
Hari ke tujuh , tinggal 7 hari lagi.
Pukul 10 .00 pagi. Rama dan teman-temannya tengah asyik mengerjakan tugas masing-masing. Sudah dari pagi Rama menunggu surat dari cewek misterius yang tak lain adalah Maria. Semua cleaning service dan petugas piket pintu gerbang telah diminta Rama untuk melaporkan padanya bila ada sesuatu yang mencurigakan. Sebenarnya hati Rama sedang gelisah, ingin segera menangkap Maria.
" Ram sudah punya rencana menangkap cewek itu ? " Ucap Sigit memecah kesunyian. Rama mengangguk . " ya, tentu. Kali ini aku harus menangkapnya dan tidak boleh kehilangannya. " ucap Rama dengan tekad yang kuat, ia betul- betul tak ingin gagal untuk ketiga kalinya. " Lalu apa rencanamu?." tanya Sigit.
" Aku sudah meminta Yanto, yang lagi piket jika melihat seorang cewek atau siapa saja yang mengantar surat untuk di tahan dulu. Dan bila melihat sesuatu yang mencurigakan untuk segera memberitahuku. Begitu juga mereka yang bekerja sebagai cleaning service telah ku minta kan pertolongan." ucap Rama '' Wah....kau sudah melakukan persiapan bahkan menempatkan mata-mata." Ucap Agung yang dari tadi mendengarkan. " Lalu apa selanjutnya ?" ucap Rangga ikut penasaran.
" Menurut perkiraan , cewek itu beraksi sekitar pukul 11.00 . Jadi sekitar setengah jam lebih dulu , aku sendiri yang akan mengintainya. Ayo kita jebak dia dari segala arah, kita akan berpencar menangkapnya. " ucap Rama, teman-teman Rama nampak manggut- manggut. " Kalau gitu setengah jam lagi kita beraksi." ucap Budi, Rama mengangguk. Mereka kembali dengan kegiatan masing-masing .
Tepat pukul 10.30 Rama segera bergerak. " Aku duluan." ucap Rama pamit dengan penuh semangat. " Ram, kami ikut. " Sigit dan Agung pun menyusul Rama. Rasa solidaritas yang tinggi dan rasa penasaran membuat mereka ingin membantu Rama. Sedangkan Budi dan Rangga tetap di ruangan untuk berjaga-jaga.
" Selamat beraksi, nanti ceritain kepadaku yach. " ucap Budi. " Thank's bro, ku titipkan markas pada kalian, jangan sampai ketika kami datang markas kita jadi terbalik." ucap Rama setengah bercanda sebelum pergi. Budi dan Rangga tersenyum simpul.
Sesampai di pintu gerbang Rama menemui Yanto, " Gimana ?" ucap Rama. " Belum ada tanda - tanda bro. " ucap Yanto. " Terima kasih bro." ucap Rama menarik napas dalam-dalam.
" Ayo kita berpencar ." ucap Rama. " Aku bagian sana bro." ucap Sigit . " Aku bagian sana." ucap Agung. " Terima kasih kerja atas samanya bro." ucap Rama terharu. " Ayo semangat. " ucap Sigit memberi semangat. Rama mengangguk dan tersenyum.
Maria berjalan menuju polres, motornya masih ia parkir di TK Kemala. Maria berniat mengirimkan surat puisi cinta yang ke empat untuk Rama. Sebenarnya Maria sudah tahu kalau Rama sudah mulai penasaran dengannya, tapi ia merasa ingin membuat Rama lebih penasaran lagi sambil mencari celah untuk bisa menemui Rama. " Jika Rama sedang sendiri , aku harus mencoba menemuinya.Tapi bagaimana kalau aku tak sanggup berdekatan dengannya karena gugup. Ah...sebaiknya coba saja dulu " ucap Maria bingung.
Ketika beberapa meter dari kantor polres, Maria pun melihat Rama, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Ia menghentikan langkahnya dan sembunyi di balik pepohonan.
