
" Kok perasaanku tidak enak yach...apa sebaiknya aku pulang saja ? " Maria begitu gelisah. Entah mengapa perasaannya tak enak. Maria merapikan buku-buku di mejanya bersiap-siap untuk pulang.
Tiba-tiba Lana masuk ruang kantor tersebut. Maria merasa gugup, ia takut Lana kembali menanyakan statusnya. Dan benar, Lana masih penasaran mendekati Maria. " Apa benar kamu telah menikah dengan Rama ? " tanya Lana.
" Aku bersamanya. Maafkan adik, kak Lana harus melupakan adik. " ucap Maria hati-hati.
" Aku tidak bisa melupakanmu." ucap Lana sedih. " Maafkan adik, mungkin telah menyakiti kk. " ucap Maria menyesal. Maria meninggalkan Lana. Lana terduduk. Pernyataan Maria membuatnya sakit hati luar biasa. Maaf Lana kamu harus sakit hati sekarang....
Maria berjalan pulang ke rumah. Sudah pukul 13.00. Maria masih merasa tidak enak. Pikirannya kacau hingga ia tak konsentrasi dan menabrak seseorang. Maria kaget dan buku di tangannya pun terjatuh. Orang itu mengambilkan buku yang terjatuh dan menyerahkannya pada Maria. Wajah orang itu sangat tampan namun aura dingin nampak terpancar dari wajahnya. Orang itu tak lain adalah Fero. Wajah blasteran/indo Amerika Latin membuatnya tampak memukau.
" Anna..." ucap Fero mencoba tersenyum, walau sebenarnya Fero jarang tersenyum. Senyum itu betul-betul dingin. " Anna....? maaf saya bukan Ana. " ucap Maria menatap ke arah Fero dengan tatapan mata kejoranya.
" Up..wajahnya biasa saja tapi mengapa saat ia menatap malah menggetarkan jiwaku dan membuat ia sangat cantik di mataku. " ucap Fero dalam hati. Ia seperti tak siap menahan serangan tatapan mata Maria yang tiba-tiba. Fero mencoba menenangkan hatinya, karena misinya adalah melenyapkan cewek itu. Fero kembali tersenyum. " Bagiku ..., kamu tetap
Anna. " bisik Fero kemudian berlalu dari hadapan Maria. Sejenak Maria begitu tegang, bisikan Fero membuat bulu kuduknya merinding. " Cowok aneh. Rasanya aku baru melihatnya. Siapakah Anna yang ia maksud ? " ucap Maria dalam hati dengan rasa penasaran. Ia hanya memandang Fero yang telah menjauh. Maria melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Anak buah Fero datang menemui Fero. " Bos. Mengapa bos menghampiri cewek itu ? " tanya Jarot pada Fero bos mereka. " Aku hanya ingin melihatnya dari dekat. Ia cewek yang lumayan dan bermata indah. Tapi aku masih bingung apa istemewanya cewek ini selain matanya yang indah. Aku penasaran mengapa Rama jatuh cinta padanya bukan pada Anna, padahal Anna jauh lebih cantik dari pada dia ? " ucap Fero dengan tatapan penasaran. Anak buahnya hanya manggut-manggut mencoba memahami bos mereka. " Bos..kapan kita bergerak ? " ucap Edi. " Tunggu perintahku. Sekarang aku ingin bermain-main dengannya dulu. " ucap Fero tersenyum licik. Tatapan Maria terlintas di pikiran Fero.
__ADS_1
" Cewek berkurudung, akan ku buat kau menyesal telah bertemu denganku. " ucap Fero penuh dendam.
Sementara itu Maria telah sampai di rumah. Ia mengganti pakaiannya di kamar mandi karena Rama berbaring di kamar dan nampak tertidur. Maria pergi ke meja makan dan terkejut karena ternyata makanan untuk Rama masih utuh.
" Jadi Rama belum bangun dari tempat tidur ? Jangan-jangan Rama...? " Dengan cemas Maria pergi ke kamar menjenguk Rama. Tanpa basa-basi Maria meraba kening Rama.
