
Suasana nampak ramai di penuhi anak-anak laki-laki yang mau di sunat. Maria dan teman- temannya mempersiapkan segalanya dengan penuh semangat. Acara tersebut di laksanakan di aula depan penampungan tenaga suka rela.
Maria menatap sekeliling, ia mencari dokter Aldi. Namun ia hanya melihat dokter Alfi. Pandangan Maria dan dokter Alfi pun bertemu. Maria tersenyum manis. Dokter Alfi terpaksa membalas senyum itu dengan senyuman pula. " Ah...Maria. Senyum mu itu membuat hatiku menginginkanmu. Mengapa ...di hatimu harus ada orang lain yang kau cintai ? Mengapa bukan aku? " keluh dokter Alfi dalam hati.
Maria kembali menatap ruangan itu, ia masih mencari dokter Aldi. Maria pun tersenyum ketika melihat dokter Aldi memasuki ruangan. Wajah dokter Aldi tampak kusut. Biasanya ia begitu rapi. Wajahnya agak lesu, matanya pun tampak kantung mata, seperti kurang tidur. Meskipun begitu wajah nya tetap saja sangat tampan. " Maafkan aku pak dokter, telah membuatmu begini. Aku akan mengembalikan senyum di wajahmu. " tekad Maria bulat.
Maria menghampiri dokter Aldi. Dokter Aldi agak kaget melihat Maria di dekatnya. Dokter Alfi pun terkejut. " Mengapa Maria malah mendekati dokter Aldi ? Padahal dokter Aldi sedang patah hati." ucap dokter Alfi begitu heran. Sedangkan dokter Aldi menarik napas dalam ia butuh kekuatan saat berhadapan dengan Maria.
Maria tersenyum " Hari ini aku akan jadi asistenmu pak dokter. " ucap Maria setengah berbisik. Dokter Aldi setengah melotot mendengarnya. Maria tersenyum lucu. Melihat senyum Maria, dokter Aldi begitu gemes di buatnya, ia lupa dengan kesedihan hatinya. Ingin sekali ia mendaratkan cubitan gemes di pipi montok cewek yang telah menolak cintanya tersebut. " Maria....kamu sama sekali tak merasa bersalah, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Padahal betapa kau membuatku patah hati." gumam dokter Aldi dalam hati.
Dokter Aldi tak menjawab, ia berusaha jual mahal dengan bersikap cuek. Ia berjalan dengan cepat. Maria berusaha menjajari langkah dokter Aldi dengan setengah berlari. Dokter Aldi tetap berusaha cuek meskipun ia mulai kasihan dengan Maria yang berlari kecil demi menjajari langkahnya. Karena berlari kecil, Maria pun tak seimbang tanpa sengaja ia menubruk dokter Aldi, refleks Maria memegang tangan dokter Aldi. Dokter Aldi yang tidak siap malah terduduk di lantai bersama Maria. " Ah..." ucap dokter Aldi dan Maria bersamaan. Kejadian itu mengundang banyak mata menatap mereka berdua dengan tersenyum lucu. Begitu juga dokter Alfi, hampir tak bisa menahan tawa. Maria sungguh malu,wajah bersemu merah. Dokter Aldi terkesima menatap Maria yang terlihat cantik saat malu.
" Ah ....andainya tak ada orang tentu sudah kucium pipi merahmu itu. " ucap dokter Aldi dengan segera cepat-cepat berdiri. Dokter Aldi membuang pandangannya ke arah lain, ia tak ingin Maria melihat kalau ia kembali terkesima saat menatapnya. Sedangkan Maria merasa sedih sekali melihat dokter Aldi seperti membuang muka di hadapannya. " Pak dokter, aku memang pasti kau benci. Tapi saat kau membuang muka sungguh sakit rasanya. " Maria menundukan kepalanya. Hatinya saat ini merasa sakit karena perubahan sikap dokter Aldi.
