
Alina mengerjabkan matanya pelan menyesuaikan silau cahaya mentari yang masuk dari tirai-tirai yang menjuntai,ia belum menyadari bahwa dirinya tidak sedang berada di kamar nya di kediaman keluarga Alexander,melainkan ia tengah berada dalam sebuah kamar mewah nan megah,kamar yang didesain berdinding kaca-kaca besar hampir seluruhnya menampakkan keindahan kota saat malam hari
Perlahan Alina mengusap matanya karena silau sang surya,ia baru menyadari berada di tempat asing saat matanya terbuka sempurna,ketakutan dalam dirinya kembali muncul, secepat kilat Alina menyingkap selimut putih yang menutupi tubuhnya,ia sedikit bernafas lega saat melihat dirinya masih berpakaian lengkap serta hijab nya juga masih terpasang sempurna menutupi rambut indahnya,Gabriel benar-benar tak menyentuhjnya lebih dari memeluk saat tubuh Alina bergetar tadi dan menggendong nya saat Alina pingsan
" Alhamdulillah...ya Allah" ucapan Syukur begitu saja terucap dari bibir indahnya
Sedikit demi sedikit Alina mencoba mengingat apa yang terjadi dan akhirnya ia teringat tentang kejadian sebelum ia berada di kamar asing itu,tubuhnya kembali bergetar disertai rasa takut yang luar biasa,kilasan kejadian satu tahun lalu kembali bermunculan, kejadian saat ia terbangun berada di kamar asing dan berakhir dengan ia dalam keadaan menjijikkan,cepat Alina menggeleng
"Ngak...i-itu ga akan terjadi lagi....ga akan,Tuhan...lindungi hamba..." racau Alina pelan seraya menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya,Alina menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya,ia beringsut dan bersandar di sandaran ranjang king Size itu
Ketakutan Alina muncul lagi saat ia mengingat bahwa saat ia bertemu Raffa ia dalam pengawasan seseorang dan apakah kini ia juga sedang berada di lingkungan orang itu,cepat Alina menggeleng
" Nona sudah bangun...makan lah ini sudah sangat siang,nona telah melewatkan makan siang anda dan ini obat yang harus nona minum" ucap Dinda lembut namun dengan suara tegas
" Dimana saya..?Saya mau pulang,pleasee ...tolong bawa saya keluar dari tempat ini" jawab Alina memohon
" Nona di pant house pribadi tuan muda,tuan muda sedang ada sedikit pekerjaan,beliau sedang diruang kerjanya,tuan muda tak suka di ganggu jika sedang berada di ruangan kerjanya" jawab bodyguard,supir, sekaligus pelayan wanita itu
" Saya ga tanya tentang orang itu dan saya tidak lagi memiliki kepentingan dengan nya,jadi tolong katakan dimana alamat tempat ini? Saya akan meminta Abang saja agar menjemput saya" jawab Alina geram karena wanita itu seakan tak mengindahkan keinginannya untuk segera pergi dari tempat itu
" Ya Tuhan...dimana handphone hamba? " monolognya sendiri saat ia sudah mengambil tas mini miliknya yang terletak di atas nakas tepat disamping ranjang,namun ia tidak menemukan benda pipih itu
" Apakah Mbak meelihat hendphone saya? " tanya Alina lagi pada Dinda sang bodyguard wanita itu
" Tidak nona..mungkin handphone anda ada pada tuan muda,mari nona solahkan makan hidangan anda" jawab Dinda tenang seraya kembali mempersilahkan Alina untuk makan setelah ia menata rapi beberapa menu yang ia bawa ke kamar itu