" Ha ....Rama, sepertinya ia telah menunggu kedatanganku. Tapi....dia tidak sendiri ada teman- temannya. Apa mereka sengaja ingin menangkapku ? Ha...bahaya, apa tidak jadi saja ku kirim surat ini. Kalau tidak ku kirim , Rama pasti mengira aku hanya main - main ." Maria menatap sekeliling.
Dan ia pun melihat pengemis wanita yang mengendong bocah berumur 2 tahun yang sering diberi Rama uang. Lalu maria melihat celah untuk melarikan diri dan ia melihat ada jalan memutar karena ada tikungan, meskipun di jalan itu ada Agung yang sedang mengawasi.
" Masih bisa." Maria menghitung jarak pengemis itu jika menghampiri Rama.
" Lumayan.... untuk di manfaatkan kabur di tikungan. Oke...aku coba." Maria memasang kaca mata hias untuk mengelabui Rama teman- temannya. Kaca mata hias itu memang ia bawa di dalam tas buat jaga-jaga, karena kemarin ia sudah tahu kalau Rama ingin menangkapnya, dan ia hampir tertangkap.
Dengan perlahan-lahan Maria bergerak menghampiri pengemis itu. Sejenak Rama melihat Maria tapi Rama sama sekali tak curiga karena Maria memakai kacamata. Kacamata itu berhasil mengelabui Rama. Maria menghampiri pengemis itu dan memberi uang lima puluh ribu kepada pengemis itu .
__ADS_1
" Ini buat si kecil. " ucap Maria membelai rambut anak kecil itu, sebenarnya Maria memang berniat ingin memberi uang pada pengemis itu. " Terima kasih non." pengemis itu langsung mengucapkan terima kasih. " bisa minta tolong memberikan surat ini sama pak polisi yang sedang berdiri di dekat pintu gerbang. Saya malu karena teman - temannya ada di sana . " ucap Maria berbisik." Untuk den Rama ya....., Non...suka sama den Rama ? " ucap pengemis itu yang memang akrab sama Rama karena Rama memang sering memberi uang padanya. Maria mengangguk malu. " Saya memang sering dititipin surat cinta non, habis den Rama ganteng banget , baek lagi.Banyak cewek pada suka." ucap pengemis itu memuji Rama. Maria tersenyum " jadi bisa tolong saya nek, soalnya ini...... surat ....cinta." ucap Maria malu-malu. Wanita itu mengangguk. " bisa non, saya akan sampaikan." ucap wanita itu. " Terima kasih nek, " ucap Maria lembut, dengan sembunyi -sembunyi Maria menyerahkan surat itu. Pengemis itu menerimanya dan mulai berjalan menghampiri Rama sedangkan Maria segera berjalan cepat melewati Agung yang agak lengah karena sedang memencet hp nya.
Pengemis itu tiba di hadapan Rama.
" Den Rama....ada titipan dari cewek yang naksir den. " ucap pengemis itu menyerahkan surat pada Rama. Rama pun terkejut
" Dimana orangnya nek ...?" ucap Rama gugup. " itu di situ den.." ucap nenek itu, tapi Maria telah berjalan agak jauh bahkan telah melewati Agung. Sontak Rama segera berlari mengejar, ia tak menyangka cewek berkaca mata adalah cewek yang ia cari karena yang Rama tahu Maria tidak berkaca mata. " Gung, kejar cewek yang berkaca mata itu." ucap Rama pada Agung ketika melewatinya, Agung mengikuti Rama.. Sedangkan Sigit berlari ke arah jalan sebaliknya , ia berniat mengepung Maria. Maria yang merasa akan terkepung diliputi rasa cemas, namun lagi-lagi ia beruntung
Maria pun tersenyum ketika melihat sekelompok waria yang tengah asyik berjalan sehabis dari warung bakso di samping pinggir jalan tersebut. Salah satu waria itu adalah langganan potong rambut Maria " Hai ....Say, lama enggak jumpa. Eh ....aku pinjam ini yach." dengan cepat Maria mengambil slayer milik waria tersebut dan membuat lapisan pada kerudungnya lalu melepaskan kacamatanya.
