Your Angle My Heart

Your Angle My Heart
58


__ADS_3

Dalam perjalanan pasangan muda itu tampak diam,tak satupun yang berniat memulai pembicaraan,sedangkan Niko sibuk dengan pekerjaan nya,sesekali ia menjelaskan beberapa hal penting pada sang atasan agar mempercepat kejra mereka yang memang sedang banyak-banyak nya,Gabriel disibukkan dengan beberapa Email dan juga harus menandatangani beberapa berkas penting yang harus ia rampungkan hari itu juga


Sang sopir tampak fokus dengan kemudinya,sesekali matanya mencuri pandang pada gadis cantik nan teduh yang berada di kursi penumpang bersama sang tuan muda,gadis yang tampak melamun memandangi pemandangan jalanan yang tampak ramai dan berfolusi


" Jaga matanya mang dari istri saya" ucap Gabriel tegas bernada dingin namun penuh peringatan


" Ma- maaf tuan muda" jawab mang Udin gugup,selain takut ia juga terkejut saat mendengar ucapan sang tuan muda yang mengatakan bahwa gadis cantik itu adalah istri nya,yang artinya gadis itu adalah nona muda nya


Sedangkan Alina mengarahkan pandangan nya menatap Gabriel saat memdengar ucapan pria tampan itu,entah mengapa ada secerca rasa bahagia saat status mereka di akui walau itu hanya pada supir sang suami


" Kenapa liatin aku seperti itu? ada yang salah dengan ucapan ku baru saja?" tanya Gabriel santai


Tidak menjawab..Alina hanya menggeleng,rasanya terlalu lelah jika harus berdebat dengan pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu,terlebih dihadapan orang lain,sebisa mungkin Alina tak ingin berdebat dihadapan orang lain


" Mau makan apa?" tanya Gabriel setelah ia melihat jam yang melingkar di tangan nya, yang ternyata menunjukkan sudah hampir sore


" Saya makan di rumah aja" jawab Alina pelan,sebisa mungkin ia tak ingin berinteraksi terlalu lama dengan pria yang menurutnya menyebalkan tapi sayangnya pria itu berstatus suaminya


" Di apartemen ga ada yang masak,chef nya izin cuty beberapa hari" jawab Gabriel memberitahukan


" Saya mau langsung pulang" jawab Alina keukeh,Gabriel tak menjawab lagi,ia sedang tidak ingin berdebat dengan istri kecilnya


" langsung ke apartemen Nik" perintah Gabriel


" Baik tuan " jawab Niko patuh


Mobil mewah berlambang GA group melaju menuju alamat yang Niko perintahkan,tak ada lagi obrolan atau pembicaraan apapun di dalam nya,semuanya tampak hening dengan pikiran masing-masing


Tiga puluh menit berlalu...mobil yang membawa Gabriel beserta sang istri memasuki basement bagian belakang Apartemen,basement yang di khususkan untuk orang-orang tertentu yang menghuni aapretemen itu,dengan sigap sang supir membukakan pintu untuk sang nona muda,hal yang sama juga di lakukan oleh Niko pada sang tuan muda


Alina melangkah menuju lift setelah mengucapkan terimakasih dengan sikap sopan dan ramahnya,membuat mang Udin sangat terharu dan kagum,namun yang menjadi pertanyaannya mengapa sang tuan muda bertunangan lagi jika memang sudah menikah? Apakah pernikahan nya ini dirahasiakan dari tuan dan nyonya besar? Bermacam pertanyaan muncul dalam benak sang supir


" Apa tuan dan nyonya besar ga tau kalau tuan muda udah nikah? Atau ga setuju dengan pilihan tuan muda? Makanya dijodohin dengan perempuan lain? Tapi apa alasannya ga setuju? Keliatannya neng cantik ini gadis baik-baik juga sopan, udah ah pusing mikirin hidup orang kaya,ribet" batin mang Udin bingung


