
Pak Johan tersenyum " Jika dia lolos ujian terakhir ini, Papa tak akan mempermasalahkan cinta kalian lagi. " ucap Pak Johan beranjak meninggalkan tempat itu. Maria tertegun, ia takut ayahnya bakal memberikan ujian yang sulit. Bu Ratna menepuk bahu puteri kesayangannya. Maria agak terkejut di buatnya. " Mama. " ucapnya menatap sang ibu. " Tenang saja Maria, pokoknya mama di pihakmu. Mama akan dukung hubunganmu dan Rama. " ucap Bu Ratna mencoba memberi semangat. Maria mengangguk dan mencoba tersenyum. Maria pun membawa sisa-sisa makanan, piring, dan cangkir di atas talam ke ruang dapur untuk di bersihkan.
Di tengah jalan, tiba-tiba Maria berpapasan dengan Rama. Rama dengan sigap menarik Maria ke belakang pintu. Bukan main terkejutnya Maria, hampir saja ia menjatuhkan apa yang ia bawa. " Rama...." ucap Maria tertahan, tangan Rama dengan lembut menutup mulut kekasihnya agar tak berteriak keras. Rama tersenyum. Tanpa menunggu perintah, Rama menghujani Maria dengan ciuman. Wah...πMaria tentu saja tak bisa menghindar karena ia sedang membawa piring dan cangkir di atas talam. " Rama...." desah Maria tak karuan, Rama mengusap bibir Maria dengan lembut. " Aku butuh tambahan energi untuk menghadapi ayahmu. Tolonglah...." bisik Rama begitu dekat di telinga Maria. Jantung Maria langsung berdebar tak karuan. Ia tahu apa yang di inginkan kekasihnya saat ini. Saat ini Rama memang sangat membutuhkan dorongan semangat dari orang yang ia cintai.
Rama menongakan kepala Maria, Ia kemudian mencium bibir Maria dengan lembut, mengemutnya dengan manis, mengakses setiap sudut bibir yang telah membuat ia menjadi candu. " Rama...." desah Maria tak karuan di sela ciuman Rama yang memabukan. Maria semakin berdebar dibuatnya. Ketakutan juga menghantuinya, ia takut ada orang melihat apa yang mereka lakukan. Namun Maria akhirnya jatuh terhanyut dalam ciuman itu. Sial....ia juga menyukai ciuman itu.πππ Ia juga merasa candu dengan ciuman itu.πππ
Di tengah manisnya ciuman sang kekasih, Maria berusaha bangkit keluar dari gairah yang telah melanda dirinya dan Rama , apa lagi saat ia samar-samar mendengar pintu kamar Iqbal terbuka, ia pun susah payah berusaha keluar dari ciuman sang kekasih yang sangat memabukan tersebut. Dengan cepat Maria mendorong tubuh Rama agar berhenti menciumnya. Rama menghentikan ciumannya, kabut gairah masih terpancar lewat tatapan matanya, sungguh ia masih ingin mencium bibir sang kekasih. " Iqbal...." bisik Maria mengingatkan kalau mereka meneruskannya maka Iqbal adiknya akan memergoki mereka berdua.
Iqbal keluar dari kamarnya dengan membawa handuk mandi dan pakaian ganti yang sengaja ia bawa untuk Rama. Saat melihat Rama dan Maria di balik pintu dengan jarak yang sangat dekat membuat ia agak terkejut. Untung saat itu ia tak sempat melihat Maria dan Rama sedang berciuman.
" Kak Rama, ini handuk dan pakaian gantinya. Ooo....apa aku mengganggu kalian ? " ucap Iqbal menutupi matanya. " Kami tak lakukan apa-apa ...? " ucap Maria gugup dan malu, Ia tak biasa berkata bohong. " Tak apa kak, aku tak akan mengadu kok..." ucap Iqbal serius, namun hal itu membuat Maria menjadi kesal. " Iqbal...., kamu......" ucap Maria melotot kearah Iqbal. π‘ " Yah...kak , kok aku yang di marahi, kan aku membela kakak. " ucap Iqbal polos, Maria semakin kesal bercampur malu. Rama tertawa kecil melihat wajah Maria yang memerah karena kesal dan malu.
Mendengar Rama tertawa. Maria pun balik melotot ke arah Rama. Melihat tatapan mata sang kekasih yang tajam dan menusuk, membuat Rama berusaha menahan tawa, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai tatapan mata Maria yang begitu indah, namun ia tak ingin Maria semakin marah. " Ram....., jangan ketawa. " ucap Maria cemberut.π‘ Giliran Iqbal yang tertawa melihat kakak nya yang tampak kesal dengan sang kekasih.
__ADS_1
" Ha...ha...kak Rama, tatapan mata kakak itu bisa membuat mati berdiri lho....." ucap Iqbal tertawa lucu. Maria semakin kesal dengan kedua cowok tampan yang kini ada di hadapannya. " Ram..., semua gara-gara kamu." ucap Maria berlalu dengan perasaan yang masih kesal bercampur malu. π‘π Rama dan Iqbal pun tertawa bersama.
