


"Ternyata benar dikatakan perias itu." Batin Mala lagi.


"Ramli aku mau buang air kecil. katanya


Ramli berhenti dan tertawa mendengar kepolosan istrinya. Namun Ramli tidak menghiraukan. Waktu terus berjalan sudah tengah malam. Keduanya masih dalam kondisi yang sama.


" Jangan banyak bicara, sayang."Ucap Ramli menikmati momen itu.


"Aku sudah lelah."


kembali melanjutkan aktifitas mereka hingga Mala ikut terbang tinggi entah setinggi apa. Mala hanya bisa terdiam membayangkan semua hal yang dilewatinya malam itu.

__ADS_1


Rasa penasarannya serta rasa takutnya hilang dalam sekejap. Yang ada tinggal rasa malunya. Malu melihat Ramli suaminya.


Sekuat mungkin dirinya berdiri dan tidak percaya bahwa benar adanya itu sangat perih. Ramli tersenyum puas Mala sudah menjadi milik seutuhnya.


Teringat dimana awal pertemuannya dengan istrinya itu. Ramli hanya bisa membatin jika Mala ternyata adalah jodohnya. Mala sudah keluar dari kamar mandi melihat Ramli terus menatapnya.


"Ini perbuatan mu. jangan lagi minta siaran ulang. tidak! ini masih sangat sakit.


" Sayang kenapa galak seperti itu, senyum dong. Ramli terus menggoda istrinya hingga Mala tersenyum.


"Istirahatlah. Aku ke kamar mandi dulu."


Mala merasa geli dan ngeri mengingat kembali perlakuan Ramli padanya. menatap dirinya dan tidak percaya semua yang dilewatinya bersama Ramli.


Mala kembali berdenyut melihat tangan itu kembali merayunya. dirinya heran mengapa seakan dirinya selalu meminta lebih dari sekedar sentuhan itu.


"Oh.. Ramli kenapa sih suka gantung begini sih... eh tunggu dulu kenapa aku yang mesum begini.... hei Mala sadar.


Mala berbalik menatap wajah itu. Mala tidak bisa tidur. entah mengapa dia begitu gelisah.


" Aku bisa malu jika aku yang meminta dari suamiku. ih apaan sih otakku ini."


"Sayang, kenapa? kamu tidak bisa tidur?


Mala mengangguk.


" Sini. mendekat lah! "


Mala akhirnya mendekat dan Ramli memasukkan dalam pelukannya. Mala tersenyum dan suka bau aroma milik Ramli.


"Kenapa kau menatapku. masih? mau?


" Apaan sih.....


Ayolah masih ya?


Mala hanya diam. diamnya Mala membuat Ramli kembali bersemangat. Mala juga heran pada dirinya sendiri tidak bisa menolak ajakan Ramli. Hingga malam itu benar-benar mereka habiskan dengan momen yang akan tercetak dalam sejarah masa depan rumah tangganya.


Waktu terus berjalan. malam panjang itu mereka lewati hingga waktu subuh tiba. Mala terjaga setelah terdengar panggilan untuk menghadap sang Ilahi. Mala membangunkan Ramli dengan pelan Ramli bukannya bangun akan tetapi menarik Mala kembali masuk dalam pelukannya.


"Jangan bergerak biarkan dulu seperti ini. kita buat pahala sebanyak mungkin.


" Mala terkekeh mendengar kata pahala yang terlontar dari bibir suaminya.


"kenapa tertawa? apa yang aku katakan memang benar.

__ADS_1


Mala hanya geleng kepala mendengar ocehan suaminya panjang lebar. Mala menarik tangan suaminya untuk bangun dan menunaikan kewajibannya. Ramli menawarkan mandi bersama namun Mala menolaknya. Ramli tidak kehilangan akal. Ramli langsung menggendong tubuh istrinya.


__ADS_2