
Hai..... Author up lagi...... up.. up.... maaf baru up lagiπππ
Mohon selalu dukungannya jangan lupa beri like nya ya.....
...----------------...
Laila tampak begitu bahagia karena dua sahabatnya akhirnya menemukan belahan jiwanya. Sambil mengelus perutnya yang kini sudah berumur satu bulan satu minggu, membuat Laila semakin tidak sabar menyambut kehadiran buah cintanya bersama Fajri.
Wajah berseri begitu tampak sekali terpancar. Laila tidak menyadari jika Fajri sedari tadi memperhatikan dirinya memilih dan memilah gaun yang akan dikenakan dirinya sebentar malam untuk menghadiri undangan pernikahan Rani dan sekertaris Haris.
Laila terus bershalawat sambil sesekali memutar badannya dan bercermin sepuas dirinya. Memperhatikan setiap inci wajahnya. Sesekali tampak mengelus bibirnya membuat Fajri menelan Saliva nya.
Fajri tersenyum melihat aksi konyol istrinya dan merasakan kebahagiaan dalam relung hatinya. Laila yang asyik bersenandung tidak sadar kursi ada dibelakangnya, terus dan terus mundur
pak.... prak... .... A...............
"Laila......... .... ! " Fajri berteriak histeris melihat istrinya hampir jatuh dan untungnya Fajri dengan gerakan cepat berhasil menangkap tubuh istrinya itu.
Laila terdiam tidak merespon sama sekali karena masih syok...dan pingsan.
"Laila, sayang.......... bangun sayang........
Atung!!! "........ Fajri berteriak karena kebetulan dayan Atung sedang mengepel di luar kamar Laila.
Dayan Atung yang melihat Laila di pangkuan Fajri dalam keadaan tidak sadar juga ikut panik.
" Cepat! telpon dokter, sekarang! "
Fajri terus berusaha menyadarkan Laila namun sia-sia.
Atung yang berlari dari lantai atas ke lantai bawah dengan wajah yang begitu panik, mengundang semua orang di sana bertanya.
"Kenapa, Atung? tanya ibu lucia yang melihat atung hendak menelpon. Saking gugupnya Atung lupa jika dia cukup menelpon dokter lewat ponselnya.
" Anu nyonya..... Atung mau telpon dokter, soalnya tuan putri...... anu nyonya.... tuan putri pingsan."
"Apa? ibu Lucia panik dan segera berlari menuju kamar Laila.
Sampai di sana Laila sudah terbaring di atas kasur dimana Fajri terus menggenggam tangan istrinya. Dengan pelan mata Laila mulai terbuka.
__ADS_1
" Nak.... kau kenapa, sayang? kau baik-baik saja? Fajri kenapa Laila bisa pingsan, nak?
Fajri pun menceritakan kronologisnya hingga Laila hampir terjatuh. Ibu lucia menghembuskan napas panjangnya karena masih kaget. Tidak lama dokter pribadi keluarga itu datang dan memeriksa kondisi Laila.
Dokter hanya tersenyum pada Fajri dan mengatakan jika Laila pingsan hanya karena syok dan kondisi ibu dan anak dalam kandungannya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Setelah dokter pulang Fajri tidak hentinya mengomel atas kecerobohan istrinya. Sampai Laila merasa lucu atas sikap suaminya itu.
"Kenapa tertawa, lucu? suami ngomel kamu kira lagi paduan suara, iya? kalau terjadi sesuatu padamu dan bayimu bagaimana, hah? Sayang jangan ulangi lain kali seperti itu..... aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa." Fajri mengelus lembut kepala istrinya dan mengecupnya.
"Yang...... kamu kenapa, sayang? Laila bingung melihat wajah Fajri tiba-tiba berubah.
wek.......
wek......
Rasa mual yang tiba-tiba dirasakan oleh Fajri dan langsung masuk kamar mandi dan Laila menyusul suaminya.
" Sayang aku...... kamu baik-baik Saja? bukannya menjawab Fajri langsung me***** ***** istrinya itu dan Laila membiarkan hal itu. Setelah merasa baikan Fajri melepaskan panutannya.
Fajri terlihat loyo dan Laila membantu suaminya untuk berbaring. Laila tersenyum melihat keadaan suaminya.
Fajri hanya tersenyum dan menarik hidung istrinya karena merasa gemas. Lama keduanya bercanda Laila membantu suaminya membuka pakaian kantor milik suaminya yang sedari tadi belum di ganti.
