14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
BAB XXXI OH...TIDAK CIUMAN PERTAMAKU


__ADS_3

Rama dan Lana bertarung sengit dalam permainan catur. Bagaikan sebuah perang mereka beradu saling mengalahkan. Lana memang jago bermain catur tapi Rama...? Maria baru tahu kalau Rama juga jago dalam catur. Mulanya Rama menang, tapi lana bangkit membalas memenangkan di pertarungan kedua, di pertarungan ketiga kembali Rama menang. Namun saat pertarungan ke empat, Lana yang menang. Kini kedudukan 2 : 2. Maria begitu gelisah, beberapa kali ia memberi isyarat pada Rama untuk pulang karena telah larut malam. Tapi Rama dan Lana sama-sama tak mau mengalah. Mereka bertarung seperti mempertahankan harga diri untuk mendapatkan Maria.


" Ram, ayo pulang. " bisik Maria. " Masih tanggung, aku harus mengalahkannya." ucap Rama berbisik pula. " kalah menangkan bukan masalah, ini bukan perlombaan." bisik Maria lagi. " Kalau gitu sekali lagi, baru setelah ini kita pulang. " bisik Rama lagi, Maria menarik napas dalam-dalam. Maria begitu heran di buatnya.


" Apa pentingnya sih pertarungan ini ?" ucap maria menggelengkan kepalanya.


Pertarungan terus berlangsung, dan akhirnya Rama pun menang. Rama tersenyum bahagia. sedang kan Lana begitu kesal karena menelan kekalahan. Tangan Lana tergenggam erat.


" Lain kali, aku harus menang. " ucap Lana dalam hati.


Karena pertarungan catur telah selesai, Rama pun mohon pamit. " Pak, kami pulang dulu. Hari telah larut malam. " ucap Rama. " Nak Rama, jangan malu-malu jika ingin kemari." ucap Pak Karim. " Terima kasih Pak. " ucap Rama sopan. " Sama-sama nak Rama." ucap Pak Karim.


" Terima kasih juga atas undangan makannya pa..., bu...." ucap Maria penuh sopan santun.


" Sama-sama juga nak Maria. Kami sangat senang bisa bersama kalian. " ucap Ibu Narti ramah. " assalamu'alaikum." ucap Rama.


" Wa'alaikum salam." ucap Pak Karim. Rama dan Maria menyalami Pak Karim dan Ibu Narti. Pak Karim dan Ibu Narti menatap kepergian Rama dan Maria. Sedangkan Lana yang begitu kesal enggan melepas kepergian Rama dan Maria.

__ADS_1


Rama dan Maria berjalan bersisian. " Tuh..kan kita kemalaman di jalan." ucap Maria setengah menyalahkan. Rama tersenyum. " Kenapa takut ? " ucap Rama. " Ya.. takutlah." ucap Maria menatap sekeliling yang tampak sepi. " Kan kamu bersamaku. Aku juga seorang polisi, aku pasti jagain kamu. Kamu tak perlu ragukan kemampuanku. " ucap Rama dengan alasannya. " Justru yang aku takutkan itu adalah kamu. " ucap Maria setengah berlari meninggalkan Rama. Rama mencoba mengejarnya walau agak susah karena saat ini ia masih mengenakan sarung dan baju koko.


" Yang benar saja. Dia benar-benar membuatku lari dengan baju ini. " ucap Rama menggelengkan kepalanya.


Namun tiba-tiba Maria berbalik arah. " Ram..." teriak Maria berlari ke arah Rama. Sesampai di hadapan Rama, Maria langsung memegang tangan Rama dan bersembunyi di belakang Rama. " Ada apa ? Katanya takut dengan ku ? " protes Rama. Maria semakin erat memegang tangan Rama. " Itu Ram...." Ucap Maria menunjuk seekor anjing yang datang mengejarnya. Maria begitu gemetar. Belum lagi Rama melakukan pembelaan. Maria malah mengajaknya lari. " Ram .....kita lari saja, kayanya anjing gila. Ayo Ram ...kita lari...!" ucap Maria menarik tangan Rama memaksanya untuk berlari bersama sambil berpegangan tangan. " Maria..." ucap Rama tak mengerti tapi ia akhirnya berlari juga bersama Maria sambil berpegangan tangan. Anjing liar itu mengejar mereka berdua. Maria semakin erat menggenggam tangan Rama. Mereka mempercepat lari mereka. Rama tersenyum bahagia karena berlari bersama Maria. Hatinya bermekaran bagai bunga. " Ah..indahnya berlari bersamamu." ucap Rama menatap Maria mesra. Karena berlari mereka jadi lebih cepat sampai ke rumah.


