
Alina saat keluar dari hotel
Dengan langkah gontai Alina menyeret koper miliknya,ia memasuki lift dan langsung menekan lantai tujuannya yang dipastikan lantai dasar,lima menit berlalu benda kotak persegi itu berhenti dan terbuka secara otomatis,masih dengan langkah gontainya Alina keluar dari lift itu,ingin rasanya ia berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat yang menurutnya bagaikan Neraka itu,tapi sayang ....tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk sekedar melangkah
Alina menyusuri koridor yang tampak sangat mewah,menunjukkan bahwa hotel tersebut adalah hotel berkelas,Alina menunduk dalam saat melewati meja resepsionis,ia merasa sangat malu pada orang-orang yang mungkin menatap ke arahnya,seakan mereka tau apa yang terjadi pada dirinya,walaupun pada kenyataannya tidak ada yang tau kecuali orang-orang suruhan Niko dan Gabriel
Alina menghentikan sebuah taksi dan meminta mengantarnya ke bandara,air matanya kembali mengalir saat ia sudah berada di dalam taksi tersebut,membuat sang supir taksi sedikit heran,ingin bertanya takut terkena masalah mengingat Alina yang keluar dari hotel yang terkenal sangat mewah itu,sehingga membuat sang supir taksi mengira bahwa Alina bukan lah gadis sembarangan,sang supir taksi itu menduga bahwa Alina adalah putri dari seorang pengusaha hebat atau pejabat tinggi negara
" Pak...bisa tolong bawakan koper saya sampai di kursi tunggu aja,kepala saya sangat pusing" pinta Alina pada sang supir taksi saat mereka tiba di bandara
" Oh bisa dek,mari saya antar kedalam,atau sekalian saya bantu buat boarding pass?" tanya sang supir taksi terlihat prihatin
" Saya belum beli tiketnya pak..." jawab Alina lirih
" Lah....kok..??Mau saya yang belikan,adek nya mau kemana?"heran sang supir seraya bertanya lagi,terlihat supir taksi itu semakin khawatir' apakah gadis ini kabur dari rumah?' batin sang supir taksi dengan berbagai pertanyaan,ia memang tidak bisa melihat wajah cantik Alina secara keseluruhan karena gadis cantik itu memakai masker sehingga menutupi sebagian wajahnya,tapi supir taksi itu yakin gadis penumpang nya ini masih sangat muda dan pasti cantik,terlihat dari batang hiding nya yang tampak jelas mancung,matanya bulat dengan bulumata lentik seperti boneka,ditambah dengan alisnya yang terlihat tebal dan rapi alami,kulit nya juga tampak seputih susu
" Jakarta..tolong belikan tiket ke jakarta untuk saya,ini kartu identitas saya" jawab Alina yang tampak semakin lemah,sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa sakit dikepalanya,Alina menyerahkan paspor miliknya,karena memang ia belum memiliki KTP,usianya belum gebap 17 tahun
" Ya sudah kamu tunggu disini ya,akan saya belikan" jawab supir taksi itu dan langsung meninggalkan Alina,tak berselang lama pria paruh baya itu sudah kembali dengan satu lembar tiket menuju jakarta di tangan nya
" Ini dek tiketnya,tapi ga ada yang keberangkatannya pagi ini,hanya siang,sore dan malam yang ada,saya ambil yang siang" ucap supir taksi tersebut seraya menjelaskan
" Tidak apa pak,terimakasih banyak atas bantuannya,ini ongkos saya dan sisanya buat bapak aja" jawab Alina lirih,tubuhnya terasa semakin berat dan matanya sedikit terasa rabun