" Saya tidak lapar,tolong katakan pada tuan muda kamu itu,saya mau handphone saya " jawab Alina ketus,sesungguh nya ia sangat geram pada wanita dihadapannya itu,karena Dinda seakan ga peduli dengan semua ucapannya,,namun Alina adalah gadis yang sangat sulit untuk berkata kasar pada orang lain,sehingga ia masih berbicara dengan intonasi lembut,walau sedikit benada ketus
" Tuan muda sedang melakukan Rapat Virtual dengan koleganya dari luar negeri nona,jadi tidak bisa di ganggu" jawab Dinda lagi masih dengan gaya tenang nya
" Maaf bisakah Mbak keluar dari kamar ini? Saya mau sendiri dan jangan lupa katakan pada tuan muda mbak itu saya mau pulang" ucap Alina geram,sebenarnya ia merasa sangat sungkan meminta wanita itu keluar dari kamar itu,bahkan dirinya juga bukan pemilik kamar itu,tapi ia akan bertambah geram jika wanita itu masih berada di dekatnya
" Maaf nona ..tuan muda tidak mengizinkan saya keluar dari kamar ini jika anda belum makan, saya harus memastikan anda makan atau tidak" jawab Dinda jujur,membuat mata bulat indah Alina melotot sempurna
" Bawa kembali makanan itu,katakan pada tuan muda Mu saya tidak lapar" jawab Alina geram seraya bangkit dari ranjang dan melangkah menuju sebuah pintu yang ia yakini adalalah pintu menuju kamar mandi' memang nya siapa dia mau mengatur-ngatur hidup orang??' batin Alina geram
__ADS_1
" Atau nona mau makan yang lain? Agar saya menelfon Chef tuan muda untum menyiapkan menu yang nona inginkan" tanya Dinda
" Tidak perlu..terimakasih,saya cuma mau pulang secepatnya" jawab Alina cuek
"Tolong jangan mempersulit saya nona..tuan muda akan menghukum atau bahkan memecat saya jika sampai anda tidak makan" ucap Dinda tegas,sehingga menghentikan langkah Alina saat tangan nya akan menekan handle pintu,mulut nya mengaga mendengar ucapan wanita itu" sekejam itukah pria yang dipanggil tuan muda itu? padahal wajahnya masih muda,tapi mengapa kelakuannya seperti om-om saja,arogan sekali...tapi wajar saja ,bahkan dia tega melecehkanku waktu itu" monolog Alina dalam hati seraya bergidik ngeri
" Keluarlah...saya janji saya akan memakannya setelah saya dari kamar mandi, tolong hargai prifasi saya,walaupun saya tau ini bahkan bukan kamar saya" ucap Alina lembut,bagaimanapun ia tak akan mungkin membiarkan seseorang yang tak melakukan kesalahan harus kehilangan pekerjaannya hanya karena kemarahan dirinya pada orang lain,rasanya sangat jahat jika ia harus melibatkan orang lain dalam masalahnya
" Baik nona.." jawab Dinda sopan,dalam hati ia semakin mengagumi gadis cantik tuan mudanya itu,jelas terlihat bahwa gadis yang masih sangat muda itu memiliki hati yang lembut dan penyayang
" Alina...panggil saya Alina...saya bukan nona kamu,dan bolehkah saya meminjam perlengkapan untuk saya ibadah? Saya ingin Shalat,maaf mbak nya Muslim kan?" tanya Alina lembut
" Di dalam ruang ganti sudah tersedia semua nona,tuan muda sudah menyiapkan segala kebutuhan anda" jawab Dinda apa adanya seraya menunjuk sebuah ruangan yang hanya menggunakan dinding pembatas kaca gelap,bagaimana mungkin ia berani memanggil wanita tuan mudanya hanya dengan nama saja,sungguh ia belum siap kehilangan pekerjaannya
" Oh..i-ia terimakasih" jawab Alina gugup,ia sedikit terkejut dan heran,tapi juga takut karena mendengar semua kebutuhannya sudah di siapkan di kamar itu* apakah aku akan menjadi tahanan kamar ini selamanya Tuhan...?" tanya Àlina dalam hati
