
Dikediaman keluarga Alexander sedikit terjadi keributan karena Alina belum pulang sejak kepergiannya pagi menjelang siang tadi,terlebih sang Art mengatakan Alina dijemput oleh seorang wanita berpakaian serba hitam layaknya seragam bodyguard,hal itu semakin membuat Dave khawatir
" Mbok yakin dia di jemput sama temen nya?" tanya Dave memastikan
" Yakin banget Den...wong tadi mbok yang manggil non Gelis,trus non gelis juga kayak nya kenal,wong mereka keluarnya barengan" jawab mbok Sum apa adanya
" Tapi udah malam gini Aya belum pulang juga mbok ...gimana mau ngomong nya ke mama sama papa coba bik? Belum lagi sama Abang" ucap Dave mengeluh
" Di telfon aja den tuan sama nyonya,den Gerald juga,nanti biar simbok bantu ngomong deh,siapa tau ada solusi nantinya dari mereka" saran mbok sum pada Dave,wanita yang tak muda lagi itu tak tega melihat putra bungsu sang majikan tampak sangat gelisah dan khawatir
" Iya juga ya Mbok..Aku telfon sekarang aja ya" jawab Dave memutuskan
Dave menghubingi sang mama dan menceritakan semuanya,tapi jawaban kedua orang tuanya sungguh diluar ekspektasinya sekaligus seakan menghancurkan seluruh raga dan hatinya
📱-" Aya bersama Gabriel...ternyata mereka saling mengenal dan Gabriel mengatakan ingin menikahi Aya malam ini,papa sama mama sedang menuju Masjid yang dijadikan tempat pernikahan mereka,tapi tolong kamu rahasiakan semua ini dari siapapun termasuk keluarga Altop" ucap Tuan Alexander terdengar lirih
📱-" Tapi kenapa mendadak pa? Dan kenapa harus dirahasiakan?" tanya Dave sangat terkejut,sungguh rasanya ia tak ingin percaya dengan ucapan sang papa
📱-" Nanti akan papa jelaskan saat kita bertemu di rumah,papa sama mama udah didepan Masjid nya ini,ingat jangan katakan pada siapapun kalau kamu masih sayang keluarga kita dan masih mau hidup tenang,jika kamu sayang Aya maka jangan lakukan apapun" ucap tuan Alexander tegas dan itu cukup membuat Dave paham bahwa keluarganya dibawah ancaman sang pewaris Altop
Dave melempar handphone nya sembarang di sofa ruang keluarga kediaman Alexander,ia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa itu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya,berulang kali Dave menggusar rambutnya dan menghela nafas dalam,membuat Mbok sum bertanya-tanya
" Gimana den? Apa kata tuan sama nyonya?" tanya mbok sum yang memang juga khawatir pada gadis muda yang menurut beliau cantik luar dalam itu
" Aya bersama keluarga terdekatnya mbok,mereka baru bertemu dan sudah menghubunngi papa sama mama meminta izin membawa Aya tinggal bersama mereka" jawab Dave berbohong,ia masih ingat pada pesan sang papa agar tak mengatakan apapun dan pada siapapun
" Alhmdulillah akhirnya neng gelis ketemu keluarga aslinya ya den, tapi kita pasti bakal sepi kalau ga ada non gelis" ucap mbok Sum sendu
" Aya udah dewasa mbok...dia berhak menentukan jalan kehidupannya,terlebih kita hanya saudara angkatnya mbok,,bukan saudara terdekat nya atau kandung" jawab Dave lesu
" Aden yang sabar ya ...kalau jodoh mah tetep aja ga ada yang bisa cegah den" ucap mbok Sum bijak,membuat Dave terkejut
" Maksud nya mbok?" tanya Dave ingin memastikan pendengarannya
" Simbok tau..Aden suka kan sama si neng gelis?, nyonya sama tuan juga tau kok" jawab mbom Sum santai dengan senyuman meledek
" Jodoh apaan mbok...orang udah jadi jodoh orang lain" jawab Dave ambigu
" maksudnya den?" tanya mbok Sum gagal paham
" Si mbok kepo...udah ah aku mau mandi gerahhh" jawab Dave seraya melangkah meninggalkan mbok Sum yang masih dilanda rasa penasaran dengan ucapan ambigu sang putra majikan
" Ga jelas " Jawab mbok Sum geram,beliau tau ada yang sedang disembunyikan sang tuan muda
__ADS_1
Mbok Sum juga menuju dapur,meniggalkan ruang keluarga itu dan kembali melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertuda karena kehebohan Dave atas hilangnya Alina yang ternyata ada bersama seseorang
*********
Disuatu Masjid..tuan Akexander dan sang istri tengah duduk bersama gadis yang sudah mereka anggab sebagai putri kandung mereka,keduanya tengah menatap sang putri yang terus menundukkan dalam wajahnya,tak henti Alina memilin ujung hijab nya,Alina tampak cantik menggunakan sebuah dress berbahan kebaya berwarna putih dengan hijab senada,sederhana nanun tak menutupi kemewahan dari dress tertutup itu