" Terimakasih ya dek...semoga selamat sampai tujuan,maaf harus saya tinggal,karena saya juga harus bekerja agar bisa memenuhi setoran saya ke pak bos" ucap sang supir taksi tulus
" Sama- sama pak,bapak hati- hati ya..saya tidak apa-apa pak,Insya Allah akan baik-baik saja, Assalammualaikum" balas Alina lembut
__ADS_1
" Waalakumsalam..Amiiinn." jawab singkat supir taksi itu seraya mulai melangkah meninggalkan Alina dan kembali ke parkiran,tempat ia memarkirkan taksi miliknya
Didalam bandara Alina merasakan tubuhnya semakin tidak karuan,bayangan kejadian semalam kembali menghantui pikirannya,membuat ia seakan sangat takut saat berjumpa dengan lawan jenis,terlebih jika mereka menatap dirinya,ingatan Alina langsung tertuju pada saat Gabriel menarik kasar hijabnya hingga terlepas
Alina sedikit mengusap tengkuknya saat ia kembali teringat akan tanda merah di leher dan dadanya,seluruh bulu kuduknya merinding,rasanya ingin sekali ia mengupas kulitnya andai bisa
" Ya Allah hamba sangat kotor" ucap Alina lirih seraya menggeleng dengan mata terpejam
Andai waktu bisa diputar kembali,ingin ia mengikuti pilihan Almarhum Abinya yang menginginkan ia melanjutkan pendidikannya ke Tarim,negeri yang dijuluki dengan tanah seribu Wali,tapi sayang...waktu tak dapat diputar kembali dan Alina percaya...bahwa penyesalan memang selalu datang di akhir
Merasa bosan Alina menuju Mushalla yang terdapat di bandara,ia ingin melaksanakan Shalat sunat Dhuha,berharap bisa mendapatkan petunjuk agar merasa lebih tenang,setelah terlebih dahulu berwudhu,Alina melangkah memasuki Mushalla,kakinya bergetar dengan air mata yang kembali tumpah,ia merasa bahwa dirinya sangat kotor sehingga merasa malu untuk memasuki tempat suci itu
" Ya Allah ....ampuni segala dosa hamba dan keluarga hamba...hamba mohon ...berikan hamba petunjukMu ya Allah,hamba percaya Engkau maha mengetahui segalanya,Engkau Maha membolak-balikkan hati kami,lembutkanlah hati orang itu...,lindungi hamba ya Allah" mohon Alina dalam doanya saat ia selesai melaksanakan Shalat sunat dua rakaatnya
Merasa sedikit lebih tenang,Alina melangkah meninggalkan Mushalla dan menuju toilet,kepalanya yang semakin pusing membuat ia merasa sedikit mual dan ingin munxx,Alina melangkah sedikit cepat karena perutnya terasa semakin bergejolak,hingga ia tidak terlalu memperhatikan jalan dan berujung menabrak sesuatu
Brug...
" Ga apa...saya baik-baik saja" jawab wanita paruh baya yang ia tabrak,seraya menatap wajah Alina yang kebetulan belum memakai kembali maskernya yang ia buka tadi saat akan Shalat
" Sekali lagi maafkan Alina ya bu..." pinta Alina lagi seraya hendak melangkah meninggalkan wanita paruh baya itu
" Tunggu...wajah kamu sangat pucat nak,apa kamu sedang sakit?" tanya wanita paruh baya itu,terlihat khawatir,mata cantik nya terus memindai wajah cantik Alina,beliau merasa tak asing dengan wajah gadis cantik itu,membuat beliau merasa seperti Dejavu
" Al-Al...Al baik-ba.....huek..." jawab Alina terputus-putus dan akhirnya ia tak sanggub lagi menahan rasa mualnya dan langsung berlari memasuki toilet menuju westafel
" Ya Tuhan....kamu kenapa? " panik nyonya Miranda saat melihat Alina yang tiba-tiba lari menuju westafel dan munxxx
" Saya ga pa pa bu,mungkin hanya masuk angin sedikit,karena saya telat makan" alasan Alina lirih
