14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
XLVII BERTEMU CALON MERTUA


__ADS_3

Maria tersenyum manis ketika melihat dokter Aldi dan Rama tampak akrab seperti teman lama. Kedua cowok berwajah sangat tampan itu tampak memukau. Keduanya masing-masing punya kelebihan yang berbeda.


" Ram.., pak dokter..." sapa Maria membuat perbincangan Rama dan dokter Aldi terhenti.


" Sudah selesai..." ucap Rama ketika melihat Maria menjinjing tas ranselnya, dengan sigap Rama segera membantu sang kekasih. " Ya.." jawab Maria sambil mengangguk. " Tapi kita pamit dulu sama pak Karim dan kak Gatot. " ucap Maria lagi, Ia merasa tak enak jika harus pergi tanpa berpamitan. Rama mengangguk menyetujui.


Rama menghampiri dokter Aldi dan menyalaminya. " Kami permisi dok, senang berkenalan denganmu. Lain kali kita berbincang-bincang lagi. " ucap Rama sopan. Dokter Aldi menatap sayu ke arah Maria, Maria membalas dengan senyuman. " Aku yakin kau kuat pak dokter. " ucap Maria dalam hati. " Sampai jumpa lagi pak dokter. Terima kasih banyak sudah bersama dalam kegiatan ini. " ucap Maria tulus, walau sebenarnya ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada dokter Aldi.


Dokter Aldi menarik napas dalam-dalam, begitu berat rasanya, serasa ada sesuatu yang menghimpit dadanya. " Jauh-jauh aku datang untuk menjemputmu jadi kekasihku, namun apa daya ternyata aku telah terlambat. Kau telah bersama orang lain. Maria betapa aku mencintai mu...., bagaimana aku harus melupakanmu....? " keluh dokter Aldi berkali-kali namun bagaimanapun juga ia harus menerima kenyataan pahit itu.


Dokter Aldi memaksakan senyumnya. " Hati-hati di jalan. Mungkin rombongan kami akan pulang besok pagi. " ucap dokter Aldi mencoba berbasa-basi. " Tolong sampaikan salam saya pada dokter Alfi. " ucap Maria merasa tak enak karena sepertinya ia tak sempat berpamitan dengan dokter Alfi karena dokter Alfi masih sibuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Dokter Aldi mengangguk. " Saya juga titip salam dengan dokter Alfi. Pa dokter, terima kasih banyak sudah bersama Maria selama ini. " ucap Rama menjabat tangan dokter Aldi. Mereka bertiga pun saling tersenyum.


Maria dan Rama kemudian meninggalkan dokter Aldi. Dokter Aldi memandangi kepergiaan Maria dan Rama dengan perasaan yang sangat terluka. Kembali dokter Aldi menarik napas dalam-dalam, ia berusaha menenangkan hatinya. " Sangat sakit...ketika mengetahui orang yang kita cintai mencintai orang lain, mungkin seperti ini sakit dan terlukanya Aldo ketika tahu bahwa Erika mencintaiku. Maafkan aku Aldo tanpa sengaja aku menyakiti hatimu...." ucap dokter Aldi dalam hati.


Tiba-tiba dokter Alfi menepuk bahu dokter Aldi. " Ah..kau bikin kaget saja. Maria pulang bersama Rama Fi...., dia titip salam untukmu. " ucap dokter Aldi sendu. " Kamu patah hati sobat...." ucap dokter Alfi sambil menepuk bahu dokter Aldi. Dokter Aldi tersenyum.


" Tentu saja, cinta pertama kandas sebelum bersemi. Menyakitkan mengetahui cinta ini bertepuk sebelah tangan. " ucap dokter Aldi dengan sedih.


" Tak apa sobat. Dunia belum kiamat. Kalau jodoh bukankah tak akan kemana. Kalaupun tak jodoh, kau tahu dia bahagia dengan orang yang ia cintai. Bukankah orang yang betul-betul mencintai lebih mementingkan kebahagiaan orang yang dicintai. Kau akan jatuh cinta lagi sobat. " ucap dokter Alfi mencoba menenangkan perasaan dokter Aldi. Sebenarnya perkataan itu juga berlaku untuk dirinya yang juga patah hati, walau tak separah dokter Aldi karena ia baru saja mengenal Maria.

__ADS_1


" Emmm...pandai sekali kau memberi nasehat..." ucap dokter Aldi tersenyum ke arah dokter Alfi. " lha...iyalah..., aku kan seorang dokter. Emmm...dari pada kau terus meratapi nasib mending kau bantu pekerjaan ku. " ucap dokter Alfi tersenyum. " Ah...mau kamu tuh..." dokter Aldi akhirnya ikut tersenyum. Ia pun mengangguk. Dokter Alfi dan dokter Aldi berjalan menuju ruang dokter Alfi. Sejenak dokter Aldi melupakan rasa sakitnya.