Dokter Aldi kembali berjalan, walaupun sebenarnya ia begitu ingin membantu Maria berdiri. Dokter Alfi yang melihat semua itu merasa kurang senang dengan apa yang di lakukan dokter Aldi yang malah berjalan meninggalkan Maria. " Ayolah Aldi......, mengapa kau seperti anak kecil yang ngambek ? " ucap dokter Alfi dengan menyesalkan apa yang dilakukan dokter Aldi. Ia pun segera menghampiri Maria, dan membantunya berdiri. " Sakit..? " tanya dokter Alfi khawatir. Maria menggeleng dan mencoba berdiri dengan bantuan dokter Alfi. " Aku tak apa-apa dok, terima kasih banyak. " ucap Maria dengan tersenyum. " Aldi masih sakit hati, itu akan membuatmu kesulitan bahkan ikut sakit hati dengan sikapnya." ucap dokter Alfi memberikan pendapat. " Jangan khawatir dok aku tak akan menyerah begitu saja. Aku tetap akan mengembalikan senyumnya seperti dulu." ucap Maria dengan tekad yang kuat. Sejenak dokter Alfi tercengang dengan tekad itu. " itu akan penuh perjuangan. Aku takut kamu...." dokter Alfi tak melanjutkan kalimatnya. " Dokter tak perlu khawatir. Dokter doa kan saja." ucap Maria yang telah berdiri tegak.
__ADS_1
Maria kembali mengejar dokter Aldi. " Kuat juga dia, Maria...kau memang cewek yang istimewa. Dan mengapa kau harus mencintai yang lain bukan aku ? " ucap dokter Aldi sedih. Wajahnya kembali terlihat sendu. Dokter Aldi berjalan dengan cuek. Saat tiba di posnya, ia melihat....Agra dan sekitar 15 orang anak yang duduk berjajar di kursi panjang. Di sana juga tampak beberapa orang tua yang menemani anaknya. Dokter Aldi tersenyum manis. " Selamat pagi pak, bu. Selamat pagi anak-anak. " sapa dokter Aldi ramah. " Selamat pagi pak dokter " jawab mereka tak kalah ramah.
" Semangat yach. " ucap dokter Aldi sambil mengusap kepala anak-anak tersebut. " Terima kasih pak dokter. " jawab anak-anak serempak. Maria tersenyum melihat kelembutan yang di tunjukan dokter Aldi. Terus terang Maria begitu kagum dibuatnya.
Dokter Aldi menghampiri Agra. Agra adalah perawat suka rela yang akan membantunya. Aldi sengaja memilih partner lebih dulu. Ia takut jika tiba-tiba harus berpasangan dengan Maria. Ia merasa belum siap, ia betul-betul ingin menghindari Maria untuk saat ini, tapi Maria malah mendekatinya. Sebenarnya ia begitu heran dengan Maria yang malah mendekatinya, Ia penasaran dengan apa yang di ingin kan Maria dengan mendekatinya.
" Semua sudah siap Gra ? " tanya dokter Aldi.
" Ya dok, anak-anak yang di sunat oleh dokter juga sudah siap. Peralatan dokter juga telah siap di dalam. " ucap Agra mantap. " Bagus kau memang seorang asisten yang bisa di andalkan. " ucap dokter Aldi dengan nada sedikit menyinggung Maria, ia seakan-akan ingin mengatakan kalau Maria sama sekali tak di butuhkan olehnya, Karena sudah ada Agra. Maria paham semua itu, hatinya kembali merasa sakit namun ia tetap berusaha tegar.
Maria kali ini betul-betul ingin menangis di buatnya. Kata-kata dokter Aldi secara tidak langsung menusuk hatinya. Dokter Aldi cepat-cepat masuk ke dalam ruangan, ia sungguh tak ingin melihat mata indah Maria yang mulai berkaca-kaca karenanya.
Agra merasa tidak enak dengan keadaan itu. Ia tahu tak biasanya dokter Aldi seperti itu agak ketus. Biasanya dokter Aldi bersikap lembut, ceria dan humoris. Dokter Aldi terkenal sebagai dokter yang paling ramah dan tidak sombong. Agra merasa sangat heran mengapa dokter Aldi bersikap demikian.
Agra tersenyum ke arah Maria, Maria berusaha membalas senyum itu dengan terpaksa. Maskipun hatinya hancur karena di usir secara tidak langsung oleh dokter Aldi namun Maria tidak pergi dari tempat itu. Ia duduk di bangku panjang menemani 15 orang anak yang mau di sunat. " Selamat pagi pa, bu. Selamat pagi anak-anak. " sapa Maria lembut. Maria tahu saat ini anak-anak tersebut sedang tegang dan cemas. Mereka tak tahu apa rasanya akan sakit atau tidak ketika di sunat. Kebanyakan mereka berpikir rasanya sakit. Maria berusaha memberi semangat kepada anak-anak tersebut, dengan mencairkan suasana ketegangan. " Selamat pagi bu guru. " sapa anak-anak dan beberapa orang tua anak-anak tersebut. " Semangat sayang, nanti dapat hadiah lho. " ucap Maria ceria. " Apa di sunat itu sakit bu guru." tanya seorang anak. Maria tersenyum. " Jangan khawatir anak-anak ibu semuanya kuat, kalau kuat insya allah tidak akan sakit. Em.." ucap Maria lembut, ia berusaha menenangkan hati anak-anak yang cemas.
