
Ini hari ke sebelas dari 14 hari, tinggal 3 hari lagi.
Pagi pukul 07.00 , Rama duduk di meja makan. ia mengenakan pakaian biasa , baju kaos putih dan jeans serta jaket kulit. Rama tidak memperhatikan penampilannya yang seadanya walaupun semua itu tak mengurangi ketampanannya. Rama menghampiri meja makan. Nampak Maya dan Adel saja di meja makan. Ayah Rama sedang keluar kota.
" Ram, kok pakaian biasa ? " tanya Maya agak terkejut. Beberapa hari ini Rama bagi Maya tampak aneh, berubah-ubah. Semula tampak ceria kini tampak sendu. Pakaian pun beda, semula tampak rapi kini seadanya. Bahkan kini Rama tak mengenakan pakaian polisi. Rama diam saja , ia malah mengaduk - aduk makanan saja. " Ram, ibu tanya ke kamu. Kamu kok baju biasa ? Kamu tidak kerja ? " Maya mengulangi pertanyaannya. " Ada yang harus Rama lakukan di luar kantor. Rama sedang mencari seseorang ma. " ucap Rama jujur. " Seorang boronan ? " ucap Maya, Rama kembali diam saja, ia membiarkan mamanya menebak sendiri. Maya menarik napas panjang.
Rama nampak tidak selera untuk makan, hanya 3 suapan, itu pun ia paksakan dengan bantuan air minum. Rama selalu mencoba untuk makan tapi entah mengapa rasanya sulit sekali menelannya, semua terasa tidak enak. " Adel, mama yang antar ya, Rama pergi dulu." Rama beranjak pergi untuk sikat gigi. Setelah sikat gigi ia pun pergi dari rumah mencari Maria. Maya semakin bingung di buatnya.
Rama terus mencari Maria di sekolah-sekolah TK yang ada, pergi ke perpustakaan, ke taman-taman, pasar bahkan terminal bus
Di terminal bus, Rama mencoba mencari Maria karena baru saja Ibu Atik memberi tahu lewat sms bahwa Maria hari ini akan pergi ke desa terpencil untuk mengajar di sebuah SD. Betapa gigih Rama mencari Maria. Ia tak lelah bertanya sana sini sambil memperlihatkan fhoto Maria. Keringat bercucuran di dahi nya. Semua demi Maria. Andai Maria tahu, mungkin Maria akan menangis melihat ketulusan Rama yang benar-benar tulus mencintainya.
Sementara itu Maria ternyata pergi tidak lewat terminal bus. Maria pergi hanya dengan motor bersama adiknya Iqbal karena jalan menuju desa terpencil yang cukup sulit dilalui dengan kendaraan beroda empat. Dengan kendaraan roda dua jarak yang di tempuh memakan waktu 6 jam.
Sebelum pergi, Maria menitipkan bingkisan kepada satpam rumah sakit untuk diberikan kepada dokter Aldi. Yah...Maria sangat mengingat janjinya, karena saat ini ia tak sempat mengajak makan dokter Aldi, maka Maria mengirimkan makanan yang ia masak sendiri dan beberapa kue kering untuk dokter Aldi.
Wow....tentunya itu jadi kejutan hebat untuk dokter Aldi. Bayangkan betapa bahagianya dokter Aldi ketika menerima bingkisan itu.
Pukul 11.00, dokter Aldi telah menyelesaikan memeriksa pasien-pasiennya, ia kemudian asyik menulis di buku laporannya, sesekali ia menatap handphone nya berharap Maria menghubunginya. Tiba-tiba ia merindukan Maria. " Kapan kamu menghubungiku ? " ucap dokter Aldi dalam hati. Sejenak dokter Aldi teringat saat Maria jatuh ke pangkuannya.
" Seharusnya ku peluk saja kamu saat itu." ucap dokter Aldi lagi dalam hati sambil tersenyum. Melihat dokter Aldi tersenyum, Nana pun menggoda. " Duh....dokter senyum sendiri, bahaya dok...kalau ada yang lihat ." ucap Nana, dokter Aldi yang mendengar ucapan Nana mengangkat keningnya sambil menatap Nana.
__ADS_1
" Emang kenapa jika ada yang melihat ? " ucap dokter Aldi menantang. " Dokter bakal di rujuk ke poli jiwa....he...he." Nana tertawa di ikuti Ogi. Dokter Aldi mendelik pura-pura marah namun akhirnya ikut tertawa.
Tiba-tiba ada ketukan pintu, Nana segera membuka pintu itu. Nampak paman satpam mengantarkan bingkisan buat dokter Aldi. " Ada bingkisan buat dokter. " ucap paman satpam menyerahkan bingkisan kepada dokter Aldi, bingkisan yang di balut dengan kain berwarna biru. " Bingkisan buatku? Dari siapa? "
ucap dokter Aldi heran. " Seorang cewek dok. Dia juga titip ini. " ucap paman satpam menyerahkan sepucuk surat. " Dimana orangnya ? " tanya dokter Aldi lagi. " Sudah pulang dok." ucap paman satpam. " Ya sudah, bingkisan saya terima." ucap dokter Aldi kemudian tersenyum. " Kalau gitu saya permisi dok. " ucap paman satpam penuh hormat. Ia kemudian meninggalkan tempat itu. Nana kembali mengunci pintu.
