
Maria membukakan pintu dan menyambut sang mertua dengan senyuman termanisnya. Maya tersenyum melihat wajah Marialah yang pertama kali di lihatnya. Dengan cepat Maria mencium tangan Maya. " Mana Rama....? " tanya Maya...., Rama segera mendekati ibunya. " Iya mama. ..." ucap Rama dengan respon kurang semangat.
" Kok ....mama tau ...kami kemari...? " tanya Rama heran. Maya masuk ke dalam rumah di ikuti Maria dan Rama. Mereka kemudian duduk di ruang tamu.
" Mama cuma menebak saja, kamu pasti ingin memperlihatkan rumah yang telah kamu persiapkan selama ini untuk calon istrimu." ucap Maya lagi. Rama tersenyum ..." Wah ..tebakan mama memang hebat. " puji Rama tulus mengagumi kepandaian ibunya. Maya tersenyum. " Ram...., kamu...dan Maria tidak melakukan....." Ucap Maya menghentikan kalimatnya dan menatap Rama penuh selidik.
" Ah...mama tak lah...." ucap Rama cepat-cepat membantah. Maria tersenyum dan menggeleng, untuk meyakinkan mertuanya. " Mama tak percaya sama Rama. Tega benar...." ucap Rama dengan kecewa. Maya tersenyum...." Maaf kan mama Ram...., Mama hanya khawatir saja......kamu tau kan sifat mama...?” ucap Maya merasa bersalah. Rama tersenyum ke arah ibunya, ia tau maksud ibunya baik. " Tak apa ma....Rama tau kok maksud mama baik. " ucap Rama tulus. Maya menarik napas lega.
" Bagus kalau begitu. Oya....mama mau mengajak Maria berbelanja....Yach..." ucap Maya ceria. Rama mengerutkan keningnya. " Maria, ku ajak tadi tak mau...." ucap Rama mencoba agar tak jauh dari Maria. " Tapi sekarang mau kan....? " Maya menatap Maria. Maria tentu saja mengangguk...., Maya pun senang.
" Tuh kan...mau, ayo Maria kita berangkat....." ajak Maya...segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Rama dan Maria mengiringi Maya. " Mengapa kau tadi ku ajak kau tak mau. " bisik Rama dengan nada kecewa. " Dia kan ibumu mana mungkin aku menolaknya. " bisik Maria lembut.
Rama begitu ingin kembali membantah, namun Maria segera menggengam lembut tangan Rama. Ramapun mengurungkan niatnya dan menghembuskan napasnya dengan agak kasar. Maria mempererat genggamannya dan tersenyum manis agar rasa kesal Rama agak berkurang.
" Mama bawa mobil...? " tanya Rama akhirnya.
" Iya..." Jawab Maya. " Oya...Rama, biar mama saja yang mengantar Maria pulang ...." ucap Maya. " Lha ..mama......." ucap Rama semakin tambah kecewa.
" Iya lah ..... kamu mulai sekarang di pingit. " ucap Maya, Rama terkejut ia tak menyangka bakal secepat itu...." Mama, itu bukan zamannya lagi..." Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Tapi itu bagus kok Ram...., supaya lebih terasa saat akad nikah." ucap Maya tak mau di bantah. Rama semakin kesal di buatnya. Ia berkali-kali menghembuskan nafas dengan kasar.
__ADS_1
" Mama ...aneh...." ucap Rama dengan kecewa. Maya tersenyum dan mengacak rambut Rama. Maria tertawa kecil melihat semua itu. Rama yang melihat Maria tertawa kecil langsung menatap kesal ke arah Maria. " Kamu sekongkol dengan mama juga...? " ucap Rama cemberut.
" Ram...jangan marah. Kan tak lama lagi. Mungkin itu bagus buat kita. " ucap Maria lembut, Rama masih merasa kesal. Maya tersenyum melihatnya . " Rama .......penantian itu manis pada akhirnya Ram. Kamu akan merasa sesuatu sangat berarti jika penuh perjuangan. " ucap Maya kembali berjalan menuju pintu rumah.