" Nanti aku kembalikan. Oya ada polisi ganteng di belakangku, Sayang lho jika kalian enggak kenalan sama dia. " Maria mengedipkan matanya. " Aduh.....ayang beb ini, bikin ana kaget. Bener ada cowok ganteng? " ucap waria itu dengan gaya manja. Maria tersenyum " Itu lihat saja." ucap Maria tersenyum.
Para Waria itu melihat Rama dan Agung seketika berteriak histeris laksana melihat artis korea lagi manggung. " Ya ampun...gantengnya, Aw......," ucap mereka mengagumi ketampanan Rama. Rama dan Agung terkejut karena tiba-tiba mereka di hadang waria. Konsentrasi Rama dan Agung pun buyar dikeroyok para waria itu sedangkan Maria yang telah berganti penyamaran dengan santai masuki warung bakso di pinggir jalan tersebut , Maria memesan bakso. Sambil menikmati semangkok bakso, Maria mengawasi Agung dan Rama yang gelabakan menghadapi para waria dari dalam warung.
" Ayo bang, kenalan dong." ucap para waria manja. " Maaf yach.., kami sedang sibuk. permisi....." ucap Rama sopan, walaupun ia tampak risih karena waria sudah pada menarik narik bajunya. " Ayo cabut Gung. " bisik Rama pada Agung. " lho....kok pergi, kita kan belum kenalan." ucap waria itu semakin manja. Rama tersenyum dan segera menarik Agung sebelum masalah jadi semakin besar. Maria menarik napas lega karena berhasil lepas dari Rama.
" Maaf Rama, mungkin belum saatnya kita bertemu, semoga saja ada kesempatan nantinya kita bertemu. Aku harus memastikan perasaanmu dulu." ucap Maria menatap kepergian Rama dan Agung.
Rama dan Agung berjalan bersama menuju kantor polres. Tiba-tiba Sigit datang dari arah belakang menepuk bahu Rama dan Agung.
.........
Sesampai di ruang kantor. Rama, Agung dan Sigit duduk sambil minum air putih di meja. Mereka nampak kelelahan. Budi dan Rangga menatap dengan heran. " Gimana ? " tanya Rangga. " Gagal bro, " jawab Sigit. " Kok bisa gagal. " ucap Budi. " Ia memakai kacamata mengelabui kami, lalu saat kami kejar kami malah di hadang sekelompok waria. Ia pun menghilang." ucap Agung. " Di hadang waria." ucap Budi tertawa. " Ah....Budi...." ucap Agung kesal. " untung masih sama Rama, kalau tidak Agung bakal jadi bulan-bulanan ." ucap Sigit kembali menggoda Agung. Tapi kali ini Agung tak marah, bahkan ia ikut tertawa. " Lalu apa sempat lihat wajah cewek itu ? " tanya Rangga.
" Tentu saja tak sempat, di mata kami hanya ada wajah para waria yang cantik - cantik ....., kami sampai terkagum-kagum ." ucap Agung masih tertawa lucu. Mereka kembali tertawa.
Rama menatap amplop surat pink yang baru saja ia terima, yang tentu saja berisi puisi yang empat dari Maria. Andai puisi itu dikirim lewat wa, mungkin Rama masih bisa membalas atau memberitahu ingin bertemu, tapi lewat surat.....
Rama hanya bisa membaca surat itu saja. Rama pun mulai membacanya......
................
__ADS_1
Saat pertama kita bertemu
Pertama kali mengusik perasaan asing
Saat pertama kau menyapa
Pertama kali pula debaran itu ada
Saat kau memandangku
Badai keteduhan merampas hatiku
Saat kita tak bertemu
Begitu rindunya aku padamu
Saat ku pejamkan mataku
Yang ada hanya wajahmu
Saat ku duduk sendiri
Terbayang kau di sampingku
Saat-saat penuh makna
Bahagia dalam kesedihan
Lalu tersadarlah aku
Bahwa " Aku Cinta Padamu. "
__ADS_1
................
" Siapa kau nona ? Mungkinkah sebenarnya kita pernah bertemu ? Tapi mengapa aku sama sekali tak tahu ?" ucap Rama menatap sendu.