Your Angle My Heart

Your Angle My Heart
60


__ADS_3

Dua hari sudah Alina mematuhi permintaan Gabriel agar tak keluar dari apartemen,chef yang bertugas di apartemen sudah membali dari cuty nya,Alina mencoba mengikuti keinginan Gabriel walau dalam hati ia sangat penasaran dengan alasan Gabriel rak mengizinkan ia kelaur,tapi sebisa mungkin ia mencoba tak akan bertanya pada siapapun


Ketenagan Alina menonton terusik saat terdengar suara bel dari pintu apartemennya,dengan sigap Dinda berdiri menuju pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan didepan pintu itulah Dinda berdiri seakan kaku


" Siapa mbak?" tanya Alina saat melihat Dinda masih terpaku di depan pintu,sedangkan pintu tampak sudah terbuka


" I-ini non ada..." ucapan Dinda terpotong saat sang tamu langsung masuk seraya mengucapkan salam


" Assalammulaikum..." ucap seorang wanita paruh baya seraya melangkah anggun memasuki apartemen yang jelas nampak sangat mewah,membuat wanita paruh baya itu bernafas lega


" Ma-ma" ucap Alian lirih namun masih terdengar oleh Dinda dan wanita yang di panggil mama oleh Alina


" Hai sayang...yak ampun putri mama ...kangen deh udah hampir satu tahun ga ketemu" jawab nyonya Miranda seraya melangkah lebar menghampiri Alina dan langsung memeluk erat tubuh indah gadis cantik itu


Sedangkan Dinda diam terpaku,ia mencerna setiap interaksi antara Alina dan sang tamu yang ia tau adalah ibu dari sang tuan muda,namun yang ia herankan saat melihat Alina yang tampak begitu dekat dengan wanita paruh baya itu,lalu mengapa sepertinya Gabriel merahasiakan keberadaan Alina sebagai istrinya,sungguh membingungkan


Dinda ingin menghubungi sang tuan muda tapi ia ragu,mengingat sang nyonya besar sudah lebih dulu memberinya ancaman saat di depan pintu tadi,termasuk para bodyguard yang berjaga di depan pintu


" Jangan ada satu orang pun yang berani-berani mengatakan kedatangan saya pada tuan muda kalian,kalau kalian masih ingin aman bekerja di GA an Altop group" ucap dingin sang nyonya besar


" Mama..apa kabar?" tanya Alina lembut dalam dekapan nyonya Miranda yang sesungguhnya adalah ibu mertuanya


"Maama baik sayang...kamu? Kok. Keliatan kurus hem?" tanya nyonya Miranda memindai tubuh Alina saat pelukan keduanya terlepas


" Alhamdulillah Aya baik ma..Diet ma" jawab Alina asal,ia tak mungkin menceritakan semua kisahnya belakangan ini


"" Sayang...kamu ikut mama yuk" ajak nonya Miranda tampak buru-buru


" Tapi ma...kemana? Aya..." ucapan Alina terpotong dengan jawaban cepat dari nyonya Miranda


" Kamu tega nolak ajakan mama? Pleasee temeni mama ya,putra mama besok menikah mama butuh temen untuk ke salon dan mempersiapkan pakaiannya untuk acara sakralnya besok" jawab nyonya Miranda memelas


" Tapi nyonya..nona muda..." ucapan Dinda langsung terdiam saat nyonya Miranda menatap tajam ke arahnya


" Saya tidak minta pendapat kamu" potong nyonya Miranda cepat,membuat Dinda tertunduk lesu


" Sebentar ya ma Aya ganti baju dulu" nawab Alina lesu,ia jadi serba salah


" Ga perlu sayang...begini aja,kamu cukup pakai hijab kamu aja dan kita langsung pergi" jawab Nyonya Miranda lagi


" Oh...ok..tapi sebentar ma Aya ambil dompet dulu" ucap Alina pasrah,akhirnya ia menaiki tangga menuju kamarnya,mengambil sebuah tas sandang mini dan memakainya,tak lupa hijab instan miliknya, Alina kembali turun dan meraih handphone nya yang terletak di atas meja,mengikuti langkah sang mama angkat keluar dari apartemen itu


Nyonya Miranda menggandeng lengan Alina seakan takut kehilangan gadis cantik itu,kedauanya langsung memasuki mobil saat sudah berada di basement dan mobil siap memmbawa sang penumpang


Nyonya Miranda sesekali melirik Alina yang tampak gelisah dan beliau tau apa yang membuat gadis cantik itu gelisah,hingga tiga puluh menit kemudian mobil mewah nyonya Miranda memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggi dan tampaklah bangunan mewah dan megah dengan arsitertur Eropa klasik


Alina belum bertanya,ia masih terpaku melihat bangunan super megah yang ia yakini adalah kediaman seseorang,namun ia belum tau milik siapa bangunan itu,hingga keterpakuan Alina tersadar dengan suara lembut dari nyonya Miranda


