
" Sayang...kamu tidur lagi habis subuhan?" tanya nyonya Suci,beliau merasa heran pada gadis cantik nya yang tak seperti biasanya,gadis cantik itu biasanya tak pernah tidur lagi setelah melakukan kewajiban dua rakaatnya
" Ketiduran ma..mungkin pengaruh obat,ada apa ma?" tanya Alina pada sang mama yang sudah tampak rapi di jam pagi seperti ini
" Mama sama Papa ada acara keluar kota,pemberitahuannya dadakan subuh tadi,ada pertemuan beberapa dokter senior yang berprofesi sebagai dosen,mungkin mama pulangnya malam,kamu ga apa kan mama tinggal?" tanya nyonya Suci sedikit khawatir
" Ia ma ga apa,Al janji akan baik-baik aja,tapi Al juga minta izi..rencananya siang nanti Al akan ke toko buku,bosen ma dirumah terus" pinta Alina,ia harus mencari alasan agar tidak ada yang curiga kalau-kalau ia benar-benar di jemput seseorang,walaupun takut..Alina akan coba menghadapinya
" Bareng bang Dave ya" pinta nyonya Suci lembut
" Ga usah ma,insya Allah Al bisa sendiri kok,atau kalau jadi mungkin Alessa akan jemput,kalau ga biar Al naik taksi online aja,gampang kok ma" jawab Alina menolak secara halus
" Ya udah senyamannya kamu aja sayang" putus sang mama lembut,beliau memang harus membiarkan Alina lebih sering berbaur dan bertemu orang asing agar semakin mengurangi rasa ketakutannya
" Makasi...mama" jawab Alina senang
" Sama-sama sayang..yang terpenting kamu jaga diri baik-baik dan langsung hubungi siapapun kalau kamu merasa ga nyaman atau terancam" nasehat mama Suci mengingatkan Alina
" Siap mama..mama sama papa juga harus hati-hati dan jangan lupa kasi kabar kalau udah nyampe" balas Alina
" Ok sayang ...mama sama papa berangkat ya,kamu jangan telat sarapannya,Dave sudah pergi sejak tadi,katanya sekalian latihan basket dan setelahnya langsung ke kampus,Abang juga hari ini sibuk katanya karena akan ada rapat dengan para dokter di rumah sakit" jelas nyonya Suci
" Ia mama cantik...cup" jawab Alina seraya mengecup singkat pipi sang mama dan dibalas dengan hal yang sama oleh sang mama sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kamar sang putri
Nyonya Suci langsung menuruni tangga menuju ruang keluarga yang tampak sang suami sudah menunggu seraya memainkan ponselnya,para dokter yang juga berprofesi sebagai dosen diminta untuk mengikuti rapat sekaligus seminar bersama beberapa petinggi yayasan,mereka akan membahas tentang melakukan seleksi untuk para calon penerima beasiswa ke LN dari kampus mereka untuk melanjutkan program Magister
" Udah ma?" tanya tuan Alexander saat mendengar langkah sang istri menghampiri beliau
" Udah pa...yuk,keburu siang lagi" jawab sang mama yang tampak juga sudah menenteng tas brandid miliknya
" kabarnya tuan Alvaro dan istrinya juga hadir di acara ini " Ucap tuan Alexander memberitahukan pada sang istri
" Miranda juga ikut? Sepertinya ucapannya serius tentang keputusannya untuk mulai kembali menetap di jakarta dan menyerahkan bisnis mereka pada El" jawab nyonya Suci
" Tapi sepertinya El susah di atur,dia seperti asyik dengan dunia nya sendiri dan usahanya juga sudah sangat besar,heran dengan keputusan anak itu,padahal usaha keluarga Altop sudah sangat besar dan banyak,bahkan mendunia dan sudah di pastikan akan di wariskan untuk nya,tapi dia tetap pada pendiriannya,walaupun ia tetap memegang beberapa anak cabang ALT group" papar tuan Alexander tentang anak dari sahabat istrinya itu
" Mungkin El pengen mencoba kemampuannya dan membuktikan pada sang papa kalau dia bukan cuma anak manja dan nakal yang cuma hoby balap aja,tapi dia juga mampu menjadi perintis walaupun pada kenyataannya ia adalah seorang pewaris,bahkan kabarnya dia lebih sadis dari papanya" jawab nyonya Suci
Pasangan paruh baya itu memasuki mobil mereka meninggalkan rumah menuju bandara,mereka akan terbang ke Bali atas perintah dari pimpinan ALT group
Sedangkan Aliana dikamarnya tampak gelisah,ia heran apakah ini suatu kebetulan atau memang takdir mendukungnya untuk menerima tantangan Gabriel untuk bertemu dengan Raffa,sang dokter relawan yang bahkan nama panjangnya saja Alina tidak tau
Tok tok tok
__ADS_1
" Non Al...dibawah ada temen non katanya mau jemput non Al" ucap salah satu Art di kediaman Alexander