" Ngomong-ngomong, sihir apa yang dilakukan Maria hingga pekerjaanmu cepat selesai ?" tanya dokter Alfi penasaran. " Emmm dia..pandai mengalihkan perhatian...., pandai bercerita, menyanyi dan membangkitkan semangat sehingga membuat hati senang." ucap dokter Aldi membayangkan Maria di hadapannya.


" Wah...beruntung sekali kau, di temani nyanyian sambil kerja. Pantas cepat selesai. Bagaimana ia menyanyi ?" tanya dokter Alfi penasaran. " Ya...merdulah..." ucap dokter Aldi jujur, karena ia pun tak menyangka Maria pandai menyanyi sampai membuatnya terkagum-kagum. " Serius ....?" ucap dokter Alfi tak percaya. " Yang benar saja Fi...., masa aku bohong padamu." ucap dokter Aldi agak kesal. Dokter Alfi tersenyum...." Iya aku percaya. Wah...pengennya dengar suara Maria...." ucap dokter Alfi penuh harap. Dokter Aldi tersenyum lucu. " Kaya nya bakal tak ada kesempatan lagi, sudah jadi milik orang. " ucap dokter Alfi dengan nada sedih.


" Emmm...kamu ini ikut-ikutan seperti orang sedang patah hati." ucap dokter Aldi spontan. Deg....,dokter Alfi langsung gugup dibuatnya, dengan sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan perasaannya dari dokter Aldi. Sungguh dokter Alfi betul-betul tak ingin dokter Aldi mengetahui kalau ia juga jatuh cinta Maria. Dengan cepat dokter Alfi tersenyum lucu " Ya...aku ikut merasakan rasa patah hatimu itu yang sepertinya meledak hingga aku ikut terkena imbasnya. " ucap dokter Alfi sekenanya. Dokter Aldi akhirnya ikut tersenyum dan meninju bahu dokter Alfi. " Lha...sakit Di. Padahal aku sudah menemani mu patah hati berjamaah..." ucap dokter Alfi cemberut sambil mengusap bahunya yang kena tinju. Dokter Aldi akhirnya tertawa kecil, melihat dokter Aldi tertawa akhirnya dokter Alfi pun ikut tertawa. Mereka pun tertawa bersama. Dokter Aldi merasa terhibur, beban berat di hatinya pun berkurang dengan keberadaan dokter Alfi sahabatnya yang selalu memberikan dukungan.


Sementara itu Maria dan Rama menemui Gatot dan Pak Karim yang memang sedang berada di tempat itu. Sebelum berpamitan, Pak Karim mengajak makan siang bersama.


" Terima kasih banyak, sudah membantu kami selama ini." ucap pak Karim sesudah makan siang bersama, sambil menyalami Maria dan Rama. " Sama-sama pak, terima kasih juga sudah menjaga isteri saya pak. " ucap Rama. Maria mencoba tersenyum. Di hadapan pak Karim mereka adalah suami isteri, sedangkan Gatot juga mengetahui hal itu dari pak Karim. Meski hal itu tak benar namun sangat membantu mempermudah mereka berdua. Seandainya mereka diketahui bukan suami isteri mungkin Rama tak bisa membawa pulang Maria bersamanya.


Rama menaiki motornya di ikuti Maria. Lalu dengan perlahan menghidupkan mesin motor tersebut. Sebelum pergi Rama dan Maria melambaikan tangan kepada pak Karim dan Gatot. " Selamat jalan..." ucap pak Karim membalas lambaian tersebut. " Ya pak, semoga bisa berjumpa kembali." ucap Rama sambil tersenyum.


Perlahan-lahan Rama dan Maria meninggalkan tempat itu. Setelah agak jauh dan menuju jalan keluar perbatasan desa, Rama pun berkata dengan agak nyaring diantara deru mesin motor. " Maria , peluk aku erat-erat." ucap Rama, Maria begitu terkejut mendengar permintaan kekasihnya.


" Ram...kita kan belum...." ucap Maria mencoba mengelak. Rama menarik napas dalam-dalam. " Sayang..., aku tak mau kau jatuh....karena aku akan melaju dengan kecepatan tinggi. " ucap Rama jujur. " Rama jangan ngebut, itu bahaya..." ucap Maria tak setuju. " Tenang saja, jangan khawatir yang penting kita cepat sampai. " ucap Rama menghentikan mesinnya. " Tapi...kan bahaya, biar lambat asal selamat Ram..." ucap Maria masih protes. Rama menoleh sang kekasih dan menatapnya. Sejenak pandangan mereka beradu. Maria dan Rama sama-sama merasa jantung mereka berdetak kencang.