__ADS_1
" Dimana keluargamu? Biar saya panggilkan" tanyanyonya Miranda terlihat panik seraya tangan lembutnya refleks memijat pelan tengkuk Alina yang tertutup hijab
" Saya sendiri bu" lirih Alina,membuat nyonya Miranda heran karena bagi beliau Alina masih sangat muda mengapa keluarganya tega membiarkannya mekakukan perjalalanan seorang diri yang bahkan mungkin sebuah perjalanan jauh
" kamu mau kemana?" tanya nyonya Miranda masih dengan wajah khawatirnya,entah mengapa beliau merasa sangat prihatin pada gadis yang tampak sedang tidak baik-baik saja
" Saya-.." Ucapan Alina terhenti dan tanpa diduga
BRUK
Tubuh indah Alina terkulai lemah nyaris jatuh ke lantai seandainya Nyonya Miranda tidak segera menangkap tubuh indah gadis cantik itu,dan hal itu berhasil membuat seorang Nyonya Alvaro Altop merasa sangat terkejut dan panik pastinya
" Ya Tuhan...Nak..Hai...Nak..." panggil Nyonya Marina seraya menepuk pelan pipi mulus Alina,tapi sayangnya gadis cantik itu tampak tak bergeming sedikitpun,membuat Nyonya Miranda harus meminta pertolongan pada beberapa orang agar sudi membantu beliau memapah tubub tak berdaya Alina ke Mushalla yang memang tak terlalu jauh dari TKP
Dengan sangat sabar dan lembut Nyonya Miranda mengusapkan sedikit minyak Telon ke hidung nya,tapi sampai beberapa menit masih Belum juga sadar,membuat Nyonya Miranda mengambil keputusan untuk menelfon salah satu sahabatnya agar bersedia datang dan ikut serta menolong gadis yang bahkan beliau belum tau nama aslinya
📱- " Halo Ci...maaf mengganggu kamu masih di Batam kan?" tanya Nyonya Miranda to the point
📱-" Ya aku masih di Batam..ini sedang dalam perjalanan menuju ke Bandara,ada apa Mir...? " Tanya wanita paruh baya yang bernama Suci yang tak lain adalah mamanya Gerald dan sahabat nyonya Miranda,beliau merasa khawatir saat mendengar suara sang sahabat yang terdengar sedang panik
📱- " Syukurlah...aku tunggu di Bandara ya dan tolong kamu langsung ke Mushalla yang terdapat di dalam Bandara,aku sedang butuh pertolongan mu" jawab nyonya Miranda terus terang walaupun tidak menceritakan langsung pertolongan apa yang beliau butuhkan dari sang sahabat yang berprofesi sebagai seorang Dokter ukum sama seperti Nyonya Miranda yang juga seorang Dokter kecantikan,tapi sayang beliau tidak di izinkan oleh sang suami untuk menekuni keaglian beliau,walaupun demikian beliau juga memiliki Brand kecantikan milik beliau yang beliau percayakan pada orang kepercayaannya
📱-" Kamu baik- baik aja kan Mir? Suara kamu terdengar panik,apaun itu tenangkan dirimu" tanya nyonya Suci seraya menasehati
📱-" I'm fine...tapi ada seseorang yang butuh banget pertolongan kamu" jawab nyonya Miranda pasti
📱-" Oh...ok..kurang dari sepuluh menit aku sudah tiba di bandara" jawab nyonya Suci,berharap hati beliau juga suci agar sesuai dengan nama yang kedua orang tua beliau berikan
📱-" Ok aku tunggu" jawab nyonya Miranda berharap sang sahabat akan benar-benar datang
__ADS_1
Fokus Nyonya Miranda kembali menatap wajah cantik Alina yang terlihat sangat pucat dan sesekali tampak gelisah,sepertinya gadis cantik itu sedang bermimpi buruk ,sehingga sesekali matanya tampak mengeluarkan air mata,walau begitu tidak sedikitpun mengurangi kecantikan alami seorang Alina Haya