" Sama-sama nona..terimakasih atas kerjasamanya nona" jawab Dinda sopan dan akhirnya ia meninggalkan kamar itu,ia hanya berharap gadis cantik itu akan benar-benar membuktikan ucapannya dengan memakan hidangan yang ia bawa,walaupun sedikit setidaknya Alina harus makan
Sedangkan Alina melanjutkan niatnya yang ingin ke kamar mandi,ia ingin membersihkan dirinya dan berWudhu karena ia ingin melukan kewajiban empat rakaatnya,walaupun sudah hampir terlambat tapi Alina tak mau meninggalkan kewajibannya sebagai Umat
⁸

Tampak beberapa lilin aroma terapi terus menyala di dekat buth up dan menguarkan aroma menenangkan bagi siapa saja yang berada dalam ruangan itu,Alina melihat sebuah dinding kaca berukuran cukup besar disisi buth up,menampakkan pemandangan diluar tempat itu,sebuah pantai buatan yang terdapat di apartemen itu, ingin rasanya Alina berendam sesaat..tapi harus ia urungkan mengingat ia harus segera Shalat Zhuhur karena sudah hampir terlambat,terlebih kamar itu bukan milik nya dan Alina tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk menggunakan fasilitas yang bukan miliknya
Dengan langkah sedikit ragu Alina menuju sebuah kran untuk berwudhu,setelab selesai ia langsung keluar dan segera Shalat setelah mengambil perlengkapan Shalat di tempat yang di tunjukan oleh Dinda,walau sedikit ragu Alina terpaksa menggunakannya
Selesai Shalat dan berdoa Alina menuntaskan janjinya pada Dinda yaitu memakan hidangan yang telah disediakan,walau lidahnya terasa hambar Alina tetap memaksa agar makanan itu tertelan dan ia menggunakan bantuan air putih untuk meloloskan makanan tersebut dari tenggorokannya
Selesai makan Alina memilih duduk di sofa yang terletak didekat dinding kaca dan memperlihatkan sebuah kolam renang serta keindahan langit biru,Alina memikirkan nasibnya yang begitu tak terduga dan begitu jauh dari ekspetasi nya dulu,kini hidupnya bagai di sebuah sinetron yang terus berinteraksi dengan orang-orang Elite
" Kamu sudah bangun?" sebuah suara tegas menyadarkan Alina dari lamunannya
" Tolong lepaskan saya...saya mau pulang" ucap Alina,ia tidak menjawab pertanyaan pria tersebut,duduk nya beringsud ke sudut sofa,raut ketakutan jelas terlihat dari gadis muda itu,dan semua itu tak luput dari perhatian Gabriel
" Kamu tidak akan kemana-mana,mulai sekarang dan sampai waktu yang tak di tentukan ini adalah tempat tinggal mu" jawab Gabriel santai,membuat Alina mengernyitkan dahinya heran
__ADS_1
" Ke-kenapa harus disini? Saya mau pulang,bukankah saya sudah mengikuti keinginan anda dan membuktikan bahwa saya tidak memiliki hubungan apapun dengan dokter itu" ucap Alina penuh tanda tanya,walau sudah mengkonsumsi obat,nyatanya rasa takutnya tak juga hilang
" Kita akan menikah...hanya itu cara yang membuktikan kalau kamu tidak memiliki hubungan dengan dokter Raffa" jawab Gabriel tenang,ia berdiri menghadap dinding kaca besar,tatapannya lurus kedepan, tak ada yang tau apa yang sedang ia rencanakan
" Me-menikah? Sa-saya dan A- anda? Anda bercanda kan tuan?" tanya Alina dengan nada terkejut
" Tidak ada kata bercanda dalam kamus saya,kita ...kamu dan saya akan menikah dan jika kamu merasa sayang pada keluarga angkat mu maka cukup diam dan tak membantah,karena saya tak suka di bantah" ucap Gabriel tegas dan sangat arogan