" Ia mbok sebentar,Al mandi dulu" jawab Alina kalang kabut,ia sampai tidak menyadari sudah terlalu lama larut dalam lamunannya dan juga ia sudah melewatkan sarapan paginya
Alina langsung melangkah dengan cepat memasuki kamar mandi,ia mandi secara ekspres agar orang yang menjemputnya tidak terlalu lama menunggu
Alina menggunakan dres berwarna hitam yang ia padukan dengan hujab fasmina berwarna putih dan sepatu flat soes,tak lupa sebuah tas sandang mini berisikan handphone dan sebuah dompet mini,ia hanya menyapukan wajah nya dengan bedak tabur dan lip gloss,merasa sudah cukup Alina meninggalkan kamarnya menuju lantai dasar
Penampilan dan wajah Alina membuat seorang wanita terpaku di tempatnya,ia tidak menyangka kalau yang ia jemput adalah seorang gadis muda nan cantik dan berhijab,yang ia tau keluarga dokter Akexander anaknya laki-laki,tapi mengapa kini yang muncul wanita,tapi ia baru sadar saat Niko memberinya perintah untuk menjemput seorang gadis di kediaman Alexander
" Anda siapa?" tanya Alina lembut
" Saya Dinda..saya di perintahkan oleh tuan muda untuk menjemput anda Nona" jawab wanita itu sedikit kikuk
" Siapa tuan muda Anda?" tanya Alina yang sebenarnya sangat ingin tau namanya
" Tuan muda yang kemarin pagi menjenguk anda ke rumah sakit" jawab wanita itu lagi,walau sedikit bingung ia tetap menjawab seperti yang diperintahkan
" Kita berangkat sekarang nona?" tanya wanita itu lagi saat melihat Alina terdiam sesaat
" Ya" jawab Alina singkat,ia sedikit merasa lebih lega karena yang menjemputnya seorang wanita bukan pria seperti bayangannya sejak kemarin
" Saya akan dibawa kemana?" tanya Alina setelah sekitar 10 menit perjalanan,karena ia tau mobil mewah itu masih melaju dengan kencang,pertanda perjalanan mereka masih belum sampai
" Ke klinik nona" jawab sopir wanita itu sopan,ia yakin gadis yang ia bawa itu pasti gadis special sang tuan muda nya,sedangkan Alina tidak menjawab lagi,matanya hanya fokus pada jalanan yang ia lewati
Hingga setelah beberapa menit kemudian mobil itu berhenti tepat di sebuah klinik kecantikan yang tampak ramai,sebuah klinik yang tampak sangat mewah dan elegant,dapat dipastikan yang menggunakan jasa klinik itu pasti bukan orang sembarangan,tampak dari banyak nya jajaran mobil mewah di area parkir khusus klinik
Setelah gadis yang mengaku bernama Dinda itu membuka pintu mobil untuk Alina dan meminta Alina untuk turun dan mengikutinya,Alinapun mengikuti langkah tegab wanita itu yang terlihat disambut baik oleh para pekerja di klinik tersebut
" Anda tunggu disini nona...sebentar lagi orang yang ingin anda jumpai akan datang" ucap Dinda dingin nan tegas,ia menjalankan apa yang Niko perintahkan,sementara Gabriel sudah berada di ruangan sang mama seraya fokus pada CCTV untuk memantau Alina dan Raffa
Alina mengangguk patuh,ia sudah terlalu lelah memikirkan banyak hal,ia nuga dangat takut jika sampai Gabriel tidak percaya bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Raffa dan juga Alina tidak tau siapa kekasih Raffa yang merasa dikhianati karena kehadiran Alina
Alina duduk disebuah kursi tunggu tepat di lobby utama,ia menyibukkan dirinya dengan memainkan ponselnya,hingga ia tak menyadari seseorang duduk tak jauh darinya
Sedangkan Raffa sediķit terusik dengan wanita yang duduk tak jauh darinya,ia seakan merasa tak asing dengan gadis itu hingga matanya terfokus menatap wanita yang duduk hampir berhadapan dengan nya,ingin memanggil.. Raffa takut ia salah orang dan berujung malu
Sedangkan Alina sedikit merasa kurang nyaman saat firasatnya berkata ada seseorang yang memperhatikannya,sehingga memaksa ia mengangkat wajahnya dan melihat sekitar dal hal itu membuat Raffa terkejut dan sedikit tercengang,hingga membuat Raffa refleks berdiri dan mendekat,hal itu juga membuat Alina merasa ketakutan,ia ingin berdiri tapi rasanya tak sanggup
"Alina..." sapa Raffa dengan suara lirih,tampak jelas wajah sendu,bahagia dan rindunya secara bersamaan
__ADS_1
Alina masih terdiam ditempatnya dengan tatapan lurus pada wajah tampan Raffa,ia berusaha untuk mengingat apakah wajah itu sama dengan pria yang berada dalam foto yang Gabriel tunjukkan padanya satu tahun lalu