" Ha....panas ! Ram...apa yang terjadi denganmu ? " Maria jadi panik, dengan cepat ia pergi ke dapur mengambil makanan dan membuat minuman teh panas serta obat penurun panas ( paracetamol ) di kotak obat. Maria kemudian membawa makanan, minuman dan obat menghampiri Rama. Maria meletakan makanan di meja hias dan kemudian perlahan-lahan membangunkan Rama.
" Ram...kamu demam. Bangun dulu sayang...." bujuk Maria lembut. Rama nampak tak bergeming. " Ram..., Rama ayo bangun. kamu harus minum obat dulu. Kamu...demam. " ucap Maria makin cemas sambil mengusap kepala Rama. Tiba-tiba Rama menggenggam tangan Maria dan mencium tangan tersebut.
" Kok ...gara-gara aku ? " protes Maria. " Kamu membuat aku menginginkan mu dan ingin mencumbumu. " bisik Rama lembut, Maria merinding mendengarnya. " Bagaimana bisa begitu ? " protes Maria lagi sambil menatap Rama. " Buktinya yah ...kaya gini, jangan salahkan aku jika aku menciummu. " ucap Rama serius, di belainya lembut bibir Maria dan mulai mendekat. " Rama..." Maria mencubit Rama dan melepaskan diri dari pelukan Rama.
" Aw...! " Rama meringis kesakitan. " Tunggu halal Ram.." ucap Maria cemberut. Rama akhirnya mengangguk dan tersenyum.
" Kamu harus makan yach..." ucap Maria kemudian mengambil makanan yang ia letakan di meja hias. Maria pun menyuapi Rama perlahan-lahan. Sesekali ia memimumkan teh panas pada Rama. Dengan senang hati Rama menerima perlakuan Maria padanya. Rama sungguh merasa bahagia karena Maria begitu lembut padanya. Setelah makan Maria meminumkan obat penurun panas.
" Nah...sekarang kamu berbaring dan istirahat." ucap Maria lembut, Rama pun menurutinya.
__ADS_1
Maria kemudian beranjak pergi. " Mau kemana ? " tanya Rama. " Mau ke dapur. " ucap Maria. " Kamu di sini saja. " Rama memelas.
" Pak polisi tunggu saja. Aku akan kembali kok ? Sebentar saja. Oke. " ucap Maria lagi. Rama menarik napas dalam-dalam menatap kepergian Maria.
Beberapa saat kemudian Maria datang membawa campuran minyak kayu putih, minyak zaitun dan irisan bawang merah.
" Untuk apa ? " tanya Rama heran. " Untuk mengurangi rasa demammu." ucap Maria lembut. Rama mengerutkan kening. " Sekarang buka bajumu. " ucap Maria lagi. Rama agak terkejut mendengarnya. " Yakin...aku buka baju ? " tanya Rama meyakinkan. Maria mengangguk. Perlahan-lahan Rama membuka bajunya. Badan Rama yang indah, dengan bulu halus di dadanya, berotot dengan Roti sobek di bagian perut terlihat memukau. Maria langsung memejamkan matanya. Rama tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya itu, yang tak berani melihatnya. " Tuh...kan katanya aku harus buka baju tapi kamu malah memejamkan mata. Kamu tidak berani melihatku....? " ucap Rama menggoda. Ia kemudian menarik Maria jatuh ke pelukannya. " Ah...Rama. " Maria jatuh tepat di dada Rama. Maria terpaksa membuka matanya. Dan saat membuka matanya, ia sangat dekat dengan Rama. Maria begitu gugup, Rama pun tersenyum. ia melihat wajah Maria yang tampak gugup dengan tangan gemetar meraba dadanya. " Ih....Rama. " ucap Maria kesal dan mencoba bangkit, namun Rama tak ingin melepaskannya. " Ram.., lepasin. " rengek Maria. Dengan perasaan tak rela Rama pun terpaksa melepaskan Maria dan ia harus menerima kekesalan cewek yang dicintainya tersebut. Dalam hati Rama mengutuk dirinya sendiri yang tak mampu membendung perasaannya.