__ADS_1
" Amir...! ayo masuk." panggil Agra kepada salah seorang anak yang antrean namanya urutan pertama. Amir nampak terkejut seakan belum siap untuk melakukannya. Dengan gugup Amir pun berjalan perlahan menghampiri Agra. Anak umur 7 tahun itu tampak sangat cemas terlebih tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Karena kedua orang tuanya sedang sibuk mencari nafkah. Sejenak Amir menatap Maria, Maria pun tersenyum berusaha memberikan dorongan semangat. Ia memberikan dua jempolnya untuk Amir. Seakan-akan berkata kamu pasti bisa.
Dengan gugup, Amir masuk dalam ruangan. Namun tak beberapa lama kemudian tiba-tiba Amir ke luar dengan berlari menghambur kepelukan Maria. " Ibu guru, Amir takut...." ucap Amir memeluk Maria dengan kuat. Anak-anak yang lain diselimuti ketegangan. Maria tahu jika Amir gagal di sunat maka akan berefek buruk dengan anak-anak yang lain yang anteriannya di belakang Amir.
Dokter Aldi dan Agra keluar dari ruangan mendekati Amir yang masih memeluk Maria.
" Tidak apa-apa Mir, tidak akan sakit " bujuk dokter Aldi mengusap kepala Amir. Amir menatap Maria. " Tapi bu guru...tadi Amir mau di suntik. " ucap Amir masih ketakutan. " Amir, di suntik itu supaya kamu tidak merasa sakit. Suntik bius namanya. Sakitnya di suntik seperti digigit semut. Ayo Amir anak kuat kan. Gini saja ibu guru yang temenin Amir. oke...? " ucap Maria lembut. Amir kembali menatap Maria.
" Janji ibu mau menemani ? " tanya Amir memastikan. Maria mengangguk. Amir kemudian menatap dokter Aldi. Dokter Aldi pun mengangguk, ia mengizinkan Maria menemani Amir. " Tuh..kan Mir, pak dokter baik kok " ucap Maria memuji. Dokter Aldi jadi salah tingkah dengan pujian itu.
" Sekarang ayo...masuk. " ucap dokter Aldi sambil berusaha menyembunyikan perasaannya. Amir pun kembali masuk ruangan bersama Maria, dokter Aldi dan Agra. Ia kemudian berbaring di ranjang. " Anak hebat. Ibu guru yakin Amir anak yang kuat. Oya Mir..., Ada lho pahlawan kerajaan yang mirip superman. Ia bisa terbang juga, kuat. " ucap Maria mengalihkan pikiran Amir, agar Amir tak merasa sakit ketika di suntik bius. " Apa ia bu..., siapa namanya bu? " tanya Amir mulai penasaran. " Namanya Gatot Kaca....." Maria pun bercerita tentang Gatot Kaca kepada Amir. Ia kemudian memberi tanda kepada dokter Aldi untuk melaksanakan tugasnya, dengan mengedipkan mata kirinya. Dokter Aldi yang paham segera melakukan tugasnya. Karena bantuan Maria yang mengalihkan pikiran Amir, membuat dokter Aldi pun melakukannya dengan lebih mudah. Maria mampu menghipnotis Amir.
Dalam hati dokter Aldi sangat kagum dengan kepandaian Maria bercerita yang mampu membuat orang terpesona bila menatapnya. Sesekali dokter Aldi mencuri pandang pada cewek yang telah membuatnya jatuh cinta tersebut. " Maria, bagaimana aku bisa menepis cintaku padamu. Kau membuat aku jatuh cinta padamu berkali-kali. Aku betul-betul ingin memilikimu. " ucap dokter Aldi menatap kearah Maria dengan penuh cinta, sedangkan Maria masih asyik bercerita dan Amir dengan semangat mendengarkan. Begitu juga Agra, ia juga ikut-ikutan mendengarkan cerita Maria.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya ? Ikuti terus ceritanya..., terima kasih banyak sudah setia membaca.