
Alina sudah siap dengan pakaian sopan dan sederhananya,ia akan ke kampus,ini hari pertamanya kembali mulai mengikuti belajar di kampus setelah tragedi ia pingsan di kantin saat pertemuan perdananya dengan Gabriel,hampir dua minggu gadis cantik itu tak ke kampus karena ia sakit,pada awalnya memang benar adanya...namun beberapa hari yang lalu ia butuh menenangkan dirinya dengan kenyataan yang ia alami
Alina menggunakan kaos lengan panjang dipadu rok berwarna coklat muda dan hijab senada dengan bajunya,ia terlihat lebih fresh pagi ini dimata Dinda sang pelayan pribadinya,di apartemen itu Alina tinggal bersama Dinda dan dua bodyguard wanita lainnya,seorang Art paruh baya yang bertugas sebagai chef,dan seorang Art yang masih tampak muda bertugas bersih-bersih dan laundry,namun mereka sangat jarang berinteraksi secara langsung dengan Alina,hanya Dinda yang selalu melayani gadis cantik itu
Dimata mereka sang nona muda adalah sosok yang pendiam dan sangat jarang berinteraksi,bahkan mereka sering melihat Dinda membawakan makan siang sang nona muda ke kamarnya,entah apa penyebabnya,dan mereka juga belum pernah melihat sang tuan muda berada atau menginap di apartemen itu,bahkan sejak hari pertama setelah pasangan muda itu menikah,tak nampak binar kebahagiaan dari wajah sang nona muda layaknya pengantin baru pada umum nya
" Nona sudah siap? Mari kita langsung serapan" ucap Dinda pada Alina saat melihat gadis cantik itu keluar dari kamarnya dengan pakaian yang berbeda pagi ini
" Saya akan ke kampus hari ini,tuan muda kamu tidak melarang saya untuk kekampus juga kan?" jawab Alina ketus namun masih bernada lembut,semalaman ia sudah memutuskan untuk mengikuti saja alur nya,ia yakin semua yang ia hadapi saat ini tak lepas dari campur tangan Tuhan dan ia percaya bahwa Tuhan itu maha tau apa yang terbaik untuk Umat Nya
Bukan Alina pasrah...karena ia tau Tuhan tak menyukai orang yang tak mau berusaha,tapi Alina yakin ...semakin ia melawan maka sesuatu yang tak terduga bisa saja terjadi padanya atas perbuatan pria penguasa itu,lebih baik ia berserah diri pada sang maha pencipta dan penguasa segalanya,mungkin Tuhan sedang ingin mengujinya agar lebih bisa bersabar dan ikhlas,agar ia lebih mendekatkan dirinya pasa sang Khaliq
" Tidak nona,anda boleh kekampus selama tidak membuka jati diri anda yang sebenarnya dan anda tak diizinkan ketempat lain selain kampus dan juga di dampingi bodyguard" jawab Dinda tegas
Alina tak menjawab,ia. Malas berdebat sehingga merusak mood paginya,lebih baik ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa tetap bekerja, ia melangkah menuju meja makan yang terletak tak jauh dari ruang keluarga,apartemen dua lantai itu memiliki 2 kamar tidur di lantai atas dan dua di bawah,para pekerja menggunakan kamar lantai bawah
Suara langkah kaki Alina mengalihkan perhatian dua Art yang sedang menata menu di meja makan,keduanya merasa takjub dengan kecantikan sang nona muda,sungguh indah Tuhan menciptakan wanita muda itu,ini pertama kalinya mereka melihat secara langsung wajah Alina,karena sejak gadis itu tinggal di apartemen itu ia mengurung dirinya di kamar,ia hanya keluar saat malam pernikahannya,tapi saat itu Alina menggunakan masker
" Pagi semua...Assalammualaikum.." sapa Alina lembut,ia mendudukkan dirinya disebuah kursi yang sudah di tarik oleh Dinda,Alina dilayani bak seorang ratu di apartemen itu,tapi sang pemilik apartemen belum pernah menampakkan batang hidungnya di tempat itu sejak hari pertama setelah malam pernikahan mereka,bahkan Gabriel tak mengucapkan satu katapun pada Alina setelah pembicaraan mereka sebelum pernikahan itu terjadi,Dindalah yang menyampaikan semua pesan dan peraturan dari Gabriel untuk Alina,Dindalah yang menjadi perantara pasangan muda itu berkomunikasi
Pernikahan yang tak diinginkan itu seakan hanya sebuah mimpi bagi Alina,ia hanya dinikahi lalu ditinggalkan tanpa satu katapun dari pria yang berstatus suaminya,Gabriel memfasilitasi Alina dengan fasilitas yang super mewah,bahkan ia juga memberikan sebuah black card untuk Alina namun melalui Dinda,membuat pelayan,asisten,supir sekaligus bodyguard pribadi sang nona muda itu merasa heran
