
Alina berjalan memasuki Apartemennya,tangannya menenteng paperbag dengan label salah satu changfood ternama,wajahnya tampak berseri,ia melangkah menuju meja makan,namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang duduk disana tengah menatapnya penuh intimidasi
Rasa takut Alina tiba-tiba kembali muncul,tatapan itu mengingatkan ia pada tatapan satu tahun lebih yang lalu,tatapan penuh amarah dan tanda tanya,terlebih siang ini Alina belum meminum obat nya
" Dari mana kamu?" pertanyaan pertama dengan nada di dingin pria itu tanyakan
" Da-dari Masjid menghadiri pernikahan dokter Raffa,mengapa tuan tidak datang ? Saya menunggu disana" jawab Alina seraya menunduk,ia meremat kuat tali paperbag dalam genggaman nya,Alina memberanikan diri untuk bertanya
" Untuk apa? Untuk apa saya datang? Menjadi saksi pernikahan setingan nya dengan dokter koas itu? Kalian kira saya bodoh?" tanya Gabriel bertubi-tubi,ia baru tau tadi dari orang suruhannya yang mengawasi Alina,andai ia tau lebih cepat sudah pasti ia gagalkan,terlebih ayah dari wanita itu adalah OB di kantor nya,maka dengan mudah ia membatalkannya,terlebih jika alasannya karena uang
" Untuk menepati janji anda,bukan kah tuan tidak menentukan dengan siapa dokter Raffa menikah? Dan saya tidak peduli pernikahan itu setingan atau bukan,yang saya inginkan tuan membebaskan saya,hanya itu.." jawab Alina jelas,ia bertekad menyatakan pendapatnya dan menuntut Gabriel untuk menepati janjinya
" Dan setelahnya kamu akan menikah dengan dokter itu? apakah kurang kebebasan yang selama ini saya beri ke kamu hem? Dimana kurang nya Alina Haya...coba kamu katakan?" ucap Gabriel tenang seraya melangkah mendekati Alina
Melihat Gabriel mendekat refleks Alina mundur,tubuhnya mulai bergetar disertai keringat dingin" please...jangan mendekat" pinta Alina lirih
" Kenapa hm? Bukankah kemarin kamu bahkan berani memeluk seorang pria? Dan hari ini kamu bisa tersenyum sangat manis pada pria lain lagi? Lalu mengapa tidak dengan saya? Bukankah itu semua lebih pantas untuk saya...istri ku?" tanya Gabriel dengan wajah dinginnya
" Tidak jangan...pleasee jangan mendekat...Aya mohon...." jawab Alina tiba-tiba histeris,ia terduduk di lantai seraya menutup telinganya dengan kedua tangannya,paperbag yang tadi ia pegang terjatuh di lantai,melihat itu Gabriel tak tega
Refleks Gabriel berjongkok di depan Alina dan menarik gadis itu dalam dekapannya,entah mengapa hatinya sakit melihat Alina seperti itu
" Tenang ada aku...jangan takut..." bujuk Gabriel seraya mengecup puncak kapala Alina yang tertutup hijab,suara dinginnya berubah menjadi sangat lembut dan bernada khawatir
Alina tak menjawab ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gabriel,nyaman dan aman..itu yang gadis itu rasakan,ia bahkan lupa pria itulah yang ia takuti
Alina masih seseggukan dalam dekapan Gabriel,ia bisa merasakan kemejanya basah oleh air mata Alina,dengan sangat lembut dan sabar pula Gabriel mengusap punggung Alina seraya mengecup puncak kepalanya berulang kali,membuat para pelayan baper melihat nya
Sampai beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus dengan nafas teratur,menandakan gadis cantik itu sudah terlelap
