Your Angle My Heart

Your Angle My Heart
29


__ADS_3

Didalam taksi Alina sangat gelisah,ia masih belum menemukan jawaban apa yang paling tepat yang harus ia berikan pada Dave tentang keterlambatannya datang ke kampus dan ia yakin pemuda yang berstatus sebagai abang nya itu pasti tau tentang ketidak hadirannya saat acara seminar yang ia tau di jadwalkan sekitar pukul 9 pagi tadi,sedangkan dirinya baru menuju kampus menjelang makan siang


Untuk ketiga sahabatnya Alina yakin masih bisa menbuat alasan klasik atau beralasan malas karena dipastikan akan sangat ramai dan heboh,mengingat ketiga sahabatnya mengatakan bahwa putra dari pemilik kampus itu turut hadir dalam acara pagi tadi


" Pak bisa lebih cepat sedikit lagi gak? Maaf saya buru-buru dan jangan lupa berhenti sebentar di toko buku yang di dekat taman kota ya pak" pinta Alina pada sopir taksi yang ia tumpangi


" Saya usahakan bisa lebih cepat yan non,ini sudah mulai mendekati jadwal makan siang,seperti biasa pasti agak sedikit macet karena para karyawan sudah mulai keluar kantor untuk makan siang" jawab sopir paruh baya itu sopan


" Ia pak ga apa" jawab Alina singkat,ia mulai sibuk dengan gawai nya untuk membalas pesan-pesan masuk dari sahabat nya dan Dave,tapi yang sedikit menyita perhatiannya pada satu pesan masuk yaitu pesan dari Gerald,pria tampan namun dingin itu sangat jarang mengirimya pesan atau menelfon.


" Alina membuka pesan dari aplikasi berlogo hijau itu dan mulai membaca satu demi satu balasan pesan dari para sahabatnya dan juga Dave,terakhir ia membuka pesan dari Gerald yang isinya menanyakan keberadaan nya,dengan lincah Alina mulai menekan satu demi satu huruf pada kiyboard yang tampil di layar ponselnya,ia mulai membuat bermacam alasan yang sekiranya akan mudah di percaya oleh yang bertanya


Hingga pada akhirnya taki yang membawa Alina berhenti tepat di depan gerbang kampus setelah tadi berhenti sebentar di perpustakaan sesuai permintaan Alina, jelas tampak keadaan kampus seperti biasanya sehingga meyakinkan Alina bahwa acara seminar itu pasti sudah slesai


" Non nya mau daftar jadi mahasiswa di sini ya? atau orang tuanya dosen disini?" tanya sang sopir pada Alina saat gadis berhijab itu akan turun


" Ngak dua-dua nya pak,saya mahasiswa disini pak sudah satu tahun" jawab Alina apa adanya seraya tersenyum


" Oh...bapak kira baru mau lulus sekolah atau malah masih sekolah,abis mukanya masih seperti remaja baru gede" ucap supir itu lagi lucu, membuat Alina tersenyum


" Bapak bisa aja,terimakasih banyak ya pak,pembayarannya sudah melalui aplikasi tadi ya pak" jawab Alina ramah yang langsung di balas anggukan kepala oleh sang sopir


" Ia...terimakasih ya non sudah menggunakan jasa bapak,hati-hati ya non" jawab supir paruh baya itu tulus


" Ia pak terimasih kembali,semoga bapak sehat terus" balas Alina tak kalah tulus


" Amiiiiin" jawab singkat sang supir mengamini doa Alina


Alina langsung meninggalkan taksi saat sudah menutup pintunya,ia mulai melangkah menyusuri koridor kampus tempatnya meninba ilmu hampir satu tahuun terakhir ini,ia memang sudah terlambat tiga bulan saat memulai kuliah nya di kampus itu,Alina melangkah dengan perasaan gelisah,ia akan langsung menuju kantin karena ketiga sahabatnya mengatakan bahwa mereka sedang berada di kantin


****


Sementara di kantin suasana terlihat sangat ramai dan sedikit berisik dengan bisikan-bisikan memuja dari para kaum hawa saat melihat para pria tampan sedang berkumpul di salah satu meja di kantin kampus mereka


Gabriel dan ketiga sahabatnya memutuskan menikmati secangkir kopi di kantin seraya mengobrol seperti biasanya,yang rencananya juga akan dilanjutkan dengan makan siang di kantin kampus itu,Gabriel ingin tau apakah menu dan pelayanan di kantin kampus milik orang tuanya sudah mencapai standard,walaupun menurut ketiga sahabatnya kualitas kantin di kampus itu sudah cukup baik,karena ketiganya memang melanjutkan S2 mereka di kampus itu,walaupun mereka jarang ke kantin


Di meja mereka juga hadir Dave dan Maya yang memang juga sudah sangat saling mengenal karena mereka memang teman bermain saat kecil dan kebetulan dulu mereka tinggal di salah satu kompleks perumahan elit yang sama

