
Rama tersenyum manis membuat wajahnya imut-imut semakin sangat tampan. " Kalau aku beritahu padamu namanya bukan kejutan dong sayang....." ucap Rama ceria, ia kemudian menarik Maria jatuh kepelukannya. Maria yang tak siap tentu saja jatuh kepelukan Rama.
Ampun....πππππdokter Aldi dan dokter Alfi terpaku di buatnya dengan bibir ternganga melihat adegan mesra itu. Rasa cemburu dan iri langsung menjalar ke dalam hati kedua dokter tersebut.
Maria berusaha melepaskan pelukan itu, terus terang ia merasa tak enak di depan kedua dokter tersebut. " Ram..., aku malu. Kita tidak sedang berduaan." bisik Maria cepat. Rama tersenyum dan melepaskan pelukannya.
" Oh..sampai lupa, perkenalkan Rama Aditiya Putra. " ucap Rama sambil mengulurkan tangan ke arah dokter Aldi. Dokter Aldi menyambut tangan Rama. " Aldi Hermawan." ucap dokter Aldi datar, saat ini perasaannya begitu nano-nano. Ingin sekali ia meremas tangan Rama dengan kuat sekedar melampiaskan rasa cemburunya, namun tak ia lakukan. Setelah menyalami dokter Aldi, Rama pun menyalami dokter Alfi. Dokter Alfi menarik napas dalam-dalam sebelum menerima uluran tangan Rama. " Alfi Purnama. " ucap dokter Alfi mencoba ramah untuk menutupi perasaan hatinya yang tak karuan karena rasa cemburu juga menghinggapi hatinya.
" Mereka dokter sukarela di acara khitanan masal Ram, " ucap Maria memperkenalkan dokter Aldi dan dokter Alfi pada Rama. Rama mengangguk dan tersenyum ramah. " Saya adalah calon suami Maria. " ucap Rama tegas tanpa menutupi status mereka yang memang akan segera melakukan proses menuju pernikahan.
Dokter Aldi dan dokter Alfi kembali terkejut bukan kepalang. Kedua dokter tersebut tampak belum siap mendengar itu semua. " Calon suami...? " ucap dokter Alfi kembali menelan slavinanya. Sedangkan dokter Aldi betul-betul bungkam di buatnya. Ia tampak meremas kuat jas dokternya.
__ADS_1
Maria tersenyum dan mengangguk. Ia tak ingin memberi harapan pada dokter Aldi berlarut-larut. ia ingin dokter Aldi biasa dengan semua itu. Karena menurut Maria itu lebih baik. " Rama adalah kekasihku dan calon suamiku pada dokter. " ucap Maria. Ucapan Maria bagaikan bom yang meledak memporak porandakan hati dokter Aldi dan dokter Alfi. Sejenak dokter Aldi dan dokter Alfi menundukan kepala. Ke dua dokter tersebut nampak berusaha menguasai hati masing-masing.
Rama melihat perubahan kedua dokter tersebut. Naluri polisi dalam dirinya tentu saja dapat melihat kejanggalan yang terjadi di antara kedua dokter tersebut. " Mereka tampak terkejut, sedih dan kacau saat melihatku dan mendengar tentang hubunganku dengan Maria. Mungkinkah kedua dokter tersebut jatuh cinta pada Maria. Em..sepertinya demikian. Kedua dokter ini juga sangat tampan, bagi cewek ini adalah godaan yang berat tentunya untuk berpindah hati. Namun Maria sepertinya betul-betul menjaga hatinya untukku. Ia tegas di depan mereka. Itu betul-betul membuatku kagum padamu Maria. Kekasihku. Aku sungguh mencintaimu." ucap Rama menatap mesra sang kekasih hati. Di tatap begitu Maria pun mengerutkan kening. " Ih...Rama apa an sih...? " ucap Maria menyenggol sang kekasih yang terus menatapnya. " Ayo cepat berkemas-kemas biar sore nanti kita bisa sampai ke kota." ucap Rama tak sabar. " Apa kamu tidak istirahat dulu ? " ucap Maria heran.
" Tak usah lah. Lebih cepat lebih baik. " jawab Rama sekenanya. " Ia betul-betul tak memberi kesempatan Maria lepas dari genggamannya." ucap dokter Alfi dalam hati. " Ah...aku betul-betul ingin menghajarmu." ucap dokter Aldi dalam hati dengan sangat kesal.
" Saya permisi dulu pak dokter, untuk berkemas-kemas." ucap Maria tampak mengalah. Ia mencoba memahami dan menghargai kekasihnya yang telah jauh-jauh datang hanya untuk menjemputnya. " aku akan membantumu. " ucap Rama hendak mengikuti Maria. " Jangan, tak perlulah Ram..., kamu di sini saja berbicang-bincang dengan pak dokter. " ucap Maria segera melarang, ia tak ingin Rama mengikutinya sampai ke dalam kamar. Bagaimanapun Maria merasa tak baik jika berduaan saja dalam kamar, Maria sangat takut mereka berdua lepas kontrol hingga berbuat dosa. Belum lagi pandangan orang lain, apalagi pandangan dokter Aldi dan dokter Alfi yang pasti berfikir tak baik. Rama tersenyum, ia tahu Maria berusaha menghindar agar tak berduaan dengannya. " Kau membuat aku gemes Maria." ucap Rama dalam hati. Namun ia akhirnya mengangguk. Maria tersenyum lega dan beranjak pergi dari tempat itu.
