
Jakarta...Soekarno Hatta
Dua wanita beda usia melangkah menyusuri jalur kedatangan di bandara Soekarno Hatta jakarta,ini kedua kalinya untuk gadis cantik itu menginjakkan kakinya di ibu kota,besar harapan agar ia bisa segera melupakan kisah buruk nya dan memulai hidup baru
" Bismillah ya Allah...mudahkanlah segala urusan hamba di kota ini,kuatkan hamba dalam menghadapi segala Ujian dari Mu ya Allah..pertemukan hamba dengan orang- orang baik dan jauhkan hamba dari perbuatan yang Engkau larang dan dari orang-orang munafik,berikan juga yang terbaik untuk orang itu ya Allah....Amiiiin" Doa Alina dalam hati seraya kakinya terus melangkah mengikuti langkah nyonya Suci,watina paruh baya yang meminta di panggil mama pada Alina
" Are you okay...sayang..? " tanya nyonya Suci perhatian,beliau bertanya karena melihat langkah Alina yang tampak tidak bersemangat
"I' m fine Bu" jawab Alina lirih
" Mama ....sayang...kamu panggil saya mama,agar sama dengan kedua anak mama nanti, usia mereka di atas kamu keduanya" pinta nyonya Suci lembut
" I- iya m-ma..." jawab Alina gugup
" Tidak perlu gugup sayang,lama kelamaan kamu akan terbiasa" nasehat nyonya Suci memberikan dukungan moril pada gadis belia itu
Melanjutkan langkah dengan saling bergandeng tangan,layak nya ibu dan anak gadisnya,dari jarak yang masih lumayan ....tampak seorang pria paruh baya yang terlihat masih sangat tampan,beliau melambaikan tangan saat melihat kemunculan sang istri,wanita yang sangat ia cintai dan sudah setia mendampingi beliau sampai hampir 30 tahun,usia pernikahan mereka
" Honey..." sapa lembut tuan Alexander sang suami
" Papa...gimana seminar nya? Sukses ?" tanya nyonya Suci
" Pasti dong ma" tuan Alexander menjawab seraya mengambil koper kecil dari tangan sang istri,sesaat matanya melirik sekilas pada gadis belia yang berdiri tepat di samping sang istri
" Oh iya pa...kenalin ini putri kita Alina...dan Alina...ini papa sayang" ucap nyonya Suci hati-hati memperkenalkan Alina pada sang suami,mengingat gadis belia itu masih dalam masa trauma terhadap lawan jenis
__ADS_1
" Assalammualaikum...p- pa,,salam kenal saya Alina Haya" sapa Alina lembut seraya mengatupkan kedua tangan nya di depan dada,kegugupan nya masih sangat tampak
" Alexander. ..papa Akexander...selamat datang di keluarga kami ya nak dan papa harab kamu akur dengan dua jagoan papa" balas tuan Alexander berusaha selembut dan seramah mungkin,beliau memang sudah tau siapa Alina dari sang istri,karena sebelum mengambil keputusan nyonya Suci terlebih dulu merundingkannya dengan sang suami via telfon
" Terimakasih p- pa..udah ngizini Al jadi annggota keluarga papa dan mama" jawab Alina lirih,ia ga mau jadi benalu dalam kehidupan orang lain
" Jstru papa yang merasa sangat berterimakasih atas kehadiran kamu di keluarga kami,setidaknya bisa membuat istri tercinta papa ini bahagia karena sudah memiliki anak perempuan,mama kamu ini sangat menginginkan seorang putri" Tuan Alexander menjawab disertai ledekan tipis
" Papa...." tegur nyonya Suci pada sang suami agar tak memnbuka kartu rahasia beliau
" Dan semoga Al bisa menjadi anak baik sesuai yang mama Dan papa harapkan" jawab Alina yang juga tak lupa menyelipkan seuntai Doa
"" Pasti sayang...mama percaya kamu terbaik" jawab Nyona suci penuh harap
Akhirnya ketiganya meninggalkan bandara dan memutuskan akan langsung ke rumah,karena menurut nyonya Suci trauma yang Alina alami masih akan kambuh lagi jika ia bertemu dengan banyak pria,terlebih pria asing
Mata Alina sedikit membola saat mekihat sebuah rumah mewah dihadapannya,mimpikah atau nyata? Tanya alina dalam benak nya,ia tidak pernah mengira akan meluhat secara langsung rumah semewah itu,yang biasa ia lihat di film-film di TV
" Ayok sayang...kita udah sampai dan mulai hari ini kamu akan tinggal disini bersama kami,maka anggablah ini rumah kamu juga ya" ucap nyonya Suci membuyarkan lamunan Alina
" I-ia ma..." jawab Alina gugub
" Ayo...kamu ga perlu sungkan,ini rumah kamu juga,kamu putri kami" ajak tua Alexander terdengar hangat dan cukup membuat Alina sedikit lebih tenang
" I- ia pa.." jawab Alina berusaha tetap tenang,walau sesungguhnya ia sedang sangat khawatir dan ketakutan kembali mulai menyerangnya,sehingga membuat tubuhnya berkeringat
