
Semuanya meninggalkan kantin dan berlari menuju parkiran,sontak hal tersebut menjadi pemandangan aneh dengan penuh tanda tanya dan mengundang rasa penasaran hampir semua yang berada di tempat itu
Sedangkan Alina tampak sangat tenang berada dalam gendongan Gabriel,semua sampai di parkiran,Gabriel langsung memasuki mobilnya dengan Alina masih dalam dekapannnya,wajah pria tampan itu terlihat Sangat shock,Niko dengan sigap langsung masuk dan duduk di kursi penumpang samping sang supir,begitu pula yang lainnya yang langsung memasuki mobil mereka masing-masing
Mobil Gabriel meninggalkan kampus di pimpin oleh dua mobil bodiguard nya untuk membuka jalan,dan di ikuti oleh mobil yang lainnya di belakang,walaupun muncul ribuan pertanyaan di hati Ethan,Rayhan,Gerarld atas tindakan cepat Gabriel tapi mereka memutuskan untuk diam sampai pria dingin itu yang akan buka suara,sedangkan Dave,Maya dan ketiga sahabat Alina tak Terlalu heran,mereka mengira itu hanya sikap refleks seseorang karena rasa kemanusiaannya
Dalam mobil Gabriel terus memandangi wajah damai Alina yang masih berada dalam dekapannya,gadis itu tampak seperti orang tertidur,Gabriel masih seakan tak percaya,entah mengapa ia Seakan belum siap bertemu dengan gadis itu,ada rasa takut yang muncul tanpa ia tau alasannya,padahal sudah beberapa bulan terakhir ia sangat berusaha keras mencari gadis itu,terlebih setelah sang mama mengatakan berniat ingin menjodohkan nya dengan salah satu putri sahabatnya
" Shiiit...Nik..saya salah liat kan..?" tanya Gabriel tiba-tiba pada sang asisten,membuat Niko langsung melihat ke belakang seraya mengerutkan kening,tanda ia masih bingung dengan pertanyaan dadakan sang majikan
" Maksud nya tuan muda?" tanya Niko tak paham,ia sama sekali belum melihat wajah gadis yang berada dalam dekapan sang tuan muda,ia masih sibuk dengan rasa terkejutnya dengan tindakan sang tuan muda
" Gadis ini...Wa-wanita i-itu..bukan dia kan Nik?" tanya Gabriel gugup,dan membuat Niko langsung menatap lekat wajah Alina membuat pria muda itu langsung melotot sempurna setelah lima menit kemudian dan ia yakin bahwa mata dan ingatannya masih sangat baik
" Tu-tuan...no-no-nona ini...benarkah gadis itu? bukankah dia adik tuan Gerald? mengapa mereka sangat mirip ?" tanya Niko terkejut sekaligus heran,karena Niko masih bisa mendengar obrolan sang bos dengan para sahabatnya saat di kantin kampus tadi,hanya saja ia tidak melihat dengan jelas wajah wanita yang katanya adik sahabat sang bos
" Oh...Shiiit" umpat Gabriel lagi,ia meremas kuat rambutnya seraya mengusap kasar wajahnya,bayangan kejadian malam itu kembali berputar di otaknya,tangisan memohon gadis itu,wajah polos sayu namun cantik itu masih melekat jelas di ingatannya,rambut indahnya dan aroma itu..sungguh ia tak mampu membuang semua itu" aroma tubuh nya...sungguh masih wangi itu,wangi khas bayi..Tuhan apa yang harus aku lakukan saat ia terbagun nanti?" Gabriel sungguh gelisah
Mobil mulai memasuki gerbang yang bertuliskan Word Medika,rumah sakit Elite nan megah milik Gabriel pribadi,Gabriel mulai menegakkan duduknya seraya tangan nya sigab kembali mendekap erat tubuh indah Alina saat ia menyadari mobil telah berhenti tepat di depan Unit Gawat Darurat rumah sakit megah itu
Niko dengan sigap membukakan pintu untuk sangbos,lalu dengan cepat memberikan intruksi agar segera menyiapkan ruangan darurat,para pekerja rumah sakit itu memang belum pernah melihat pemilik asli rumah sakit tersebut,yang mereka tau rumah sakit itu juga milik keluarga Altop,namun mereka belum tau siapa pemilik aslinya,,karena setiap rapat akan di pimpin oleh Niko atau Gerald,sedangkan Gabriel ia selalu menjadi pendengar dan pemberi ide jika memang dibutuhkan
