Your Angle My Heart

Your Angle My Heart
33


__ADS_3

" Ma...kapan Al boleh pulang? " tanya Alina pada sang mama,sudah hari ketiga Alina berada di rumah sakit dan ia merasa sangat bosan


" Dokter bilang siang nanti kamu sudah boleh pulang kok..kenapa .. bosan ya?" jawab sang mama


" Banget ma..bang Dave juga..kemana sih ? " jawab Alina manja


" Dave siang katanya sayang,ada bimbingan dengan dosen katanya pagi ini,papa juga keluar kota dan Abang ada rapat tahunan sama pemilik rumah sakit" jawab nyonya Suci apa adannya


" Mama pulang aja dulu,Al ga pa pa kok sendiri,mama juga belum mandikan? Nanti siang aja mama jemput Al" ucap Alina pada sang mama,ia ga tega melihat wanita paruh baya itu yang terlihat lelah


" Sebentar lagi sayang,tadi katanya mama Miranda lagi jalan kesini,mama ga mau ninggalin kamu sendiri,takutnya yang datang perawat laki-laki" jawab nyonya Suci


" Al udah ga takut lagi kok ma,mama tenang aja, Insya Allah aman ma" jawab Alina meyakinkan,ia jadi merasa semakin merepotkan


" Ya udah deh..kalau kamu yakin akan baik-baik aja,mama tinggal ya sebentar" jawab nyonya Suci apa adanya


" Ia ma hati- hati,kalau nanti siang boleh pulang Al akan telfon mama" jawab Alina meyakinkan sang mama


Nyonya Suci segera berkemas dan meninggalkan ruang rawat Alina,,walau beliau ragu ...tapi beliau harus melakukannya,mengingat ucapan dokter yang menangani Alina mengatakan bahwa Alina harus berani melawan rasa takutnya dan keluarga harus mendukungnya


Nyonya Suci meninggalkan rumah sakit bertepatan dengan datangnya seseorang,Gabriel melangkah dengan pasti menuju ruang rawat Alina sesuai petunjuk dari orang suruhannya yang sudah beberapa hari ini ia tugaskan untuk mengawasi Alina


Langkah kaki Gabriel bethenti tepat di depan ruang rawat Alina,walau sedikit berdebar ia menekan handle dan mendorong pelan pintu bercat putih itu,menampakkan Alina yang sedang berbicara dengan seseorang di balik handphonenya,gadis cantik itu belum menyadari kehadiran seseorang di kamar rawat nya


Gabriel terdiam tepat didepan pintu,ia menutup pintu itu pelan,matanya memandangi Alina yang menggunakan seragam pasien,mahkota indah nya terbalut hijab instan,sekilas ia takterlihat sebagai pasien,terlebih tampak sebuah senyuman indah saat ia asyik bercanda dengan lawan bicaranya ditelfon, karena memang yang sakit bukan fisiknya,melainkan mentalnya



PRANG ...


Handphone ditangan Alina jatuh kelantai saat ia berbalik dan matanya menatap ke arah pintu,wajahnya yang tadi tersenyum berubah menjadi pucat pasi,sedangkan Gabriel masih belum menyadari perubahan gadis cantik itu,ia masih terpaku dengan senyuman Alina saat tadi melihat kearah nya,hingga suara bergetar Alina menyadarkan nya


" A- apa yang anda lakukan disini..? " tanya Alina lirih dengan suara bergetar,tampak jelas wajah ketakutan Alina ditambah dengan tangannya yang bergetar hebat


" Saya hanya ingin bicara empat mata dengan kamu" jawab Gabriel dingin,ia berusaha menutupi kegugupannya

__ADS_1


" Ga ada yang perlu Anda dan saya bicarakan TUAN..pleasee..tinggalkan saya,saya sudah melakukan apa yang anda mau... yaitu meninggalkan kota itu dan tidak melanjutkan tujuan saya ke singapura" ucap Alina pelan,wajahnya menunduk dalam,sesekali ia menatap kearah jendela


" Tapi saya merasa harus berbicara dengan kamu,antara kita seperti ada ikatan benang merah yang harus kita selesaikan,saya merasa kamu seperti mengutuk saya karena kejadian di hote-" ucapan Gabriel terpotong oleh suara bergetar Alina


" S-stop...pleasee jangan pernah sebut tempat itu dihadapan saya,demi Tuhan....saya sangat membenci tempat itu,untuk Anda ..demi Tuhan saya sudah memaafkan Anda,tidak ada ikatan apapun diantara saya dan Anda,tidak ada kita pula diantara saya dan Anda,saya dan Anda hanya orang asing yang mungkin dipertemukan sesaat oleh takdir buruk,sehingga kejadian buruk itu terjadi,jika keberadaan saya dikota ini juga merupakan sesuatu yang mengganggu Anda..saya janji saya akan pergi dari kota ini,tapi tolong beri saya waktu untuk saya menjelaskan pada orang-orang terdekat saya" ucap Alina pasti,rasa takut semakin besar ia rasakan,keringat mulai tampak bermunculan diwajah cantik nya


