14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
LVIII...MARIA KRITIS


__ADS_3

Di ruang UGD RSUD Pembalah Batung, nampak Dokter Aldi dan Dokter Alfi, duduk bersisian. Dokter Alfi nampak terlihat memeriksa berkas pasien yang masuk di ruang UGD tersebut. Sedang kan Dokter Aldi nampak memijit-mijit kepalanya dan sesekali menatap handphone nya. Hatinya merasa tak karuan, itulah sebabnya sehabis di poly umum , dokter Aldi mendatangi Dokter Alfi yang baru saja ditugaskan di rumah sakit tersebut di ruangan UGD.


" Kau tak ke rumah Maria...Di...? ku dengar hari ini ia menikah dengan Rama. " tanya Dokter Alfi melihat sahabatnya tampak kusut. " Kau fikir aku sanggup melihat semua itu..? " ucap dokter Aldi dengan mata yang sayu. " Jika cintamu sejati maka yang terpenting adalah kebahagiaan orang yang dia cintai. " ucap dokter Alfi mencoba menenangkan hati sahabatnya sekaligus menenangkan hatinya sendiri. " Itu tak semudah membalikan telapak tangan Fi. " ucap dokter Aldi tersenyum kecut. Dokter Alfi menarik nafas dalam-dalam.


Tiba-tiba...di pintu masuk seketika menjadi ramai. Nampak Rama mengangkat tubuh isterinya yang masih mengenakan pakaian kebaya penganten yang bersimbah darah. Pakaian putih milik Rama juga bersimbah darah.


Mata dokter Aldi dan dokter Alfi membulat melihat semua itu. " Maria Fi....", ucap dokter Aldi terkejut seketika, ia tentu saja mengenali Rama dan Maria. Dokter Aldi segera berlari dengan cemas menghampiri Maria yang telah dibaringkan di ranjang pasien, begitu juga dokter Alfi segera mengambil peralatan dokternya dan berlari ke arah sang pasien. Dokter Alfi segera memeriksa detak jantung Maria. Para perawat segera berdiri di samping dokter Alfi.


" Apa yang terjadi ...? " tanya dokter Aldi dan Alfi hampir bersamaan menohok menatap Rama dengan tajam..." Maria ...tertembak...." ucap Rama mengusap wajahnya sekaligus mengusap air matanya.


" Kau....bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Bagaimana mungkin....kau tak bisa melindunginya....." ucap dokter Aldi keras....dengan mencengkram kerah baju Rama. Rama tak melawan, ia nampak begitu sedih karena ia mengakui bahwa ia tak mampu melindungi Maria.


" Sabar Di...., saat ini Maria lebih penting. " ucap dokter Alfi mencoba menenangkan dokter Aldi. " Berapa tekanan darahnya ? " tanya dokter Alfi pada salah seorang perawat yang melakukan tindakan medis. " Turun dok ....60/70. " ucap perawat itu. Dokter Alfi mengusap wajahnya. Sedangkan dokter Aldi...semakin kalut. " Maria buka matamu..." ucap dokter Aldi sambil menepuk-nepuk pipi Maria. Mata dokter Aldi mulai berkaca-kaca.


" cepat pasang alat monitor pendeteksi ..." ucap dokter Alfi, beberapa perawat segera bergerak memasang alat. Dari monitor pun dapat terlihat, tekanan darah, kadar oksigen, detak jantung...dan lainnya. Dengan cepat dokter Aldi melakukan tindakan agar pendarahan berkurang. Sedang perawat segera membantu memasang impus dan oksigen untuk membantu pernapasan.


" Kasih suntikan....Pakai obat ini" ucap dokter Alfi memberi resep obat pada perawat untuk mengambil tindakan pertolongan pertama. Perawat segera bergerak cepat mengambil obat suntik dan segera menyuntikkannya lewat selang impus. Sementara dokter Aldi berusaha menyadarkan Maria agar tak koma. Ia terus memanggil-manggil nama Maria, berharap agar Maria memberikan respon.


Rama tertududuk...di bangku, Pak Ali menepuk nepuk bahu putranya. Teman-teman Ramapun mengelilingi Rama. " Sabar...Ram..." ucap Rangga lembut, spontan Rama memeluk Rangga dan menangis terisak...., selama ini Rama hampir tak pernah menangis karena ia punya mental yang kuat sebagai seorang polisi. Ia menangis hanya saat merasa kehilangan Maria. " Aku tak pantas untuknya Rangga, Aku sudah membahayakan nyawanya..." ucap Rama pilu.


" Jangan berkata begitu. Kalian saling mencintai. Yakin kan hatimu , Maria adalah wanita yang kuat..." ucap Rangga sambil menepuk punggung Rama.


Sementara itu dokter Alfi dan dokter Aldi berkonsultasi dengan Dokter Farel, dokter Ahli bedah yang dulu kebetulan kakak tingkat dokter Aldi dan dokter Alfi.

__ADS_1


Dokter Farel memeriksa keadaan Maria. Setelah selesai ia pun mengambil keputusan.


" persiapkan kamar operasi. kita harus segera mengeluarkan pelurunya " ucap dokter Farel.


" Izinkan aku ikut membantu ...Kak Farel. " ucap dokter Aldi memohon. Melihat keinginan dokter Aldi yang begitu besar, Dokter Farel pun mengangguk.


Dokter Alfi segera menghampiri Rama. " Kami akan melakukan operasi secepatnya. " ucap Dokter Alfi memberitahu Rama. Rama mengangguk..." Tolong lakukan yang terbaik dok..." ucap Rama dengan suara parau. Dokter Alfi memeluk Rama. " Sabarlah sobat, kami akan berusaha. Maafkan jika hasilnya nanti buruk. Mari kita berdoa bersama. " bisik dokter Alfi, Rama kembali mengangguk dengan pasrah.


