Your Angle My Heart

Your Angle My Heart
59


__ADS_3

" Kenapa lo?" Tanya Gerald tanpa basa basi,ia belum menyadari keberadaan Alina di samping Gabriel,ia mengira Gerald yang membutuhkannya


" Wah ...ternyata special banget ya tempat lo sembunyiin adik gue" tambah Gerald meledek


" Banyak omong banget sih lo,periksa istri gue nih" jawab Gabriel geram,membuat Gerald baru menyadari keberadaan Alina di samping Gabriel


" Kamu kenapa Al?" tanya Gerald cepat bernada khawatir,wajahnya tampak panik dan refleks berjongkok di hadapan Alina,membuat Gabriel merasa panas,sedang Alina sedikit merasa canggung,bagaimanapun ia tak terlalu dekat dengan Gerald,tak seperti dengan Dave


" Jangan pegang-pegang istri gue" cegah Gabriel cepat saat melihat Gerald akan meraih tangan Alina untuk ia periksa


" Eh...kulkas..gimana gue mau periksa kalau ga boleh pegang,jangan aneh-aneh deh lo" jawab Gerald geram,ingin rasanya ia menonjok wajah tampan sang sahabat sekaligus bos nya itu


" Biar gue yang pegang aja" jawab Gabriel tanpa dosa


" Yang Dokter disini siapa? Gue atau lo?" tanya Gerald geram


" Karena lo dokter bukan berarti bisa seenaknya pegang-pegang istri gue" jawab Gabriel ketus


" Trus gimana caranya gue mau pastiin kondisisnya kalau pegang aja ga boleh?" tanya Gerald frustasi,sedang Alina hanya diam melihat perdebatan kedua pria yang menurutnya sama-sama dingin itu


" Biar gue yang pegang,lo cukup liat aja dengan teliti" jawab Gebriel terdengar sangat tak masuk akal,bagaimana mungkin seorang dokter dilarang menyentuh pasiennya,terlebih itu hanya tangan...oh Tuhan...sungguh seorang Gabriel Alvaro Altop sangat ahli membangkitkan emosi seseorang sekaligus menguji kesabaran


" Susah Gabriel Alvaro Altop.." Jawab Gerald geram


" Pake sarung tangan lo...gue ga mau tangan istri gue infeksi karena tangan lo yang ga steril" Ucap Gabriel beralasan,sungguh membagongkan..buaknkah sangat jelas ia melihat sang sahabat sudah terlebih dulu membersihkan kedua tangan nya dengan Handsanitizer?


Hufft


" Posesif..." umpat Gerald seraya menggeleng, tak ingin berdebat ia mengambil sarung tangan medis yang selalu tersedia dalam tas tempat perlengkapan medis nya dan memakainya,Gerald meraih lembut tangan Alina dan memeriksanya teliti


" Kenapa sampai kena air panas Al?" tanya Gerald lembut


" Tadi...Aya.." baru Alina akan menjawab,suara dingin Gabriel lebih dulu menjawab


" Kena kuah mie instan, ga pandai masak tapi keras kepala" jawab Gabriel dingin


" Kamu makan mie instan? Kalau lapar kenapa ga delivery atau minta dimasakin bibi,apa suami kamu ga kasi kamu uang? Atau disini ga ada Art?" tanya Gerald menyelidik,bagaimanapun ia ga akan rela jika gadis yang sudah ia anggab adik itu diperlakukan tidak baik oleh orang lain,terlebih ia juga mencintai gadis itu


" Jaga ucapan lo ya,lo kira gue semiskin itu sampe ga bisa bayar Chef?, mereka lagi cuti hari ini sampai dua hari kedepan" jawab Gabriel geram,sedangkan Gerald tertawa dalam hati melihat jawaban tak terima dari Gabriel


