14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
L. SELANGKAH MENUJU HALAL


__ADS_3

Rama keluar dari kamar mandi, kali ini ia mengenakan pakaian lengkap. Wajahnya sungguh sangat tampan dengan rambut yang masih agak basah. Gantengnyaaaaaa.......😍👍👍👍👍👍👍👌👌👌👌👌👍👍👍👍👍


" Duh....kak Rama cakep amat kaya artis korea. Duh....siapa ya namanya kok aku lupa....le.....le...le " ucap Iqbal menepuk-nepuk jidatnya. Rama tersenyum karena Iqbal cowok yang sangat menyenangkan dan kocak.


" Jangan terlalu di puji, entar kakak jadi melayang di udara. Masih.....gantengan mereka kok. Dimana....kakakmu ? " tanya Rama penasaran, ia ingin tahu bagaimana reaksi Maria saat ini setelah kejadian tadi.


" O...di kamarnya, tapi aneh...lho kak, kak Maria tiba-tiba saja berlari menuju kamarnya, di tanya tak menyahut. Ada apa yach.....? " ucap Iqbal dengan wajah penasaran. Rama tersenyum saja. " Menurutmu...apa yang terjadi...? " tanya Rama pura-pura tak tahu.


" Dari cara berlari seperti kaya di kejar penjahat saja." ucap Iqbal lagi memberi pendapat. Rama tertawa kecil...., karena kejadian yang sebenarnya adalah kejadian yang tak terduga.


" Oya...kak Rama, ayo kita siap-siap di ruang ibadah. Lima belas menit lagi akan tiba azan Magrib. Ayah mengajak kita shalat berjamaah bersama. " ajak Iqbal, Rama mengangguk dan mengikuti Iqbal untuk berwudhu terlebih dahulu baru menuju ruang ibadah.


Di ruang ibadah, nampak telah menunggu Pak Johan, Bu Ratna, dan Maria. Rama menatap Maria dan Maria pun menatap Rama. Maria tiba-tiba merasa gugup tatkala mata mereka saling bertemu. Maria tertunduk malu. " Ya ampun ...masa sama kekasih sendiri, kok malu. Aneh....rasanya aku masih terkena serangan jantung bila menatap Rama. Sebenarnya apa sih yang terjadi denganku ? " ucap Maria meruntuki diri nya sendiri. Rama tersenyum, ia begitu gemes dan senang melihat Maria yang malu dan nampak salah tingkah.


Azan magrib berkumandang, tanda waktu shalat magrib telah sampai. Merekapun bersiap-siap melakukan shalat berjamaah, yang perempuan sudah memasang bukena. Sungguh pemandangan dan suasana religi yang luar biasa.


" Nak....Rama, silahkan kumandangkan azan. " ucap Pak Johan tiba-tiba, sontak hal itu membuat semua terkejut. Mereka langsung menatap Pak Johan dengan tegang.


" Tunggu ...., jangan bilang ini ujian terakhir papa untuk Rama. " ucap Maria dalam hati. Meskipun ia tahu bahwa Rama sangat hebat jika mengumandangkan azan, karena ia telah membuktikannya saat ia membuntuti Rama untuk pertama kali di sebuah mesjid. Namun Maria masih saja merasa gugup di buatnya. Rama yang tegang akhirnya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu hal itu juga termasuk ujian untuknya agar ia dan Maria mendapatkan restu.

__ADS_1


Perlahan-lahan Rama mengambil tempat dan mulai siap mengumandangkan azan. Pak Johan, Bu Ratna, Iqbal dan Maria nampak semakin tegang seakan-akan menahan napas menanti apa kah Rama berhasil lolos ujian tersebut. Saat azan di kumandangkan Rama dengan suara yang sangat indah dan merdu, membuat Pak Johan, Bu Ratna dan Iqbal tercengang dengan penuh kekaguman.


" Wah....merdunya..." ucap Iqbal tanpa sadar. Pak Johan memberi isyarat agar Iqbal tak bersuara.


Maria menarik napas lega, dari wajahnya terpancar rasa kagum pada sang kekasih. Terbayang di mata Maria kenangan saat ia pertama kali mendengar Rama mengumandangkan azan di Mesjid Raya di tengah kota, dimana saat itu rasa cintanya pada Rama semakin tak bisa di bendung.


" Maria, mama betul-betul ingin Rama jadi menantu mama." bisik Bu Ratna pada Maria. Maria tersenyum. Hatinya sungguh merasa senang dan bahagia.


