
Rama mencoba menahan rasa cemburunya, beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Setelah agak tenang, Rama kembali menatap Maria dari kejauhan.
Sedangkan Maria menatap Lana yang berjalan lebih dulu bersama Gatot. Tinggal Nunik dan Maria. " Kau bareng aku Maria ? " tanya Nunik, Maria mengangguk. " Ya , tapi biarkan kak Lana dan kak Gatot pergi dulu yach. " ucap Maria. " Kenapa? " tanya Nunik tak mengerti. " Aku baru saja menolak kak Lana untuk pulang bareng. " ucap Maria jujur. " Kenapa kau selalu menghindar bila ada yang mendekatimu ? " tanya Nunik yang merasa aneh dengan sifat Maria. Maria memang lebih sering menghindar jika berurusan masalah cowok, rasa sakit hatinya karena cinta masih membekas.
" Mungkin aku tidak mau menyakiti dan disakiti. Untuk sementara aku ingin menenangkan diri." ucap Maria sendu. " Kamu ini seperti orang yang patah hati saja. Ayo...kita pulang." ajak Nunik. Maria mengangguk dan tersenyum. Maria dan Nunik pun berjalan bersama meninggalkan tempat itu, sedangkan Rama mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi. Rama masih menunggu waktu yang tepat untuk menghampiri Maria.
Di tengah perjalanan Nunik memisahkan diri karena sudah sampai di depan rumahnya,
" Mampir Maria ? " ucap Nunik menawarkan,
" Terima kasih Nik, aku harus pulang, Sudah jam setengah enam sore. " tolak Maria halus.
" Baiklah, hati-hati ya." ucap Nunik. Nunik dan Maria memang hampir seumuran. Nunik hanya seorang guru honerer di sekolah tersebut.
" Tumben perhatian ? " ucap Maria. " Soalnya, aku takut kamu di culik. " ucap Nunik bercanda. " Emang di tempat ini ada penjahat ? " tanya Maria tak percaya. " Ada, namanya penjahat cinta. " ucap Nunik setengah bercanda, Maria tertawa kecil. " Ah...enggak ada yang namanya penjahat cinta. " ucap Maria di sela tawanya,
" Jumpa lagi besok yach..." ucap Maria kemudian melambaikan tangannya.
Maria kembali berjalan menuju rumahnya. Para penduduk yang lalu lalang mulai agak sepi mungkin karena hari mulai agak senja.
__ADS_1
Maria kembali merasakan gugup, jantungnya berdetak keras. " Mengapa aku gugup sekali dan perasaan ini selalu datang ? " ucap Maria dalam hati sambil menggelengkan kepalanya mengusir perasaan itu. Maria mempercepat langkahnya. Ketika tiba di rumah sepupunya yang kini ia tinggali, Maria segera memasuki halaman rumah tersebut.
" Siapa bilang penjahat cinta tak ada ? " ucap Rama agak nyaring. Rama menampakan diri di belakang Maria. Maria.......begitu terkejut, tubuhnya langsung gemetar mendengar suara itu. Sungguh Maria tak berani menengok kebelakang karena ia sangat mengenal suara itu. Suara yang merdu khas Rama. " Apa mungkin Rama ada di sini ? Atau itu adalah hantu ? Ah...mana mungkin hantu ? " ucap Maria dalam hati sambil mencubit tangannya memastikan itu bukan mimpi. " Ah...sakit. Ini bukan mimpi." ucap Maria dalam hati. Karena merasa bukan mimpi, Maria langsung komat-kamit membaca surah An Nas, melakukan perlindungan diri. " Ya... Allah. Lindungi hamba." ucapnya lirih.
" Mengapa kamu diam Penjahat ? Lihat siapa yang datang ! " ucap Rama menghampiri Maria. Kini jarak mereka begitu dekat. Dan Maria menyadari bahwa memang Rama yang kini ada di dekatnya. " Ra...ma, mengapa...ia ada di sini ? apa yang...harus...ku.. lakukan ? " ucap Maria dalam hati dengan begitu gugup, jantungnya semakin berdetak keras. Maria tak menjawab, juga tak menoleh ke arah Rama yang kini berada di sampingnya. Dengan gerakan cepat Maria kembali berlari menuju rumah menghindari Rama. Ia berniat masuk ke rumah dan mengunci pintu. Entah kenapa pikiran aneh itu muncul, mengapa ia masih tak sanggup berhadapan dengan Rama ?
" Bodoh..." ucap Rama ketika melihat Maria berlari. Ia segera mengejar dan meraih tangan Maria dan langsung menguncinya ke belakang laksana seorang penjahat yang di tangkap seorang polisi. Rama terpaksa agak kasar karena Maria selalu melarikan diri. " Ah...." Maria berusaha melepaskan tangannya namun sia-sia karena cengkraman seorang polisi tentu saja sulit untuk dilepaskan.