" Pagi...waalaikum salam Nona...." jawab mereka kompak seraya berdiri sopan disisi meja,mereka merasa sangat gugup saat berada dekat dengan sang nona muda,pasalnya ini pertama kalinya gadis cantik itu makan dimeja makan dan bertemu langsung dengan para penghuni apartemen itu,mereka khawatir Alina salah satu nona muda yang manja dan sombong,mengingat siapa tuan muda mereka,yang tak lain adalah seorang putra tunggal dari grazirich nya Asia bahkan merambah Eropa
__ADS_1
Yang mereka tau dan dengar sang tuan muda keluarga Altop itu sangat tegas nyaris kejam dan Arogan,jadi besar kemungkinan wanita yang menjadi istrinya akan bersikap mendekati dirinya,namun siapa sangka semua dugaan dan kekhawatiran mereka seakan sirna saat melihat sosok cantik dan anggun yang kini menyapa mereka begitu ramah dengan suara lembutnya
" Duduk lah kita makan bersama,bolehkah saya makan roti saja? Saya kurang terbiasa makan pagi dengan makanan berat" ucap Alina lembut membuat mereka semakin mengagumi sosok sang nona muda
" Tentu boleh nona...nona mau disiapkan roti bakar atau omlet..? Atau nona memiliki makanan khusus untuk sarapan" jawab pelayan yang bertugas sebagai chef
" Tidak....ini sudah cukup" jawab Alina singkat seraya meraih sebuah roti dan mengolesinya dengan selai coklat,Alina meraih segelas susu rasa strauberri setelah rotinya habis,tak lupa ia memakan beberapa buah potong yang selalu tersedia untuknya di setiap waktu makan,setiap gerak gerik Alina tak luput dari perhatian para Art di apartemen itu,mereka merasa heran dengan porsi makan sang nona muda yang sangat sedikit layaknya anak kecil
"Terimakasi banyak ...Assalammualaikum.." ucap Alina lembut seraya melangkah meninggalkan meja makan,ia menuju pintu utama dan meninggalkan pant house itu dengan masih didampingi oleh Dinda melalui lift khusus yang langsung menuju basement apartemen itu tanpa harus melewati lobby dan itu semua atas perintah Gabriel,sedangkan Alina ....ia hanya mengikuti semua intruksi dari Dinda,baginya itu lebih baik dari pada harus berurusan dengan Gabriel dan itu terlalu menakutkan serta mekelahkan bagi Alina,biarlah ia menjadi boneka si tuan muda itu sampai pria itu merasa bosan dan akan melepaskannya
" Lebih baik menjadi bonekanya seperti ini dari pada harus menjadi budak nafs**** nya " batin Alina saat setelah mendengar beberapa peraturan dari Gabriel yang disampaikan oleh Dinda padanya,yang hanya dijawab dengan satu kata " ya" pada saat itu
Alina memasuki sebuah mobil mewah,mobil yang sama saat menjemputnya di kediaman keluarga Alexander beberapa hari lalu,Allina yang duduk si kursi penumpang tak membicarakan apapun,ia fokus pada handphone nya,puluhan ....bahkan mungkin ratusan pesan yang masuk dari para sahabatnta juga Dave,semua pesan-pesan itu bernada khawatir
Namun ada satu pesan yang sedikit mengalihkan perhatiannya yaitu pesan dari Gerald..* Kamu baik-baik aja kan? Mengapa mengambil keputusan itu tanpa menanyakan dulu pada ku?* itulah pesan singkat yang ternyata Gerald kirimkan setelah dua hari pernikahannya
" Subhanallah...itu beneran ya manusia?, kok kayak peri-peri di cerita dongeng anak-anak ya...Ayu...tenan" ucap Art yang bertugas bersih-bersih dan laundry
" Koyok boneka yo...trus..itu wangi farfum nya kok kayak wangi bayi yo..." jawab Art yang bertugas sebagai chef
" Pantes aja tuan muda ngasi peraturan nya keras banget,pake acara ga boleh sembarang dan sering keluar dari apartemen " ucap bodyguard yang bertugas terlebih saat mereka tau bahwa Gabriel akan membawa Alina ke sebuah pulau yang sudah dibangun sebuah villa super mewah dengan fasilitas super lengkap pula
" Pantes aja tuan muda keliatan cinta banget sama istrinya,la wong cantik nya parah gitu,apalagi pribadinya yang terlihat baik dan sangat lembut" tambah sang chef
" Tapi apa tuan muda ga kangen ya sama bini nya..? Keluar negerinya lama ya,kasian ya..padahal belum pun malam pertama" ucap sang bodyguard lucu
__ADS_1
Di kampus....
