
Sejenak Pak Johan terpaku, namun kemudian ia tersenyum ketika melihat kesungguhan di mata Rama. " Ayo duduk dulu..., siapa namamu ? " tanya Pak Johan dengan nada lembut. Rama pun duduk perlahan di kursi ruang tamu berhadapan dengan Pak Johan.
" Rama Aditiya Putra." jawab Rama. Meskipun sebenarnya ia sangat gugup berhadapan dengan Pak Johan sang calon mertua, namun ia berusaha menguasainya. Ia tak ingin Maria merasa khawatir, ia betul-betul ingin memperjuangkan cinta mereka berdua menuju mahligai perkawinan yang akan menghalalkan hubungan mereka.
" Apa benar yang di katakan puteri ku bahwa kamu datang kemari bermaksud ingin meminta restu untuk segera menikah dengan putriku ? " tanya Pak Johan menatap ke arah Rama seakan mencari kesungguhan di mata cowok tampan itu. Rama mengangguk " Benar Pak, jika Bapak setuju saya akan secara resmi datang membawa lamaran bersama keluarga saya. " ucap Rama tegas dengan segala kesungguhannya. Pak Johan tersenyum mendengarnya.
" Dimana tinggal..? " tanya Pak Johan lagi. " Kami tinggal di Kota Raden Pak. Tapi jika saya menikah, saya telah mempersiapkan rumah di Sungai Malang Pak. " jawab Rama, ia memang sudah membangun rumah dengan hasil kerja kerasnya sendiri dengan menabung. Pak Johan kembali tersenyum mendengarnya. " Kamu sudah mempersiapkannya rupanya, bagus sekali. " puji pak Johan. " Apa pekerjaanmu...? " ucap Pak Johan lagi. " Saya seorang polisi Pak. " Jawab Rama tegas. Pak Johan mengerutkan keningnya. Maria menatap dengan tegang ke arah ayahnya. Ia takut ayahnya tak menyukai pekerjaan Rama yang berbahaya dan menanggung resiko yang besar. Pak Johan yang mengetahui puteri nya yang sedang tegang kemudian tersenyum. " Maria, cepat ke dapur bantu ibu bikin minum, jangan lupa bawa pisang, tempe dan tahu goreng yang baru di bikin tadi. " ucap Pak Johan pada Maria. Betapa ingin Maria menolaknya, ia begitu ingin berada di samping Rama saat ini, namun ia tak mungkin membantah perintah ayahnya tersebut. Sejenak Maria menatap Rama. Rama tersenyum, Maria menggenggam tangan kekasihnya. " Aku tinggal dulu Ram...." ucap Maria mempererat genggaman tangannya. Rama mengangguk dan mengusap lembut kepala sang kekasih yang tertutup kerudung. Pak Johan tersenyum melihatnya. Ia tahu bahwa Rama dan Maria saling mencintai. Maria berjalan meninggalkan ruang tamu menuju dapur. Sejenak ia berpapasan dengan Iqbal adiknya. " Kakak tenang saja, aku yang akan mengawasi nya. Oya kak, kakak ipar ganteng sekali kaya artis korea. Ketemu di mana kak ? " ucap Iqbal setengah menggoda. Maria menatap adik dengan setengah mendelik. Iqbal tersenyum cengengesan, ia tahu kakaknya sedang kalut mengkhawatirkan sang kekasih yang sedang menghadapi calon mertua. " Ya deh, kakak ku yang cantik. Adikmu ini akan mendukung calon kakak ipar dengan kekuatan penuh. " ucap Iqbal tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Maria pun akhirnya tersenyum di buatnya, dengan gemes di acak-acak nya rambut adiknya tersebut. " Ah...kk, menodai kegantengan ku...." ucap Iqbal dengan wajah cemberut. Maria tertawa kecil. Iqbal memang sedikit bawel namun ia punya perhatian yang besar dan pandai menghibur.
Iqbal duduk di kursi ruang tamu di samping Rama, ia mulai mendengarkan Rama dan ayahnya yang masih berbincang-bincang dengan asyik, tidak tegang seperti di awal. Pak Johan dan Rama tampak cepat akrab.
__ADS_1
Sesekali mulai terdengar tawa mereka. Meski pun kadang Iqbal kurang mengerti apa yang di bicarakan antara Rama dan ayahnya, namun Iqbal nampak mendengarkan percakapan dengan seksama.
Tak lama kemudian Maria muncul dengan membawakan minuman dan makanan kecil . Wajahnya nampak segar karena ia telah mandi dan berganti pakaian. Maria meletakan minuman dan pisang, tahu dan tempe goreng di meja tamu, juga toples berisi biskuit, tak lupa pula ia letakan mangkok berisi air untuk cuci tangan .
Sejenak Maria menatap tegang ke arah Rama. Rama tersenyum manis, ia tahu saat ini Maria sangat mengkhawatirkannya. Maria yang merasa belum puas dengan senyuman Rama mengalihkan pandangannya ke arah Iqbal adiknya, namun sang adik malah mengedipkan mata kirinya sebelah. Sumpah Maria sangat gemes dengan kedua cowok itu. Ingin sekali ia mencubit kedua nya.