Rama sungguh bahagia, karena baginya Maria adalah pembawa kebahagian dan membuat membuat hidupnya penuh warna.
Maria membersihkan piring dan cangkir serta peralatan dapur yang kotor dan sambil memasak menu kesukaan keluarga. Bau harum masakan tersebut pun tercium dan memenuhi ruangan dapur bahkan sampai masuk ke kamar mandi.
Tentu saja, Rama mencium bau harum masakan tersebut karena ia berada di kamar mandi. Rama tersenyum, kenangan manis saat mereka bersama muncul di benaknya.
Di tengah jalan, ketika lewat di kamar mandi. Maria kembali berpapasan dengan Rama yang baru saja mandi. Rama keluar kamar mandi dengan celana panjang, namun tak memakai baju hanya handuk yang bergantung di bahunya. Maria tentu saja kaget sekali dibuatnya. Meskipun Rama menutup auratnya namun dada yang bidang serta roti sobek di perutnya membuat ia tampak gagah. Beberapa kali, Maria menelan slavinanya karena pemandangan itu sungguh menggoda imannya. Maria menatap Rama.
" Rama pakai bajumu....." ucap Maria dengan kesal. " Lha...ini bukan aurat ....sayang. " ucap Rama mengelak, Maria makin kesal dibuatnya. " Pokoknya pakai...." ucap Maria agak keras. Maria yang mendorong Rama kembali ke dalam kamar mandi tanpa sengaja menyentuh dada Rama, hingga ikut masuk ke dalam kamar mandi. Maria langsung gugup di buatnya dan hampir terpeleset. Rama dengan cepat menangkap tubuh Maria. Kembali tanpa sengaja posisi mereka malah sangat dekat dan berhadapan. " Sial......." ucap Rama yang kini malah kesal karena junior nya langsung terpancing dan berdiri tegak menjulang. " Ah..." erang Rama. Maria menatap Rama dengan khawatir.
" Ke....kenapa....? Ram....?" ucap Maria meraba wajah Rama. Rama segera menangkap tangan Maria. " Maria sayang...jangan buat aku begini, karena aku hampir tak bisa menahannya." ucap Rama menatap Maria dengan kabut gairah yang memuncak yang dengan sekuat tenaga ia tahan.
__ADS_1
" Apa....salahku....?" ucap Maria polos tak mengerti. Rama begitu gemes di buatnya, ingin sekali ia menghujani seluruh wajah dan tubuh Maria dengan ciuman lalu mengajak Maria melakukan penyatuan di kamar mandi karena saat ini junior miliknya tengah meronta dengan hebatnya. " Sayang...kamu sudah membangunkannya....?" ucap Rama dengan tertahan. Tangan Maria yang masih ia genggam terpaksa ia bawa untuk menyentuh juniornya yang menjulang tegak , sangat besar dan keras di balik celana.
" Sayang....jangan salahkan aku jika terus begini , pistol yang satu ini pelurunya bakal menembakmu dengan beruntun. " bisik Rama dengan suara serak. Bulu kuduk Maria langsung berdiri ketika menyentuh junior Rama yang besar, keras dan tegak menjulang. Wajah Maria berubah pucat.
" Maaf... maaf.....maaf...." ucap Maria dengan sangat gugup dan malu karena telah membuat Rama begitu tersiksa. Maria melepas kan genggaman Rama dan dengan setengah berlari ia keluar dari kamar mandi meninggalkan Rama menuju kamarnya. Rama meremas kepalanya yang sakit menahan gairah. Dengan terpaksa ia melakukan pelepasan sendiri lalu mandi kembali. Ampun....ππππππππRama kasihan sekali, semoga kalian berdua cepat halal.π€²π»π€²π»π€²π»π€²π»π€²π»
Sementara itu di tengah jalan Maria berpapasan dengan Iqbal yang menatapnya dengan heran. " Ada apa kak....? " tanya Iqbal penasaran. Maria tak menjawab, ia terus berlari kecil dan segera masuk ke dalam kamarnya. Dengan napas yang masih memburu Maria mengunci pintu kamarnya. Perasaannya masih sangat gugup dan bercampur malu karena membayangkan kejadian tadi. Sejenak melintas bayangan saat ia menyentuh junior Rama yang sangat keras, besar dan menjulang tegak. Maria mengelengkan kepalanya lalu berbaring tengkurap dengan wajah ia telengkupkan di atas bantal. Sungguh saat ini ia juga sangat mengharapkan ia dan Rama cepat segera halal.
" Rama.....maafkan aku.....yang telah membuatmu tersiksa, tapi Rama sungguh aku juga tersiksa. Aku juga sangat menginginkanmu. Aku sangat mencintaimu. " rintih Maria dalam hati.
BERSAMBUNG
Bagaikan kisah selanjutnya ? Ikuti terus cerita dan jangan lewatkan.
__ADS_1