Maria yang merasa tak enak melihat kekesalan di wajah sang kekasih segera memanfaatkan kesempatan itu dengan mencium pipi Rama, agar kekesalan Rama berkurang. Rama menatap Maria lekat-lekat setelah setelah ciuman itu mendarat manis di pipinya. Maria tersenyum ke arah Rama. Rama yang tak tahan segera balik mencium bibir sang kekasih. Maria kaget....namun ia tahan, ia takut calon mertuanya melihat itu semua. Rama mengemut lembut bibir Maria. Maria begitu ingin merasakan kenikmatan itu namun ia mencoba menahan dirinya. Di dorongnya dengan lembut tubuh Rama. " Ada ibu Ram..." ucap Maria mengingatkan. Rama pun terpaksa menghentikan semua itu. Ia tahu jika ketahuan. Ceramah ibunya bakal panjang semalaman.
Maya membuka pintu rumah dan berjalan menuju mobil. Maria dan Rama mengiringinya.
Sesampai di pintu mobil. Maria mencium tangan Rama. " Pamit Ram...." ucap Maria lembut. Rama tersenyum pada Maria. Sebenarnya Rama begitu ingin mencium kening sang kekasih, tetapi karena ada ibunya , Rama pun mengurungkan niatnya. Rama kemudian mencium tangan ibunya. Maya dan Maria kemudian masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan tempat itu. Rama hanya bisa memandangi kepergian Maya dan Maria.
........
Rama...berbaring di kamar dengan gelisah. Ia begitu rindu dengan Maria. Padahal besok pagi ia dan Maria akan melaksanakan akad nikah. Tapi entah mengapa ia merasa tak sanggup menahan perasaannya. Mengapa ia merasa seperti akan berpisah dengan Maria.
Rama bangkit dari pembaringan. Di lihatnya jam tangan yang tergeletak di atas meja. Jam saat itu menunjukan pukul 11 malam. Lumayan agak larut. Rama segera bergegas memakai jaketnya. Setelah ia merasa siap, ia pun keluar lewat jendela dan pergi menuju rumah Maria.
Meskipun itu tak baik, namun sungguh Rama saat ini ingin bertemu sang kekasih hati.
Ketika sampai di rumah Maria, suasana rumah itu terlihat sepi. Orang di rumah itu memang sudah pada tertidur...
" Sayang....sayang..." Panggil Rama dengan suara pelan dan perlahan-lahan mengetuk jendela. Maria yang kebetulan tak tidur tentu saja sangat kaget dibuatnya. Ia tentu saja mengenal suara Rama. Dengan cepat ia mendekati jendela.
__ADS_1
" Ram ...kamu...? " ucap Maria gugup. " Iya ...buka jendelanya. " pinta Rama lembut. " Tapi kita kan sedang di pingit. " ucap Maria mencoba mengingatkan kalau mereka sedang dalam proses untuk saling tidak bertemu. " Maria sayang ...aku rindu kamu. " ucap Rama dengan nada sedih. " Ram ....aku juga begitu. Aku juga selalu merindukanmu. " ucap Maria dengan nada sedih pula, sungguh ia juga sangat merindukan Rama. " Kalau begitu bukalah jendelanya. Aku ingin menatap wajahmu. " ucap Rama lagi. " Tak bisa Ram...., kita tidak boleh...." belum lagi Maria melanjutkan kalimatnya, Ramapun memotong nya dengan nada agak kesal. " Sekarang aku sangat merindukanmu. Aku juga tak faham aku begitu ingin melihatmu saat ini. Aku tak bisa menahannya ...rasanya seperti mau mati saja jika tak melihatmu sekarang ini...." ucap Rama agak nyaring. " Aku tak akan pulang jika kamu tak menemui ku." ucap Rama tegas seakan tak mau dibantah. Maria menarik napas dalam-dalam, ia tahu kalau Rama tak akan main-main dengan perkataannya. Karena khawatir Rama bakal kedinginan dan menunggunya sampai pagi, Maria pun akhirnya menyerah, ia pun membuka jendela kamarnya. Dan ia pun mendapati Rama yang nampak kusut dengan rambut acak - acakan tak terurus. Meskipun penampilannya kusut namun Rama masih terlihat sangat tampan dan gagah. Bahkan penampilan yang kusut itu semakin membuat wajahnya begitu menggemaskan. Maria menelan slavinanya, karena kekasihnya begitu menggoda hasratnya.
