14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
BAB IX AKU AKAN MENANGKAPMU


__ADS_3

Hari ke enam, tinggal 8 hari lagi dari waktu 14 hari. Pukul 11.00 , seperti biasa nampak Maria asyik menikmati pisang goreng dan secangkir teh di warung dekat rumah sakit yang kebetulan berseberangan pula dengan kantor polres. Maria nampak menunggu waktu yang tepat untuk mengirimkan puisi ke tiga yang akan membuat Rama semakin penasaran. Maria sangat tahu yang ia lakukan begitu berbahaya dan mungkin jika ketahuan ia akan di tuntut dengan alasan telah melakukan perlakuan tidak menyenangkan. Tetapi rasanya Maria tak punya ide lain untuk mencuri perhatian Rama, dan ia merasa yakin Rama tak akan sekejam itu menuntutnya.


Harapan Maria pun muncul ketika melihat Rama dan teman-temannya muncul keluar dari wilayah kantor polres. Namun ternyata itu malah jadi bumerang bagi Maria karena Rama dan teman-temannya berjalan menuju warung di mana Maria berada. " Ah.....mengapa ia harus kemari? " ucap Maria galau . " Bu, ini bayarnya. " Maria menyerahkan uangnya, dengan tergesa-gesa ia membayar makanan dan minumannya " Ini kembalinya non. " ucap penjaga warung. " Ya, terima kasih " Maria segera memasukan uang kembali ke dalam dompetnya. Maria mulai gugup segera menjauh masuk ke dalam wilayah rumah sakit. ia bersembunyi di balik tembok, sambil memperhatikan Rama dan teman-temannya.


Rama dan teman-temannya pun tiba warung dan memesan makanan dan minuman mereka.Sambil bercanda mereka menikmati pisang goreng tersebut.


Maria yang mengintip dibalik tembok tiba - tiba melihat anak laki-laki berumur 9 tahun lewat di hadapannya. Anak itu adalah salah satu keluarga pasein yang menjadi penunggu pasien yang opname di rumah sakit. " Dik tunggu, bisa serahkan ini pada bapak polisi yang ada diwarung itu " ucap Maria pada anak itu. Dengan polos anak laki-laki itu menerimanya. " Iya kak." ucap anak itu. " Oya , ini untukmu buat jajan." Maria memberikan uang dua puluh ribu an kepada anak itu sebagai balas jasa. " Terima kasih kak" ucap anak laki-laki itu girang.


Anak itu kemudian berjalan dan menghampiri Rama dan teman-temannya dan menyerahkan surat yang diberikan Maria. " Kak ini ada titipan dari kakak cantik, " ucap anak itu, Rama dan teman-temannya saling berpandangan. " Dia ada di sini Ram. " bisik Sigit. " Dimana kakak yang nitip ini ? " tanya Rama pada anak itu.


" Tadi di sana kak." ucap anak itu sambil menunjuk tembok dimana Maria bersembunyi. Maria yang melihat anak itu menunjuk ke arah persembunyiannya segera menjauh sebelum tertangkap." Sial, aku lupa memberi tahu agar jangan bilang tentang persembunyianku." ucap Maria setengah berlari. Rama yang melihat gerakan di balik tembok segera mengejar.


" Rama !" Sigit ikut berdiri membantu mengejar. Rama melihat Maria dari belakang masuk ke ruang tunggu pasein bagian poli, sontak Rama mengejar , disusul Sigit. " Kali ini aku tidak akan kehilanganmu. " ucap Rama dalam hati kemudian ikut masuk ke ruang tunggu. Maria yang melihat Rama ikut masuk segera mengambil langkah masuk ke ruang poli umum yang kebetulan dekat dengannya. Rama pun kehilangan Maria. " ha....dimana dia? cepat sekali cewek itu. Ah....rasanya aku tak percaya , kalah lagi dengannya. Wajahnya juga tak sempat ku lihat. Ah...." ucap Rama sambil mengacak ngacak kepalanya yang tak gatal.


