
Rama berjalan gontai, hari telah menunjukan pukul 22.00 , jam 10 malam. Rama telah mencari Maria kemana-mana namun hasilnya masih nihil. Mungkin jalan yang terakhir yang Rama tempuh adalah mendatangi kantor catatan sipil atau pasang iklan.
Rama sudah bingung, ia telah menanggalkan rasa malu dan ego nya. Demi mencari Maria, ia telah bertanya ke sana kemari dengan hanya bermodalkan sebuah fhoto. Ia juga kembali mendatangi cafe dimana Maria dan teman-temannya biasa kesana. Bahkan berpesan kepada penjaga cafe agar menghubunginya jika bertemu Maria atau mempunyai informasi tentang Maria. Tidak cuma itu, ia juga tak putus asa selalu menghubungi nomor telepon Maria berpuluh- puluh kali bahkan hampir tak terhitung lagi. Sedangkan nomor telepon itu tetap tidak aktif. Seandainya di kotanya ada detektif , mungkin Rama akan menyewanya. Rama telah melakukan segala upaya untuk menemukan Maria.
Ketika Rama berjalan tiba-tiba hujan turun lebatnya Rama pun berteduh di emperan toko yang sudah tutup. Disana nampak beberapa orang yang juga berteduh. Jalan telah hampir sepi karena hujan begitu lebat.
Rama menatap hujan di jalan raya dengan sedih. Andaikan hujan bisa menyampaikan pesan dan andai bulan bisa ngomong , tentunya tak akan bohong tentang cinta yang kini ia alami. Rama menggeleng kepala.
Tiba-tiba di jalan raya, Rama melihat dua cewek yang memegang payung sedang berjalan tergesa-gesa. Salah satu cewek itu sangat mirip dengan Maria. Tanpa pikir panjang Rama pun mengejarnya, ia tak perduli basah kuyup, ia tak ingin kehilangan Maria lagi.
" Maria tunggu ! " ucap Rama setengah berlari. Rama pun memegang pundak salah satu kedua cewek yang ia duga adalah Maria, namun ketika cewek itu membalikan badannya ternyata ia bukan Maria. Tubuh Rama langsung lemes.
" Maaf...., saya salah orang. " ucap Rama sedih. Kedua cewek itu tersebut terpana melihat ketampanan Rama, namun Rama malah berjalan meninggalkan kedua cewek itu dalam kehujanan.
Rama membiarkan dirinya kehujanan, Rama sepertinya hampir putus asa. Ia berharap hujan membawa kesedihannya.
.....
Seandainya aku bisa teriak , maka aku akan teriakan namamu.
Seandainya aku bisa meraung, maka raungan tangisanku adalah penyesalanku tak bisa bertemu denganmu.
Seandainya waktu bisa ku putar ulang, maka aku tak akan melepaskanmu
Betapa pencarian ini membuatku putus asa
Mengapa kau mencintaiku tapi juga ingin melupakanku ?
__ADS_1
Mengapa kau mendekatiku tapi kemudian menjauhiku ?
Mengapa kau buat aku mencintaimu tapi kemudian kau tinggal kan aku ?
Tolong.......jangan siksa aku dengan cintamu.
Jeritan hati Rama di tengah hujan yang membuatnya basah kuyup.
.......
Tepat pukul 24.00, jam 12 malam Rama baru pulang ke rumahnya. Maya dan Adel serta pembantu rumahnya sudah tidur. Rama dengan mudah masuk ke dalam rumah karena Rama mempunyai kunci cadangan.
Sesampai di kamarnya Rama segera mandi dan mengganti bajunya lalu meminum obat penurun panas ( paracetamol ) sebagai pencegahan. Rama kemudian berbaring di tempat tidur sambil memandang fhoto Maria. Saat menatap fhoto Maria , Rama kembali terbayang Maria dan surat puisi cinta yang di kirimkan Maria untuknya. Tiba-tiba berjatuhan air matanya dan akhirnya Rama pun terisak tanpa suara, kini ia benar-benar menangis sedih yang tak dapat tertahan lagi. Kesedihan telah memuncak. Begitu menyedihkan dirimu Rama. Seandainya ada yang melihatmu maka orang itu pasti ikut menangis karena tangisanmu betul-betul menyayat hati.
Rama tertidur namun tidurnya lagi-lagi dalam kegelisahan. Ia mulai mengigau menyebut nama Maria. Sebentar-sebentar badannya balik samping kanan dan kiri. Rama pun terserang demam tinggi. Rama....saat demam kamu menyebut nama Maria, rupanya kamu begitu mencintai Maria.
Sementara Maria, bagaikan terhubung oleh ikatan batin yang saling mencintai dengan Rama, bermimpi buruk tentang Rama. Ia melihat Rama yang kehujanan di tengah jalan dan tiba-tiba ambruk begitu saja di jalan raya tersebut. " Ram....!" Maria berlari sambil menangis mendekati Rama yang ambruk di tengah jalan dan tak bangun lagi, di guncang-guncangnya tubuh Rama dengan deraian air mata. " Ram... bangun Ram ! bangun Ram ! aku disini untukmu Ram..., Rama....Rama..! " Maria menangis histeris.