Rama telah selesai mengumandangkan azan bahkan iqomah. Saat shalat Magrib akan di lakukan, kembali Pak Johan menginginkan Rama menjadi imam shalat. " Nak Rama, Silahkan maju ke depan mengimami shalat " ucap Pak Johan pada Rama. Rama agak terkejut mendengarnya, kembali Maria menatap ayahnya dengan tegang. " Mungkinkah ini juga ujian dari papa ? " ucap Maria bertanya-tanya. Bu Ratna dan Iqbal pun ikut tegang. " Lha.....kok suasananya tegang begini, kaya menghadapi ujian saja. " ucap Iqbal dalam hati. " Sebaiknya bapak saja, saya belum banyak pengalaman. " ucap Rama berusaha menolak. " Bapak, ingin Nak Rama saja, mumpung Nak Rama di sini. " ucap Pak Johan lagi. Sejenak Rama menatap Maria, ia tahu ini juga ujian yang harus ia lalui untuk mendapatkan sang kekasih hati. Maria mengangguk dan tersenyum manis untuk memberi semangat. Rama tersenyum.


" Terima kasih banyak.....atas kepercayaannya Pak. " ucap Rama sopan. Ia pun kemudian maju ke depan. Shalat berjamaah pun di mulai dengan khusyuknya. Dengan suara merdu Rama membaca nyaring surah Al Fatihah pada rakaat pertama dan kedua. Sesudah shalat Rama juga memimpin membaca wirid sampai membaca doa. Pak Johan menatap Rama dengan penuh rasa kagum dan bangga. Kagum karena ternyata Rama adalah seorang yang bisa di andalkan di bidang agama dan ia merasa bangga karena Rama adalah akan menjadi calon menantunya.


Setelah selesai berdoa Rama menyalami Pak Rahmat sang calon mertua. Rama mencium tangan sang calon mertua dengan khidmad , Pak Johan menepuk bahu Rama dan berbisik. " Aku merestui kalian berdua. " ucap Pak Johan dengan tulus. Begitu bahagia Rama ketika mendengar semua itu. " Terima kasih banyak Pak. " ucap Rama dengan pancaran wajah cerah. Sejenak Rama menatap Maria, saat itu Maria juga tengah menatapnya dengan pandangan mata yang bertanya-tanya. Maria merasa aneh mengapa tiba-tiba Rama mengucapkan terima kasih pada ayahnya. Rama memberi isyarat dengan anggukan dan tersenyum manis ke arah sang kekasih. Maria pun segera paham bahwa itu berarti Rama telah mendapatkan restu dari ayahnya.


" wah ....kak Rama sepertinya sudah menjadi calon kk ipar rupanya....." seru Iqbal turut bahagia. Iqbal menyalami Rama dan mencium tangannya. Rama mengusap kepala calon adik iparnya. Ia kemudian memeluk Iqbal dengan penuh kasih sayang seorang kakak.


" Sekarang...ayo kita makan bersama. " ucap Pak Johan kemudian. Mereka kemudian merapikan perlengkapan shalat lalu berjalan bersama menuju ruang makan. Pak Johan, Rama dan Iqbal duduk di meja makan, sedangkan Bu Ratna dan Maria sibuk mempersiapkan hidangan di meja makan.


" Saya akan secepatnya datang melamar puteri Bapak secara resmi. Dan Izinkan saya besok memperkenalkan Maria kepada keluarga besar saya. Sebenarnya ibu saya memang sangat mendukung saya dan Maria bisa bersama, beliau yang pertama kali menginginkan itu . Ibu saya sudah lebih dahulu mengenal Maria dari pada saya. Kalau ayah saya meski tak pernah ketemu Maria namun beliau sudah menyerahkan urusan semua itu pada ibu saya dan saya. Jadi besok saya memperkenalkan Maria kepada keluarga saya yang lain sebagai calon isteri Pak. " ucap Rama dengan serius. Ia memang merencanakan memperkenalkan Maria pada keluarga besarnya seperti paman , bibi, dan sepupu-sepupunya.

__ADS_1


" Tentu, Nak Rama. Bapak senang sekali dengan niatmu itu. " ucap Pak Johan tersenyum. " Em...beruntung sekali kakak bisa dapat kak Rama. Sudah genteng, alim, polisi lagi...., kalau kakak mah ....sudah cerewet, bawel suka nyubit lagi...." ucap Iqbal dengan nada menyindir. Maria tentu saja melotot mendengar sindiran itu. Satu cubitan pun melayang di bahu kiri Iqbal. " Aw... tuh...kan buktinya aku kena cubit. " ucap Iqbal sambil mengusap bahu kirinya yang kena cubit. Melihat semua itu membuat Rama tersenyum. " Kamu yang cerewet, bawel....ta ku kasih perkedel baru nyesel. " ucap Maria kemudian memperlihatkan perkedel yang ia bawa. Mata Iqbal langsung melotot di buatnya. " Ah...mau atuh..., cepat bagi dong...." ucap Iqbal tak sabar. " Lha...tadi bilang apa coba...." ucap Maria pura-pura merengut.