" Kamu Alina Haya kan? Saya dokter Raffa ...kita pernah sama-sama jadi relawan di daerah xxcxxx,kampung halaman kamu" ucap Raffa menjelaskan,mencoba mengingatkan Alina,sedangkan Alina mulai mengeluarkan air matanya saat ia yakin itu adalah orang yang sama dengan yang di foto,Alina menggeleng lemah
" Ya ...anda benar saya Alina ...tapi please...jangan pernah dekati saya,tolong lupakan kalau anda pernah bertemu saya,saya mohon" ucap Alina lirih membuat Raffa heran
" A-apa...? Mengapa saya ga boleh kenal kamu Alina? Kenapa juga saya ga boleh mendekati kamu? Apakah kamu sudah memiliki kekasih dan dia marah jika saya menyapa kamu? Bukankah kamu pernah berkata pada sahabat saya bahwa kamu tidak ingin pacaran,atau kamu sudah menikah?" tanya Raffa beruntun
Alina tidak menjawab ia hanya menggeleng,lidahnya terasa kelu untuk bicara,terlebih ia menyadari Gabriel pasti mengawasinya dan ia takut akan terjadi kesalah fahaman lagi,Alina dapat melihat tatapan kecewa di mata Raffa
" Tolong beri saya waktu sebentar,jujur saya menyukai kamu sejak pertama saya melihat kamu dan selama ini saya cari-cari kamu di singapura,karena Cantika mengatakan bahwa kamu melanjutkan study mu ke singapura,saya serius suka sama kamu dan saya ingin menikahi kamu" ucap Raffa jujur dan to the point,Raffa merasa tidak akan memiliki waktu yang lain untuk bisa berbicara lagi dengan gadis impiannya itu
" Dokter...diantara kita belum saling kenal,kita hanya bertemu di tempat bencana itu,anda belum mebgenal saya jauh dan jujur saya bahkan belum tau nama asli anda,mana mungkin kita akan menikah,menikahlah dengan seseorang yang menginginkan anda,saya masih muda dan belum siap menikah sekarang" jawab Alina tegas
" Lalu kapan? Kapan kamu akan siap? Saya akan tunggu kapan pun itu" jawab Raffa memutuskan
Alina menggeleng kuat,ia menundukkan dalam wajahnya,bayangan ancaman Gabriel kembali melintas di benak nya,membuat Alina kembali menggeleng
" Tolong lupakan ucapan anda barusan,satu tahun lalu...seseorang datang meminta pada says untuk menjauhi anda,sedangkan saya tidak mengenal dekat anda,dan...beberapa hari lalu kami bertemu lagi,lagi--lagi ia meminta pada saya untuk menjauhi anda,jadi saya mohon..kasihani saya" jawab Alina sedikit menceritakan wakau tidak semuanya
" Siapa..? Siapa orang itu?,saya bahkan tidak memiliki hubungan special dengan wanita manapun" jawab Raffa tegas
" Saya tidak mengenal laki-laki itu,bahkan namanya pun saya tidak tau,yang jelas untuk saat ini saya dan keluarga angkat saya terancam karena kesalahpahaman itu" jawab Alina jelas
" Maaf jika karena saya membuat kamu sulit,tapi demi Tuhan saya sedang tidak memiliki hubungan khusus dengan seseorang bahkan sejak 6 tahun lalu" jelas Raffa
Alina tidak sempat menjawab karena langsung terdengar suara seseorang yang memanggil nama Raffa dengan sangat lembut
" Raffa...kamu sudah datang sayang...? Baru saja mama mau telfon kamu" ucap wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan anggun
" Sudah ma..mama sudah siap?" jawab Raffa pelan,sesaat matanya melirik Alina,Raffa sangat ingin mengenalkan Alina pada sang mama,tapi ia langsung teringat dengan permintaan Alina tadi
" Ayo ma..kok bengong?" tanya Raffa saat melihat sang mama menatap fokus pada Alina
" Kamu ga mau ngenali gadis ini ke mama Raf?" tanya sang mama tiba-tiba
" Kami ga saling ma,bagaimana mungkin Raffa mau ngenali ke mama" jawab Raffa pelan,membuat Alina mengangkat wajahnya menatap mamanya Raffa dan tersenyum
" Assalammualaikum tante,nama saya Alina.." sapa Alina ramah,bagaimanapun ia adalah gadis yang sangat sopan pada orang tua
" Waaalaikum salam...Raff..bukankah dia wanita yang fotonya banyak di taptop kamu ya?" tanya mamanya Raffa polos,membuat wajah Raffa merah karena malu
" Bukan ma..hanya mirip saja,Raffa kira tadi juga dia ma,makanya Raffa menyapanya,ternyata bukan" jawab Raffa berusaha sesantai mungkin,walau hatinya bergemuruh
__ADS_1
"Oh. Gitu ya" jawab mamanya Raffa singkat,mereka langsung berpisah karena Raffa langsung mengajak sang mama pulang,sedangkan Alina langsing terduduk lemas di kursi yang berada tepat di belakangnya,Alina menarik nafas dalam,melegakan dadanya yang terasa terhimpit ribuan ton