
Satu tahun sudah berlalu setelah Gabriel dan ketiga sahabatnya,Cantika juga Raffa menandatangani kesepakatan kerja sama,akhirnya rumah sakit ber standar internasional milik Gabriel telah selesai dan berjalan dengan sangat lancar,Gabriel memutuskan menetap di new york karena ia harus memimpin perusahaan sang papa yang begerak dibidang Farmasi dan Gabriel juga sedang membangun cabang rumah sakitnya di singapura yang rencananya akan dipimpin oleh Raffa bersama Cantika,karena yang di jakarta di pimpin oleh Gerald yang memang telah menjadi seorang Dokter bedah dan ia juga terlahir dari keluarga yang hampir seluruhnya berprofesi sebagai dokter
Sedangkan Rayhan ia harus memimpin perusabaan keluarganya yang bergerak di bidang Pertelevisian,hal yang sama juga dengan Ethan yang melanjutkan usaha keluarganya yang bergerak dibidang Arsitektur dan juga memiliki beberapa usaha kuliner di beberapa tempat
*******
Alina....Gadis cantik itu sedang sangat sibuk menyiapkan dirinya menuju Ujian Akhir Nasional,terlebih ia juga terpilih sebagai calon mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dan ia sudah dinyatakan lulus di beberapa Universitas ternama dalam dan luar Negeri,tapi Alina memutuskan memilih di dua tempat yaitu Jakarta dan Singapura,agar tidak terlalu jauh dan bisa di tempuh dalam waktu satu hari saja
Keputusan Alina mendapatkan dukungan yang sangat positif dari seluruh anggota keluarganya,walaupun awalnya sang Abi sedikit kecewa karena beliau berharap Alina mau melanjutkan studynya ke Turky,tapi Alina merasa itu terlalu jauh,ia masih belum siap untuk berpisah terlalu lama dengan keluarganya
" Kamu masuk jam berapa dik?" tanya Fatur sang Abang pada Alina saat melihat sang Adik masih belum mengenakan seragam sekolahnya
" Jam 9 bang,Aya di siff 2 bang" jawab Alina seraya menyiram bunga di teras
" Kamu naik Becak aja ya,hari ini di kantor ada audit,takutnya ga bisa keluar" ucap sang Abang
" Ia Bang gampang,Abang kapan nyusul Umi sama Abi tempat nenek? Aya ga pa pa kok ditinggal,bisa ajakin Mira nginap sini" jawab Alina seraya bertanya
" Insya Allah nanti sore,karena besok sabtu Abang kan ga ke kantor dan besok sore jangan lupa kamu juga nyusul,nenek kangen tu katanya" jawab Fatur
" Ia Bang Aya besok pulang dari sekolah langsung nyusul kesana" jaway Alina patuh
" Ya udah Abang berangkat ya, Assalammualaikum...." jawab fatur percaya pada sang adik,ia menaiki motornya meninggalkan rumah sederhana mereka menuju kantor
" Waalaikumsalam...hati-hati bang" jawab Alina seraya menyalami dan mencium punggung tangan sang Abang
Sudah hampir dua tahun Fatur di tugaskan di kantor Camat daerahnya tinggal,fatur lulusan IPDN dengan jalur beasiswa, ia benar-benar sangat menolong perekonomian keluarganya,sejak ia bekerja ia tidak lagi mengizinkan sang Umi menjual kue dan sang Abi juga tidak ia izinkan berjualan tetlalu lelah
Sudah hampir satu minggu kedua orang tua Alina dan fatur pergi ke rumah nenek mereka yang tinggal di kampung,hanya berbeda kota saja,karena sang nenek yang sedang sakit sehingga dengan terpaksa harus meninggalkan Alina dan fatur dirumah
__ADS_1
*******
Dau hari berlalu setelah pembicaraannya dengan sang Abang...tapi ia harus menelan pil pahit saat mendapatkan berita bahwa kampung sang nenek dilanda bencana,hampir semua rumah terkena arus Banjir Bandang dan menghabiskan hampir seluruh kampung trrsebut,baru rencananya saat pulang sekolah nanti ia menyusul keluarganya,tapi nyatanya ia tidak diizinkan memasuki desa tersebut karena para Basarnas beserta BPBD sedang melakukan evakuasi pada para korban,yang ternyata seluruh keluarga Alina juga menjadi korban,termasuk sang nenek dan juga sepupunya yang seorang yatim piatu dan tinggal bersama sang nenek
Dunia Alina serasa runtuh saat ia mendengar berita tentang bencana yang terjadi di kampung itu dan ia yakin keluarganya pasti ikut menjadi korban,mengingat rumah sang nenek yang tidak jauh dari sungai,tapi dalam hati ia berharap itu tudak benar,walau pada kenyataannya itu nyata adanya dan ia harus sudah siap menghadapi semua itu,banyak para teman sekolahnya yang ikut menemaninya termasuk beberapa guru juga
" Kamu yang sabar ya Al...mungkin sore nanti kita sudah di izinkan masuk ke desa itu" bujuk Mira pada Alina,kini mereka sedang berada di polsek terdekat desa tersebut
" Bagaimana jeluarga Al ya Mir?" tanya Alina lemah,ia rasanya sudak tidak lagi memilki tenaga untuk sekedar berbicara
" Kita Doakan yang terbaik buat mereka ya" jawab Mira ragu,ia sudah tau dari salah satu polisi yang bertugas di polsek tersebut bahwa keluarga Alina turut menjadi korban
" Ia Al ..Mira bener" tambah filza meyakinkan Alina