" Tapi...tuan..pernikahan itu sakral dan bukan main-main,juga saya belum siap untuk menikah,saya masih ingin menyelesaikan study saya dan masih banyak lagi yang lainnya" jawab Alina,mencoba bernegosiasi
" Kamu masih bisa melanjutkan study mu,kita menikah hanya untuk status saja agar diantara kalian tidak menjalin hubungan,pernikahan kita juga dirahasiakan dari publik dan keluarga besar saya,kamu akan tinggal di apartemen ini" ucap Gabriel menjabarkan
" Ta-tapi saya tidak mau..saya tidak mau menikah dengan anda tuan...tidak...saya tidak mau..." jawab Alina lirih dengan wajah menunduk,tangannya memilin ujung hijab nya,air matanya mulai membasahi pipi mulusnya dan tubuh nya mulai bergetar,itu semua membuat Gabriel tak tega,Gabriel mengusap kasar wajah nya,ia harus menghilangkan rasa kasihannya pada gadis dihadapannya ini
" Saya tidak menerima penolakan dengan alasan apapun,saya akan hancurkan seluruh keluarga Alexander jika kamu berani membantah saya atau kabur dari saya,camkan itu" ucap Gabriel dengan sangat arogant,sedangkan Alina hanya menggeleng lemah
" Ja-jangan....pleasee..jangan sakiti mereka tuan,saya mohon...jangan libatkan mereka dalam urusan ini,mereka bahkan tak tau apapun" mohon Alina
" Mereka akan aman jika kamu patuh" jawab Gabriel dengan senyum smirk nya
" Ba-baik...saya janji saya akan lakukan apapun keinginan anda,asal jangan gannggu keluarga Alexander" jawab Alina lirih penuh dengan paksaan
" Termasuk melayani saya?" tanya Gabriel ambigu,membuat Alina langsung mengangkat wajahnya,tatapan keduanya berserobok dan dengan cepat gadis cantik itu kembali menunduk dalam
Alina menggeleng kuat,tangannya semakin kuat meremas ujung hijab dan dres bagian depannya,sungguh ia bagaikan anak kecil yang sedang dimarahi oleh orang tuanya,pemandangan itu membuat Gabriel gemas,gadis cantik itu seakan tak sedikitpun terpana dengan ketampanannya
" Aya-Aya ga mau...Aya takut..tolong Aya...Aya takut ya Allah...." racau Alina tiba-tiba seraya menggeleng kuat,lagi-lagi kilasan bayangan buruk itu muncul membuat Alina meracau tak menentu
" Aya..kotor..Aya berdosa..Aya sudah kotor dan hina..ampuni Aya ya Tuhan...Aya tidak ingin melakukan itu..tidak Aya tidak mau" racau Alina lagi dan beberapa menit kemudian Gabriel melihat tubuh indah itu sudah terkulai lemah disofa nyaris terjatuh ke lantai
Dengan sigab Gabriel langsung mendekap tubuh ramping nan indah itu,lagi Gabriel menyentuh,memeluk dan menggendong tubuh indah gadis cantik itu,tubuh yang belum pernah disentuh pria manapun,Gabriel...Gabriellah pria pertama yang menyentuh nya
" Separah itukah ketakutan mu pada ku? Tapi hanya cara itu yang ampuh menghentikan Raffa mengejar dan mengharabkan mu,kamu memang tak bersalah..tapi aku benci pesona mu yang mengikat hati para laki-laki,bahkan orang yang kamu anggab Abang kamu itu juga mencintai mu" ucap Gabriel setelah membaringkan Alina di atas ranjang,tatapannya menatap dalam penuh makna pada gadis cantik itu
Gabriel meninggalkan kamar itu,ia menghubungi seseorang dan meminta menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya
" Ingat...ini rahasia dan jangan sampai tercium publik dan keluarga saya" perintah Gabriel tegas pada asisten pribadinya yaitu Niko
__ADS_1