__ADS_1


" Persahabatan kalian langgeng banget ya,kenapa nga dilanjutin ke pelaminan aja" ledek Ethan yang merasa salut pada ikatan persahabatan Dave dan Maya,masalahnya mereka itu lawan jenis,berbeda dengan dirinya,Rayhan,Gabriel dan Gerald yang sama-sama laki-laki


" Suka sembarang lo kalo ngomong"


" Masih suka aneh aja omongan lo" jawab Maya dan Dave bersamaan,walau pada kenyataan gadis cantik sahabat dari Dave itu merasakan debaran hebat pada jantung nya saat mendengar kelakar Ethan,hati kecilnya mengaminkan ucapan pria yang di kenal playboy itu


" Adik kesayangan lo mana Dave...? Kabarnnya lo udah punya adik cantik,bagi no WA nya boleh dong?" canda Ethan lagi,ia dan Rayhan memang tau bahwa kedua orang tua Dave dan Gerald sudah satu tahun terakhir memiliki anak angkat yang katanya juga kuliah di kampus itu,tapi sayang mereka belum pernah melihatnya,kabar yang mereka dengar seorang gadis cantik


" Ga tau gue kemana tuh bocil,dari pagi juga gue belum liat dia di kampus,padahal ketiga sahabatnya komplit" jawab Dave terlihat khawatir


" Di toko buku dia" jawab Gerald singkat,ia ga tega lihat wajah khawatir Dave


" Kok lo tau?" tanya Dave penasaran


Tanpa menjawab Gerald langsung menunjukkan balasan pesan Chat nya dengan Alina,gadis cantik itu mengieiminya foto sebuah rak yang berisikan susunan buku dengan emot cengiran dan maaf,sesaat tadi membuat Gerald menarik tipis sudut bibirnya,gadis cantik itu memang sangat jarang membalas pesan Gerald dengan kata-kata,tapi langsung dengan bukti



" Kebiasaan pergi ga bilang,ditelfon ga jawab,di chat ga di balas,bikin khawatir aja tu bocil" Omel Dave kesal


" Kok dia ga balas chat gue?" tanya Dave geram


" Ya mana gue tau,kali aja males dia balas chat lo karena lo itu ga percayaan,trus bakal banyak urusan nya" jawab Maya yang sudah sangat tau tentang karakter sang sahabat yang selalu bertanya panjang lebar terlebih tentang Alina,walaupun ada rasa cemburu atas sikap posesif Dave pada gadis cantik itu,tapi tak mengurangi rasa sayang Maya pada adik angkat sang sahabat,ia merasa seperti memilki adik perempuan saat bersama Alina


Sedangkan disepanjang koridor Alina tampak berjalan dengan sedikit terburu- buru seraya menundukkan wajahnya,ia merasa sangat risih mendengar ciutan atau beberapa godaan dan pujian terlebih dari para kaum adam,sedangkan para kaum hawa lebih menunjukkan tatapan iri atau tak suka,para teman mahasiswi menganggab bahwa hidup Alina terlalu sempurna dan ia adalah gadis manja


Sampai kantin Alina langsung mencari sosok ketiga sahabat nya,kedatangannya tak kalah heboh dengan keberadaan Gabriel dan para sahabatnya sehingga langsung mengalihkan perhatian Ethan dan Rayhan,tak bisa di elak mereka langsung terpana dengan kecantikan gadis berhijab itu


" Al...sini" panggil Fiza saat mengetahui kehadiran Alina,membuat gadis berhijab itu langsung tersenyum seraya melangkah menghampiri meja sang sahabat,dengan langkah anggun ia melewati meja demi meja yang terdapat fi kantin,disertai pandangan mata dari seisi kantin,termasuk para sahabat Gerarld minus Gabriel,pria itu sedang asyik dengan gawai nya


Alina tampak sangat cantik dan anggun dengan kemeja putih dan rok dipadukan sebuab hijab fasmina menutupi sempurna mahkotanya,kehadirannya menyita hampir seluruh pengunjun kantin,sehingga Ethan dan Rayhan juga merasa takjub pada wujud yang sedang melangkah mendekati meja mereka



" Pleasee jaga sikap kaluan,Alina sedikit sensitif pada lawan jenis" suara intruksi dari Gerald menyadarkan ketetpakuan kedua sahabatnya,tapi justru membiat seorang Gabriel mengangkat mepalanya karena panasaran,sejak kapan sahabat nya itu terlihat posesif pada wanita,dan apa tadi? Adik? Bukan kah adik perempuan dari sahabatnya sudah meninggal dunia hampir tujuh tahun lalu?


Namun siapa sangka,saat Gabriel mengangkat wajah nya melihat seorang gadis berhijab yang sedang melangkah ke arahnya dan sahabatnya,gadis itukah yang Dave cemaskan tadi,tapi wajah gadis itu ..." benarkah itu dia?"