__ADS_1
" Kamu tenang ya,ga perlu takut...ada Mama disini dan mama janji akan selalu lindungi kamu" bujuk nyonya Suci tulus,beliau tau bahwa trauma Alina kembali muncul,diperkirakan obat yang beliau berikan mulai berkurang efek nya,ya nyonya Suci memberikan obat anti cemas dan penenang pada Alina saat mereka di bandara dan saat melihat Alina yang histeris terlebih saat melihat lawan jenis dan beliau pahan permasalahan yang menimpa Alina karena itu beliau langsung memberitahukan sang suami agar mengatakan pada kedua putra mereka untuk tidak berada di rumah dalam beberapa hari ini sampai Alina sedikit nyaman berada di rumah mereka
" Assalammualaikum. .." ucap Alina lembut saat kakinya akan melangkah memasuki rumah yang sangat mewah dihadapan nya saat ini
" Waalaikumsalam.." jawab serentak tysn Akexander dan istri serta beberapa Art yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu
" Bik..ini Alina...dia putri kami dan tolong antarkan dia ke kamar yang sudah saya minta siapkan tadi ya" pinta nyonya Suci pada salah satu Art yang tertua di rumah itu
" Baik nya...mari non ikut bibik" jawab wanita yang tampak sedikit lebih tua dari sang nyonya rumah dan di jawab anggukan enggan oleh Alina
" Ikut bik Sum ya sayang...bik Sum akan antar kamu ke kamar kamu dan kamar kamu ada di lantai dua ya,ga perlu sungkan..kamar mama di labtai bawah dan ingat bilang sama mama atau yang lain bila kamu membutuhkan sesuatu" suara lembut nyonya Suci menenangkan Alina
" Ia ma.." jawab Alina lembut dan kakinya mulai melangkah pelan mengikuti sang Art yang ia tau bernama bik sum, menaiki tangga hingga tiba di lantai dua dan menuju sebuah pintu kamar bercat biru muda,dikanan dan kirinya tampak dua buah pintu bercat yang hampir sama hanya sedikit lebih pekat dan Alina yakin itu juga pintu kamar
" Ini kamar non ...semoga nyaman dan betah ya non" ucap bik sum sopan
" Is buk..terima kasih banyak,panggil saya Alina saja buk" jawab Alina juga sopan,matanya memandangi kamar yang kini katanya kamar untuk nya,sebuah kamar yang tampak mewah dimatanya dan juga sangat luas dan nyaman pastinya,dilengkapi sebuah ranjang king size,meja rias dan juga sofa serta sebuah TV,terdapat juga ruang ganti sederhana berdinding kaca,Alina juga melihat sebuah pintu yang mungkin menuju balkon
" Ga perlu berterimakasih non Al...ini memang sudah tugas kami,non Al ga perlu sungkan dan panggil bibik atau yang lainnya kalau non butuh sesuatu,tuan dan nyonya sering sibuk non.." bik sum sedikit menjelaskan dan di jawab anggukan mengerti oleh Alina
" Non istirahat aja dulu ya sebelum makan malam,bibik mau turun ...atau mau bibik bantu beresin pakaian nya?" bik sum menawarkan
" Ga apa buk...Al bisa sendiri,ibuk lanjutin aja lagi kerjaan ibuk,maaf kalau Al merepotkan" jawab Alina lembut,bagaimanapun ia masih sangat sungkan dilayani seperti sekarang,secara seumur hidupnya ia belum pernah merasakan punya Art di rumah nya,segala sesuatu sang Umi lah yang menyiapkan
" Panggilnya bibik non..ga harus sungkan" perintah bik sum,beliau sangat kagum melihat kecantikan,kelembutan dan kesopanan Alina,ditambah gadis belia itu menggunakan hijab,sehingga terlihat sangat anggun dan sopan,entah mengapa bik Sum merasa sangat damai saat melihat wajah teduh Alina dan beliau yakin akan ada kehangatan yang lebih besar dalam rumah sang majikan
__ADS_1
" Ia bik" jawab Alina patuh
Bik Sum tersenyum dan mengusap lembut punggung Alina sebelum keluar dari kamar Alina dan meninggalkan gadis cantik itu agar memiliki waktu untuk istirahat walaupun sejenak,tanpa ada yang tau bahwa gadis belia nan cantik itu kembali menangis dengan tubuh bergetar hebat dan langsung luruh di lantai setelah ia menutup pintu kamar itu,kilatan bayangan tentang malam kelamnya di hotel bersama seseorang yang tak ia kenal kembali berkelebat di ingatannya dan sungguh menyiksanya,Alina menangis seraya menelusupkan wajahnya diantara kedua lututnya,agar suara tangis nya teredam dan tak terdengar keluar kamar,Alina belum tau bahwa kamar tersebut memiliki peredam suara,seandainya ia tau ia pasti akan berteriak histeris guna menumpahkan rasa sakitnya