" Ya kan gue nanya buat mastiin aja,kalau- kalau adik gue lo siksa disini" jawab Gerald santai,ia semakin bahagia melihat wajah tak terima dari sang sahabat dan wajah canggung dari Alina,sungguh kentara bahwa pasangan muda itu masih layaknya orang asing


" Ada chef dan bibik ko bang,tapi sedang cuti,Aya tadi cuma pingin makan yang kuah-kuah aja,masak ia sih mie instan juga delivery" jawab Alina beralasan,padahal ia belum tau alamat jelas apartemen tempat tinggalnya itu


" Tuh denger...adik lo aja yang keras kepala,masih bocil tapi ga bisa di atur" Jawab Gabriel santai,membuat Alina geram tak terima dibilang bocil,ia merasa dirinya sudah tergolong dewasa ,bukankah usianya sudah menginjak angka 18


Tanpa sadar Alina melotot tak terima kearah Gabriel,membuat pria tampan yang setia berada di sampingnya mengangkat kedua bahunya seakan tak peduli dengan tatapan tak terima dari sang istri


" Udah tau masih bocil ngapain juga lo nikahi,pake maksa lagi" jawab Gerald meledek,ini kesempatan ia men skak sahabat tajir nya itu


" Lo udah bosen ya kerja di Rumah sakit gue? Atau mau gue pindahin ke cabang?" tanya Gabriel geram


Gerald tak menjawab,ia hanya tersenyum meledek seraya menggeleng merasa puas berhasil memancing emosi sang tuan muda Altop

__ADS_1


Issshhj


Ringis Alina refleks saat Gerald mengoleskan salap agar tak melepus,refleks ia memalingkan wajahnya ke arah Gabriel,membuat Gabriel juga refleks menarik bahu Alina membawanya dalam dekapannya


Gabriel membenamkan wajah Alina di dada bidangknya dan dengan sangat lembut mengusap punggung dan mengecup puncak kepala Alina yang terbungkus hijab,ia sedikit meringis seakan tak tega melihat gadis dalam dekapannya itu kesakitan


" Pelan Rald...lo ga liat dia kesakitan" omel Gabriel memarahi sang sahabat,Gerald tak menjawab ia berusaha se profesional munggkin melihat gadis yang pernah ia kagumi berada dalam dekapan pria lain


" Ok ..finish..usahakan jangan terlalu sering kena air dulu ya,salep nya jangan lupa di oles besok pagi dan jangan lupa anti nyerinya di minum,ini resepnya" ucap Gerald lembut pada Alina seraya meletakkan selembar kertas bertuliskan resep obat di atas meja


" Dinda" panggil Gabriel dingin


" Ya tuan,saya akan tebus resepnya" jawab Dinda paham seraya meraih kertas yang berada di atas meja dan meninggalkan ruangan tersebut


" Lo udah selesaikan? Pulang sana" ucap Gabriel tanpa perasaan


" Brengsek lo...kalo lagi butuh aja lo minta gue datang cepat,giliran udah ga butuh lo usir gue,kenapa ga dokter Raffa aja yang lo minta datang" jawab Gerald geram disertai ledekan


" Lagi bulan madu dia ma istri palsu nya" jawab Gabriel santai sekaligus menyindir Alina,membuat Alina tersadar bahwa ia berada dalam dekapan Gabriel dan dengan cepat membuat ia mengangkat wajahnya dari dada sang suami dan sedikit menggeser duduknya,semua itu tak luput dari perhatian Gerld


" Sama dong kayak kalian,Nikah palsu" ledek Gerald tak kalah menohok,membuat Alina menunduk


" Tapi kalau hamil nya ga mungkin palsu kan?" jawab Gabriel ambigu membuat Alina kembali mengangkat wajahnya


" Buktiin..baru gue percaya" jawab Gerald menantang seraya tersenyum smirk dan dibalas senyuman misterius dari Gabriel,sedangakan Alina matanya melotot sempurna