Dokter Aldi meletakan bingkisan itu di atas meja. Lalu membaca surat itu dalam hati
.....
" Buat dokter Aldi.
Maaf ya dok..., Saya belum sempat ngajak dokter makan. Karena hari ini saya harus berangkat menjadi tenaga suka rela menggantikan sepupu saya mengajar di SD di daerah terpencil desa Telaga Bamban. Mungkin satu bulan baru bisa kembali. Jadi sementara ini saya kirimkan makanan yang saya masak sendiri, khusus buat dokter. Mudah-mudahan dokter tidak kecewa dan suka dengan masakannya. Anggap saja ini sebagai permulaan. Tentang janji mentraktir dokter tetap berlaku, hanya saja perlu menunggu. Oya rantangnya tidak perlu dokter kembalikan karena itu juga buat dokter. Tertanda Maria. "
Dokter Aldi begitu bahagia hingga tanpa sadar menggenggam tangannya. Ia tak percaya, Maria membuat masakan khusus untuknya. Walau pun ada hal yang mengusik hatinya karena Maria mengatakan akan pergi selama satu bulan baru kembali. Namun bagi dokter Aldi, Maria mau memasak untuknya dan ia dapat merasakan masakan Maria adalah merupakan hal yang sangat istimewa.
" Ada apa dok ? " tanya Nana ingin tahu.
" Bingkisan ini dari Maria. Isi nya makanan, ia memasak khusus untukku. " ucap dokter Aldi bangga. " Wow.. dok, ayo lihat bingkisan itu dok ? " ucap Nana antusias. Nana dan Ogi menghampiri dokter Aldi. Nana mulai membuka bingkisan itu yang ternyata berupa rantang 4 tingkat, susu UHT, satu botol Aqua kecil , 2 biji pisang talas dan satu wadah kue kering. Ketika rantang itu di urai nampaklah Menu yang sederhana, namun bau harum masakan itu sungguh menggugah selera.
__ADS_1
Nasi putih dan Ikan nila goreng
Ayam kecap
Sayur bening
useng-useng tempe dan buncis yang di
lengkapi sambal terasi.
" Wah....dok empat sehat lima sempurna. " seru Ogi terpana. Sedangkan Nana langsung mengambil 3 pasang sendok dan garfu yang sudah bersih di lemari kecil yang di dalamnya terdapat beberapa peralatan makan seperti piring , sendok garfu, mangkok dan gelas. Tanpa izin , Nana langsung mencicipi ayam kecap dan useng-useng tersebut. Dan mata Nana lansung membulat. " Enak ....enak sekali." seru Nana membuat dokter Aldi dan Ogi segera mencicipinya. Dokter Aldi dan Ogi pun mengakui kelezatan masakan itu. Senyum dokter Aldi pun merekah bahagia. Maria ternyata pandai memasak. Dokter Aldi segera memakan makanan itu. Namun belum lagi dokter Aldi memakannya. Nana dan Ogi menatap dokter Aldi dengan memelas. " Dok..., jangan pelit bagi dong..." ucap Nana. " Iya dok, kami juga pengen. Hak mata dok. " ucap Ogi ikut-ikutan.
Sebenarnya dokter Aldi tak ingin berbagi, ia ingin puas memakan masakan itu , apa lagi masakan itu di masak oleh Maria. Namun ia tak bisa menolak permintaan rekan kerjanya. Dokter Aldi pun mengangguk, memberi isyarat agar Nana membagi masakan itu.
" Asyik....!" ucap Nana terlonjak senang , ia kemudian mengambil 2 buah piring dan membagi masakan itu. Dokter Aldi hanya bisa merelakannya saja. Semua akhirnya harus berbagi.
Tinggal kue kering, lagi-lagi Nana dan Ogi melirik. " Dok...., yang itu boleh....? " ucap Nana malu-malu. Nana dan Ogi mengedip-kedipkan matanya. Dokter Aldi menarik napas dalam-dalam, ia kembali harus merelakan untuk berbagi walau pun wajah nya sebenarnya tak rela. Dokter Aldi membuka kue kering itu, dan rasanya juga sangat enak, lezat dan renyah. Nana dan Ogi tidak bisa menahan nafsu makannya akhir nya kue kering yang di makan bertiga tentu saja habis dalam beberapa saat. Dokter Aldi tidak bisa berkata apa-apa. Duh....kasihan sekali dok..., tapi enggak apa-apa berbagi itu dapat pahala. Ya enggak ?
" Dok...., Maria jadikan pacar saja dok. Biar kami bisa enak ikutan makan masakannya. " ucap Ogi dengan wajah lucunya. " Saya juga mendukung dok, habis enak..." ucap Nana kasih jempol. Dokter Aldi tersenyum. " Doa kan saja supaya Maria cepat jadi pacarku. " ucap dokter Aldi minta dukungan.
__ADS_1
Dokter Aldi sangat bahagia saat ini seperti guyur hujan kegembiraan sedangkan Rama begitu menderita seperti sedang berjalan di pecahan kaca. Dan Maria bagaimana denganmu ?
Terima kasih banyak telah mendukung cerita ini bagi teman-teman semua.