
Tok. Tok tok
" Non..." terdengar suara ketukan pintu bersamaan suara seseorang memanggil,membuat Alina terbangun dari tidurnya,ia tersentak kaget karena ternyata ia tertidur dengan posisi duduk dan masih berada di lantai,yang pastinya ia ketiduran karena lama menangis
" Ia bik...sebentar" jawab Alina dengan suara serak khas orang bangun tidur,sebisa mungkin ia mencoba menutupi kesedihan hatinya,ia bangkit dari duduk nya dan sedikit membuka pintu seraya menyembulkan kepalanya
" Non di tunggu di meja makan sama tuan dan nyonya untuk makan malam" ucap bik Sum memberitahukan
" Ia bik..sebentar Al turun" jawab Alina cepat
" Ia non" jawab bik Sum seraya beliau melihat wajah Alina yang tampak sembab dan masih memakai baju saat Alina datang siang tadi,walau dalam hati penuh tanda tanya tentang siapa Alina,tapi wanita sepuh itu tidak mungkin berani bertanya,terlebih sang majikan memerintahkan pada beliau untuk menyiapkan kamar untuk Alina dan kamar yang sang tuan dan nyonya tunjuk adalah kamar seseorang tersayang mereka yang telah pergi untuk selamanya,ditambah lagi sang tuan dan nyonya memerintahkan pada kedua putranya untuk menetap di Apartemen selama beberapa hari kedepan
Untuk putra pertama sang majikan .....itu tidak aneh,karena sejak sekolah menengah atas putra sulung tuan Alexander itu memang lebih sering di apartemen nya,tapi untuk putra kedua mereka itu sedikit aneh,karena pria yang akrab di sapa Dave itu sangat jarang tidak pulang ke rumah,ia hanya sesekali menginap di apartemen sang kakak jika memang dirinya merasa suntuk dirumah seorang diri karena kedua orang tua mereka yang termasuk cukup sibuk,terlebih saat-saat akan memasuki tahun ajaran baru dan semenjak adik perempuan tersayang nya pergi untuk selamanya beberapa tahun lalu
Sepuluh menit kemudian tampak Alina menuruni tangga dan melangkah mengikuti bik Sum yang ternyata masih menunggunya di lantai bawah tepat di ujung tangga,hal itu membuat Alina sedikit merasa tak enak
" Maaf merepotkan bibik" ujar Alina lembut dengan wajah sungkannya
" Ga kok non,bibik takut non Al bingung mau ke ruang makannay,kan belum hafal letak rumah ini" jawab bik Sum apa adanya dan di balas anggukan kepala oleh Alina,ia juga bersyukur wanita sepuh itu mau menunggunya,karena ia juga yakin akan kebingungan harus ke arah mana menuju ruang makan,mengingat betapa besarnya rumah itu
Sampai di ruang makan tampak pasangan paruh baya itu sudah menunggu seraya asyik mengobrol,entah apa yang pasangan itu obrolkan,sampai-sampai keduanya ga menyadari kedatangan Alina
" Maaf ma-pa ...Al lama" ucap Alina lirih,sungguh ia merasa sangat sungkan dan bersalah
" Eh sayang....kamu udah turun..yuk kita langsung makan,mama sama papa sengaja cepat turun tadi,karena papa harus ke rumah salah satu rekannya malam ini dan kami ga lama kok" jawab nyoya suci santai
" Makan yang banyak ya" tambah nyonya Suci ceria,dari mata Alina yang sembab beliau dan sang suami sudah tau pasti gadis belia itu habis menangis bahkan mungkin cukup lama,dan keduanya berharap semoga Alina cepat membaik agar bisa cepat memulai studynya
" Ia ma..." Jawab Alina lembut,bagaimana ia bisa makan banyak? Sementara lidahnya rasanya tercekat setiap kali bayangan itu muncul,bayangan saat pria yang tidak ia kenal itu menarik hijabnya dan mengukungnya diatas ranjang,serta bayangan saat ia tersadar dari pingsannya dengan keadaan yang sangat menjijikkkan menurutnya
__ADS_1
" Kok makananya cuma di aduk-aduk sih sayang? Ga enak ya? Mau mama suruh masakkan menu lain? atau kamu mau makan sesuatu?" tanya nyonya Suci khawatir
" N-nga kok ma..Alhamdulillah ini enak banget ko,cuma Al aja mungkin masih kenyang" jawab Alina lembut,ia berusaha sebisa mungkin jangan sampai menyinggung perasaan orang Yang sudah bersikap sangat baik padanya
" Ok ..dihabiskan ya sayang dan jangan lupa minum obat kamu ya,itu sudah mama sediakan" ucap nyonya Suci lembut seraya matanya mengarah pada sebuah piring kecil yang terletak di depan Alina dan sudah berisikanbeberapa butir obat yang sudah tak memiliki bungkus lagi
" Ia ma..." jawab Alina patuh,walaupun ia belum tau obat apa yang harus ia minum tapi ia berusaha tetap berfikir positif,mengingat tadi siang ia bisa merasa sedikit tenang sesaat setelah meminum obat yang nyonya Suci berikan