" Nik...kamu langsung balik ke kantor dan gantikan saya meeting sore nanti" perintah Gabriel pada sang Asisten


" Baik tuan" jawab Niko patuh,lagi hanya Kata keramat itu yang bisa ia ucapkan pada sang atasan jika ia ingin selalu berada di titik aman


Niko memutuskan kembali ke kantor bersama sang supir,ia harus cepat menyerahkan beberapa berkas penting pada Kasih sekretaris Gabriel yang sejak tadi menghubungi nya meminta berkas yang harus ia kirim pada klien mereka


Sedangkan Gabriel berjalan mengikuti Alina memasuki lift,kedua nya terdiam saat berada di dalam lift dengan pikiran masing- masing,kecanggungan jelas terlihat diantara keduanya,serta ketakutan Alina yang masih muncul saat bersama Gabriel masih membuat gadis cantik itu enggan untuk bicara


Keduanya keluar saat lift berdenting menandakan telah samapi di lantai tuajuan mereka,keduanya keluar setelah lift terbuka,jalan beriringan namun masih saling diam,sesekali Gabriel melirik pada Alina yang tampak terus menunduk


Alina memasuki kamarnya meletakkan tas dan meletakkan sepatunya pada tempatnya,ia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan melanjutkan dengan menunaikan ibadah empat rakaatnya yang hampir terlambat,,awalnya ia dan ketiga sahabatnya berencana melaksanakan Shalat di Mushalla yang tersedia di Mall tempat mereka nonton,namun harus gagal karena kehadiran si tuan muda Altop

__ADS_1


Sedangkan Gabriel memasuki ruang kerja,meletakkan jas nya di atas sofa ruangan tersebut,ia menuju meja kerjanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang lumayan menumpuk,belum lagi ia juga harus mengikuti perkuliahan pasca sarjananya,sesaat Gabriel memijit pelipisnya yang terasa berdenyut


Didalam kamar Alina merasa perutnya lapar,sehingga ia memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya,ia mengenakan dress rumahan dengan hijab instan,melangkah menuju dapur berharap ada makanan yang bisa ia makan,namun sayang nya harapannya harus pupus saat melihat meja makan kosong dan dua Art yang bertugas di dapur juga tak ada


Huffftt


Alina menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan,ia bingung barus apa ..sedangkan dirinya benar- benar buta akan urusan dapur,bukan ia tak mau belajar,namun saat masih bersama sang Umi ia selalu dilarang untuk berada di dapur karena hanya mengacaukan kata sang Umi,ia diwajibkan untuk fokus pada tugasnya yaitu belajar dan mengaji,hal yang sama juga terjadi saat ia berada di kediaman keluarga Alexander


" Masak mie intans aja kali ya...ga terlalu buruk juga,gampang tinggal sedu" monolog Alina seorang diri,ia mulai memasuki dapur,tepatnya area yang biasa digunakan chef untuk memasak


" Nona cari apa?" tanya Dinda tiba-tiba berada di dapur,membuat Alina terlonjak kaget


" Astaghfirullah...mbak...kaget deh" jawab Alina dengan ekspresi terkejutnya seraya mengusap-ngusap dada


" Maaf nona..apa yang nona lakukan di dapur? Nona butuh sesuatu?" tanya Dinda mengulangi pertanyaan nya


" Cari mie instan mbak,ada ga? Aya pengen deh kayak nya" jawab Alina


" Kalau di sini ga ada non,biasanya di dapur para Art ada,sebentar saya liat dulu,tapi...apa tidak apa-apa kalau nona makan mie instan? Kita deliveri makanan lain aja non kalau nona lapar" jawab Dinda seraya memberikan ide


" Emang kenapa mbak? Sesekali juga ...ga bakalan langsung sakit deh,Aya bukan laper mbak,tapi cuma lagi pengen yang kuah-kuah aja" jawab Alina beralasan,gengsi pastinya jika ia mengatakan dirinya lapar,apalagi tadi ia menolak tawaran makan dari Gabriel