" Ok..." jawab Gabriel santai


Gerald meninggalkan apartemen Gabriel setelah puas meledek sang sahabat,tinggallah pasangan muda yang tampak saling diam menyelami pikiran masing-masing,Gabriel tampak mengotak-atik handphone miliknya dan tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka yang ternyata Dinda yang datang membawa kantong obat dan beberapa paperbag berlogo salah satu restoran jepang ternama yang tak jauh dari apartemen tempat tinggal mereka


" Hem" jawab Gabriel singkat,ia masih geram pada Dinda yang membiarkan Alina masak sendiri dan berujung celaka


" Makanannya sudah siap tuan" ucap Dinda setelah sepuluh menit kemudian


" Ayo" ajak Gabriel seraya berniat membantu Alina


" Saya bisa sendiri " jawab Alina berusaha menghindari seringnya bersentuhan dengan Gabriel,yang membuat jantungnya tak baik-baik saja


" Kamu suka di pegang-pegang oleh gerald? Makanya sangat suka membantah" ucap Gabriel geram


" Bang Gerald abang saya " Jawab Alina cuek


" Abang angkat tepatnya dan aku suami kamu, aku yang berhak nyentuh kamu" jawab Gabriel tak kalah cuek


" Bahkan sebelum jadi istri.... anda sudah menyentuh saya" jawab Alina dingin


" Dan sekarang aku bisa melakukan lebih dari itu" jawab Gabriel tak kalah dingin juga


" Lakukan ...jika itu bisa membuat anda melepaskan saya" jaawab Alina terdengar menantang


" Tidak sekarang ...tapi saat waktunya tepat saya paastikan kamu akan mengandung keturunan keluarga Altop" jawab Gabriel pasti


Alina tak memjawab lagi ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi dan meraih piringnya,jantungnya berdengub kencang saat mendengar Gabriel menginginkan ia mengandung keturunan dari nya,dengan sigab Gabriel membantu dan mengisi nasi juga beberapa menu

__ADS_1


" Saya bisa sendiri" ucap Alina pelan saat Gabriel akan menyuapinya


" Buka mulutmu atau aku akan menyuapi mu dengan lidah ku" ucap Gabriel dingin,membuat Alina refleks langsung membekap bibirnya dengan kedua tangan nya,membuat Dinda yang berdiri di belakang mereka ingin tertawa


" Ayo..." ucap Gabriel seraya mengarahkan sendok ke mulut Alina dan dengan patuh Alina membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari Gabriel,mereka makan sepiring berdua dengan Gabriel yang sesekali menyuapi dirinya sendiri dengan sendok yang sama, membuat Dinda merasa Baper dengan perlakuan sang tuan muda dinginnya pada sang istri


" Terimakasih" ucap Alina tulus setelah selesai makan dan meminum obatnya,ia bangkit dari duduknya dan akan menuju kamar,rasanya tak sanggup berlama-lama bersama suami tampannya,ia bimbang...antara bahagia diperlakukan baik tapi juga tak bisa menghapus rasa sakit yang pernah pria itu torehkan dihatinya


" Ke- kenapa anda ikut ke kamar saya?" tanya Alina seketika gugup saat melihat Gabriel mengikutinya sampai memasuki kamar


" Saya ingin bicara" jawab Gabriel terdengar serius,tapi juga tampak keraguan disana dan Alina menyadari itu


" Apa?" tanya Alina bimbang...antara berharap di lepaskan namun juga berat, seakan ada sisi hatinya yang tak rela,tapi ia juga ga mau di madu dan juga sakit hatinya pada pria itu masih sering datang tanpa bisa ia cegah,namun ucapan Gabriel menginginkan anak darinya juga membuatnya takut


" Tiga hari kedepan aku harap kamu tidak keluar rumah,aku tidak mengizinkannya,apapun yang kamu butuhkan katakan pada Dinda dan satu lagi cukup percaya pada ku" ucap Gabriel pelan sarat akan permintaan,bukan perintah seperti biasanya