Ini malam pertama ia bermalam di tempat itu. Maria merasa tak enak karena bermimpi buruk, apalagi mimpi itu tentang Rama. Untuk menenangkan hatinya, ia pun berwudhu kemudian shalat tahajud dan berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan Rama, entah mengapa bagi Maria mimpi itu menandakan bahwa Rama dalam bahaya.
" Ya Allah....jika terjadi sesuatu yang buruk pada Rama maka lindungilah ia, hindarkanlah ia dari segala marabahaya. Ya Allah....kabulkanlah doa hamba." Maria pun berdoa di sujud terakhir shalat tahajud nya. Entah mengapa air matanya menetes dengan sendirinya. Seberapa pun Maria berusaha melupakan Rama namun rasa cinta itu tidak akan pergi begitu saja.
.......
Keesokan paginya. Hari ke dua belas dari 14 hari, tinggal 2 hari lagi.
Rama masih terbaring dipembaringan dengan berselimut, ia masih demam tinggi. Matanya terasa panas. Tubuhnya terasa sakit. Padahal sesudah kehujanan Rama langsung mandi agar tidak terkena flu, ia juga minum obat penurun panas namun panas badannya masih tinggi.
__ADS_1
Maya yang merasa anaknya tak jua datang untuk makan pagi menjadi curiga, ia segera pergi ke kamar Rama. Dan untung kamar tersebut tidak terkunci.
Ketika masuk ke dalam kamar, Maya pun sangat terkejut melihat Rama yang masih berbaring dengan selimutnya. " Kamu kenapa Ram....? " ucap Maya segera menghampiri Rama dengan perasaan cemas. Di rabanya kening Rama. " ha....panas Ram. Ram....! kamu kenapa sampai demam begini ? " ucap Maya mengguncang-guncangkan tubuh Rama.
" Mama. " ucap Rama lemah, ia membuka matanya dan mencoba bangun dengan bersandar di ranjangnya. " Kita ke rumah sakit yach ? " ucap Maya dengan setengah memaksa. " Rama cuma demam ma, nanti juga sembuh. " tolak Rama. " Kalau gitu, mama panggilkan dokter. " ucap Maya tetap saja khawatir. " Mama, Rama tidak apa-apa. Mama tidak perlu panggil dokter. " ucap Rama keras kepala. Maya menarik napas dalam-dalam.
" Kalau gitu mama akan buatkan kamu bubur, kamu harus makan." ucap Maya, Rama mengangguk pelan. Ia mencoba tersenyum di hadapan ibunya.
Maya meninggalkan kamar Rama menuju dapur, di dapur nampak bibi Inah pembantu rumah tangga mereka sedang bersih-bersih.
" Bi..., bantu saya buatkan bubur buat Rama. " ucap Maya pada bibi Inah. " Den. Rama kenapa nyonya ? " tanya bibi Inah penasaran. " Rama sakit bi...., oya ...Adel pak Karim aja yang antar ke sekolah. Bibi beritahu pak Karim dulu baru bantu saya buatkan bubur. " ucap Maya, bibi Inah segera pergi memberi tahu pak Karim tukang kebun mereka. Meskipun pak Karim adalah tukang kebun tetapi bila diperlukan bisa juga menjadi sopir.
Maya yang begitu gelisah akhirnya menelpon Sigit. " Hello Sigit....? " ucap Maya. " Iya tante, ada apa tante ? " tanya Sigit. " Kamu bisa kemari enggak ? " ucap Maya. " Kenapa tante ? " Sigit kembali bertanya. " Rama Sakit Git, kamu tau kan Rama keras kepala. Ia tak mau ke rumah sakit atau diperiksa dokter. Tolong kasih ia nasehat agar mau berobat. Git....perasaanku tak enak, akhir-akhir ini Rama begitu aneh, ia sering keluyuran. Katanya ada seseorang yang harus ia carinya. Aku juga ingin membicarakan itu sama kamu. " ucap Maya. " Iya tante kami akan segera ke sana. " jawab Sigit cepat.
Sigit segera menghampiri Rangga, Budi dan Agung yang baru saja tiba di kantor mereka.
" Bro, Rama sakit. " ucap Sigit. Budi, Agung dan Rangga langsung terkejut mendengar kabar itu.
" Sakit apa ? " tanya Agung. " Aku lupa menanyakannya, Ibunya tadi yang menelepon. " ucap Sigit. " Kalau begitu, ayo kita kesana. " ucap Rangga. Mereka berempat segera beranjak pergi menuju rumah Rama dengan mengendarai motor masing-masing. Mereka berempat sangat mengkhawatirkan Rama.
" Rama ...., apa yang terjadi padamu ? " ucap Sigit begitu cemas.
Cerita bersambung. Bagaimana kabar Rama selanjutnya ? Apakah Rama nantinya bertemu Maria ? Bagaimana dengan dokter Aldi yang lagi jatuh cinta ?
Terus ikuti cerita ini
.
__ADS_1
.
.......