Gabriel langsung turun dengan Alina dalam dekapannya,ia langsung mengikuti arahan Niko diikuti Gerald dan yang lainnya di belakang,hampir semua mata tersihir dengan wajah tampan seorang Gabriel Alvaro Altop,akan tetapi tatapan dingin nan cuek pria itu layangkan,membuat nyali mereka langsung menciut
" Cepat panggilkan dokter Siska " perintah Gerald lantang menggema di koridor Unit Gawat Darurat,laki-laki yang juga terkenal dingin itu tampak serius melakukan pemeriksaan pada kelopak mata, detak jantung dan tekanan darah sang adik angkatnya
" Baik Tuan" jawab mereka cepat seraya langsung meraih gagang telfon untuk menelfon seseorang sesuai dengan perintah sang pimpinan
" Dia kenapa Rald..?" tanya Gabriel penasaran,ia terus memperhatikan segala tindakan yang Gerald lakukan pada Alina
" Dia ada riwayat trauma dan suka tiba-tiba kambuh kalau ketemu pria asing,tapi sudah beberapa bulan ini dia dinyatakan sembuh dan belum pernah kambuh sampai seperti ini" jawab Gerald apa adanya,walaupun hati kecilnya mengumpat karena kejadin itu
Gabriel terdiam,ingatannya kembali pada satu tahun lalu saat gadis itu tiba-tiba pingsan dibawah kukungannya dan mengeluarkan darah segar dari hidungnya,dan saat itu ia menghubungi Gerald menanyakan penyebab seseorang Mimisan
" El sorry...lo tunggu diluar aja ya bareng yang lain,takutnya saat dia sadar malah histeris liat ada orang asing" Pinta Gerald hati-hati agar tidak menyinggung perasaan sang sahabat
__ADS_1
" Ok..mungkin juga gue langsung pulang " jawab Gabriel terdengar dingin
" Ok..hati- hati ya dan sorry gara-gara adik gue semuanya jadi kacau,bahkan lo belum sempat makan siang" ucap Gerald tak enak
" No ploblem..tapi gue tunggu penjelasan lo siapa dia sebenarnya" jawab Gabriel tegas
" Kasi gue waktu" jawab Gerald dan di angguki oleh Gabriel
Gabriel melangkah keluar dari ruangan itu,saat ia sampai diluar ternyata nyonya Suci yang tak lain adalah mamanya Gerald sudah berada di rumah sakit,tampak jelas wajah cemas mereka,Nyonya Suci sampai menitikkan air matanya dan menangis tersedu di pelukan Dave,tuan Alexander memang sedang berada di luar kota,beliau melakukan perjalanan dinas dari setiap rumah sakit,guna melakukan pengecekan pada penduduk terpencil
" Gimana El?" tanya nyonya Suci saat melihat wajah Gerald yang keluar dari ruangan itu
" Belum sadar tan..Dokter sedang melakukan tindakan " jawab Gabriel jujur
" Makasi banyak ya El kamu udah sigab bawa Alina ke sini,kata Dave kamu yang nolong Alina" ucap tulus nyonya Suci
" Ia tan..mungkin karena kebetulan aja dia hampir jatuh ke aku tan,tapi..maaf ya tan kalau aku lancang,siapa sebenarnya wanita itu tan?" tanya Gabriel tanpa basa basi,hubungan Gabriel dengan keluarga ketiga sahabatnya memang dekat selayaknya keluarga
" Dia..putri angkat tante El,Nama nya Alina..entah kebetulan atau mungkin memang takdir,kami ketemu di bandara di Batam satu tahun lalu" jawab nyonya Suci terus terang,hanya saja tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya
" Oh begitu ya tan,aku izin pamit ya tan" ucap Gabriel seraya izin meninggalkan tempat itu,tak lupa sebelum kepulangannya ia sudah memerintahkan pada Niko agar mengatakan pada pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik pada Alina
" Ia tan" jawab Gabriel songkat,matanya menatap Ethan dan Rayhan " Gue balik,lo pada masih mau disini ?"tanya Gabriel