" Kamu ingin melarikan diri ? Tidak semudah itu. Kau di tangkap penjahat ! " suara Rama begitu khas di telinga Maria. Kini mereka sangat dekat sekali. Deruan napas Rama terdengar di telinganya, bahkan menerpa pipinya, seandainya Maria tak berkerudung, mungkin napas itu telah mengusik daun telinganya. Tak terbayangkan perasaan Maria saat ini.
Rama tersenyum karena kini Maria tidak bisa berbuat apa-apa. Jantung Rama berdetak keras, Rama menarik napas dalam-dalam dan menghirup aroma tubuh Maria yang harum walaupun sehabis melakukan kegiatan pramuka. Begitu juga Maria, aroma khas tubuh Rama yang juga harum tercium olehnya walaupun sehabis melakukan perjalanan jauh.
Maria begitu terharu mendengarnya, meskipun kalimat yang Rama ucapkan seperti mencaci maki dirinya. Namun kalimat itu bagaikan kalimat surga yang datang padanya. Maria merasakan cinta yang mengalir dalam setiap kata-kata Rama untuknya.
" Apa lagi .... yang ingin ...... kamu lakukan ...... padaku Maria ? Ku mohon .... jangan melarikan...diri lagi...dariku. Aku bisa gila karena mu. Aku mencarimu kemana-mana dan hampir putus asa. Kamu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Kamu sama sekali tak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskannya. Dengar Maria, hanya kamu di hatiku, tidak ada yang lain. Kamu yang pertama untuk ku dan sungguh aku berharap kamu pula yang terakhir. Percaya lah Maria, perasaan ku padamu tulus dan nyata. " ucap Rama tiba-tiba melepaskan cengkramannya dan berdiri dihadapan Maria dengan jarak yang dekat. Di tatapnya Maria dengan tatapan mata berkaca-kaca. Kini Maria memberanikan diri menatap Rama. Mata Maria menatap Rama dengan berkaca-kaca pula. Dua orang yang saling mencintai kini saling bertatap mata dengan penuh cinta. Kerinduan menjalar di hati keduanya. " Aku.... mencintaimu... Maria. Aku sangat...mencintaimu. Aku tidak bisa... hidup tanpamu. Aku ...bisa ..mati karena cintamu. " ucap Rama yang langsung di tahan Maria dengan menutup mulut Rama dengan telapak tangan kanannya. Maria akhirnya menangis. Butiran bening kini berloncatan di pipinya yang putih. " Jangan ... kata itu ...Ram. Aku.. tak akan membiarkan ...kamu menderita. Maaf ...kan aku Ram, aku sungguh...tak menyangka akan membuatmu begini. " tiba-tiba Maria menghambur dalam pelukan Rama. Ia menangis sejadi-jadinya. Dada dan baju Rama pun basah dengan air mata Maria. Rama pun kini menangis. Air matanya berloncatan di pipinya. Ini lah akhir dari perjuangan cintanya, gayung cinta telah bersambut. Rama memeluk erat Maria. " Aku.... mencintaimu .... Rama. Aku sangat .... mencintaimu. " ucap Maria bertubi-tubi. Rama mengusap kepala Maria dengan lembut. Di darat kan nya ciuman nya di kerudung cewek yang sangat di cintainya itu. Seandai nya telah halal tentu saja Rama akan mencium lembut bibir Maria saat itu juga. " Aku tahu." bisik Rama lembut.
" Aku sangat mencintaimu Rama dan penjarakanlah aku di hatimu untuk selama-lamanya." ucap Maria mendongangakan kepalanya menatap orang yang sangat di cintai nya. Ia juga melihat air mata Rama yang membasahi pipi. Ia tahu Rama juga menangis. Begitu dalam cinta mereka, tak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagian yang di alami ke dua insan yang saling jatuh cinta ini.
Rama mengusap lembut air mata Maria dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih erat memeluk cewek itu. " Tentu saja, pak polisi akan memenjarakan penjahat cinta di hatinya selama-lamanya, hingga hanya maut yang dapat memisahkannya. Aku janji padamu akan mencintaimu dan berada di sisimu untuk selamanya. " ucap Rama mengucapkan janji cintanya untuk Maria. Maria tersenyum, bunga-bunga kebahagian bermekaran di hatinya. " Aku juga janji padamu akan mencintaimu dan berada di sisimu untuk selamanya. " ucap Maria pula mengucapkan janji cintanya untuk Rama. " Sampai maut memisahkan." ucap Rama kembali. " Sampai maut memisahkan. " ucap Maria. Mereka mengikat cinta mereka dengan janji yang kuat. Rama dan Maria saling bertatapan mesra, kemudian mereka pun tertawa kecil dengan bersamaan. Maria memeluk erat Rama kembali dan Rama pun kembali memeluk erat Maria dalam dekapannya, sesekali ciumannya mendarat di kerudung Maria.
