
Rama begitu terkejut ketika melihat teman-temannya yang datang kemari untuknya. " Ha...kalian kemari, pasti mama yang telepon kalian. Maaf jadi merepotkan. " ucap Rama. Sigit, Rangga, Agung dan Budi segera mendekati Rama, dan duduk di bibir ranjang Rama. Sigit meraba kening Rama.
" Masih demam Ram. Bro kenapa sampai jadi begini ? " ucap Sigit. Badan Rama memang masih panas. " Aku kehujanan bro." ucap Rama sambil berusaha tersenyum. " Kenapa sampai kamu rela kehujanan ? " ucap Sigit tak mengerti, Rama tersenyum kepada teman-temannya. " Ram, kalau ada sesuatu masalah sebaiknya kamu ceritakan pada kami. Kami akan membantumu. Jangan kamu pendam sendiri. " ucap Rangga lembut, diantara mereka memang Ranggalah yang paling tua umurnya. " Aku tak ingin merepotkan kalian. Sekarang ini pun kalian rela kena hukuman disiplin hanya untuk menemuiku. " ucap Rama dengan perasaan tak enak. " Kita bukan hanya teman, sahabat tapi juga saudara. Kami tentu saja tak merasa direpotkan. " ucap Agung menjelaskan. " Justru jika kau menyembunyikan masalah dari kami, maka kami akan merasa sedih karena kamu seakan-akan tidak percaya pada kami. " ucap Budi menguatkan. Rama menatap teman-temannya dengan perasaan yang sangat terharu. Ia memang betul-betul mempunyai teman-teman yang hebat yang betul-betul sudah seperti saudara. Perlahan-lahan rasa penyesalanpun muncul di hati Rama mengapa ia harus menyembunyikan persoalannya dari teman-temannya. Seandainya ia di posisi mereka tentu juga akan merasa sedih karena temannya menyembunyikan persoalannya darinya, dan itu terkesan bahwa temannya tidak mempercayainya. " Maafkan aku, seharusnya aku cerita pada kalian." ucap Rama dengan penuh penyesalan. " Bro..., sekarang ceritakan pada kami apa yang terjadi padamu. Kami akan mendengarkanmu. " ucap Sigit lembut.
Rama pun bercerita tentang pertemuannya dengan Maria, ia juga menceritakan bahwa ia akhirnya mengetahui bahwa Maria adalah cewek misterius yang mengirimkan surat puisi cinta padanya. Rama juga mengaku bahwa ia jatuh cinta pada Maria. Namun ketika Rama ingin menyatakan cinta pada Maria, ketika bertemu Maria malah menangis dan berkata bahwa ia memang tak pantas untuk Rama. Setelah kejadian itu Maria pergi menghilang tanpa jejak sedikitpun. Rama mencoba mencarinya tapi gagal sampai sekarang ia tak menemukan Maria.
" Tak ada jejak sedikitpun ? " ucap Sigit tak percaya. Rama mengangguk " Kau tak tahu rumahnya ?" tanya Sigit lagi. Rama menggeleng. " Aku cuma punya ini, nomor telepon tapi tak pernah aktif. " Rama memperlihatkan nomor Maria lewat handphone nya. Sigit pun mencoba menelepon nomor tersebut yang tentu saja tak aktif. " Gimana Git ? " tanya Budi. " Tidak aktif. " jawab Sigit kecewa. " Lalu bagaimana kau mencarinya ? " tanya Agung. " Hanya lewat fhoto, aku bertanya pada semua orang, dan hasilnya nihil." ucap Rama sedih. Teman-teman Rama ikut sedih mendengar cerita Rama. Mereka tak menyangka untuk sebuah cinta Rama malah mengalami hal yang menyedihkan, padahal begitu banyak cewek yang naksir Rama.
" Mungkin ini karma mu bro karena selalu menolak cewek yang mencintai kamu." ucap Sigit setengah bercanda. Kontan Sigit langsung di pelototin teman-temannya yang nampak geram. " Ah Sigit....kamu terlalu. Sama sekali tak menghibur. " ucap Rangga akhirnya, baru kali ini Rangga bicara begitu. Akhirnya mereka semua pun tertawa bersama termasuk Rama yang sakit ikut tertawa. Teman-temannya memang pandai menghibur hati, sedikit beban di hati Rama pun berkurang.
" Bro ....kau punya fhotonya kan. Coba lihat. Kali aja kami bisa bantu mencarinya " ucap Sigit tiba-tiba. Rama menyerahkan fhoto Maria pada Sigit. Sigit segera melihat fhoto tersebut di ikuti Budi dan Agung yang ikut melihat dari belakang. Mereka tak sabar ingin melihat seperti apa cewek yang di taksir oleh Rama.
" Wow...manis sekali bro." puji Sigit tulus, meskipun wajah Maria tak secantik Melati namun Maria punya wajah yang manis dengan senyum yang menawan serta tatapan mata yang tajam yang langsung menusuk ke dalam hati.
