
" Kalian cukup antar saya saja,tidak perlu mengawasi saya di kediaman papa Alexander,mereka kekuarga saya" pinta Alina pada supir dan Dinda sang bodyguard
" Tapi no..." ucapan Dinda langsung terhenti dengan suara tegas Alina
" Saya sedang tidak ingin di awasi..dan katakan pada tuan muda kalian yang terhormat itu,besok sore saya ingin bicara,saya tunggu di apartemen" ucap Alina tegas
" Tuan muda akan memecat kami jika kami tidak melakukan tugas kami nona" jawab supir itu lirih
" Tidak akan ada yang memecat kalian selagi saya masih istrinya" jawab Alina tegas,ia langsung turun dari mobil itu setelah membuka pintunya,menutup mobil itu kembali dan melangkah kearah pintu meninggalkan mobil beserta sopir dan bodyguard nya
Dinda dan supir sang nona muda saling tatap,keduanya memutuskan meninggalkan kediaman keluarga angkat sang nona muda dan kembali ke apartemen,keduanya pasrah dengan nasib mereka kedepannya
" Huff....susahnya punya majikan sama-sama masih muda,keras kepalanya sama" gerutu Dinda seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil
" Resiko Din...kerja sama orang berkuasa, apalagi tuan muda kita itu keliatannya bucin parah dengan istrinya" jawab Dodo yang berprofesi sebagai supir
" Heem...tapi kalau tuan muda bucin kok tuan muda ngerahasiain pernikahannya dengan non Alina,trus malah tunangan sama perempuan lain ya? " bingung Dinda
" Ga ngerti kita urusan para orang kaya,riwet urusannya mah, pacar punya,istri punya,simpanan juga punya" komen sang supir merasa aneh dengan cara hidup para kaum jetset
" Lo bener banget,gue kasian aja liat nona muda kita itu..Cantik,baik,pinter,sholehah lagi..tapi kok kayak dijadiin tawanan ya sama pak bos,tapi juga difasilitasi selayaknya ratu..jadi kayak istri simpanan kesannya ya,trus hubungan mereka kayak ga akur gitu,nona itu kayak benci banget sama tuan muda" jawab Dinda bingung
" Hust jangan ngomong sembarangan lo Din,gimana kalau ni mobil dipasang penyadap suara,yang udah pasti dipasang GPS "komenyar sang supir bergidik ngeri,membuat Dinda spontan membekap mulutnya
Kedua orang kepercayaan Gabriel untuk mengawasi dan mengantar jemput sang istri itu terus mengobrol membahas sang majikan yang menurut mereka adalah pasangan yang aneh
Sementara di kediaman Alexander Alina memasuki rumah setelah mengucapkan salam,rumah megah itu tampak sepi,hanya para Art yang tampak sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing
" Assalammualaikum...." sapa Alina pada para Art saat ia memasuki dapur
" Waalaikum'salam...eh non cantik...baru datang non?" sapa salah satu Art ramah saat melihat siapa yang menyapa mereka pagi-pagi
" Ia nih bik,pingin sarapan bareng papa,mama disini,kok sepi bik? Belum pada turun ya?" tanya Alina bingung karena tak biasanya keluarga angkatnya itu turun terlambat
" Belum pada kembali dari joging non,kalau nyonya ada di taman belakang" jawab salah satu Art
" Oh gitu ya,ya udah deh...Aya mau simpan ini dulu kekamar ya bik" jawab Alina seraya tersenyum dan menunjukkan sebuah tas sandang yang akan ia simpan dikamar yang menjadi kamarnya selama ia tinggal di kediaman itu
" Ia non silahkan" jawab Art tersebut sopan
Alina melangkah menuju tangga dan menaikinya satu demi satu seraya mengenang kembali saat pertama ia dibawa ke rumah itu dan membayangkan kenangan-kenangan indah saat ia bersama penghuni rumah itu,ia rindu suasana itu lagi,enam bulan lebih sudah pernikahannya,ini baru yang kedua kalinya ia berkunjung ke kediaman yang memberinya kenyamanan setelah rumah sederhana kedua orang tuanya di kampung halamannya..air mata Alina menetes tanpa bisa ia tahan
" Ya Allah hamba percaya Engkau menaruh ku ditempat yang sekarang bukan karena suatu kebetulan..
Tapi Engkau pasti menentukan jalan
terbaik untuk hamba..