" Tapi nanti tuan muda marah non" jawab Dinda ragu,rasanya ia sangat tak ingin bermasalah dengan sang tuan muda yang menurutnya sangat tegas,terlebih jika menyangkut tentang sang nona muda


" Ga akan mbak...orang nya juga di kamar nya kok,atau lagi sibuk kerja di ruang kerja nya" jawab Alina meyakinkan,membuat Dinda pasrah dan tak lagi menolak permintaan sang nona muda


" Ini non..mau rasa apa?" tanya Dinda menyerahkan dua bungkus mie instan ketangan sang nona muda


" Wow...pasti enak,Aya mau yang rasa soto aja deh mbak" sambut Alina sumringah,wajahnya berbinar melihat mie instan tersebut,layak nya bocah yang baru saja mendapatkan mainan impiannya


" Biar saya siapkan non..nona tunggu di meja makan aja" pinta Dinda sopan seraya meraih mie rasa soto dan akan menuju kompor,namun terhenti oleh tangan lembut sang nona yang menahannya


" Eh..ga usah mbak,biar Aya aja ya,Aya mau masak sendiri aja,mbak lanjutin aja pekerjaan mbak,atau istirahat aja" jawab Alina seraya meraih mie dari tangan Dinda dengan cepat


" Tapi non ..." ucap Dinda ragu,ia bingung cara menjelaskan pada sang nona muda bahwa tuan mudanya sudah mengingatkan agar tek mengizinkan Alina ke dapur


" Hust...udah ya,mbak tinggalin Aya sendiri,Aya ga mau di ganggu" jawab Alina cepat memotong ucapan sang asisten,dengan nada sok galak nya


Tanpa bisa membantah akhirnya Dinda melangkah ragu meninggalkan sang nona muda yang tampak mulai menyalakan kompor dan menyeduh air menggunakan panci,seraya membuka kemasan mie instan dan menuangkannya kedalam panci


Alina membaca petunjuk penyajian pada kemasan seraya menunggu mie yang ia seduh mendidih,tak lupa ia menyiapkan mangkok sebagai wadah mie nya saat sudah masak


Mata Alina berbinar saat melihat mie yang ia rebus tampak sudah masak sedikit mengeluarkan aroma gurih khas makanan cepat saji,setelah mematikan kompor Alina menuang mie tersebut kedalam wadah,tak lupa ia menambahkan bumbu yang sudah tersedia dalam kenasan dan sedikit menuangkan kecap dan saos dan mie instan milik nya siap di santap


Pranggggg

__ADS_1


" Aw ....ish ..." keluh Alina saat merasakan tangan nya panas akibat tersiram kuah yang tadi ia bawa


" Nona....Astaga....apa yang terjadi? " Pekik Dinda refleks saat melihat Alina yang berjongkok seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang tampak basah oleh kuah,mangkok dan mie kuah nya tampak berhambur dihadapannya


" Mie nya tumpah mbak" jawab Alina lesu dengan suara sendu,matanya berkaca-kaca,ia sangat kecewa,usahanya sia-sia..padahal ia sudah sangat berharap menikmati segar guruhnya mie kuah rasa soto pilihannya itu


Baru saja Dinda ingin mengatakan sesuatu,suara bariton nan tegas seseorang mengagetkan keduanya,terlebih Dinda,ia terdiam kaku seakan tubuhnya tak bisa lagi ia gerakkan,jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari detak normalnya


" Ada apa Dinda?" tanya Gabriel dingin,sorot matanya mengintimidasi siapa saja yang melihatnya


" I-itu tuan muda...no-nona muda ...." ucapan Dinda terhenti dengan ucapan tegas dari sang tuan muda


" Telfon dokter Gerald agar datang ke sini sekarang juga" perintah Gabriel dingin