__ADS_1
" Pak polisi, apa gelar penjahat cinta masih berlaku untukku ? " tanya Maria sambil mendengar detakan jantung Rama. " Em...tentu saja. " ucap Rama di sela tawa kecilnya. Maria sungguh cemberut di buatnya. " Jahat sekali gelar yang kau berikan. " ucap Maria memukul dada Rama dengan gemasnya. " Bagaimana tidak. Ini saja kamu pukul aku. Kalau di lapor kan bisa kena pasal em..." ucap Rama memencet mesra hidung Maria yang kini jadi kekasihnya. " Ih....jahat. " Maria membalas mencubit Rama, Rama berusaha menghindar namun sesekali cubitan itu mendarat juga di pinggang dan tangannya. Rama dan Maria tertawa bahagia. Rama kemudian menangkap tangan Maria, keduanya kembali saling bertatapan mesra kembali. Rama mencium lembut tangan Maria. " Gelar kamu itu banyak, bukan hanya penjahat cinta, tapi juga pujaan hati, kekasihku, pacarku, cintaku, sayangku, cewekku. Nah...kamu mau apa lagi nanti ku kasih. " ucap Rama, Maria tersipu malu mendengarnya, wajahnya bersemu merah. Rama menatap Maria sambil tersenyum, ia sungguh senang berhasil membuat Maria bersemu merah karena malu.
" Ram, jangan menatapku seperti itu." ucap Maria menghindar dari tatapan Rama. " Aku berhak menatap kekasihku. " ucap Rama dengan senyuman yang membuat wajahnya semakin tampan. " Ram..., " ucap Maria yang tak tahan menahan malu akhirnya mendaratkan kepalanya ke dada Rama kembali. Rama memeluk Maria.
" Sayangku, apa kekasihmu tidak di persilahkan masuk ? aku baru saja dari perjalanan jauh. " ucap Rama. " O..iya kamu ke mari pake apa? " ucap Maria heran melihat Rama cuma berjalan kaki. " Pake motor tapi motornya di parkir sementara di halaman penduduk. Aku harus betul-betul mencari kamu dulu. " ucap Rama. Saat itu Rama berpikir lebih mudah mencari Maria dengan berjalan kaki. " Kalau gitu ayo masuk. " ajak Maria. Rama dan Maria berjalan sambil bergandengan tangan.
Tiba-Tiba Maria berhenti. " Ram, matahari tenggelam." ucap Maria menatap matahari yang tenggelam di balik awan senja. Nampak panorama senja yang begitu indah. " Indah ya..." ucap Maria lirih. " Iya indah..." ucap Rama sambil menatap Maria. " Kamulah yang paling indah dalam hidupku. Kamu adalah keajaiban dunia ini bagiku. " ucap Rama dalam hati. Rama tersenyum kemudian ia ikut menatap matahari tenggelam bersama Maria. Pemandangan senja hari yang begitu indah.
" Maria sayang. Aku sudah melapor ke kapala desa, pa Karim. Beliau bertanya apa yang aku lakukan di tempat ini dan aku bilang bahwa aku sedang mencari isteriku yang tentunya adalah kamu." ucap Rama mengaku, sambil masih menatap matahari yang tenggelam. Bukan main terkejutnya Maria mendengarnya. " Ram... kamu...." ucap Maria terkejut namun belum lagi ia melanjutkan kalimat protesnya, azan magrib berkumandang. Rama tersenyum ia selamat dari omelan kekasihnya yang tentunya bakal panjang.
" Azan sayang. Omelan nanti saja. Kita shalat dulu. " ucap Rama sambil tersenyum manis. Maria menatap dengan gemes sekali. Ingin sekali ia melepaskan pegangan Rama, namun tak bisa karena Rama malah memegangnya semakin kuat.
Rama dan Maria masuk ke dalam Rumah. Senja indah saat matahari tenggelam itu menjadi saksi keindahan cinta mereka.
Bersambung
Bagaimana cerita selanjutnya ? Apa yang akan Maria lakukan pada Rama ? Bagaimana kisah cinta Rama dan Maria ? Dan bagaimana dengan dokter Aldi ? Akankah dokter Aldi merebut cinta Maria ? Atau malah patah hati karena Maria dan Rama telah bersama ?
Ikuti ceritanya. Dan dukung aku yach.
__ADS_1