Tiba-tiba dari arah dapur muncul Ratna istri Pak Johan, ibu Maria. wanita itu walau sudah agak berumur namun masih terlihat cantik. " Siapa ini Pa ? " ucap Bu Ratna menatap Rama dengan penasaran. " Dia Rama Aditiya Putra. Kekasih anak kita. " Jawab Pak Johan, Bu Ratna agak kaget di buatnya, soalnya karena selama ini Maria hampir tak pernah membawa teman cowok ke rumah. Kembali Bu Ratna menatap Rama , Rama pun tersenyum manis. " Wah...pa. Ganteng sekali calon mantu kita. Beruntung sekali Maria , ada orang yang seganteng ini yang naksir kamu " ucap Bu Ratna memuji dengan polosnya. Rama tersenyum mendengarnya, sedangkan Maria nampak tersipu malu. " Sejak kapan kalian berpacaran ? " tanya Bu Ratna lagi. " Belum lama bu, saya ingin kita cepat-cepat menikah saja. Saya ingin menghalalkannya bu.". ucap Rama lembut dan sopan. " Nak Rama, Maria hanya gadis biasa saja. " ucap Bu Ratna merendah. " Bagi saya dia sungguh istimewa. Saya sangat mencintainya Bu...." ucap Rama mantap. Bu Ratna tersenyum melihat kesungguhan Rama. " Ngomong-ngomong apa pekerjaan nak Rama kalau boleh tahu ? " Saya seorang polisi Bu...." ucap Rama. Sejenak Bu Ratna tertegun, namun ia kemudian tersenyum.
" Wow...kak Rama seorang polisi toh....., he...he...kk bisa kena tembak. Kak Rama punya pistol dua..., satu untuk nembak penjahat satunya lagi nembak kk pastinya. Kk harus siap-siap ya...." ucap Iqbal menggoda Maria. Maria mengerutkan keningnya . " Apa maksud nya 2 pistol yach ?🤔🤔🤔🤔. " ucap Maria dalam hati. Pak Johan dan Bu Ratna langsung melotot ke arah Iqbal karena candaan Iqbal sudah keterlaluan. " Kamu ini masih anak bau kencur. " ucap Bunda memukul lengan Iqbal. Iqbal terkekeh. Sedangkan Rama tertunduk malu. " Maafkan anak saya nak Rama. Ia memang anak yang suka bercanda. " ucap Bu Ratna merasa bersalah. " Tak apa Bu. " ucap Rama sopan.
__ADS_1
Pak Johan menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 17.00 WITA. Tak terasa hari semakin sore. "Iqbal, pinjamkan pakaian gantimu buat Rama...." ucap Pak johan lagi tiba-tiba " Iya Pa..." ucap Iqbal cepat. Pak johan menatap Rama. " Nak Rama sebaiknya pulang sesudah makan malam, istirahatlah dulu disini. Nak Rama bisa mandi dulu dan istirahat di kamar Iqbal sampai azan magrib. Lalu kita makan bersama shalat magrib dan makan malam bersama." ucap Pak Johan. Rama mengangguk. " Terima kasih Pak. " ucap Rama sopan. " Iqbal, ayo ajak Rama beristirahat. " ucap Pak Johan pada Iqbal. " Siap Pa, Ayo kak Rama ikut Iqbal." ucap Iqbal sambil tersenyum ke arah Rama, Rama pun membalas senyum itu. " Terima kasih. Permisi Pak, Bu. " ucap Rama sopan sebelum beranjak pergi bersama Iqbal. Pak Johan dan Bu Ratna mengangguk dan tersenyum. " Silahkan nak... " ucap Bu Ratna. Rama dan Iqbal pun berjalan pergi beriringan.
Maria, merapikan makanan dan minuman yang ada di atas meja. " Kamu yakin ....ingin menikah dengannya ? " tanya Pak Johan tiba-tiba. " Maria sangat mencintainya Pa. " ucap Maria dengan keyakinannya. " Kamu tahu menjadi isteri seorang polisi sangat berat dan penuh resiko. " ucap Pak Johan lagi
" ya pa, Maria tahu. Tapi Maria siap menanggung semua resiko itu. Maria akan kuat, percayalah Pa ..., Ma. Maria bukan orang yang mudah menyerah. Maria akan mendampinginya dengan segenap hati. Mohon restu dari papa dan mama. " ucap Maria dengan sepenuh hati. " Papa menyukai Rama, Ia memang sangat baik dan punya kelebihan. Tapi ia harus melewati ujian akhir untuk menjadi imam mu, baru bisa mendapatkan restu. " ucap Pak Johan. Maria menatap tegang ayahnya, ia begitu ingin tahu ujian itu.
BERSAMBUNG
Bagaimana kisah selanjutnya ? Ujian apa yang bakal di lewati Rama ? Ikuti cerita selanjutnya......Terima kasih.
__ADS_1