
Alina berdiri mematung di depan sebuah pintu berwarna putih gading,hampir senada dengan warna dindind yang terdapat di lantai dua mansion itu,yang lebih dominan dengan warna putih bersih
Tadi saat ia dan Gabriel tiba di lantai dua tiba-tiba ponsel di saku Gabriel berdering tanda ada yang memanggil,membuat pria tampan itu mengarahkan langkah nya ke suatu ruangan yang terlihat lebih seperti ruang baca atau perpustakaan mini, ia memerintahkan Alina untuk lebih dulu ke kamar
Dengan persaan ragu dan berdebar,tangan kanan Alina terangkat untuk menekan handle pintu dan mendorongnya perlahan, saat merasa bahwa pintu itu telah terbuka,kaki jenjangnya melangkah pelan memasuki kamar yang didominasi dengan warna sedikit gelap,parfum khas sang pemilik kamar menguar hingga tercium diindra penciuman Alina
Alina melangkah lebih dalam seraya menghirup aroma musk yang terasa menenangkan membuat pikiran Alina yang awalnya sedikit kacau merasa lebih tenang,matanya mengedarkan pandangan melihat betapa luas dan megahnya kamar itu
Alina melanjutkan langkahnya mendekati sebuah dinding dengan kaca super besar,dari situ ia bisa melihat indahnya taman dan kebun mini yang terdapat di area belakang mansion,matanya melirik sebuah dress yang terletak di atas ranjang king size itu,sebuah dress rumahan dengan motif bunga berlengan pendek,Alina yakin dress itu disiapkan oleh Gabriel untuk wanita yang seharusnya ia nikahi hari ini
Alina memutuskan menuju sebuah pintu yang ia yakini kamar mandi,ia ingin menyegarkan tubuhnya yang terasa gerah,lagi-lagi Alina terbengong saat melihat betapa luas dan mewahnya kamar mandi tersebut,Alina serasa bermimpi sedang berada di tempat super mewah keluarga Altop
Alina meletakkan paper bag yang ia bawa dari kamar tempat ia menginap semalam di mansion itu di meja westafel,paperbag yang berisi dress panjang dan hijab instan,tadi ia sempat meminta salah satu Art untuk mengambilkan paperbag miliknya itu di kamar yang tepat berada di kamar sebelah kamar itu
Tak menunggu waktu lama Alina sudah selesai dengan ritual mandinya,ia langsung berpakaian di kamarmandi itu,hingga ia keluar sudah lengkap dengan dress dan hijab instan nya,tangannya menenteng paperbag yang sudah ia tukar isinya dengan dress putih yang ia pakai saat menjadi pengantin pengganti pagi tadi
Alina kembali melangkah menuju dinding kaca yang sejak pertama ia memasuki kamar itu menarik perhatiannya seakan memberikan rasa nyaman dan tenang saat berdiri ditempat itu seraya memandangi kesejukan area belakang mansion,ditambah tampak pemukiman kecil di balik tembok megah mansion itu
GREBBB
Deggg
Jantung Alina seakan berhenti berdetak saat sepasang lengan kokoh merengkuhnya dari belakang,dapat ia rasakan dagu sang pelaku menyusup di pundaknya,aroma musk itu membuat ia tau siapa yang kini tengah memeluknya,bisa ia rasakan dengup jantung yang seperti tengah lari maraton
" A-ada apa tuan...? Bisa tolong lepaskan? Tanya Alina lembut sarat permintaan,tubuhnya sedikit bergetar dan ia merasa kurang nyaman dengan posisi mereka saat ini
" Jangan panggil aku tuan,aku bukan majikan mu dan kau juga bukan pekerja ku,ubah panggilan mu pada ku" ucap Gabriel tegas,kedua lengannya semakin memper erat pelukannya di tubuh ramping Alina
" Trus saya harus panggil apa?" tanya Alina polos seraya tubuh nya ia gerakkan pelan,ingin memberontak tapi ia takut
" Terserah.... selain tuan...,mungkin sayang,baby atau hubby..itu ga buruk" jawab Gabriel
" Diamlah ...jangan terlalu banyak bergerak,kamu bisa membangunkan sesuatu yang masih tertidur" ucap Gabriel lirih,hidung mancungnya asyik menikmati aroma khas bayi dari tubuh Alina