Perlahan kaki Gabriel melangkah mendekati bankar Alina,tatapan nya lurus pada gadis cantik itu,tak dipungkiri ia sangat terkejut dengan kata demi kata yang keluar dari gadis yang masih belia menurutnya,tampak jelas tak sedikitpun gadis itu terpana dengan ketampanan nya,yang ada hanya tatapan ketakutan,mungkin karena pengaruh obat membuat Alina mampu bertahan dan tidak pingsan seperti pertemuan perdana mereka beberapa hari yang lalu


" Kamu yakin kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan dokter Raffa? " tanya Gabriel,lagi-lagi pertanyaan itu terulang,membuat ingatan Alina seakan kembali ke malam kelam satu tahun lalu,dan itu berhasil membuat kristal bening keluar dari dua mata indah gadis cantik itu,bayangan saat Gabriel menarik hijabnya dan memgukung nya kembali muncul,membuat tubuh Alina tiba-tiba bergetar hebat


" Sa-saya bersumpah atas nama Tuhan saya..saya tidak memiliki hubungan apapun dengan dokter itu,pleasee..tinggalkan saya dan lepaskan saya ....Tuan,saya mohon...pleasee" jawab Alina lirih,tatapan sendunya menatap wajah tampan Gabriel,hal itu membuat desiran aneh di hati pemuda tampan itu,ada rasa ingin memeluknya,memberinya ketenangan agar rasa takut dimata indah itu hilang,Gabriel menatap lekat mata sendu yang dipenuhi air mata itu,hatinya sunngguh bimbang


" Jika memang kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan dokter Raffa..buktikan pada saya" jawab Gabriel terdengar sangat egois


" Bagaimana caranya..? Saya bahkan tidak tau nama aslinya,kota asal nya,atau bahkan no ponselnya,saya tidak tau apapun tentang dokter itu" jawab Alina terdengar frustasi


" Temui dia..saya akan bawa kamu ke suatu tempat dimana kalian akan bisa bertemu" jawab Gabriel pasti


" Berikan saja alamatnya,saya akan datang sendiri ketempat itu,anda bisa pantau dari jauh" jawab Alina


" Ba-bagaimana Anda--" pertanyaan Alina terpotong oleh ucapan Gabriel


" Saya sangat mengenal dekat keluarga angkat kamu itu,jadi kalau kamu masih sayang pada mereka dan karir mereka maka ikuti perkataan saya" ancam Gabriel membuat Alina langsung terdiam dan menunduk dalam


Gabriel menunduk meraih handphone Alina yang tadi jatuh ke lantai saat ia melihat keberadaan Gabriel di ruangan rawat nya,meletakkan benda pipih itu tepat diatas pangkuan Alina,membuat gadis cantik itu kembali mengangkat wajahnya melihat Gabriel sesaat,tak ada ucapan terimakasih dari bibir indah nya,yang ada hanya rasa takut yang semakin besar karena jarak mereka semakin dekat


Tangan Gabriel terangkat mengusap puncak kepala Alina,membuat Alina refleks mendongak menatap nya,dan hal itu mampu membuat jantung Gabriel berdetak lebih kencang,sedangkan Alina semakin ketakutan,ia membayangkan Gabriel akan menarik lagi hijab nya,membuat ia spontan meremas kuat ujung hijabnya


Tanpa mengatakan apapun lagi,Gabriel meninggalkan ruangan rawat Alina dan juga meninggalkan rumah sakit milik nya itu,ia dan Alina tak menyadari ada seseorang yang menyaksikan semua kejadian didalam ruang rawat VVIP itu,orang tersebut sedikit lega karena Gabriel tak menyakiti Alina


" Tuhan...maafkan putra hamba telah menyakiti gadis sebaik dia,maaf kan hamba juga yang egois menginginkan agar mereka bersama,hamba mohon...tumbuhkanlah rasa sayang diantara keduanya dan jadikanlah mereka jodoh dunia Akhirat ya Tuhan, hamba percaya Engkau maha membolak-balikkan hati manusia" doa nyonya Miranda dalam hati


" Assalammualaikum..." ucapan salam dengan suara lembut menyadarkan Alina dari rasa takutnya


" Waalaikum salam....tante ..." jawab Alina masih dengan suara seraknya khas orang habis menangis