Dengan sigab Gabriel menggendong Alina ala bridal style,membawanya ke kamar utama,meletakkannya secara perlahan seakan sangat takut gadis itu akan terganggu,ia menatap Alina dalam dengan tatapan yang entah apa artinya,bahkan ia sendiri pun masih belum yakin dengan dirinya
Gabriel melihat Alina gelisah setelah ia menyelimutinya,keringat tampak membasahi dahinya" Umi...tolong Aya..Aya takut,Abi..tolong Aya...tampak butiran kristal membasahi pipi mulusnya" Alina bergumam dalam tidurnya dan Gabriel mendengar nya
Perlahan Gabriel menaiki ranjang setelah membuka kemejanya dan meletakkannya di sandaran sofa menyisakan kaos putih pas body,memposisikan dirinya tepat disamping Alina,dengan sangat hati-hati menarik gadis beraroma bayi itu dalam dekapan nya tak lupa Gabriel membuka hijab sang istri,tampak jelas dimatanya rambut panjang kemerahan Alina
Gabriel menjadikan lengan nya bantal untuk Alina,ia menghirup dalam-dalam aroma vanila yang menguar dari rambut Alina bercampur aroma khas bayi dari tubuh gadis itu,dan sial nya itu berhasil membangkitkan sisi lelakinya yang bahkan belum pernah ia rasakan pada wanita lain
" Shiiit.." umpatnya geram dengan hormonya yang muncul tanpa tau keadaan,Gabriel mengutuk dirinya ssndiri yang datang di waktu yang tidak tepat dan tidak bisa mengontrol emosinya saat berbicara dengan Alina
__ADS_1
Gabriel meninggalkan beberapa meeting nya bersama klien karena pikiranya masih belum bisa tenang setelah melihat Alina berpelukan dengan Dave ditambah lagi tuntutan dari sang mama yang malah mengatakan sudah menentukan tanggal pertunangannya dengan anak salah satu rekan bisnis mereka
Tapi Gabriel juga bersyukur karena ternyata Cika takut dengan ancamannya agar menolak menikah dengannya dan Gabriel juga mengatakan bahwa ia sudah menikah namun belum diketahui oleh keluarganya dan ia mengatakan agar Cika tutup mulut
" Huff...gimana cara ngomong nya ya, trus alasannya apa ya" monolog Gabriel,ia bingung sendiri mencari cara untuk bicara dengan Alina tentang permintaan mamanya,jika ia berterus terang maka akan dipastikan Alina akan langsung meminta perceraian dan entah mengapa ia seakan ga rela melepas Alina terlebih membayangkan gadis itu akan bersama Raffa atau Dave sungguh ia tak rela
Sedangkan Alina tampak sangat nyaman dan damai dalam dekapan Gabriel" Kenapa kamu seperti bayi kalau sedang tidur, pingin nyium terus tau ga, trus kenapa kalau ga lagi tidur kamu takut banget sama aku hem..? Kamu ga tau kalau diluaran sana banyak wanita yang bermimpi bisa dekat dengan ku?" monolog Gabriel seraya menciumi wajah Alina,tampak gadis itu tak terusik sedikitpun membuat Gabriel semakin gemas
Hingga akhirnya Gabriel ikut tertidur seraya memeluk posesif tubuh ramping Alina,ia meletakkan dagunya tepat di puncak kepala Alina,keduanya tertidur dibawah selimut yang sama,tampak bagai pasangan yang saling menyayangi dan menghangatkan seakan tak ingin terpisah
Hingga suara Azan terdengar menggema di handphone Alina menandakan waktu Ashar tiba,membuat gadis bermata indah itu terbangun dan mulai mengerjab beberapa kali,hingga ia tersadar saat merasakan hembusan hangat di puncak kepalanya,Alina mendongak dan betapa terkejutnya saat melihat wajah pria yang berada di atas kepalanya,Alina masih belum menyadari posisi tidur nya saat ini