" Sayang...sejak kapan kamu kenal dia?" tanya nyonya Suci lembut,beliau tau bahwa sang putri di bawah tekanan
" Sa-satu tshun lalu ma.." jawab Alina gugup,ia bahkan tak berani menatap pasangan paruh baya yang berada di hadapan nya
" Kamu yakin mau menikah dengannya?" tanya nyonya Suci lagi
" I-ia ma..maaf" jawab Alina dengan suara yang mulai bergetar
" Katakan yang sebenarnya terjadi nak..apapun itu kami akan terima dan jika kamu keberatan maka katakan" ucap tuan Alexander tegas,membuat Alina menggeleng
" Al ga apa pa...Al akan baik-baik saja,Al mohon...papa sama mama juga Abang selalu baik-baik saja..maafkan Al kalau Al sudah merepotkan dan menyusahkan papa sama mama,yang lain juga" ucap Alina sendu
" Kamu putri kami sayang...permata dirumah kami..apapun yang sedang kamu hadapi..katakanlah..nak,jangan merahasiakannya dari kami,mama mohon...sayang.." pinta nyonya Suci memohon
" Maafkan Aya...ma..maaf.." mohon Alina tulus seraya menghambur memeluk erat tubuh wanita yang sudah ia anggab ibu untuk nya,wanita yang kini sangat ia sayangi
Pelukan dan ucapan Alina membuat nyonya Suci yakin bahwa petnikahan itu tak diinginkan oleh sang putri,beliau seperti melihat bahwa sang putri sesungguhnya membutuhkan pertolongan,tapi ia seakan sedang berada di antara dua pilihan
" Maaf tuan dan nyonya...penghulunya sudah datang,pihak mempelai wanita diminta menjadi saksi.." ucap Niko sopan
" Ya .." jawab nyonya Suci ketus,sedangkan tuan Alexander tak menjawab sepatah katapun,rasanya beliau enggan untuk bicara,beliau masih tak menyangka akan mendapatkan ancaman dari sang pewaris keluarga Altop yang bahkan masih sangat muda itu
" Papa aja yang disana,mama temeni Aya" ucap nyonya Suci pada sang suami,yang tak hanya dijawab anggukan lemah oleh pria paruh baya itu
Tuan Alexander duduk tepat di samping penghulu,beliau menatap dingin putra dari sahabat sang istri sekaligus Bos besar tempat keluarga Alexander dikenal publik,Alina yang sudah menyerahkan perwaliannya pada sang penghulu membuat pernikahan tersebut akan segera dimulai
Gabriel dengan gagah duduk tepat di depan penghulu,ia menjabat tangan pria paruh baya itu dan menjawab dengan lantang kata ijab yang di ucapkan sang penghulu hingga kata SAH.. Menggema memenuhi ruangan Masjid yang menjadi saksi berubahnya status seorang Gabriel Alvaro Altop dan juga Alina Haya
Sedangkan di salah satu sudut Masjid,Alina sedang mendekap erat tubuh sang mama dengan bercucuran air mata,tubuh nya bergetar menahan tangis,membuat nyonya Suci terus mengusap lembut punggung sang putri,berharab dapat memberikan ketenangan untuk gadis yang bahkan baru genap berusia 17 tahun itu
" Sayang..selamat ya..semoga kamu bahagia nak,Doa mama akan selalu menyertaimu sayang..berjanjilah untuk selalu bahagia,dan sering-sering lah jenguk mama" ucap nyonya Suci sendu,wanita paruh baya itu sangat sedih,tapi beliau berusaha sekuat tenaga menutupi kesedihannya
" Terimakasi ma...mama,papa dan yang lainnya tetap yang terbaik buat Al..Al sayang kalian,sangat...." balas Alina tak kalah sendu,ia bahkan tak melepaskan dekapannya pada sang mama,sampai seseorang datang memanggilnya
" Sayang...ingat..Tidak ada penderitaan yang abadi dan tidak juga ada kebahagiaan yang akan abadi kecuali pada orang yang selalu bersyukur,maka itu tetab bersyukur dengan semua ini nak,mama yakin semuanya pasti ada hikmahnya" nasehat nyonya Suci
" Maaf nona...anda diminta menandatangani berkas bersama tuan muda" ucap Niko sopan,namun tetap dengan wajah datarnya
__ADS_1
" Ayo sayang...tapi bukankah kalian hanya menikah siri..? mengapa harus ada berkas yang harus ditanda tangani" ucap nyonya suci penasaran,namun urung membuat beliau tetap bangkit dan mendampingi sang putri,Alina tak menjawab,ia hanya menggeleng tanda tak paham
Alina berjalan pelan menuju pria yang kini telah sah menjadi suaminya,pria yang barusaja mengikrarkan sumpahnya di rumah Tuhan,rumah sucinya umat Muslim,di hadapan penghulu dan para saksi serta di hadapan Tuhan tentunya,kegugupan tak dapat Alina sembunyikan,bahkan ujung jari tangannya terasa sangat dingin serta berkeringat dan itu dirasakan langsung oleh sang mama,membuat beliau mengusap lembut lengan dan punggung tangan sang putri