" Baik tuan" Jawab Dinda cepat seraya meraih handphone nya dan menghubungi Gerald


Ia melangkah mendekati Alina yang tampak menunduk seraya masih mengibas-ngibaskan tangan nya,tanpa mengatakan apapun ia mengangkat tubuh ramping itu,mendudukkannya di samping westafel,meraih tangan nya dan mencucinya di westafel


Alina tak tak membantah sedikitpun,ia tak berani bersuara bahkan untuk sekedar mengangkat wajahnya saja ia rasanya tak mampu,jantungnya berdebar tak menentu,entah itu takut atau grogi ia juga ga terlalu paham


" Bukankah tadi sudah aku katakan bahwa chef sedang cuti dan menawarkan mu makan di luar" ucap Gabriel dingin


Alina masih tak menjawab,ia masih terdiam tanpa kata,sekuat tenaga ia menahan agar matanya tak mengeluarkan butiran bening nya,bukan rasa panas di tangannya yang ingin ia tangisi,tapi rasa kecewanya karena gagal menikmati mie kuah miliknya


Gabriel kembali menggendong Alina dan membawanya ke ruang tengah,mendudukkan gadis cantik itu di salah satu sofa dan meraih sebuah tisu berniat membersihkan hijab Alina yang tambak terkena sedikit kuah


" Bi-biar saya saja" ucap Alina pelan saat tangan Gabriel mengarah ke hijabnya yang tepatnya di bagian da-da


" Diam dan jangan membantah" ucap Gabriel dingin,membuat Alina meneguk salivanya pelan


Tanpa memperdulikan wajah cemberut Alina,dengan sangat lembut Gabriel mengusap hijab Alina hingga tampak lumayan bersih,,sedangkan Alian mencoba memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap wajah tampan Gabriel yang baru pertama kali ia lihat sedekat ini dengan keadaan tenang,mengingatkannya pada kisah beberapa tahun lalu saat ia menabrak seseorang di bandara


" Aku memang tampan,jangan terlalu lama menatap ku nanti kamu jatuh cinta" ledek Gabriel,membuat Alina langsung menunduk seraya mencebikkan bibirnya,membuat Gabriel tersenyum sangat tipis,bahkan Alina pun tak bisa menyadarinya


" Apa beberapa tahun lalu kita pernah bertemu?" tanya Alina ragu


" Pernah...beberapa kali malah,bahkan kita pernah menghabiskan malam bersama" jawab Gabriel santai,namun hal itu membuat Alina terdiam


" Kenapa ...? Ada yang salah dengan jawaban ku? " Tanya Gabriel seakan tak bersalah


" Bukan kejadian menjijikkan itu yang ingin saya tanyakan,bahkan saya sangat ingin melupakan kejadian terburuk dalam hidup saya" jawab Alina berubah dingin


" Lalu..? Pertemuan kita yang mana? Oh..itu..pertemuan pertama kita saat di bandara saat seorang bocil nabrak saya dan meluk saya? Atau pertemuan kedua saat seorang gadis bocil berhijab memasuki sebuah club? Yang mana yang paling berkesan menurut kamu?" tanya Gabriel santai


Alina tak menjawab lagi,ia menganga mendengar jawaban Gabriel yang sungguh diluar ekspetasi nya,bahwa pria itu adalah orang yang sama dan masih mengingat pertemuan pertama mereka,tapi untuk pertemuan kedua? Alina merasa heran,karena ia tak ingat bertemu dengan Gabriel

__ADS_1


" Jangan bengong seperti itu,nanti aku cium kamu" Ucap Gabriel membuat Alian refleks membekap mulutnya dengan mata melotot,belum sempat ia menjawab suara bel apartemen berbunyi dan tampak Dinda dari arah belakang melangkah cepat menuju pintu,membukakan pintu yang sudah mereka ketahui siapa yang datang


__ADS_2