Sementara Alina hanya mengangguk lesu tanpa menjawab apapun,hatinya ragu dan sulit percaya bahwa keluarganya baik-baik saja
Dan disilah kini mereka berada di salah satu tempat pemakaman umum, setelah semalaman menginap di salah satu posko yang terdapat di luar desa tersebut,para tim Evakuasi tidak mengizinkan siapapun memasuki desa tersebut sampai pagi menjelang karena mereka masih harus antisipasi takut terjadi banjir susulan,baeu saat pagi tadi para keluarga korban di izinkan memasuki desa tersebut
" Kamu harus sabar Nak,Doakan yang terbaik untuk mereka" nasehat menguatkan dari salah satu gurunya,sedangkan Mira dan Filza tampak terus setia memeluknya memberikan kekuatan sebisa mereka
" Ia buk..terimakasih....Al ga akan nangis lagi" jawab Alina patuh
" Menangis boleh saja,asalkan jangan terlalu larut dalam tangis" nasehat sang guru dan di angguki oleh Alina
Akhirnya mereka memutuskan meninggalkan pemakaman tersebut dan menuju posko,termasuk Alina,ia dan kedua sahabatnya memutuskan untuk menetap di posko relawan karena mereka memang termasuk anggota tim relawan yang datang ke desa tersebut
Dua hari sudah berlalu,Alina berusaha tidak terlalu larut dalam kesedihan dan baru satu hari yang lalu nenek dan sepupunya di temukan dan langsung di makamkan,hal itu membuat Alina sedikit lebih tenang karena sudah menemukan sang nenek dan saudara sepupu satu-satunya walaupun sudah tak bernyawa,tapi setidak nya ia akan tau kemana ia akan berziarah saat ia merindukan mereka,Alina masih bersyukur ia sudah lumayan besar saat kehilangan keluarganya,karena masih banyak anak lain yang juga tinggal sendiri yang bahkan usia mereka masih sangat kecil
Minggu ini Alina tidak disibukkan dengan sekolahnya karena untuk siswa kelas 12 mendapatkan masa tenang selama satu minggu sebelum minggu depannya mereka akan mengikuti Ujian Akhir Nasional
__ADS_1
" Alina...hari ini kita akan kedatangan tamu,mereka relawan dari jakarta dan kabarnya bersama mereka akan ada beberapa tim medis yang akan itut,mereka juga menyumbangkan obat-abatan dan beberapa kebutuhan" ucap salah satu senior Alina di tim relawan mereka
" Alhamdulillah ya kak,semoga saja bisa membantu keluarga korban,khususnya anak-anak yang mulai tampak kurang sehat,beberapa dari mereka ada yang mulai terserang diare dan gatal-gatal,mungkin tim relawan mereka banyak donaturnya ya kak" jawab Alina
" Kabarnya sih gitu Al..bahkan dokter yang ikut bersama mereka katanya dokter-dokter dari salah satu rumah sakit swasta yang paling elite di jakarta dan rumah sakit itu bekerjasama dengan luar negeri,pasti hebat dong ya" tambah Wida sang senior,ia berstatus sebagai mahasiswi tingkat akhir
" Wah hebat ya kak,tapi pagi ini rencananya Al akan pulang sebentar kak,karena Al juga harus ke sekolah untuk ngambil kartu peserta Ujian dan juga seragam Al masih dirumah" jawab Alina lagi
" Ga apa Al kalau memang kamu ada kepentingan,berapa lama kamu pulang?" tanya widia
" Rencananya besok sore Al udah balik lagi kesini kak,karena besok pagi Al baru kesekolahnya,kalau hari ini rakutnya ga sempat lagi kak,nunggu angkotnya pasti lama" jawab Alina
" Makanya kamu sih ga mau belajar bawa Motor,coba kalau bisa bawa motor atau mobil kan gampang itu banyak motor nganggur atau mobil di posko juga ada" omel Widia
" Hehehe...takut Al kak" jawab Alina dengan cengegesan lucu
" Takut apa?" tanya widia heran
" Takut di tabrak atau malah nabrak" jawab Alina polos
" Ia deh terserah kamu,otak nya pinter tapi kok lemah" ledek Widia lagi yang dibalas dengan senyuman cantik Alina,Widia termasuk yang paling dekat dengan Alina di tim mereka,karena Alina memang sedikit pendiam juga paling pemalu,sedangkan Widia paling bar-bar tapi sangat penyayang dan perhatian
" Jam berapa kamu berangkat?" tanya Widia memastikan
" Mungkin sekitar jam delapan kak,tergantung supir sih kak" jawab Alina
" Sama siapa?" tanya nya lagi
" sendiri kak,diantar mira sampai ke jalan raya aja,gantian kak,Al balik besok baru Mira yang pulang,karena sore ini filza balik katanya" jawab Alina menjelaskan dan di angguki mengerti oleh Widia
__ADS_1
" Ya sudah ...hati-hati ya" jawab Widia dan di anggguki oleh Alina,keduanya baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk tim yang lainnya,walupun Alina cuma bantu petik cabe karena remaja cantik itu memang tidak paham masalah dapur walau sedikitpun,yang ia tau hanya menyeduh teh atau susu dan mie instan,itupun sangat jarang karena dirumah nya sang Umi sangat menghindari mie instan,untuk teh setiap pagi sudah tersaji di meja,karena sang Umi selalu berkata untuk urusan rumah terlebih dapur itu akan menjadi tanggung jawab beliau sedangkan anak-anak nya diwajibkan untuk Belajar,adawaktunya kapan sang anak akan melakukan tugas tersebut.