__ADS_1


tanya Gabriel dalam keterkejutanya,dengan cepat ia menundukkan wajah nya,entah mengapa seperti ada rasa tak siap menghantui hati kecil nya saat melihat gadis berhijab itu,sedang kan Alina belum menyadari bahwa dimeja yang ia tuju ada kehadiran beberapa pria asing,ia mengira hanya Dave dan Girald yang duduk bersama ketiga sahabatnya juga Maya


" Abang disini juga?" tanya Alina pada Girald saat tepat berada di meja itu,ia masih belum menyadari tentang kehadiran yang lain,sedangkan Ethan dan Rayhan langsung meneguk salivanya saat melihat dekat gadis cantik itu


" Hem..duduk lah" jawab Gerald menjawab pertanyaan Alina dan ia sedikit menggeser kursinya agar sang adik tidak terlalu canggung saat akan duduk disisinya


Alina mengangkat sedikit wajahnya saat mendengar ucapan Gerald dan saat itu ia baru menyadari bahwa ada tiga orang asing di meja itu,sebisa mungkin ia tersenyum membalas senyuman ramah dari dua pria yang sedang menatapnya


" Hai.." sapa Ethan ramah disertai senyuman mautnya


" Hai..mereka sahabat Abang yang mama bilang?" tanya Alina pada Dave karena pria itu yang sedang menatap nya,ia berdiri diantara Gerald dan seorang pria yang belum ia kenal


" Ia..kenanalkan itu Ethan dan Rayhan " jawab Dave memperkenalkan,dan di jawab anggukan kepala oleh Alina,gadis itu sedikit meremas hijabnya untuk mengurangi rasa takutnya


" Dan yang ini Gabriel..." tambah Gerald memperkenalkan sahabatnya yang barada tepat di sampingknya,ia sengaja ingin tau sejauh mana rasa trauma Alina sembuh,mengingat gadis itu akan cepat bereaksi saat melihat pria berparas blasteran dan Gabriel memiliki wajah itj


" El ..kenalin nih adek gue..Alina" tambah lagi Girald memaksa Gabriel untuk mengangkat wajahnya,mata keduanya bersirobok dan hal itu mampu membuat Alina berdiri kaku bagai patung ,tubuhnya dengan sepontan terhuyung dan hampir jatuh kebelakang andai tangan kokoh seseorang tidak cepat meraih pinggang nya


" Kamu kenapa dik?" tanya Getald khawatir melihat wajah pucat Alina,keringat membasahi kening dan kedua telapak tangan nya,raut ketakutan jelas terlihat di wajaj gadis cantik itu,ia meremas kuat lengan kekar Gerald seraya memejamkan matanya,semua itu tak luput dari perhatian semua yang ada di meja itu,termasuk Gabriel


" Dik...Alina.." Seru Dave khawatir saat melihat tubuh Alina bergetar,ia langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Alina yang masih dipegangi oleh Gerald,Alina masih belum menjawab ia masih diam membeku seperti patung,namun air matanya tampak mengalir begitu deras


" Abang tolong bawa Aya pergi dari sini..pleasee" kalimat itu yang keluar dari bibir indah nya dengan tatapan memohon menatap lekat netra Gerald,entah mengapa ia malah meminta tolong pada Gerald padahal biasanya ia lebih dekat dengan Dave,tangan Alina mencengkram kuat lengan Gerald dan Dave,semua itu tak luput dari pandangan Gerald dan yang lainnya


" Al..kamu kenapa?"


" Al ..lo kenapa?" pertanyaan itu lolos bersamaan dari ketiga sahabatnya dan juga Maya,tapi tak mendapat jawaban dari gadis cantik itu juga dari Gerald dan Dave


" Kita pulang sekarang" ucap Gerald tegas dan langsung di angguki Dave,bagaimanapun mereka masih belum mau orang-orang mengetahui tentang trauma yang Alina derita,tapi belum sempat melangkah semua di kejutkan dengan melemahnya tubuh indah itu


Bruuukkk


Alina terkulai lemah dengan mata terpejam,tapi siapa sangka bila seseorang yang berada tepat di hadapannya langsung meraih tubuh indah itu dan menggendong nya ala brydal style dan hal itu sedikit membuat ketiga sahabatnya tercengang,termasuk ketiga sahabat Alina,Dave dan Maya juga tak kalah terkejut,hal yang sama juga terjadi pada Niko si asisten pribadinya yang duduk tepat di meja sebelah,masalahnya ia belum pernah melibat bos nya menggendong atau memeluk wanita,terlebih wanita asing


" Kita pakai mobil gue" ucap nya singkat seraya melangkah membawa Alina dalam dekapannya dan langsung di angguki oleh yang lain


" Nik..siapkan mobil cepat...dan telfon rumah sakit" perintahnya tegas pada sang asisten dengan suara yang sedikit meninggi

__ADS_1


__ADS_2