" Selamat datang di kediaman kami...inilah mansion sederhana milik keluarga Altop" ucap nyonya Miranda lembut seraya tersenyum penuh makna

__ADS_1


Alina terkesiap saat memdengar kalimat terakhir yang nyonya Miranda ucapkan" Keluarga Altop?" tanya Alina liriih namun masih terdengar oleh nyonya Miranda


" Ya..ini..kediaman keluarga Altop,suami mama,papa Alvaro itu adalah putra tunggal keluarga Altop sayang,kenapa hem..? kamu pernah bertemu seseorang yang mengaku dari keluarga Altop?" tanya nyonya Miranda sanntai


" N-ngak ma.." jawab Alina gugup,ia tak pernah memyangka bahwa wanita yang baaginya adalah dewi penyelamatnya ternyata adalah ibu dari pria yang menghancurkan nya,sungguh Alina serasa dipermainkan oleh takdir


" Ya Allah...takdir apa lagi ini? Mengapa hamba harus berada di keluarganya..? dan apa ini? Besok hamba harus menyaksikan pria yang masih suami hamba menikah dengan wanita lain" batin Alina pilu


" kok bengong sih Ayo..." ajak nyonya Miranda seraya menarik lembut jemari lentik Alina


" I- Ia ma" jawab Alina gugup,ia memaksa tersenyum demi menutupi keterkejutannya dan melangkah mengikuti sang mama angkat yang notabenenya adalah mertuanya


" Aunty dari mana sih? Di cariin juga" ucap seorang gadis cantik saat melihat nyonya Miranda memasuki pintu utama,gadis itu belum menyadari keberadaan seseorang di belakang sang tante


" Nih jemput Aya...putri aunty yang aunty ceritain ke kamu" jawab nyonya Miranda apa adanya


" Aya kenalin ini Cantika..keponakan mama,putri dari kakak kandung papa " ucap nyonya Miranda lagi memperkenalkan kedua gadis cantik itu


" Baby ....."


" Mbak Tika..." ucap spontan keduanya nyaris bersamaan,membuat nyonya Miranda tersenyum simpul


" Mbak apa kabar?" tanya Alina lembut seraya meraih tangan Cantika dan mencium punggung tangan gadis yang terpaut usia tujuh tahun diatasnya itu


" Aku baik...ya ampun Al..aku bahagia banget bisa ketemu kamu lagi" jawab Cantika bahagia,matanya tampak berkaca-kaca


Fokus mereka teralihkan saat suara seseorang memasuki ruang tamu mansion mewah itu" Siang semuanya.." sapa ramah dan akrab dari suara bariton seorang pria


" Dokter Raffa..." lirih Alina pelan nyaris tak terdengar


" Alina..." lirih Raffa terkejut dengan keberadaan Alina di kediaman keluarga Altop,hal yang sama juga pada Kanaya,gadis yang saat ini berstatus istri Raffa itu tampak terkejut dengan keberadaan Alina di hadapan mereka,ia merasa canggung dengan Alina,hingga secara perlahan ia melepas genggaman tangan mereka,yang awalnya ingin membuat Cantika yakin dan segera melupakan Raffa


" Al ...masih ingat dengan dokter Raffa kan?" tanya Cantika pada Alina


" Masih mbak" jawab Alina lembut seraya mengangguk,ia mulai menyusun puzle demi puzle tentang kejadian yang menimpa dirinya dan sedikit mulai paham bahwa wanita yang Gabriel katakan kakak nya adalah Cantika yang Alina yakin menyukai sahabatnya sendiri yaitu Raffa,karena nyonya Suci pernah mengatakan bahwa nyonya Miranda hanya memiliki satu anak dan itu laki-laki yang artinya Gabriel Alvaro Altop yang tak lain adalah suaminya


" Kebetulan banget nih lagi rame,bisa kasi saran gak..Tukedo yang cocok untuk El besok itu warna apa ya? Maklumlah El itu terlalu sibuk" ucap nyonya Miranda memecahkan kecanggungan


" Bisa dong tan" jawab Raffa santai dan di angguki Cantika


" Ok ...kita lamgsung ke teras samping aja ya,kebetulan para IO nya lagi rancang tata letak buat Ijab besok dan desainer nya juga di sana" ucap nyonya Miranda seraya melangkah menuju arah yang beliau tuju


Alina dan yang lainnya menlangkah mengikuti sang nyonya rumah,Cantika menggandeng akrab lengan Alina,tampak gadis cantik itu mencari sandaran atas luka hatinya melihat pria yang ia cintai telah menikah dengan wanita lain,Alina yang mulai paham mengusap lembut punggung tangan Cantika