__ADS_1


" Kok tante sih..." rajuk nyonya Miranda sedih


" Maaf ma-ma" ucap Alina gugup


" kamu kenapa sayang? Mata kamu sembab..kamu abis nangis?" tanya nyonya Miranda beruntun


" Ga kok ma,tadi mata Al gatel jadinya Al kucek,eh kekuatan mungkin jadinya gini deh" jawab Alina berusaha untuk tersenyum


" Sini sayang mama tiup..kasian anak mama.." ledek nyonya Miranda berusaha membuat gadis itu melupakan hal yang baru saja terjadi


" Makasi ...mama" jawab Alina manja,ia mengecup singkat pipi mulus wanita paruh baya yang baginya bagaikan malaikat itu,selalu datang saat ia membutuhkan sandaran atas segala rasa sedihnya dan rasa takutnya


" Sama-sama sayang mama...andai kamu tinggal dengan mama..sayang" balas nyonya Miranda sendu


" Alina janji kapan-kapan Al akan main ke rumah mama,lagian mama juga sibuk terus kan dan jarang banget di jakarta" jawab Alina diiringi sebuah senyuman lembut


" Mama udah putusin,mulai sekarang mama akan menetap di jakarta,jadi kamu harus sering-sering ke mansion buat nemeni mama" jawab nyonya Miranda


" Pasti ma...Al janji ..akan sering nemeni mama kalau ga ada jadwal kuliah" jawab Alina pasti


Keduanya asyik mengobrol akrab,melupakan masalah yang tengah membebani hati keduanya,andai masalah itu bisa dihapus dan waktu bisa diputar kembali,keduanya tak ingin masalah itu terjadi,baik Alina...ia tak pernah ingin bertemu dengan orang-orang yang sangat berpengaruh itu,hal yang sama juga nyonya Miranda sesalkan,mengapa putranya harus menyakiti gadis lugu itu,bagaimana cara beliau menjelaskan pada gadis itu saat ia tau bahwa beliau adalah ibu dari pria yang menyakitinya hingga meninggalkan luka yang berkepanjangan


Siang menjelang,Dave datang bersama Maya dan saat bersamaan ketiga sahabat Alina juga datang,nyonya Miranda meminta izin pulang karena Alina sudah ada yang menemani dan beliau juga akan mengunjungi kantor sang suami dan sang putra,membawakan makan siang untuk kedua pria yang sangat beliau sayangi itu


Para anak muda itu tampak bercengkrama seraya bercanda dan saling melempar ledekan,untuk sesaat Alina dapat mengalihkan perasaan berkecamuknya tentang pembicaraannya dengan Gabriel pagi tadi,bagaimanapun ia masih belum bisa melupakan saat ia dibuat tak sadarkan diri saat di batam dan berakhir berada di kamar hotel dan ia takut kejadian itu akan terulang lagi


Tak lama berselang nyonya Suci datang menjemput Alina,semuanya mengemasi barang -barang Alina dan meninggalkan rumah sakit,Alina,Dave dan nyonya Suci menuju kediaman mereka,sedangkan Maya dan ketiga sahabat Alina juga menuju kediaman mereka masing-masing


Dalam perjalanan Alina terus terdiam memikirkan bagaimana esok,apakah benar seseorang akan datang menjemputnya? Lalu alasan apa yang harus ia katakan pada keluarga angkatnya saat ia akan keluar,sedangkan sang mama sudah mengatakan agar ia istirahat dirumah minimal dua hari lagi,jika ia beralasan ke kampus Dave pasti akan tau kalau ia tidak datang ke kampus,apalagi ada orang yang tiba-tiba datang menjemputnya,ya Tuhan ....sungguh Alina dibuat pusing,bingung dan takut pastinya


" kamu baik-baik aja kan sayang? Mama perhatikan dari tadi kamu melamun terus" tanya nyonya Suci khawatir


" Ga ada apa-apa kok ma...mungkin karena Al bahagia aja udah boleh pulang lagi kerumah,Al takut kalau sampai disuruh rawat lagi di rumah sakit seperti tahun lalu" jawab Alina lirih


" Itu ga akan pernah terjadi lagi sayang...mama janji" jawab nyonya Suci cepat,beliau sangat sakit saat memdengar jawaban Alina,bagaimanapun beliau masih sangat mengingat seperti apa sakitnya gadis itu saat dinyatakan harus di rawat secara khusus di rumah sakit sampai beberapa bulan

__ADS_1


Nyonya Suci mendekap erat tubuh ramping Alina dan mengusap lembut punggung nya,menenangkan gadis cantik itu ,berharap agar ia melupakan kisah pahit tahun lalu


__ADS_2