" Wajahnya duhai manis sekali
Membuat pria setengah mati
Matanya duhai tajam sekali
__ADS_1
Menusuk jauh ke lubuk hati
Aku cinta padamu...padamu
Aku sayang padamu...padamu "
ucap Sigit bernyanyi lagu AKU SAYANG PADAMU dari H. Rhoma Irama. Sigit memang suka bernyanyi, dan suka berbagai jenis musik.
" Kok malah nyanyi Git ? " protes Agung. " Tak apa aku terhibur kok." ucap Rama jujur. Ia memang merasa terhibur dengan lagu itu dan seharusnya ia menyanyikan lagu itu untuk Maria. " Maaf yach...terbawa suasana, tapi......tunggu...kayaknya aku pernah lihat cewek ini. " ucap Sigit tiba-tiba. Semua menatap ke arah Sigit dengan tegang. " Jangan bercanda bro..." ucap Agung tak percaya. " Iya deh Sigit, jangan kasih harapan palsu." ucap Budi pula.
Sigit mengerutkan keningnya sambil menatap fhoto Maria dan mencoba mengingatnya.
" Kamu masih sakit Ram." ucap Rangga menatap Rama. " Iya pulihkan tenagamu dulu. Jika dapat kabar pasti akan segera kami beri tahu. " ucap Rangga. " betul Ram. Kamu butuh istirahat yang cukup." Agung ikut bicara.
" Bro ...serahkan semuanya pada kami. Kamu makan yang banyak saja, banyak minum air hangat dan minum obat. Kalau perlu ke dokter yach, di... suntik....! " ucap Sigit dengan gaya lucunya. Rama tersenyum sambil mengangguk. " Terima kasih teman-teman." ucap Rama terharu.
Tiba-tiba Maya masuk ke dalam kamar sambil membawa semangkok bubur yang di masak tadi. " Ram ...buburmu sudah matang. " ucap Maya menyerahkan semangkok bubur ke hadapan Rama. " Terima kasih ma..." Rama pun menyantapnya, ia begitu bersemangat untuk sembuh. Maya merasa senang melihatnya.
" Kalau begitu kami permisi dulu Tante." ucap Sigit. " Terima kasih banyak telah menjenguk Rama. " ucap Maya. Teman - teman Rama tersenyum sambil mengangguk . " Ram, cepat sembuh yach." ucap Agung memberi semangat. " Nanti kalau ada kabar, kamu akan kuhubungi." ucap Rangga berjanji. " Iya bro..., semangat yach. Kami cabut dulu." ucap Sigit . Rama tersenyum. " Terima kasih banyak teman teman. Dan kabarmu Rangga sangat aku nantikan." ucap Rama penuh harap. Mereka kemudian berjalan keluar kamar itu. Rama menatap kepergian teman-temannya.
__ADS_1
Maya yang penasaran apa yang terjadi pada Rama mencoba mengejar teman-teman Rama.
" Bagaimana keadaan Rama menurut kalian ?" ucap Maya pada teman-teman Rama. " Rama demam karena kehujanan tante. Tante tenang saja Rama orang yang kuat. Penyakitnya lebih banyak karena Malarindu Tante. Rama sedang jatuh cinta. " ucap Sigit. Bukan main terkejutnya Maya. " Apa...? Rama jatuh cinta ? " ucap Maya setengah tak percaya.
Teman-teman Rama tersenyum pada maya.
" Tante banyak-banyak beri dukungan saja. " ucap Rangga. " Siapa yang membuat Rama jatuh cinta ? " tanya Maya begitu penasaran.
" Tante tanya sendiri sama Rama yach. Tapi saya sarankan jangan tanya sekarang karena Rama masih tahap di uji cintanya. Tunggu kondisinya stabil dulu tante. Sementara ini tante pura-pura tidak tahu saja. " ucap Sigit sambil tersenyum.
Teman-teman Rama pun meninggalkan tempat itu. Maya menatap kepergian mereka.
" Syukurlah Rama kamu akhirnya jatuh cinta. Mama sempat khawatir kamu punya kelainan karena tak jua naksir sama cewek. Ah...siapa yang telah berhasil membuatmu jatuh cinta Rama ? Sungguh mama ingin tahu. " Maya mengunci pintu , lalu berjalan menjenguk Rama . Ia memperhatikan Rama dari luar kamar. Nampak Rama yang sedang makan bubur dengan lahapnya. Dan ajaib Rama berhasil menghabiskan bubur tersebut. Ia kemudian meminum obat penurun panas, lalu setelah itu ia mencoba untuk tidur dan Ramapun tertidur.
Begitulah cinta, ia dapat membuat suatu keajaiban bagi mereka yang mencintai. Seseorang yang dicintai adalah kekuatan yang luar biasa bagi orang yang mencintai.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Jangan lewatkan episode selanjutnya, ketika Rama bertemu Maria. Akankah mereka bersatu dalam cinta ? Dan bagaimana Rama menyampaikan perasaan cintanya ? Akan kah Maria menerima cinta itu ?
Ikuti ceritanya dan dukung aku untuk cerita ini.
__ADS_1
Dan Rasakanlah keindahan cinta.