" Cantika memaksakan senyumnya menatap Alina yang juga tersenyum lembut seraya mengangguk seakan mengatakan semuanya akan baik-baik saja dan Cantika harus ikhlas


" Nak itu mereka..yuk" ajak nyonya Miranda semangat


" Siang nyonya...." Sapa sang desainer dan pemilik IO sopan

__ADS_1


" Siang..bagaimana dengan permintaan saya beberapa hari lalu apakah anda sudah menyiapkannya?" jawab nyonya Miranda ramah


" Sudah nyonya,itu ada di dekat gazebo,kalau boleh tau mempelainya yang mana ya nyonya?" tanya desainer itu bingung sebab tak melihat putra tunggal dari keluarga Altop yang ia tau akan menikah


" Oh masih di kantor,tak apa ada mereka yang akan memilihkan " jawab byonya Miranda yakin dan di angguki patuh oleh sang desainer seraya menyapa ramah Alina dan yang lainnya,sesaat mata sang desainer terpaku pada Alina dan tersenyum canggung


" Warna hitam bagus deh aunty,cream atau putih gading juga bagus sih" jawab Cantika bersemangat


" kalau menurut kamu Raf..? " tanya nyonya Miranda pada Raffa hingga mwmbuyarkan lamunan dokter muda itu


" Hah..? Kalau saya ...sependapat dengan Tika aja tan" jawab Raffa asal


" Kalau menurut kamu sayang...? Oh iya mama lupa kalau kamu belum pernah lihat putra mama,ini loh orang nya" ucap nyonya Miranda seraya menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya



Alina menatap sejenak dan tersenyum canggung,akhirnya ia yakin dengan apa yang ia pikirkan yaitu suaminya lah yang akan menikah esok pagi


" Gimana sayang...?" tanya nyonya Mieranda lagi saat melihat Alina terdiam


" Kalau menurut Aya...warna putih bersih aja ma..mengingat itu acara sakral,bukankah sebaiknya juga di lengkapi dengan yang berlambang kesucian,tapi itu hanta pendapat aja sih" jawab Alina pelan dan hati-hati,rasanya ia sangat ingin secepatnya pergi dari mansion megah itu,tapi apa daya ia juga tak ingin membuat mereka curiga


" Ia juga sih tan"


" Ia juga sih Aunty.." jawab Cantika dan Raffa nyaris bersamaan


" Ok...mama setuju dengan pilihan kamu,itu artinya mempelai wanitanya juga memakai gaun putih dong ya,coba deh kamu cobain gaun nya" jawab nyonya Miranda seraya memerintahkan Alina,membuat yang lain terdiam termasuk Alina


" A-aya ma...tapi.." belum selesai Alina bicara nyonya Miranda sudah terlebih dahulu menyela


" Ia kamu aja,mama maunya kamu aja yang nyoba" jawab nyonya Miranda santai


Tanpa berani membantah akhirnya Alina bangkit dari duduknya,ia memgikuti sang desainer menuju pintu samping mansion mewah itu yang ternyata sudah banyak berbagai model dan gaun pernikahan yang tampak sangat cantik


" Silahkan nona pilih yang mana" ucap desainer tersebut canggung,Alina hanya mengangguk dan mulai mendekati gaun-gaun indah itu,melihatnya satu per satu,ia sangat takut salah memilih,hingga matanya terfokus apada sebuah gaun berwarna putih bersih yang tampak sederhana namun elegan


" Boleh saya coba yang itu saja?" tanya Alina sopan


" Tentu nona,anda tau..? Itu adalah gaun terbaik dan termahal di antara yang lainnya,tampak sederhana memang,tapi sangat elegan dan pasti cocok dengan anda" jawab sang desainer sopan


" Tapi saya hanya mencobanya saja dan memakainya beda orang,saya rakut ia tak suka dengan pilihan saya" jawab Alina apa adanya


Tanpa menjawab sang desainer hanya tersenyum lembut seraya menuntun Alina kedalam satu ruangan yang ternyata kamar tamu dan membantu Alina mengenakan gaun indah itu,hingga tampaklah Alina yang sangat cantik bak putri dongeng


"Demi Tuhan anda sangat cantik nona" puji sang desainer tulus,membua Alina menunduk malu


" Subhanallah...terimakasih" jawab Alina lembut


" Ayo kita tunjukkan pada nyonya Miranda" ajak desainer itu dan di angguki Alina

__ADS_1


Alina melangkah anggun menuju teras samping tempat tadi nyonya Miranda berada,semau mata terpaku pada sosok Alina yang tampil sangat cantik walau tanpa makeup sekalipun,Raffa sampai menelan kasar salivanya dan Kanaya menyadari itu,,membuat Alina merasa sangat canggung diperhatikan banyak pasang mata


" This'is perfect" Satu kalimat itu meluncur dari bibir nyonya Miranda dan langsung di angguki Cantika


__ADS_2