Maria cepat-cepat mengunci pintu. Anjing liar itu nampak menabrak-nabrak pintu dan menggonggong. Maria yang ketakutan menyembunyikan wajahnya di dada Rama. Di pegangnya baju koko Rama dengan erat hingga membuka bebetapa kancing baju tersebut. Dada yang bidang dengan bulu-bulu halus tampak terlihat begitu menggoda. Maria tak perduli, ia tetap menyembunyikan wajahnya di dada Rama. Rama tersenyum bahagia. Rama merasakan napas Maria yang memburu menyentuh hangat dadanya. Meskipun ia begitu ingin memeluk Maria saat itu namun ia berusaha menahannya agar tidak lepas kendali.


" Maria, betapa indahnya seandainya kita telah halal, tentu saat ini sudah ku peluk erat dirimu. Lalu aku cumbu dirimu dan perlahan membawa mu ke tempat tidur di mana kita akan mengarungi lautan cinta bersama-sama." ucap Rama mengkhayal dalam hati.


" Bodoh....bodoh ....bodoh." Maria mengumpat dirinya sendiri yang bertindak bodoh di hadapan Rama. Maria berusaha menenangkan hatinya. Setelah agak tenang, diambilnya selimut dan bantal untuk Rama. Karena Rama akan menginap dan terpaksa harus tidur di kursi panjang tamu karena kamar tidur cuma satu. Maria menghampiri Rama. " Ram, kamu terpaksa harus tidur di sini, soalnya kamarnya hanya ada satu. " ucap Maria hati-hati. " Terima kasih." ucap Rama mengambil selimut dan bantal. Saat Rama mengambil bantal dan selimut, lagi-lagi tanpa sengaja Rama menarik tangan Maria.


Dan........! akibatnya Maria jatuh dan mendorong tubuh Rama ke kursi panjang tersebut. Tubuh Maria mendarat sempurna di tubuh Rama bahkan tanpa sengaja bibir Maria menyentuh bibir Rama. " Ah......" Maria dan Rama begitu terkejut, mata mereka berdua melebar tak percaya bahwa mereka kini sedang berciuman. Maria dan Rama sama-sama menelan slavina masing-masing. Jantung mereka berdua juga berdetak kencang.


" Oh...tidak ciuman pertamaku." rintih Maria dalam hati hampir ingin menangis.


" Ya ...Tuhan. Ampunilah...." ucap Rama dalam hati. Sungguh Rama tak menyangka akan begini. Rama tak berani menggerakan bibirnya karena gerakan sedikit saja dapat berubah menjadi ciuman yang memanas. Meskipun Rama sangat menginginkannya karena joniurnya mulai mengamuk lagi.

__ADS_1


Maria berusaha bangkit. Wajahnya memerah menahan malu yang bersangatan. Seandainya Maria bisa menghilang mungkin ia ingin menghilang untuk sementara waktu.


" Aku...aku...maaf....." ucap Maria hampir tak mampu berkata apa-apa. Iya segera berlalu dari hadapan Rama kembali ke dalam kamar dengan jantung yang berdetak kencang. Begitu pula Rama jantungnya juga berdetak kencang.


Maria dan Rama berusaha menenangkan hati. Keduanya membaca istigfar berkali-kali. Rama masih tertegun, kejadian itu betul-betul membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Sedangkan Maria menelungkupkan wajahnya ke bantal dan tangannya menampar kasur berkali-kali. " Bodohnya aku.....! " teriak Maria dalam hati.


Rama di landa kegelisahan. " Maria, maafkan aku dengan keadaan ini. Besok aku janji padamu akan lebih hati-hati. Aku hanya ingin dekat denganmu. Saat pulang nanti aku akan melamarmu. Kita akan menikah secepat mungkin. Maria aku mencintaimu. Sungguh aku menginginkan mu. " ucap Rama dalam hati sambil mencoba memejamkan matanya.


Sedangkan Maria juga berusaha berbaring dan memejamkan matanya. " Ram...aku mencintaimu. Sungguh aku tak sanggup jika jauh darimu tapi aku juga tak sanggup menahan gejolak nafsu dan cinta bila berdekatan denganmu. Segeralah lamar aku Ram ....dan bawalah aku ke penghulu. Sungguh aku ingin jadi isterimu. Sehingga hubungan kita halal. Aku menginginkan mu Ram....." ucap Maria dalam hati.


Keduanya di landa cinta. Keduanya di landa kegelisahan. Dan saat tertidur keduanya pun terbuai mimpi indah.


Cinta memang memabukan. Namun jika belum halal bentengi dirimu dengan iman.


BERSAMBUNG.


Terima kasih telah setia membacanya.

__ADS_1


__ADS_2