Alina melanjutkan makannya walaupun sangat terpaksa ia harus menelan setiap suapan nasi yang masuk ke dalam mulutnya,,sungguh ia merasakan nasi itu ibarat racun yang menghilangkan segala rasa pada indra perasanya " Ya Tuhan...tolong hamba...." batin Alina memohon saat ia merasakan mual yang luar biasa,secepatnya ia meraih segelas air putih dan meminumnya agar makanan yang masih berada di tenggorokannya segera tertelan dan semua itu tak luput dari perhatian pasangan paruh baya yang sudah mengikrarkan ia sebagai putri mereka
Tanpa ada obrolan lagi akhirnya makan malam itu berjalan cukup lancar sampai Alina benar-benar sudah meminum obatnya barulah tuan Alexander dan sang istri meninggalkan meja makan dan mengatakan akan pergi yang di jawab anggukan oleh Alina
" Kamu baik- baik dirumah ya,langsung istirahat dan jangan pikirkan apapun,ingat ...kesehatan diri itu yang paling utama,karena hidup kita masih harus berlanjut" nasehat nyonya Suci
" Ia ma Al janji akan berusaha lebih kuat lagi,diluaran sana mungkin masih banyak orang yang mendapatkan ujian lebih berat dari Al,mama sama papa hati-hati ya" jawab Alina dan dijawab anggukan kepala oleh nyonya Suci seraya mengusap lembut puncak kepala Alina yang terbungkus hijab instan
********
Dilain tempat
" Ada laporan dari anak buah mu nik?" tanya suara bariton sang bos pada asisten pribadinya,usianya baru memasuki 21 tahun...tapi kharismanya sebagai seorang pemimpin sungguh tak bisa diremehkan,ia bahkan lebih tegas dan kejam dari sang papa yang sudah terkenal dengan ketegasannya
" William mengatakan semuanya baik-baik saja tanpa kendala tuan" jawab Niko apa adanya,william adalah orang kepercayaan Gabriel untuk memantau beberapa perusahaan sang papa yang berada di bawah tanggung jawabnya
" Kalau tentang rumah sakit dan perusahaan tuan..juga ba-" ucapan Niko langsung terhenti oleh Suara bariton sang bos
" Bukan tentang itu..." potong Gabriel cepat
" Lalu tentang apa tuan muda? " tanya Niko ingin memastikan
__ADS_1
" Wanita itu..." jawab Gabriel lirih nyaris takterdengar
" Nona itu...sudah meninggalkan hotel pagi tadi tuan" jawab Niko sedikit menunduk
"Hm..." jawab Gabriel dengan khas dirinya
" Sudah kamu sambungkan CCTV kamar itu ke ponsel saya?" tanya Gabriel lagi setelah diam sejenak
" Sudah tuan muda" jawab Niko mantap
" Hm..." lagi...hanya jawaban singkat itu yang sang Asisten dengar
" Ada lagi yang anda butuhkan tuan? Kalau sudah tidak ada saya akan ke ruangan saya" tanya Niko sopan,usia Niko memang beberapa tahun di atas Gabriel,tapi ia tetap harus bersikap sesopan mungkin pada Gabriel,mengingat Gabriellah yang menolongnya saat ia dalam kesulitan di negara nya sendiri
Ya ayah Niko asli inggris dan ibubya indonesia,ia dan Gabriel pertama bertemu di Oxford University saat Gabriel masih sebagai MABA di kampus tersebut,sedangkan Niko mahasiswa semester akhir,saat itu ia sedang kesusahan memikirkan biaya untuk pengobatan ibunya yang difonis mengidap kelenjar getah bening dan saat itu Niko bekerja part time di salah satu coffe shop
Entah kebetulan atau mungkin memang takdir,sore itu Gabriel menikmati coffe di cafe tempat Niko kerja dan ia melihat Niko yang berprofesi sebagai joki peracik coffi
Flasback
" Kamu MABA di Oxford kan?"sapa Niko ramah,ia memang terkenal humble walaupun terkesan dingin,ia juga terkenal sebagai mahasiswa cerdas di Universitas itu karena ia salah satu mahasiswa dengan jalur beasiswa,ia belum tau bahwa pemuda yang ia sapa adalah putra dari salah satu donatur terbesar kampus tempat ia menuntut ilmu
" Ya..Anda mahasiswa tingkat akhir..? ini cafe anda?" tanya Gabriel sopan,ia ingat Niko adalah seniornya yang pagi tadi mengenalkan diri sebagai anggota BEM dan berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir
" Bukan...saya bekerja disini,duduklah akan saya buatkan coffe untuk mu,ada pesanan khusus?" jawab Niko seraya bertanya
" Satu coffe Caramel tanpa gula,cukup tambahkan sedikit susu tanpa full cream" pesan Gabriel dan diangguki oleh Niko
Gabriel memilih duduk di kursi dekat kaca menikmati suasana sore di negara yang baru beberapa hari ini ia huni,jika dulu beberapa kali ia mengunjungi negara ini karena ia sedang berlibur,seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Gabriel dan haripun terus berlanjut seperti biasanya,Gabriel seakan candu pada coffe di tampat itu dan hal itu membuat mereka lumayan akrab dengan Niko,sehingga jika ada waktu maka Gabriel akan mengajak Niko ngobrol sampai akhirnya Gabriel tau tentang kemelud keluarga Niko hingga pada akhirnya berakhir Niko menjadi Asisten pribadi seorang Gabriel Alfaro Altop
__ADS_1