" Ha...jangan menatapku seperti itu , kau membuat aku gugup Ram..." ucap Maria jujur. Rama tersenyum. " Aku juga gugup saat menatapmu. Percayalah padaku, aku sudah terlatih mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Apa kekasihku lupa kalau aku seorang polisi yang sering kejar-kejaran dengan penjahat ? Maria sayang, justru aku lebih takut jika kita belum halal. Aku takut aku lepas kendali. Sekarang yang penting kita cepat sampai dan segera bertemu kedua orang tuamu...emm..." ucap Rama lembut, Maria yang melihat kesungguhan dan ketulusan di mata Rama segera memeluk erat Rama dari belakang. Rama tersenyum dan mengusap punggung tangan kekasihnya dengan lembut. Maria menyandarkan kepalanya di belakang punggung Rama.

__ADS_1


" Sayang, pelukanmu begitu hangat. " ucap Rama lirih. Maria pun tersenyum. " Kau membuatku sangat nyaman Ram...." ucap Maria dengan lembut pula . Rama tersenyum bahagia, ia kembali menghidupkan mesin motornya dan kali ini melaju dengan kecepatan tinggi. Rama begitu lihai bahkan di jalan sulit sekali pun ia masih bisa melaju cepat. Maria merasa seakan-akan dibawa Rama terbang tinggi. Angin deras menerpa keduanya.


Waktu tempuh perjalanan pun menjadi lebih singkat. Tepat pukul 5 sore, Maria dan Rama pun sampai di kota mereka. Rama terus melaju menuju Rumah Maria. Maria agak terkejut Rama tahu jalan menuju rumahnya.


" Ram..., dari mana tahu rumahku...? " ucap Maria agak nyaring di antara deru mesin motor. " Dari Anggi..." ucap Rama. Rama menghentikan mesin motor tepat di halaman rumah Maria. Rumah yang sederhana namun sangat bersih, rapi dan tertata indah. Maria memang berasal dari keluarga sederhana.


" Ram..., kamu yakin....ingin sekarang juga ketemu ayah dan ibu....? " tanya Maria agak khawatir. Rama mengangguk pasti, walaupun sebenarnya ia tak luput juga dari rasa gugup. " Aku harus siap untukmu." ucap Rama meyakinkan. Maria menatap Rama lembut. Ia tahu bahwa Rama sedang gugup walaupun ia mencoba meyakinkannya. Perlahan-lahan Maria menggenggam tangan Rama, ia ingin memberi semangat kekasihnya yang kini sedang berjuang untuk mendapatkan dirinya. Rama tersenyum bahagia, genggaman tangan Maria sungguh sangat berarti baginya saat ini.


Rama dan Maria berjalan menuju pintu rumah. Perlahan-lahan Maria mengetuk pintu. " Assalamu'alaikum....." ucap Maria agak nyaring. Tak beberapa lama terdengar langkah kaki dari dalam dan perlahan-lahan pintu pun terbuka. Nampaklah Iqbal, sang adik yang agak terkejut melihat Maria.


" Lha...kok kk di sini ? Bukankah...masih lama...? " ucap Iqbal, Maria tersenyum saja. Iqbal yang masih penasaran karena Maria tak menjawab pertanyaannya semakin terkejut ketika melihat cowok berwajah sangat tampan yang berada di samping Maria. " Kakak.....siapa....? " ucap Iqbal hampir tak mampu melanjutkan kalimatnya karena terpesona. " Dia calon kakak iparmu. " ucap Maria pelan. Iqbal semakin terkejut, ia hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Karena selama ini Maria tak pernah pacaran dan bawa cowok ke rumah tapi sekarang malah langsung membawa pasangan. Rama tersenyum melihat tingkah sang adik ipar.


" Sudah...simpan dulu rasa ingin tahu mu itu. Papa ada...? " tanya Maria. " Ada kak..., em ...ayo masuk ." ucap Iqbal melebarkan pintu agar Maria dan Rama dapat masuk. Rama dan Maria pun masuk ke dalam rumah.


Dan Maria pun terpaku ketika ayahnya nampak duduk di ruang tamu sambil menikmati kopinya. Pak Johan menatap Maria dan Rama. Dan saat menatap Rama , pak Johan menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rama begitu gugup namun sedapat mungkin ia mencoba tersenyum dengan penuh hormat dan mendekati Pak Johan dan bersalaman mencium punggung tangan Pak Johan dengan takzim. Pak Johan tersenyum Ramah. " Ngomong-ngomong siapa ini..? " tanya Pak Johan menatap Maria dan Rama bergantian. Maria menghampiri ayahnya dan mencium tangan ayahnya dengan takzim pula. " Ia .....kekasih ku ...papa. Dan....datang kesini untuk....meminta restu....agar kami dapat segera menikah." ucap Maria hati-hati. Pak Johan begitu terkejut, ia pun menatap Rama. Rama mengangguk. " Saya ingin melamar puteri Bapak. " ucap Rama tanpa ragu-ragu.....


BERSAMBUNG


Bagaimana kisah selanjutnya ? ikuti ceritanya.

__ADS_1


Terima kasih banyak telah membaca cerita ini.


__ADS_2