" Sayang...jangan Marah." ucap Rama memelas. Maria masih marah. " Sekarang berbaring dan tengkurap ! " ucap Maria ketus. " Sayang, maaf. Aku cuma bercanda. " ucap Rama lagi berusaha membujuk. " Ih...bercanda ? Kalau kita khilaf gimana ? " protes Maria, ia sangat takut mereka berdua........ " Ya .... kita kawin saja." ucap Rama seadanya. Maria semakin kesal. " Ayo...tengkurap. " ucap Maria agak keras. " Sayang, apa sekarang aku di hukum ? " tanya Rama. " Ya, cepat..." ucap Maria tak sabar. Rama terpaksa berbaring tengkurap. " Sayang..., maaf....." ucap Rama lagi merasa khawatir dengan apa yang dilakukan Maria untuk menghukumnya.
Namun perlahan-lahan Rama merasakan sentuhan Maria yang membalur tubuhnya yang agak panas dengan campuran minyak kayu putih, minyak zaitun dan irisan bawang merah. Bahkan Maria mulai memijitnya. Rama merasa begitu nyaman. " Ah...enak sekali, rasanya aku mau begini setiap hari. Ah...Maria cepatlah jadi isteriku. " ucap Rama dalam hati. Tiba-tiba mata Rama jadi mengantuk dan tertidur. Merasa Rama sudah agak nyenyak tertidur, Maria berusaha susah payah membalikan telentang tubuh Rama perlahan-lahan. Dengan gugup Maria kembali membalurkan campuran tadi ke dada Rama, menyentuh roti sobek Rama serta tangan Rama. " Maaf aku terpaksa menyentuhmu Rama. " ucap Maria sambil menelan slavinanya sendiri. Tubuh Rama begitu menggoda. " Pak polisi, mengapa kamu tampan sekali. " ucap Maria membelai wajah Rama dan bibirnya. Maria begitu ingin mencium bibir Rama saat itu, namun ia tahan.
" Mana mungkin aku marah padamu, karena aku selalu mencintaimu. " ucap Maria penuh cinta. Rama tak mendengarnya, ia telah tertidur nyenyak.
Maria kemudian menyelimuti Rama. Lalu pergi ke dapur mengambil air hangat dan handuk kecil. Setelah itu ia kembali ke kamar dan mengompres kening Rama dengan meletakan handuk kecil yang telah di celup dengan air hangat ke kening ke kasihnya. Dengan telaten ia lakukan itu sampai demam Rama berkurang. Bahkan Maria akhirnya tertidur sambil duduk dengan kepala bersandar di bibir ranjang dengan tangan menggenggam tangan kekasihnya.
Menjelang sore Rama terbangun, demamnya telah hilang, sedangkan Maria masih tertidur. Rama begitu terharu melihat Maria yang sedang tertidur. " Ah...Maria, kamu betul-betul menjagaku." perlahan-lahan Rama bangkit, dan mengangkat Maria ke atas ranjang. " Maria, kamu betul-betul mempunyai hati yang sangat cantik, beruntung sekali aku mendapatkanmu. " ucap Rama lirih. Perlahan-lahan di ciumnya bibir Maria dengan lembut. " Maaf aku menciummu. Aku tahu kamu akan marah jika aku melakukannya. " ucap Rama lagi. Maria menggeliat dengan bibir yang sedikit terbuka hingga membuat Rama tertantang untuk menciumnya kembali dengan sedikit mengemut lembut bibir itu. Ketika mengemut bibir kekasihnya, Rama merasa bibir itu sungguh lembut dan sangat manis. " Ah...sial bibirmu manis sekali dan aku sepertinya kecanduan. " ucap Rama menggelengkan kepalanya mencoba menahan perasaannya. Ia telah dua kali mencuri ciuman kekasihnya, dan jika ia mencurinya lagi, maka kekasihnya mungkin akan terbangun. " Aku sangat mencintaimu Maria. Pulanglah bersamaku, kita akan menikah secepatnya. " ucap Rama lembut. Ia kemudian membelai kepala Maria yang memakai kerudung.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih telah setia. Nanti kan kelanjutannya.