" Kita bareng lo aja" Jawab Ethan dan Rayhan kompak
" Tan..dave ..kami balik juga ya,lain waktu kami jenguk lagi,salam aja kalau dia udah sadar" ucap Ethan pada nyonya Suci dan Dave
" Ok..thanks ya" jawab Dave tulus,sedangkan nyonya Suci hanya mengangguk lemah
Gabriel,Ethan dan Rayhan melangkah meninggalkan ruang tunggu Unit Gawat Darurat menuju parkiran,semuanya meninggalkan rumah sakit dengan rasa penasaran dalam benak mereka tentang siapa Alina,walaupun mereka semua tadi mendengarkan jawaban nyonya Suci atas pertanyaan Gabriel
" Kita kemana Tua ?" tanya Niko sedikit ragu,masalahnya Gabriel tak seperti biasanya yang langsung mengatakan tujuannya saat ia sudak berada di dalam mobil
" ALT Group" jawab Gabriel singkat seraya merebahjan kepalanya pasa sandaran jom mobil dan memejamkan matanya
__ADS_1
Didalam mobil nya Gabriel hanya terdiam sejak mulai mobil mewahnya mulai bergerak meninggalkan rumah sakit hingga kini mobil nya sudah memasuki gerbang gedung megah bertuliskan ALT group,gedung pusat perusahaan keluarga Altop yang dipimpin oleh tuan Alvaro atau Gabriel
" Siang tuan muda"
" Siang tuan muda"
" Siang tuan muda"
Sapaan-sapaan itulah yang Gabriel dapatkan dari para karyawan perusahaan besar itu,dimulai dari security yang bejaga di pintu ulama lobby,resepsionis hingga para karyawan yang kebetulan sedang berlalu lalang di lobby kantor tersebut
Gabriel yang didampingi oleh Niko terus melangkah menuju lift khusus petinggi perusahaan,dengan sigab Niko menekan kotak besi persegi itu agar terbuka dan dengan sigap pula ia menekan angka lantai yang menjadi tujuan mereka
Hening...itulah suasana yang terjadi di dalam lift,bukan hal asing memang bagi Niko,tapi diamnya Fabriel kali ini tampak sedang memimirkan sesuatu yang Niko yakini bukan urusan pekerjaan atau para wanita yang mengejarnya,karena jika kedua masalah itu Gabriel akan langsung menyerahkannya pada Niko
" Ada yang anda pikirkan tuan?" tanya Niko sekedar ingin membuka pembicaraan
" Banyak" jawab Gabriel singkat namun menjengkelkan
" Maksud saya tentang.....nona Itu.." jawab Niko ragu,namun sedikit memperjelas pertanyaannya
" Maksud kamu" jawab Gabriel semakin menguji kesabaran Niko
" Bukankah selama ini anda memerintahkann saya dan orang-orang anda yang lainnya buat mencari gadis itu" jawab Niko,ia berusaha menekan rasa emosinya agar tak meledak saat ity juga
" Belum saya pikirkan apa rencana selanjutnya,namun awasi dia jawab Gabriel tenang
" Baik tuan muda" jawab Niko patuh
Keduanya melangkah meluar saat lift sudah berhenti dan terbuka,langkah bos dan sang majikan meninggalkan lift menuju ruangan kerja milik Gbariel,ruangan yang bertuliskan CEO,walaupun tuan Alvaro masih aktif di kantof pusat itu,tapi jabatan CEO sudah beliau serahkan pada sang putra sejak dua tahun lalu
Gabriel memasuki ruangan nya diikuti Niko,ia mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya dan mulai menandatangani beberapa berkas dari sang sekretaris yang diserahkan oleh Niko
" Ada lagi yang perlu saya bantu tuan?" tanya Niko setelah Gabriel menyerahkan berkas- berkas yang telah ia tanda tangani
" Tinggalnan saya dan katakan pada Dina bahwa saya tidak ingin menerima tamu hari ini" Perintah Gabriel yang lansung di agguki patuh oleh Niko dan ia langsung meninggalkan ruangan yang tampak mencekam itu
__ADS_1
Sedangkan Gabriel tampak bangkit dari duduknya menuju dinding kaca besar yang terdapat di ruangannya,menunjukkan pemandangan kesibukan Ibu kota,pikirannya seakan melayang jauh dari raganya