
Hari yang dinantikan menggelar sarjana pun tiba, kampus itu tampak begitu ramai wajah berseri para peserta wisuda sangat tampak jelas.
"Dih........yang pengantin baru makin cantik dan bercahaya aja deh, pasti semalam begadang nek..... ledek Mala pada Laila.
" Apaan sih kalian. " Laila menurunkan jari telunjuk Mala
"Melihat Laila terdiam Rani semakin penasaran. "Jadi berapa ronde nih.... malam pertamanya. gue bayangin deh pasti Fajri ....
"Apa?.... gak ada malam pertama. ngawur situ."
"Masa sih.... gue gak percaya deh. "
"Ya gak lah.... orang melakukan hal itu atas dasar cinta sementara aku dan Fajri beda. Kita menikah karena ayah memintanya. Laila diam dan sangat sedih ketika kembali mendengar perbincangan ayahnya saat itu.
" Lalu? Mala semakin penasaran.
"Intinya, dia menikahi ku bukan atas dasar cinta. Tapi aku ikhlas dengan ini semua. Walau aku dan dengannya sudah sumi istri tapi, aku tidak tahu hatinya untuk siapa. Aku kurang mengerti mengapa ayah memintanya menikahi ku. Aku seperti kehilangan harga diri. Ucap Laila dan kembali teringat ucapan Fajri
"Mengapa aku merasa kau selalu menjauhi aku, Laila Adzkia Tamin. Apa kau tahu, wanita pertama yang mengisi ruang hatiku adalah dirimu dan aku berharap kaulah yang pertama dan terakhir untukku."
keduanya kembali terdiam masih dalam posisi yang sama dimana Fajri masih memeluk Laila dari belakang. Dengan pelan Fajri menghadapkan tubuh Laila sejajar dengannya dan memegang kedua panggang Laila sambil rambut Laila yang terurai ia selipkan ditelinga Laila. Kemudian Fajri mengambil kedua tangan Laila dan meletakkan di bagian lehernya.
"Tatap aku jika memang kau tidak mencintaiku. Aku akan membuatmu jatuh cinta kembali padaku.
" Sabar ya.... kita selalu ada buat kamu." Mala membuyarkan lamunan Laila.
"Tapi kok aku tadi lihat dia juga disini? bahkan ayah dan ibu mertua serta adik ipar lo juga ada. Rani menimpali
__ADS_1
" Fajri datang itu karena mungkin bentuk tangung jawabnya sebagai suami, tidak lebih." Laila beranggapan.
Sebelum acara wisuda dimulai, kini Laila dan dua sahabatnya itu berfoto bersama, tak hanya dua sahabat Laila, satu kelas Laila ikut ambil bagian, mereka menjadikan hari itu adalah momen yang tidak pernah terlupakan.
Kini acara wisuda pun akan dimulai, para tamu undangan mengambil tempat duduk Masing-masing. Kedua orang tua dan kedua ibu mertua serta adik ipar Laila ikut serta dalam acara itu untuk menyaksikan hari wisuda Laila.
Acara terus berlangsung dan Laila tidak menyangka jika mahasiswa terbaik adalah dirinya. Tampak jelas rasa kagum terpancar di wajah Fajri sebagai suami Laila.
Sebelum mereka pulang mereka berfoto bersama. Setelahnya itu ayah dan ibu mertua Laila pamit setelah memberikan ucapan Selamat pada Laila karena harus bersiap mengantar adik Fajri ke pondok. Begitu juga dengan kedua orang tua Laila. Kini sisa Fajri menunggu Laila yang masih harus mengurus sesuatu.
Fajri menarik tangan Laila mengajaknya berfoto berdua. Tangan Fajri langsung memegang pinggang Laila, membuat Laila terperangah dengan sikap Fajri. Apa lagi saat wajah Fajri begitu dekat.
"Rileks saja." bisik Fajri membuat Laila sedikit merasa geli. " Lihat ke kamera dan senyum biar hasilnya bagus kelihatan, sayang." bisik Fajri lagi.
Mala dan Rani yang menyaksikan momen itu tidak percaya jika, Fajri tidak mencintai Laila.
" Cie.... yang udah pengalaman." ledek Rani.
"Aku jamin seratus persen, Laila akan bahagia.
" Amin, semoga saja. "Ucap Rani
Kini Laila berpisah dengan teman-temannya. Saat masuk mobil, Laila di kaget kan dengan buket bunga yang begitu besar.
"Ini untukmu, sayang. "selamat atas kesuksesan yang kamu raih. Kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi."
Laila hanya terdiam mencerna kata demi kata yang diutarakan Fajri. Laila hanya menganggap bahwa kata itu hanyalah sebuah hiburan untuknya bukan pernyataan perasan Fajri.
__ADS_1
"Terimakasih. ucap Laila dan menghindari tatapan Fajri. " ayolah aku ingin ke rumah ibu melihat syakira berangkat ke pondok.
"Kamu ingin ikut?
" kenapa? apa tidak boleh?
"baiklah kita ke sana."
Syakira begitu bahagia melihat kakak iparnya datang untuk mengantarkan dirinya akan ke pondok.
" Syakira antar kakak ipar kamu masuk kamar untuk beristirahat dulu!" perintah ibu Fatimah karena Ibu fatima yakin Laila pasti masih lelah dimana acara resepsi pernikahannya semalam begitu banyak makan waktu ditambah lagi acara wisuda hari ini juga begitu banyak menguras waktu.
Syakira pun mengantar Laila masuk kamar Fajri. Saat pintu kamar terbuka tercium aroma sang pemilik kamar sangat jelas pada indra penciuman Laila.
"Jam berapa kamu berangkat ke pondok?
" Setelah shalat ashar kak. Oya kak...apa kakak sudah lama mengenal kak Fajri?
"Tidak juga, hanya mengenal seperti itu."
" Apa kakak mencintai kak Fajri?
Fajri yang hendak masuk kamar mendengar perkataan syakira berharap Laila menjawab pertanyaan syakira. Fajri penasaran apa jawaban Laila.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?
"Ya.... karena aku yakin, kak Fajri pasti memiliki perasaan yang sama dengan kakak. Aku tahu kak Fajri seperti apa orangnya, ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun dan tidak mungkin kakak menikahi kak Laila jika dia tidak memiliki perasaan pada kakak." melihat Laila diam Syakira tidak memaksa kakak iparnya itu menjawab.
__ADS_1
Fajri seperti kecewa karena Laila tidak membalas pertanyaan Syakira. Padahal dirinya berharap jika Laila mengutarakan isi hatinya.