Rama juga tak kalah terpesona...karena mendapati wajah sang kekasih begitu cantik saat diterpa sinar bulan, rambut yang panjang tergerai dengan indah. Rama menelan slavinanya sendiri karena sang kekasih bak bidadari di depannya. Seketika Rama pun merasa menyesal karena hasratnya semakin tak terbendung.
Begitu lama Rama menatap wajah sang kekasih, begitu pula Maria. Keduanya saling menatap tanpa berkata apa pun. Debaran jantung keduanya bertalu-talu laksana musik yang menenangkan lagu cinta. Hembusan angin malam menerpa keduanya. Sesekali hembusan angin tersebut menerbangkan rambut Maria yang panjang...
" Betapa indahnya Tuhan menciptakannya untuk ku. Terima kasih Tuhan, Enggkau telah hadirkan bidadari ini dalam hidupku. " ucap Rama dalam hati.
Rama tersenyum...." Jumpa besok calon istriku. Setelah besok kau adalah nyonya Rama Aditiya Putra. " ucap Rama lembut. Maria tersenyum mendengarnya. " Ram...kau tak ingin...." ucap Maria dengan malu-malu. Rama kembali tersenyum. " Saat ini ...aku memang tak boleh dekat kamu, karena aku sudah tak bisa menahannya jika berada di dekatmu. " ucap Rama jujur. Ia memang sudah tak tahan lagi, itu sebabnya ia tak mau mengambil resiko untuk berdekatan dengan Maria. Untuk saat ini ia cukup memandangnya saja. Maria tertunduk tersipu malu. Rama tersenyum manis. " Maria kuhhh...sangat cantik hari ini. " ucap Rama. Jantung Maria semakin bergemuruh mendengarnya. Tanpa terasa ia meremas baju tidurnya sendiri. Rama tersenyum melihat kekasihnya yang tampak menggemaskan di depan matanya.
" Aku pamit...." ucap Rama akhirnya berjalan menjauh. Maria tersenyum dan melambaikan tangan. " Hati-hati Ram...., aku mencintaimu." ucap Maria lembut. Rama tersenyum mendengarnya. " Aku juga mencintaimu." ucap Rama kemudian berbalik arah berjalan menuju motornya yang ia parkir jauh agar ketika menghidupkan mesin tak terdengar orang rumah.
Maria menutup jendela kamarnya. Dan berbaring dengan menelengkupkan wajahnya ke bantal. Sesekali ia menggeleng dan tersenyum...karena ternyata Rama datang hanya untuk melihat wajahnya. Dan betapa hal itu membuat ia sangat bahagia.
Sementara Rama juga senyum-senyum karena ia telah datang ke rumah Maria hanya untuk melihat wajah sang pujaan hati.
Cinta...yah...cinta...itulah istemewanya cinta yang kadang tak sesuai dengan logika.
Sayangnya dari kejauhan sepasang mata elang tengah memperhatikan sejak tadi dibalut dengan tatapan penuh kebencian, dendam dan rasa cemburu. Fero......, ia nampak begitu kesal menyaksikan kemesraan Rama dan Maria.
" Besok...akan ku buat peristiwa sakral yang engkau impikan menjadi lautan darah. Aku berjanji pada mu .....RAMA ADITIYA PUTRA. " ucap Fero dengan seluruh kebenciannya. Tangan terkepal dengan kuat. Ia pun perlahan meninggalkan tempat itu dengan mobilnya.
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya ? Jangan lewatkan episode selanjutnya. Salam untuk semua dan mohon maaf atas keterlambatan update 🙏🙏🙏🙏🙏.
BERSAMBUNG