*****
Di lain tempat Kini Rani dan Sekertaris Haris duduk bersanding bagaikan Ratu dan Raja di atas pelaminan yang begitu mewah.
Silih berganti tamu undangan datang memberi doa restu. Sesekali tampak terlihat Sekertaris Haris menatap wajah Rani yang kini sudah Berstatus sebagai istrinya.
Rani yang melihat suaminya itu berubah menjadi sedih saat mengingat dimana dia berkunjung menemui kedua orang tua Sekertaris Haris
Flashback Rani
Memasuki sebuah desa terpencil membuat Rani tidak percaya jika calon suaminya itu tinggal di sebuah desa yang sangat jauh dari kota. Jalan menuju desa itu cukup memakan waktu karena kondisi jalan yang belum terjamah.
Sampailah Rani dan Sekertaris Haris di sebuah rumah mungil yang terlihat bersih namun, dalam keadaan kosong. Rani cukup heran mengapa rumah sebersih ini tidak berpenghuni.
"Kak.... Ayah, ibu di mana? Apa dia ada keluar kerja?
__ADS_1
Sekertaris Haris bukannya menjawab tapi duduk dan langsung menutup wajahnya dan meneteskan air mata.
Sekertaris haris menarik tangan Rani menuju halaman belakang tampaklah di depan Rani dua batu nisan berdiri.
" Kak apa maksudnya ini?
"Dia orang tuaku, sayang. Ayah meninggal karena penyakit kanker. Saat dimana usiaku masih 18 tahun dan belum seperti sekarang, Saat itu aku hanya bisa meratap karena tidak memiliki biaya untuk membawa ayah berobat hingga akhirnya ayah menghembuskan napas terakhirnya. Saat itulah aku berjanji akan menjadi Laki-laki sukses.
beberapa tahun kemudian setelah ayah pergi, sahabat ayah datang dan memintaku menikahi putrinya namun, takdir berkata lain, di malam pengantin kami, dia kabur dariku.
karena syok ibu pingsan dan tidak pernah sadarkan diri hingga ajal datang menjemputnya. Saat itulah aku benar-benar merasa kehilangan. Seketika semua seakan berubah menjadi buram.
hingga suatu hari aku ke kota dan bertemu dengan tuan David dan memintaku bekerja di perusahaan miliknya, serta memberiku tempat tinggal dan menjadikan aku sebagai kepercayaan beliau. Saat itulah duniaku berubah.
Flashback berakhir
Lamunan Rani buyar seketika saat sekertaris Haris tiba memberikan kecupan di pipinya di hadapan semua tamu undangan.
"Kak... apaan ih.... malu." Rani merona.
Tuan David datang dengan keluarganya membuat para tamu undangan lainnya menyambutnya.
"Selamat untukmu Haris.... terus bahagia." ucap David Tamin dan memeluk sekertaris Haris, kemudian David Tamin memberi kode pada seseorang untuk memberikan sebuah kado pada Sekretarisnya itu. "Bukalah! perintah David
Seketika mata Sekertaris Haris membulat saat melihat sebuah kunci mobil di sana. Hingga akhirnya satu persatu tamu undangan memberikan ucapan selamat dan doa restu pada sepasang suami istri yang kini berbahagia.
Acara puncak selesai. Semua para tamu undangan telah kembali dan begitu pula dengan Rani dan Sekertaris Haris memilih pulang ke rumah huniannya yang sudah lama Sekertaris Haris siapkan.
Ibu Rani juga sudah tinggal bersama di rumah mereka atas permintaan dari Sekertaris Haris sendiri. Awalnya ibu Rani tidak enak hati jika harus tinggal bersama anak dan mantunya, namun karena Sekertaris Haris meyakinkan ibu Rani pun akhirnya mengalah.
"Apa kamu suka rumah ini? maaf ya jika rumahnya tidak begitu besar."
" Kak, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih atas semuanya."
Sekertaris Haris menarik tangan Rani dan kini keduanya duduk di tepi ranjang. Mata keduanya bertemu, saling menautkan jari jemari keduanya. Sekertaris Haris mengecup pucuk kepala Rani dan tersenyum.
"Jujur aku sangat bahagia bersamamu, aku mencintaimu, Rani Paramita.
Rani merona seketika itu, Jantungnya berdenyut begitu cepat. wanita memang begitu suka saat dimana laki-laki mengutarakan perasaannya. Namun
__ADS_1
Keduanya mengungkapkan perasaan hingga akhirnya keduanya menghabiskan malam panjang itu.