" Belum lama, sekitar satu minggu yang lalu. karena aku baru mengenalnya tiga minggu yang lalu." ucap Rama, ia ingat betul saat pertama kali bertemu Maria adalah saat berlakunya taruhan 14 hari. Dan ia bersama Maria beberapa hari dan sekarang hampir satu minggu dari pernyataan cintanya yang disambut oleh Maria. Dokter Aldi menarik napas dalam-dalam, ia hanya terlambat sedikit menyatakan cinta dari Rama. " Singkat sekali..." ucap dokter Alfi tanpa sengaja. Rama tersenyum mendengarnya. " Aku jatuh cinta dengannya dengan waktu yang singkat. Boleh dikata jatuh cinta pada pandangan pertama. " ucap Rama malu-malu. " emm...ya dia cewek yang istimewa..." ucap dokter Alfi memuji.
" Siapa di dekatnya pasti bahagia. Ia pandai membuat bahagia. " ucap dokter Aldi. " Dan itu sulit ditemukan pada cewek lain." ucap dokter Alfi. " Banyak cewek yang ku temui, cuma hanya ada satu ...Maria. " ucap dokter Aldi jujur. Rama tersenyum dan menatap kedua dokter dihadapannya. " Kau tentu sangat bangga bisa mendapatkan cintanya. Terus terang aku sangat iri. Jika ia tak mencintaimu, tentu aku tak akan mundur bersaing denganmu. Tapi kau menang, ia sangat mencintaimu. Ku mohon padamu, jagalah cintanya. Jangan sampai kau menyia-nyiakannya. Karena jika kau begitu, maka aku akan mengambilnya darimu, karena aku juga sangat mencintainya. " ucap dokter Aldi tegas. Rama mengangguk dan tersenyum. " Terima kasih telah mengalah, aku berharap kita bisa menjadi teman. Dan tentu jika aku tak bisa membahagiakannya maka kau boleh mengambilnya. karena aku merasa kau juga terbaik untuknya. Dan aku tak tahu mengapa aku merasa begitu. " ucap Rama tanpa emosi. Ia berusaha memahami kedua dokter yang juga mencintai Maria, terlebih dokter Aldi yang tampak sangat mencintai Maria. Rama berusaha membayangkan jika seandainya ia berada di posisi dokter Aldi.
__ADS_1
" Ngomong-ngomong apa pekerjaanmu ? " ucap dokter Alfi ingin tahu. " Aku seorang polisi. " jawab Rama jujur. " Polisi....? " ucap dokter Alfi terkejut, begitu juga dokter Aldi ia juga tampak terkejut. Rama tersenyum. " Aku rasa , walau kita berbeda pekerjaan tapi kita sama-sama punya senjata..., aku punya pistol dan kalian punya jarum suntik. " ucap Rama sedikit bercanda. Dokter Aldi dan dokter Alfi akhirnya tertawa kecil. " Dari tadi kita tampak tegang...." ucap dokter Alfi masih tertawa. Rama mengangguk dan ikut tertawa. " ya, ku rasa kita bisa jadi teman. " ucap dokter Aldi juga ikut tertawa.
" Ayo...kita duduk di kursi panjang. " ajak dokter Aldi. " Maaf yach..., aku masih ada 7 orang anak lagi yang harus di sunat. Aku harus cepat sebelum mereka kabur. " ucap dokter Alfi sambil mengedipkan mata kirinya. Dokter Aldi dan Rama tertawa kecil. " Selamat berjuang kawan. Tetap semangat..." ucap dokter Aldi. Dokter Alfi hanya tersenyum saja sambil meninggalkan Rama dan dokter Aldi.
Rama dan dokter Aldi pun duduk di kursi panjang, mereka melanjutkan berbincang-bincang bersama. Sesekali meledak tawa diantara keduanya. Sungguh saat itu mereka seperti sangat akrab dan telah bersahabat bertahun-tahun.
Rama dan dokter Aldi tak menyadari bahwa ada dua pasang mata tengah memperhatikan mereka. Sepasang mata milik dokter Erika, yang tampak iri. " Cih....cewek yang biasa saja mengapa di taksir banyak cowok ? Apa istemewanya...., pasti cowok-cowok itu matanya sudah pada kebalik..." ucap dokter Erika tertawa sinis. " Tampan juga cowok itu..." ucap dokter Erika mengagumi ketampanan Rama. " Kalau aku mendapatkan keduanya bukankah itu bagus ? " ucap dokter Erika dalam hati dengan serakahnya.
Sementara itu sepasang mata yang lain yang juga memperhatikan dari kejauhan adalah milik Fero. Yang memang terus memantau gerak gerik Rama dan Maria. Cowok tampan berwajah dingin itu nampak menatap tajam ke arah Rama. " Em...Maria ternyata dicintai banyak cowok. Aku semakin penasaran dengan mu Maria. Rama....tunggulah pembalasanku. Akan ku buat kau kehilangan Maria hingga hidupmu seperti mati, Kau berada di lautan penderitaaan yang tak bertepi. Tunggulah .....Rama....." ucap Fero mengepal tangannya dengan kuat.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya...? Jangan lewatkan episode selanjutnya....βΊ