Alina tak menjawab apapun lagi,keduanya terdiam hingga beberapa menit,keduanya menyelami isi pikiran masing- masing,Alina sibuk menekan rasa takutnya agar tak muncul berlebihan
__ADS_1
" Alina Haya....aku ...Gabriel Alvaro Altop meminta maaf pada mu atas semua kesakitan yang aku ciptakan untuk mu" ucap Gabriel lirih
" Aya sudah memaafkan tu-eh kakak dari sebelum kakak memintanya" jawab Alina tenang
" Kamu panggil aku kakak..? Kenapa? " tanya Gabriel iseng
" Karena usia kakak diatas Aya" jawab Alina memberikan alasan simple
Lagi keduanya terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit untuk dipecahkan,keduanya seakan enggan untuk memulai pembicaraan
" Aku sudah tenggelam ke dasar terdalam Alina..Aku kalah Alina...aku menyerah..." ucap Gabriel tiba-tiba masih dengan suara tertahan
" Allah sangat tidak menyukai umat Nya yang pesimis,terlalu gampang menyerah,bersabar lah,Aya yakin calon istri kaka pasti punya Alasan tak bisa hadir" jawab Alina tenang
" Aku tak pernah mengharapkan dia Alina...aku ga perduli ..." jawab Gabriel
" Lantas mengapa kaka seperti orang putus asa seperti ini,ceritalah..semoga Aya bisa menjadi teman untuk kaka cerita,Aya akan jadi pendengar terbaik" ucap Alina meyakinkan,ia ingin mencoba berdamai dengan menjadikan dirinya dan Gabriel sebagai teman
" Aku tenggelam dalam pesona dan kelembutan mu istri ku,aku terjebak dalam jebakan ku sendiri dan aku tak akan sanggub lagi jika harus keluar dari sana" ucap Gabriel seakan ia sedang menyatakan cinta pada gadis yang berada dalam dekapannya itu
Deggg
Melihat Alina hanya diam,Gabriel kembali bersuara ..." Jawab aku Alina...apa yang harus aku lakukan ..? " tanya Gabriel
Alina bukan gadis bodoh,ia memang belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis atau lebih dikenal dengan pacaran,tapi ia cukup tau maksud dari ucapan Gabriel padanya barusan,ia sering mendengar cerita dari sahabat-sahabatnya dan dari film-film romantis yang sering ia tonton
" Lepaskan Aya kak...dan Aya akan pergi sejauh yang Aya bisa agar kita ga akan ketemu lagi,Aya janji Aya ga akan menginjakkan kaki di kota-kota yang kita pernah bertemu" jawab Alina yakin,ia tak ingin terbuai dengan ucapan Gabriel padanya,bisa saja itu cara pria itu membuat hatinya semakin tersakiti
Alina merasakan pria itu menggeleng dan semakin mengeratkan rengkuhannya" Aku ingin kamu selamanya disisi ku Alina Haya...menjadi ibu untuk anak-anak ku" kawab Gabriel penuh penekanan
Alina diam,matanya menatap kosong keluar dinding kaca dihadapannya itu,ia tak tau apa yang sedang Gabriel pikir dan rencanakan dan ia tak ingin percaya,ia memang mrasa nyaman saat diperlakukan seperti saat ini oleh pria itu,ia merasa dilindungi,tapi luka dihatinya masih belum memudar
" MAAF..." Jawab Alina dengan satu kalimat,tenggorokannya terasa tertekan,ia menengadah agar air matanya tak jatuh saat kepingan-kepingan kesakitan yang pria itu hadiahkan untuk nya,ia tak ingin terlihat lemah di depan orang yang sudah menyakitinya
TES
luruh sudah air mata yang sejak tadi sekuat tenaga Alina tahan agar tak menetes,nyatanya ia tak sanggup menyembunyikan rasa sakitnya,dan ia benci dirinya yang terlalu gampang menitikkan air mata hingga terkesan manja dan cengeng
" Jangan menangis pleaseee....maafkan juga aku yang ga akan sanggub melepaskan kamu,mintalah yang lain..asal jangan minta lepas dariku" jawab Gabriel memohon
__ADS_1
" Tapi sakit itu masih terasa kak,Aya bahkan masi jijik dengan tubuh Aya sendiri" jawab Alina lirih
" Aku tidak menodai mu Alina ...percayalah" jawab Gabriel jujur
" Hehe...bagaimana caranya Aya bisa percaya..? Jika tanda itu..." ucapan Alina terhenti,tubuh nya bergetar hebat,ia tak sanggub mengatakan tentang apa yang ia lihat pagi itu,Alina meremas kuat sisi dress nya,traumanya kembali muncul