" Gimana Ram?" tanya Sigit menghampiri Rama. " Aku kehilangan jejaknya." ucap Rama dengan nada kecewa. " Sempat lihat wajahnya ?" tanya Sigit lagi, Rama menggeleng . " Aku cuma lihat dia dari belakang masuk ke ruang tunggu, tapi ketika di kejar sudah menghilang. Sepertinya cewek itu sangat pintar dan cerdas.Di saat genting ia cepat mengambil keputusan ." ucap Rama lagi. " Cewek yang menarik Ram, ia bisa lolos darimu." ucap Sigit. " Sudah dua kali Git, aku kehilangan dia. " ucap Rama tertunduk.


" Ha ...dua kali , kapan ? " tanya Sigit penasaran.


" Empat hari yang lalu ketika aku pergi ke mesjid, aku merasa ada orang yang mengawasiku. Dan aku melihatnya juga hampir menangkapnya. Tapi wajahnya tak bisa kulihat , ia melilitkan kerudungnya menjadikannya cadar dan ketika aku hampir menangkapnya ia berhasil lolos karena ada anak kecil menabrakku. Aku rasa ia adalah wanita yang sama." ucap Rama. " Cewek yang beruntung. Gimana apa yang kau lakukan sekarang ? " ucap Sigit. " Ayo kita selidiki cewek itu. Aku ingin menangkapnya." ucap Rama akhirnya.


" Wow.....akhirnya ia berhasil membuatmu penasaran. " ucap Sigit, Rama tersenyum " Ayo kita kembali." ajak Rama di iringi Sigit kembali ke warung melanjutkan makan dan minum mereka.


Sementara itu Maria yang masuk tiba-tiba masuk ke ruang poli umum membuat terkejut 2 orang perawat jaga yang sudah berumur dan dokter muda tampan yang kebetulan sedang bersantai karena pasien sudah selesai diperiksa. Maria pun kaget namun apa boleh buat jika ia keluar sekarang, ia bakal tertangkap Rama. Ia harus berusaha mengulur waktu.


" Maaf , saya tak sengaja salah masuk." ucap Maria berbohong, ia kemudian dengan sengaja menabrak meja dengan maksud mengulur waktu agar pernak pernik di meja jatuh ke lantai namun tak terduga Maria oleng hingga malah jatuh terduduk di pangkuan dokter muda yang sedang duduk di kursi.


Brukk...! " Ah.......!


Maria dan dokter itu sontak terkejut dan saling bertatapan.Wajah Maria langsung memerah menahan malu. Dokter itu menatap Maria,


" Manis sekali cewek ini, mata nya begitu indah saat menatap." doter itu tersenyum, dokter Aldi Hermawan adalah dokter umum yang sedang magang di rumah sakit tersebut. " Maaf.....saya tak sengaja." Maria mencoba berdiri , tapi dokter Aldi yang tak ingin Maria cepat - cepat pergi dengan sengaja menarik baju Maria tanpa Maria sadari. Maria kembali jatuh ke pangkuan Aldi.


Bruk.....! " Ah....."


Maria betul-betul malu di buatnya, sedangkan Aldi malah sibuk menatap wajah Maria dari mata sampai ke bibir Maria yang tipis. Aroma tubuh Maria tercium begitu harum. Sungguh Aldi saat itu ingin mencium bibir Maria, dan menenggelamkannya dalam tautan bibirnya. " Hei .....nona, beratmu sekitar 50 kg. Em...aku jadi betah mencium aroma tubuhmu." ucap Aldi dalam hati, ia terus tersenyum membuat wajahnya semakin tampan.


Maria mencoba berdiri kembali, kali ini Aldi membiarkan Maria berdiri. " Maaf dok, Saya tak sengaja , sekali lagi saya mohon maaf karena salah masuk dan.......itu tadi juga tak .....sengaja......." ucap Maria gugup. " Tidak apa-apa." ucap Aldi menahan tawanya.Sedangkan dua orang perawat ( Ogi dan Nana ) juga berusaha menahan tawa. Duh.....Maria semakin malu.