Kemunculan Alina pagi itu,sedikit membuat kehebohan bagi ketiga sahabatnya,namun tidak untuk Dave..pemuda tampan itu tak langsung menghampirinya,ia henya menatap dari jauh...gadis yang satu tahun ini menjadi adik angkatnya namun juga gadis yang ia cintai dan ia impikan akan menjadi teman hidupnya,namun impian itu harus ia kubur saat kenyataan nya gadis itu memilih menikah dengan orang lain
Alina menyusuri koridor kampus dengan menundukkan wajahnya seperti biasanya,sementara Dinda dan dua bodyguard lainnya menunggunya di parkiran dan di pos secutiry,beberapa teman seangkatan atau senior menyapa Alina dan dibalas dengan senyuman ramah khas gadis cantik itu,meski tak sedikit yang sangat tak menyukainya karena merasa bersaing,tapi tak membuat Alina tak ingin menjawab sapaan mereka
Alina menuju fakultas Dave,ia ingin mencari pria yang sudah ia anggab sebagai abangnya itu,ia ingin meminta maaf karena sudah beberapa hari tak mengaktifkan handphone nya,namun niatnya tertunda saat ia bertemu Maya sahabat Dave di koridor menuju fakultas bisnis
" Al...lo kemana aja hampir dua minggu handphone lo ga aktif? " tanya Maya dengan wajah khawatir
" Hp Al rusak mbak.." jawab Alina,ia terpaksa berbohong
" Lo mau ketemu Dave?" tanya Maya lagi,ia sudah sangat tau kebiasaan gadis cantik itu jika sudah menginjakkan kakinya di fakultas Bisnis pasti ia ingin menemui Dave,karena Maya tau Alina berbeda dengan gadis lain yang datang ke gedung Bisnis itu hanya ingin melihat para pria tampan yang mayoritasnya putra dari para pembisnis yang akan melanjutkan bianis keluarga mereka
" Iya mbak..mbak liat bang Dave ga lagi dimana?" tanya Alina lembut, ia tau gadis yang berstatus sebagai sahabat abang angkatnya itu,sangat mencintai sahabatnya sendiri yaitu Dave
" Kayaknya di ruang Akademik atau di ruang dosen deh,katanya hari ini dia ada jadwal ketemu Dosen pembimbing untuk tanda tangan revisi skripsinya minggu lalu,sekalian nentuin jadwal sidang deh kayaknya" jawab Maya apa adanya
" Oh...gitu ya mbak...ya udah deh ga jadi kesananya, mbak mau kemana?" jawab Alina lesu seraya bertanya pada Maya
" Gue mau ke perpus nih...balikin buku" jawab Maya seraya menunjuk pada setumpuk buku yang ia bawa di tangan kanannya dan di angguki paham oleh Alina
" Ya udah deh...balik ke kelas aja" ucap Alina lesu,ia kecewa karena tak bisa bertemu Dave,hampir satu tahun kebersamaan mereka membuat Alina merasakan rindu pada sang abang angkat,karena keduanya terbilang cukup dekat dan sering menghabiskan waktu bersama dirumah dan kekampus bersama
" Yuk bareng gue,ga usah sedih gitu deh ga ketemu abang nya,ntar gue bilangin deh sama orang nya,kalau adek cantik nya kangen" ledek Maya membuat Alina tersenyum
__ADS_1
" Apaan sih" ucap Alina manja,gadis cantik itu memang selalu bersikap manja pada Maya,ia menggandeng lengan kiri Maya seraya berjalan menyusuri koridor kampus,Maya menggeleng melihat tingkah manja nya Alina