" Mengapa?" tanya Alina penasaran


" Aku belum bisa jelaskan sekarang...kasi aku waktu untuk menjawab nya" Jawab Gabriel masih bernada pelan


" Tapi ...Alissa,Mira dan Fiza ngajakin. Liburan kepuncak sampai minggu depan" jawab Alina yang berniat sekaligus meminta izin untuk pergi bersama ketiga sahabatnya


" Aku tidak mengizinkan dan juga tangan kamu sakit, akan sulit menemukan dokter di tempat-tempat seperti itu" jawab Gabriel final


" Tapi saya ingin ikut,atau izinkan saya menginap di rumah mama selama libur kuliah" jawab Alina mencoba menawar


" Hanya tiga hari saya minta kamu jangan keluar,setelahnya kamu boleh pergi kerumah keluarga Alexander dan boleh minta apapun" jawab Gabriel tegas tak ingin di bantah


" Saya tidak ingin minta apapun ...saya hanya ingin anda melepaskan saya,hanya itu" jawab Alina lirih


" Kenapa? Kenapa kamu begiti ingin saya lepaskan Alina Haya?" tanya Gabriel geram dengan suara sedikit meninggi


" Karena antara kita tidak terikat karena hati..tapi karena ambisi anda yang terlalu membenci saya,benci dari kesalahan yang bahkan tidak pernah saya buat,hingga terjadi ikatan ini dan hari ini saya mohon...lepaskan saya.....pleeasee..." mohon Alina mengiba,wajah cantiknya dipenuhi air mata


Alina menangkup kedua tangannya di dada,tatapannya sendu menatap Gabriel,air matanya mengalir deras tanpa bisa ia cegah,walau hatinya menagtakan tak ingin menangis di hadapan pria yang pernah memberinya rasa sakit yang luar biasa dan pria itu pula yang kini menjadi suaminya


Gabriel tak menjawab,ia menatap dalam wajah cantik Alina,harus ia akui..gadis yang kini berstatus istrinya itu memiliki wajah yang cantik Alami,dengan tubuh bak model di sempurnakan dengan kulit halus ssputih salju


Gabriel membalikkan tubuhnya melangkah menuju pintu,namun ia menghentikan langkah nya saat tepat berada di depan pintu seraya berucap" Tolong...turuti permintaan ku tadi...aku kalah Alina Haya...beri aku waktu untuk membuktikan kekalahanku ,aku ingin benar-benar terkubur disana saat aku membuktikan kekalahanku " ucap Gabriel ambigu


Tangan nya cepat menekan menghandle pintu dan melangkah meninggalkan Alina yang masih menangis,tanpa menjawab perkataan terakhir Gabriel yang bagaikan sebuah teka-teki bagi Alina


Alina tergugu di atas ranjangnya,ucapan Gabriel barusan penuh makna,tapi ia tak tau apa yang pria itu rencanakan,ai tak pernah tau tentang kehidupan pria itu terlebih tentang keluarganya,ia seseggukan membayangkan hidupnya yang begitu rumit setelah keeprgian seluruh keluarganya


Hingga beberapa saat kemudia Alina memutuskan untuk Shalat Istikharah,selain berharap mendapatkan ketenangan juga petunjuk kaputusan apa yang barus ia ambil saat Gabriel membuktikan ucapannya tentang meminta waktu


Ya Allah...bahagiakan lah hamba dengan Ridho Mu,mudahkanlah apa yang akan hamba hadapi kedepannya


Ajari hamba diam saat marah...Ajari hamba mengendalikan hati saat merasa kecewa,lapangkanlah hati ini saat menerima segala sesuatu tak seperti yang hamba kehendaki..


Dan ....berilah hamba hikmah dari segala sesuatu hal yang telah hamba lewati...


Amiiiiinn

__ADS_1


Doa Alina di akhir Shalatnya dan ia merasakan ketenagan yang membuatnya tertidur dan masih berada di atas Sajadahnya


__ADS_2