__ADS_1


" Maaf, saya permisi." ucap Maria akhirnya segera meninggal tempat itu secepatnya.


Aldi, Nana dan Ogi pun tertawa setelah kepergian Maria. " Wah.... dok, kejatuhan rezeki. Mimpi apa dok semalam sampai ada cewek yang jatuh ke pangkuan ? " goda Ogi. " Iya dok, wajahnya malu sekali. Em....tapi saya curiga dokter yang buat ia jatuh kepangkuan untuk kedua kalinya. Ya....kan ? " tebak Nana, Aldi tersenyum. " Aku cuma ingin bercanda dengannya." ucap Aldi berbohong. " Tapi lumayanlah.....ketiban jatuh cewek cakep." ucap Aldi lagi tertawa. Nana dan Ogi kembali tertawa. Entah mengapa Aldi merasa hatinya berbunga - bunga. " Semoga aku bisa ketemu denganmu lagi nona. " ucap Aldi penuh harap.


Sementara itu Rama telah tiba di kantornya bersama teman-temannya. Rama menatap menatap amplop surat berwarna pink tersebut dan kemudian membuka isi surat dan membacanya.


..............


Ku nanti dirimu


dalam lubuk hatiku


Ku nanti senyummu


hiasi hari- hariku


Ku harap dirimu


merasakan cintaku


Ku harap dirimu


Ku tatap dirimu


dengan kasih sayangku


Ku tatap matamu


yang menggetarkan jiwaku


Dibalik mataku


tersimpan cinta untukmu


Dibalik hasratku


ada keinginan memilikimu

__ADS_1


Ku sebut namamu


dengan sinyal cintaku


Ku sebut namamu


dengan perasaan yang syahdu


Ku impikan dirimu


Ku bayangkan dirimu


Ku ingin bersamamu


Ku ingin di sampingmu


Pada kau yang menghiasi mimpiku


Pada kau sang pencuri hatiku


Biarlah rasa ini berkelana dalam hatiku


.................


Rama menarik napas panjang. Sigit , Agung dan Budi ikut membaca surat itu. " Begitu romantis." gumam Agung. " Sayang kalau tak mengenalnya." ucap Sigit.


" Pulang kantor, kita coba periksa cctv. " ucap Rama akhirnya. Sigit, Agung dan Budi mengangguk. " Kami akan membantumu bro. " ucap Sigit sambil menepuk bahu Rama.


......


Sepulang kantor, Rama dan teman -temannya memeriksa cctv. " Tunggu.....ini dia ." ucap Rama ketika melihat cctv " Coba perbesar. " ucap Sigit pada Rama. Rama pun memperbesar. Memang masih buram namun tinggi dan poster tubuh Maria terlihat nyata. " Kau yakin ini dia Ram ?" ucap Agung, Rama mengangguk. " Tingginya cuma sekitar 145 cm beratnya mungkin sekitar 50 kg. Kecil molek dan begitu lincah. " ucap Budi, Rama tersenyum dan mencoba membayangkan wajah Maria.


" Aku pasti akan menangkapnya." ucap Rama.


" Kami pasti membantumu bro." Sigit menepuk bahu Rama. " Semangat bro." Agung meninju bahu Rama. Rama pun tersenyum.


Sementara itu, lain hanya dengan Maria yang baru sampai di rumahnya. Maria nampak memukul-mukul kepalanya sendiri, ia masih mengingat kejadian memalukan tadi.

__ADS_1


" Rama....., kamu betul-betul membuatku mengalami ini semua. Ah......bisakah aku menghilang dari dunia ini untuk sementara ? " rintih Maria dalam hati.


Maria.....masih tersisa 8 hari lagi.


__ADS_2