" Kenapa menatap ku seperti itu? Baru sadar aku tampan?" tanya suara serak khas bangun tidur,mata elang itu menunduk menatapnya,hingga tatapan mereka bertemu membuat Alina menunduk cepat,namun alangkah terkejutnya ia saat menyadari wajahnya menabrak dada bidang yang tertutup kaos putih,aroma maskulin khas parfum import tercium di hidung mancungnya
Dan saat itu juga Alina menyadari bahwa ia sedang berada dalam dekapan pria itu,tubuh mereka nyaris tak berjarak dan rasa takutnya tiba-tiba kembali muncul
" Aaaa.." teriak histeris Alina seraya memukul-mukul dada bidang Gabriel dan berusaha menjauh
Dengan cepat Gabriel merengkuh kembali Alina dalam dekapannya,ia tau gadis itu kembali ketakutan" Hust ...tenang,aku ga akan nyakiti kamu..aku janji,tenang ya" bujuk Gabriel lembut membuat Alina berhenti memberontak
Gabriel mengusap lembut punggung gadis itu " Kamu mau Shalat..? " Tanya Gabriel lembut dan dijawab anggukan oleh Alina
" Sudah ...? Mau Shalat sekarang? Atau nanti?" tanya Gabriel lembut,tangan nya masih setia mengusap punggung Alina seraya mencium puncak kepala gadis itu,menghirup dalam-dalam aroma yang seakan telah menjadi candu untuk nya
Hal yang sama juga Alina lakukan ia sedang menikmati menghirup Aroma maskulin dari tubuh Gabriel,aroma yang serasa menenangkan dan membuatnya seakan candu" Mau sekarang nanti telat" jawab Alina lembut dengan suara parau,masih sedikit tersisa jejak air mata di mata indahnya
" Mau apa? Shalat atau peluk? atau yang lain?" tanya Gabriel ambigu,ia mencoba menciptakan suasana nyaman diantara mereka
" Shalat,ga mau yang lain.. nanti telat" jawab Alina polos
" Ok...Berarti sehabis Shalat baru yang lain...? " ucap Gabriel,ia merenggangkan pelukannya dari tubuh Alina setelah mendapat anggukan kecil dari gadis cantik itu,membuat gadis itu bergeser pelan menjauhi tubuh yang barusaja memberikannya rasa nyaman dan tenang
Alina beringsut menuruni ranjang,ia meraih hijabnya yang terletak di atas nakas dan memakainya asal,ia baru menyadari sejak tadi tak menggunakan hijab,Gabriel melentangkan tubuhnya,matanya tak lepas menatap setiap pergerakan Alina,membuat gadis cantik itu terlihat sangat malu dan Gabriel sangat menikmati pemandangan itu
Alina melangkah cepat memasuki kamar mandi,ia memutuskan untuk mandi dan langsung berwudhu,setelah selesai ia baru ingat bahwa dirinya lupa membawa baju ganti Sedangkan dikamarnya tadi ada Gabriel dan ia yakin pria itu masih dikamarnya
Alina mondar mandir tak menentu,ia bingung harus bagaimana,haruskah ia keluar hanya dengan menggunakan jubah mandinya? Terlebih ia belum menunaikan kewajiban empat rakaatnya,sedangkan waktu terus berjalan
Akhirnya Alina memberanikan diri menekan handle pintu dan sedikit melongokkan kepalanya yang terbungkus handuk kecil,ia melangkah ragu keluar dari kamar mandi,tangannya memegang erat jubah mandinya yang hanya sebatas lutut,ia melirik Gabriel yang tampak duduk di atas ranjangnya,pria itu terlihat sedang fokus pada layar handphone nya seraya tersenyum
__ADS_1
Alina menggunakan kesempatan itu berjalan cepat melewati ranjang menuju ruang ganti miliknya,namun langkah nya terhenti saat suara bariton Gabriel terdengar di telinganya
" Kamu sengaja mau menggoda ku? Aku pria normal Aya ..." ucap Gabriel menggoda Alina,matanya masih fokus pada layar hendphone nya