Engkau ingin melihat hamba menjadi manusia kuat dan hebat...namun..hamba mohooon..bantu hamba agar mampu melewati semua ini ya Allah.." batin Alina memohon pada sang maha pencipta seraya terus melangkah menuju kamarnya
__ADS_1
Alina meletakkan tas nya dan melepas flat soes dari kaki nya,ia memandangi kamar yang sangat ia rindukan,satu tahun lebih ia tinggal di kediaman itu menjadi putri angkat mereka,satu tahun itu pula nyonya Suci tak pernah absen menjenguknya sata akan tidur malam,kecuali saat wanita paruh baya itu sedang berada di luar kota
Puas melepas rindunya pada kamarnya,Alina melangkah menuju pintu,ia ingin menemui sang mama yang kata para Art sedang berada di taman belakang kediaman itu,Alina menuruni tangga,namun langkah nya terhenti saat mendengar suara seseorang
" Kamu baru datang?" tanya suara bariton seseorang
" Ia bang..sekitar sepuluh menit yang lalu,abang dari mana? papa sama bang Dave mana?" tanya Alina lembut seraya mendekati Gerald,meraih tangan kokoh pria itu dan mencium punggung tangannya,layaknya seorang adik pada kakak nya
" Papa sama Dave mungkin masih di taman,aku dari apartemen" jawab Gerald menjelaskan,tak di pungkiri masih ada getaran aneh di dadanya setiap kali berinteraksi dengan gadis yang telah ia anggab adik itu
" Oh...kirain abang nginap disini tadi malam" jawab Alina
" Aku baru dari perjalanan bisnis bersama suami kamu" jawab Gerald santai,membuat Alina sedikit terkejut
" Tapi..."ucap Alina tercekat,ia seakan tak sanggup melanjutkan ucapan nya
" Apa..?" tanya Gerald seraya menaikkan sebelah alisnya
" Oh...pertunangan itu? Aku lupa..,kami langsung pergi setelah suami kamu melakukan bagiannya" jawab Gerald santai,ia menjawab seakan yang berbicara dengan nya bukanlah wanita yang berstatus istri dari pria yang sedang ia ceritakan
Gerald melakukan itu karena ia ingin tau perasaan Alina,Gabriel sudah menceritakan sesuatu hal yang ia rahasiakan pada Gerald dan Gerald juga sudah berdamai dengan hatinya,ia akan mencoba menerima alasan Gabriel
" O...ya sudah deh,Aya mau ke taman liat mama" ucap Alina seraya tersenyum lembut dan di angguki oleh Gerald,dokter muda itu melirik Alina sekilas dengan ekor matanya
" Semoga kamu sanggup menghadapi semua nya dek..apapun yang kamu lakukan tidak akan bisa melepasmu dari dia,kecuali memang Tuhan yang mentakdirkan kalian berpisah" batin Gerald seraya melangkah menaiki tangga,ia ingin membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya sebelum kembali turun untuk sarapan bersama keluarganya,hal rutin setiap akhir pekan
" Mama...." teriak Alina seraya menghambur memeluk sang mama
" Sayang...ya ampun sayang nya mama..." ucap nyonya Suci seraya membalas pelukan sang putri angkat,mengecup puncak kepalanya berkali-kali
" Kangen ma..."rengek Alina manja seraya mencium punggung tangan sang mama,tak lupa kedua pipi wanita paruh baya itu
" Mama juga kangen sayang..." ucap sang mama balas menciumi seluruh wajah Alina,keduanya seakan tak ingin melepas pelukan dan saling menyalurkan rasa rindu
" Princess papa..." sapa tuan Alexander saat melihat kehadiran Alina di kedaiman beliau
" Ikutan dong pelukannya" tambah Dave dari balik punggung sang papa,ia berusaha tampak ceria dihadapan semuanya
" Enak aja..." sungut sang mama cepat,seraya mengibaskan tangannya mengusir sang putra,membuat sang papa menggeleng melihat wajah sang putra yang cemberut
"Pelit" sungut Dave memanyunkan bibirnya
" Cari istri kamu kalau mau peluk-peluk wanita,jangan peluk-peluk istri papa" ledek sang papa
" Cari dimana pa? yang mau dijadikan istri dah di rebut orang" jawab Dave lirih seakan bergumam
" Makanya gentle dikit jadi cowok,ngapain sibuk cari yang ga pasti bang...ada mbak Maya juga,kurang nya apa coba,jangan sampe keduluan orang ntar baru nyesel" ledek Alina seraya mengingatkan sang abang angkat
__ADS_1
" Sok tau kamu" ucap Dave seraya mengusap sayang puncak kepala Alina