" Iya....deh, kak Rama kakak ku ini baik hati, cantik , pinter masak...., masakannya em ....membuat kamu pengen nagih terus....." puji Iqbal. Maria, Rama, Pak Johan dan Bu Ratna akhirnya tertawa karena penilaian Iqbal langsung berubah drastis gara-gara perkedel.


" Makanya ....jangan bawel sama kakak. " ucap Maria. Ia pun meletakan perkedel di meja makan. Iqbal langsung menyambarnya. " Iya kakak ku yang cantik..., Em ... enaknya..., ayo kak Rama di coba...." ucap Iqbal , mendekatkan piring yang berisi perkedel ke arah Rama. Rama pun mengambil dan mencobanya dan rasanya tentu saja sangat gurih dan enak.


Acara makan pun berlangsung penuh kekeluargaan. Rama begitu bahagia bisa di terima dengan penuh kehangatan di keluarga Maria. Setelah acara makan malam, acara pun di lanjutkan dengan shalat isya berjamaah. Setelah shalat isya baru lah Rama berpamitan pulang.


Maria mengantarkan Rama sampai ke pagar halaman rumahnya. " Ram....aku merasa bahagia sekali, ku ucapkan terima kasih banyak telah berjuang meminta restu ayahku. Aku bangga padamu. " ucap Maria tulus.


" Em...apa aku mendapatkan hadiah....? " ucap Rama mendekatkan wajah ke wajah Maria.


" Ih...tunggu halal lah Ram...." ucap Maria dengan gemes memencet hidung Rama. Rama tertawa kecil. Ia tahu Maria pasti bakalan tak mau. Dengan cepat Rama mendaratkan ciumannya di pipi Maria.


" Rama...., jangan mencuri...ah, " ucap Maria agak kesal. Rama tertawa..., ia sangat senang melihat Maria yang cemberut karena itu membuatnya semakin menggemaskan.


" Iya..iya...maaf sayang. Soalnya aku gemes sekali melihatmu. Lagian aku sudah kerja keras lho...., kamu tahu kan rasanya aku seperti terdakwa yang sedang di introgasi dan di sidang. Seperti penjahat saja. " ucap Rama curhat pada sang kekasih. Maria tersenyum lucu, " Kamu memang penjahat kok...." ucap Maria meng acak-acak Rambut Rama dengan gemesnya, Rama mendelik pura-pura tak terima. " Berani yach...bilang aku penjahat. " ucap Rama menangkap kedua tangan sang kekasih, dan kemudian menatap dengan tajam. Maria langsung gugup di buatnya. " Kamu ....itu penjahat cintaku. Suka menggangu tidur ku, membuatku menangis merindukanmu, mencuri ketenangan ku. Sampai sekarang hatiku masih kau bawa. Dan ciuman......ciuman......" ucap Maria tertunduk malu di tengah jantung yang berdebar keras. Rama tersenyum bahagia, dengan perlahan-lahan ia mengangkat wajah sang kekasih dan mengusapnya dengan lembut. " Aku sangat mencintaimu. Hatimu akan selalu ku jaga. Kau selalu dalam hati ku. Percayalah. Hanya kamu seorang. Dan ...ku titipkan hatiku, cintaku padamu....." ucap Rama dengan tatapan mata yang lembut. Sontak hal itu membuat Maria sangat terharu. Perlahan butiran bening berjatuhan satu persatu. " Kau menangis....." ucap Rama dengan mata yang kini nampak berkaca-kaca juga, ia ikut terbawa suasana melihat kekasih hati yang menangis. Di usapnya dengan lembut air mata sang kekasih yang jatuh di pipi. " Aku bahagia Ram....." ucap Maria menghambur dalam pelukan Rama dan menangis terdedu-sedu. " Kita akan segera bersama. Kita sudah selangkah menuju halal sayang. Aku sangat mencintaimu." bisik Rama lembut membelai kepala Maria dalam pelukannya. " Eh...." Maria hanya mengangguk , di peluknya lebih erat sang kekasih hati.


Sementara itu dari kejauhan nampak segerombolan orang dalam mobil mewah tengah mengintai sepasang kekasih yang sedang berbahagia. Orang itu adalah Fero dan anak buahnya.

__ADS_1


Fero nampak sangat kesal melihat semua itu. Tangannya terkepal kuat. " Bos...." ucap salah seorang anak buahnya. " Biarkan saja mereka dulu......" ucap Fero dengan suara seraknya.


Fero masih menatap Maria yang berpelukan dengan Rama. Entah mengapa ia merasa kesal dan cemburu dengan semua itu. " Aku bersumpah akan menghancurkan nya. Tunggu saja Rama..... " ucap Fero dalam hati dengan tatapan mata penuh dendam.


__ADS_2