" Jadilah seorang istri yang penurut pada suami,ingat...istri adalah pakaian suami,terlepas apapun alasan pernukahan ini terjadi...dia tetap suami kamu selama ia tak mengucapkan kata talak untuk mu" nasehat nyonya Suci lembut saat Alina akan duduk tepat disisi Gabriel
Dengan tubuh sedikit bergetar Alina duduk tepat disisi Gabriel,tak sedikitpun ia menoleh untuk melihat pada pria yang baru saja menjadi suaminya itu,Alina menundukkan dalam wajahnya,hingga suara sang penghulu memaksanya mengangkat wajahnya
" Nona...silahkan salam suami danda sebagai awal tanda bakti dan hormat anda pada suami" perintah sang penghulu
 Tanpa menjawab Alina langsung memutar kesamping arah duduk nya sehingga menghadap Gabriel,hal yang sama juga dilakukan oleh Gabriel,sehingga kini pasangan muda itu saling berhadapan
" Pasangkan dulu cin-cin pernikahan kalian,ada kan?" ucap tuan Alexander menyindir
Gabriel tak menjawab,ia hanya menatap sang asisten yang langsung sigab membawakan sebuah kotak persegi yang ternyata berisikan sebuah kalung dan cin-cin bertahtakan berlian yang dijamin memiliki harga yang cukup fantastis
Nyonya Suci membekap mulutnya dengan mata melotot sempurna saat melihat perhiasan yang berada di hadapan beliau,siapa yang tidak tau dengan perhiasan itu, perhiasan yang masuk dalam katagori perhiasan termahal didunia dengan harga mencapai triliunan,sedangkan Alina menatap biasa saja pada dua benda itu,ia seakan tak tertarik sama sekali
Gabriel menyematkan cin-cin indah itu di jari lentik Alina yang terlihat sangat indah dan pas di jarinya,sebaliknya...Alina juga memasangkan sebuah cin-cin pernikahan di jari manis Gabriel dengan tangan bergetar dan dingin,Gabriel bisa merasakan semua itu, lalu Alina mencium takzim punggung tangan pria tampan itu,sesuai arahan dari sang penghulu yang di balas dengan sebuah kecupan hangat dan dalam di kening dan puncak kepala Alina oleh Gabriel,tak ada yang tau apa yang ada dalam benak pria tampan itu
Perlakuan Gabriel terlihat seperti sangat menyayangi dan mencintai gadis yang telah sah menjadi makmumnya itu,tanpa ada yang tau bahwa ia telah memaksa dan mengancam Alina agar mau melakukan pernikahan itu,sedangkanAlina ia berusaha keras menahan dan menutupi rasa takutnya saat harus berdekatan dengan pria yang sesungguhnya sangat ingin ia hindari itu
" Jagalah ikatan suci ini,pernikahan adalah suatu ibadah panjang...maka jalankan ibadah itu dengan keikhlasan,hindari kekerasan dan salah paham yang bisa memicu pertengkaran,utamakan kesabaran bukan kemarahan,pertebal keimanan agar kelak melahirkan keturunan yang Shaleh dan Shaleha" Nasehat dari sang penghulu membuat Alina tak bisa menahan air matanya
Bagaimana itu bisa disebut ibadah..? Jika itu terjadi karena sebuah ancaman dan mungkinkah akan terlahir keturunan yang seperti itu? Jika pernikahan itu hanyalah sebuah kamuflase yang malah akan mengikat seorang Alina haya,yang hanya akan membuatnya hidup bagaikan burung di sangkar emas..diberi kemewahan namun tidak kebebasan
Setelah semua berkas ditandatangani yang berarti semua prosedur sudah selesai,tampak orang-orang yang menjadi saksi sudah mulai meninggalkan tempat tersebut
" Mama sama papa pulang ya..baik-baik ya sama suami,telfon mama kalau ada apa-apa" ucap nyonya Suci
" Ia ma...hati-hati,salam buat bang Dave" balas Alina
" El...tolong jaga putri tante ya,dia putri satu-satunya di keluarga kami" pinta nyonya Suci pada Gabriel
" Tante tenang aja,El pasti jaga istri El dengan sangat baik" jawab Gabriel cepat
Akhirnya tuan Alexander dan sang istri meninggalkan tempat yang menjadi saksi bersejarah berubahnya status sang putri,sedangkan Gabriel tampak sibuk dengan ponselnya,tak jauh berbeda dengan Niko sang asisten,Alina...gadis cantik itu memilih duduk di salah satu dudut masjid itu,sampai datang seseorang menjemputnya
" Nona...mari kita pulang" ucap Dinda yang sudah berdiri dihadapannya
__ADS_1
Tanpa menjawab Alina langsung berdiri dan melangkah menuju keluar masjid,ia langsung menuju mobil yang tampak sudah dibukakan pintu oleh seorang wanita yang juga berseragam sama seperti Dinda,setelah memastikan sang nona muda sudah duduk dengan nyaman,mobil mewah itu melaju meninggalkan Masjid tersebut,tanpa terasa satu tetesan bening jatuh dipipi mulus Alina