" Tangan lo dijaga Dave,istri orang itu" ucap Gerald dingin membuat Dave spontan mengangkat tangan nya dari puncak kepala sang adik angkat
" Adik Gue juga" bantah Dave mendengus kesal
" Adik kita kalo belum jadi ISTRI orang,kalo dah jadi istri orang..jangankan kita,papa sama mama aja ga berhak lagi" jawab Gerald mengingatkan,ia tak ingin adiknya terlalu larut dengan perasaannya terhadap gadis cantik itu
Dave tak menjawab lagi,ia tau maksud dari sang abang mengatakan semua itu,sebab tepat setelah ia wisuda Gerald mengajaknya bicara empat mata yang ternyata mengingatkan agar ia melupakan Alina karena begitu banyak hal yang harus mereka pertimbangkan jika ia ingin menjalin hubungan selain sebagai kakak beradik dengan gadis cantik itu
" Ngapain juga dipikirin,ga lama lagi Aya juga akan balik lagi kerumah ini,kalau boleh" ucap Alina pelan dan terdengar lirih pada kaliamat terakhirnya
" Kamu bicara apa sayang?" tanya tuan Alexander dan sang istri bersamaan
" Jangan bicara yang aneh-aneh kamu" tambah Gerald dingin,sedangkan Dave tampak diam tak mengatakan apapun
" Aya sudah memutuskan pa,Ma..malam nanti Aya akan meminta waktunya untuk bicara secara baik-baik,Aya berencana minta cerai pa,ma" jawab Alina jujur
" Tapi sayang..." ucap nyonya Suci bingung
" Aya ga pa pa ma..Aya yakin dia juga ga akan keberatan dengan permintaan Aya,lagi pula dia juga sudah bertunangan dan pastinya akan segera menikah kan..? Aya yakin dia ga akan nolak,karena memang ga ada lagi alasan dia buat menahan Aya" jawab Alina menerangkan
" Kamu kira bisa semudah itu berurusan dengan dia? Abang memang lebih tua dari dia,tapi dia lebih licik dan keras kepala" jelas Gerald dingin,ia ga tau harus mengatakan apa pada Alina dan yang lain,yang ia yakini sang adik angkat ga akan bisa lepas dari genggaman seorang Gabriel Alvaro Altop
" Tapi Aya juga udah ga sanggup bang harus hidup di bawah bayang- bayang dia terus seperti ini,Aya lelah bang" lirih Alina sendu,tanpa bisa ia tahan kristal bening membasahi pipi nya
" Sabar ya sayang...maaf kami belum bisa bantu kamu,kami belum menemukan cara agar Gabriel mau lepasin kamu" bujul nyonya Suci sendu
" Papa bingung...apa sebenarnya masalah kalian? Bukankah kalian belum pernah bertemu?" tanya tuan Alexander bingung
" Ka- kami sudah pernah bertemu satu setengah tahun lalu di Batam dan terlibat satu masalah" jawab Alina lirih
Nyonya Suci membekap mulutnya seraya menggeleng,mata bulat beliau berkaca-kaca saat kilas pertemuan pertama beliau dan Alina di bandara satu setengah tahun lalu
" Sayang...jangan bilang..." lirih nyonya Suci
" Ia ma...dialah orang nya,dia pria yang melakukan itu pada Aya satu setengah tahun lalu di Batam ma" jawab Alina lirih
Mendengar jawaban Alina...semua yang berada di meja makan itu terdiam dengan pikiran masing-masing,nyonya Suci,tuan Alexander dan Gerald tau detail kejadian itu,tapi Dave....pria itu belum tau apa alasan Alina mengalami traumanya
" Sayang .." ucap lirih nyonya Suci,beliau tak sanggup bicara seakan sesuatu mengganjal di tenggorokan
" Aya ga apa ma...Aya udah maafin dia,Aya udah Ikhlas dengan kejadian itu dan Aya udah sedikit bisa lupain semuanya" jawab Alina berusaha tenang
" Lalu mengapa kamu ga pertahankan pernikahan kalian ini sayang,anggap saja sebagai ganti pertanggungjawaban nya atas diri kamu dan cobalah memenangkan hatinya agar pernikahan kakian tercatat di negara" bujuk nyonya Suci
" Memaafkan dan melupakan bukan berarti Aya bisa menerima kehadiran dia di kehidupan Aya ma...sakit itu masih muncul saat Aya melihat wajah nya dan Aya takut Aya menjadi ga ikhlas memaafkan nya ma" jawab Alina beralasan
" Mama terserah kamu sayang...apapun keputusan kamu nanti,bagi mama kamu tetap putri mama" jawab nyonya Suci yakin
__ADS_1
" Terimakasih ma" jawab Alina disertai sebuah senyuman tipis
Tanpa ada yang menyadari Dave juga menarik sediķit sudut bibirnya,sudut hatinya merasa bahagia,bukan ia jahat..tapi ia seakan memiliki harapan untuk bisa memiliki gadis impiannya itu