" Maaf tuan,saya lupa bawa baju ganti" jawab Alina lirih dan dengan sedikit berlari ia memasuki ruang ganti miliknya,Alina memakai dress rumahan dan mukena nya,ia keluar dari ruang ganti dengan wajah menunduk,menggelar sajadahnya dan mulai melaksanakan kewajibannya pada Tuhannya
Gabriel menuruni ranjang,ia berjalan keluar dari kamar itu menuju kamarnya,ia harus mandi dan segera menuju tempat yang sudah sang mama tentukan,Gabriel memakai kemeja berwarna abu-abu muda dipadukan jas berwarna sedikit lebih tua senada dengan celana bahan yang ia pakai,menyisir rambutnya rapi dan sedikit menyemprotkan farfum pada bagian dalam bajunya
Gabriel kembali menuju kamar Alina,ia meninggalkan jam tangan dan handpone kerjanya di kamar itu,saat keluar tadi ia hanya membawa handphone yang tak pernah ia gunakan untuk urusan kerja
Gabriel menekan handle pintu kamar Alina dan mendorongnya perlahan,ia sedikit melongokkan kepalanya berniat melihat apa yang sedang Alina lakukan,tapi tiba-tiba ia tertengun saat melihat Alina mesih terduduk diatas sajadahnya dengan tangan menengadah keatas,terlebih saat mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir indah gadis itu
Ya Allah...Engkau lah Zat yang maha segalanya...
Hamba titipkan masa depan yang hamba tidak sama sekali hamba ketahui rahasianya,akan tetapi hamba yakin Engkau adalah Maha mengatur dan sebaik-baiknya Dzat untukku meletakkan titipan,Maka ya Allah...jadikanlah hari-hari hamba yang akan datang lebih indah..Amiin Allahumma Amiiin..
Gabriel melanjutkan langkah nya saat melihat Alina sudah selesai dan tampak akan melipat sajadahnya,dengan langkah perlahan namun pasti Gabriel memeluk Alina dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Alina,hal itu membuat Alina sangat terkejut
Aaaaaaa
Teriak Alina tiba-tiba,tubuhnya bergetar hebat dengan nafas memburu,andai Gabriel tak merengkuh nya kuat...tubuh indah bak model itu sudah terkatuh ke lantai
" Hust...jangan takut,ini aku...suami kamu" bisik Gabriel lembut,ia bahkan belum pernah menyebut namanya dihadapan gadis cantik itu
Alina bergerak gelisah,walau tak lagi histeris namun ia mesih sedikit takut juga risih,terlebih sebelum nya mereka belum pernah kenal,bahkan mereka pernah terlibat kesalahpahaman
" Ta-tapi tolong di lepas,saya susah nafas nya kalau ssperti ini" jawab Alina gugub bercampur takut,sekuat tenaga ia berusaha menekan ketakutannya
"Biar seperti ini,sebentar saja..aku mau bicara" jawab Gabriel pelan,Alina tak menjawab,ia hanya mengagguk pelan
" Aku minta apapun yang kamu lihat dan dengar tentang aku di luaran sana...tolong jangan langsung kamu percaya,cukup aku yang kamu percaya,tanyakan pada ku apapun tentang ku..paham?" pinta Gabriel
Alina tak menjawab,ia hanya mengangguk pelan,otak nya sedang mencerna tentang permintaan Gabriel baru saja,yang ia pikirkan apakah Gabriel batal membebaskannya? Apakah ia akan terus terikat dengan ikatan suci tapi bagai penjara untuk nya ini? Sungguh Alina belum siap
" Aku harus pergi sekarang,sabarlah sebentar lagi..saat aku kembali akan aku jelaskan semuanya" ucap Gabriel lagi seraya melepas pelukannya,tak lupa ia mengecup dalam puncak kepala Alina yang terbungkus Mukena
Gabriel meninggalkan Alina masih dalam kebingungannya,ia harus tiba tepat waktu ditempat yang sang mama tentukan,jika ia tak ingin melihat sang mama malu dan berujung masuk rumah sakit
__ADS_1