" Plesee lepaskan Aya....Aya takut .." lirih Alina dengan tubuh bergetar dan itu membuat Gabriel menyadari terjadi sesuatu pada Alina
Greebb
Baru saja Gabriel ingin membalikkan tubuh Alina agar menghadap padanya,tapi gadis itu sudah terkulai lemah nyaris terjatuh ke lantai andai Gabriel tak sigab merengkuh kembali tubuh yang tampak tak sadarkan diri itu
" Sayang....pleaseee jangan seperti ini...sadarlah Alina...ya Tuhan...ampuni hamba telah memberikannya luka begitu dalam" ucap Gabriel panik,ia segera mengangkat tubuh alina dan merebahkannya di ranjang king size milik nya
Gabriel mengusap lembut pipi putih mulus Alina seraya mengecup kening gadis itu berulang-ulang kali,ia bingung apa harus ia lakukan,ingin menelfon dokter tapi ia takut terjadi kehebohan sebab masih banyak tamu dan keluarganya yang belum meninggalkan mansion itu,ia akan tunggu 30 puluh menit
Dan benar saja tak berselang lama tampak Alina mulai mengerjabkan matanya perlahan,membuat Gabriel merasa sangat bahagia
" Kamu sudah sadar? Syukurlah.." tanya Gabriel,raut khawatir masih terpancar jelas di wajah nya
Berbeda dengan Alina yang tampak tegang dan kembali histeris saat matanya menangkap sosok Gabriel yang berjarak begitu dekat dengan nya" tolong lepaskan Aya tuan ....maaf kan Aya..." pinta Alina dengan tatapan memohon,mengingatkan Gabriel pada kejadian saat ia mengancam gadis cantik itu
" Alina...ini aku...tenanglah..aku suamimu sayang...pleasee jangan seperti ini,maaf kan aku...maaf..aku janji akan selalu menjaga mu" ucap Gabriel lembut seraya mendekap erat tubuh Alina yang bergetar
" Aku sayang sama kamu...pleasee tenanglah, ga akan terjadi apapun" bisik Gabriel lembut di gelinga Alina,membuat gadis cantik itu tampak sedikit lebih tenang
Pelukan Gabriel terasa menenangkan untuk Alina,hingga tak lama kemudian terdengar nafas teratur dari gadis cantik itu,menandakan ia telah tertidur dalam dekapan pria yang menciptakan luka untuk nya,tanpa sadar tangan lembutnya bergerak merangkul pinggang Gabriel,hingga menimbulkan senyuman tipis dari bibir tipis Gabriel
Berulang kali Gabriel menhecup puncak kepala Alina,mengusap lembut rambut halus kecokelatan Alina,rambut yang kini tergerai indah sebatas pinggang,menguarkan aroma lembut khas sampo bayi
" Umi ....Aya Rindu.." racau Alina dalam tidurnya,tangan nya semakin erat memeluk tubuh disebelah nya,wajahnya menyusup tepat di dada bidang milik Gabriel
" Ada aku..." bisik Gabriel lembut tepat ditelinganya,lengan kanan nya ia jadikan bantal untuk sang istri
Merasa Alina sudah tenang dan nyenyak,Gabriel memutuskan untuk mandi,ia ingin menyegarkan tubuhnya yang sejak tadi terasa gerah,bukan karena panas,sebab pendingin ruangan di kamar itu berfungsi,tapi karena ia harus menahan sesuatu gejolak yang muncul dari dalam tubuhnya
" Shiit...kenapa sih kamu harus bangun" umpat Gabriel menggeram pada tubuh nya sendiri,ha-srat nya seakan tak bisa ia kendalikan saat ia bersama gadis itu
" Gabriel melangkah ke kamar mandi setelah melepaskan dekapan Alina dengan sangat hati-hati,tak lupa ia meletakkan kepala Alina diatas bantal agar gadis cantik itu merasa nyaman dalam tidurnya,ia akan berusaha memenangkan hati sang istri dengan cara apapun,tapi ia juga bertekad akan memyembuhkan luka yang ia ciptakan untuk gadis itu,dia penyebabnya maka dia pulalah penyembuhnya..itulah yang sang papa katakan tadi sebelum ia memasuki kamarnya,tepatnya yang menelfonnya tadi adalah tuan Alvaro..sang papa,beliau menjelaskan secara detail apa yang dokter yang menangani Alina jelaskan pada beliau beberapa bulan lalu
__ADS_1