" Tolong ...maafkan kekasaran Aldi sobat, ia begitu mencintai Maria. " bisik dokter Alfi lagi. '' Tak apa ....aku mengerti." ucap Rama agak parau. " Oya ...tolong persiapkan donor darah, Maria membutuhkan darah diperkirakan sementara sebanyak 8 kantong. ucap dokter Alfi lagi. " Ya dok, serahkan pada kami." ucap Rangga cepat. " Terima kasih bro. " ucap Rama menatap sayu ke arah Rangga. Rangga tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Rama. " jangan khawatir Ram , itu bagian kami. " ucap Rangga. " Ya, bro percayakan pada kami. " ucap Sigit menambahkan. Teman-teman Rama segera keluar dari tempat itu menuju ruang transfusi darah untuk mendonorkan darah. Maria telah di bawa menuju ruang operasi. Rama dan kedua orang tuanya beserta kedua mertuanya hanya dapat menunggu di luar kamar operasi.


Sementara itu dokter Aldi dan dokter Alfi mengikuti masuk ke kamar operasi. Operasi pun dijalankan, suasana nampak tegang dan mencekam. Keringat bercucuran di dahi dokter farel. Salah satu perawat membantu menyeka keringat dokter Farel. Dan yang lain membantu mengambilkan peralatan bedah. Ada perawat yang terus memantau monitor pendeteksi, agar cepat mengetahui jika pasien tiba-tiba drop.


Transfusi darah dipasang karena tentu saja Maria banyak kehilangan darah.


" Maria...Maria...kumohon bangunlah ."ucap dokter Aldi sambil berharap Maria memberikan respons. Sayangnya keadaan Maria semakin kritis...dan...........tiba-tiba alat pendeteksi berbunyi menandakan pasien kritis. Napas Maria turun naik tak beraturan bahkan sesekali hilang.


" Dok...." ucap perawat cepat memberitahu.


" Cepat ambilkan alat kejut jantung. " ucap dokter Farel cepat. Dokter Farel menekan berkali-kali dada Maria dan memberikan nafas buatan, berharap nafas Maria kembali...., sayang hal tersebut gagal. Dokter Farel memakai alat kejut jantung agar Maria kembali normal. Tubuh Maria melambung beberapa kali. Sayang ... Maria masih tak membaik.


Tiba- tiba alat pendeteksi berbunyi menandakan dengan panjang, menandakan Maria sudah tak bernafas lagi. Semua wajah semakin cemas.


" Tidak... tidak kubiarkan..." teriak dokter Aldi seketika. Tanpa fikir panjang dokter Aldi mengambil alih, Ia menekan dada Maria dan kemudian memberikan nafas buatan. Beberapa kali itu dilakukan dokter Aldi, namun Maria masih juga tak bernafas. " Maria....bangun Maria..." dokter Aldi mengguncang-guncang tubuh Maria dengan membabi buta karena begitu putus asa. Semua nya tercengang melihat semua itu. Tak kecuali dokter Alfi, yang terpaku melihat rasa cinta yang besar terpancar di wajah dokter Aldi untuk Maria.

__ADS_1


Tiba-tiba keajaiban terjadi, Maria kembali bernafas. Kondisi Maria pun membaik.


" Dok...pasien kembali...." ucap perawat sambil menyeka keringatnya. Semua nya menarik nafas panjang. Sedangkan dokter Aldi menangis sambil menelungkup kan wajahnya, tanpa sadar ia kemudian menciumi seluruh wajah Maria. Dokter Alfi berusaha menenangkan dokter Aldi yang lepas kendali. " Di....Maria sudah kembali, tenanglah ..., Ayolah Di ..Maria sudah jadi isteri Rama..." bisik dokter Alfi dengan hati-hati agar sahabatnya tak tersinggung.


Dokter Aldi...berhenti menciumi wajah Maria. Ia kemudian bangkit dan berjalan melepaskan pakaian operasi dan keluar ruang operasi. Dengan setengah berlari dokter Alfi bergegas mengikuti dokter Aldi melepaskan pakaian operasi dan keluar ruang operasi.


Sesampai di luar ruangan, dokter Aldi langsung menampar wajah Rama dengan keras. Rama tak melawan dari sudut bibirnya keluar darah akibat tamparan itu. Dengan gugup dokter Alfi berusaha menghentikan tindakan dokter Aldi. " Di...jangan. Maria sudah tak apa-apa. " bujuk dokter Alfi.


" Tapi ...dia tak pantas bersama Maria. Gara-gara kau Maria hampir mati. Lepaskan Maria ! Ceraikan dia.....! Kau tak pantas memilikinya ? CERAIKAN DIA ...! " ucap dokter Aldi keras dan menohok menatap Rama dengan tajam. Rama hanya bisa tertunduk.


" Di.... sudahlah...., Maaf Rama tolong maafkan..." ucap dokter Alfi pada Rama dan sambil berusaha menenangkan dokter Alfi. Ia kemudian menarik dokter Aldi menjauh dari Rama dan meninggalkan tempat itu.


Rama berjalan gontai. Pak Johan menghampiri putranya. " Ram..." ucap beliau parau. " Rama ingin sendiri Yah...." Rama berjalan meninggalkan tempat itu dan ketika sampai di taman rumah sakit yang sepi. Rama pun menangis bersimpuh dengan pilu nya. " Maafkan aku Maria....maafkan..." ucap Rama dalam hati. Air matanya tumpah bak hujan deras.


Sementara itu, tak jauh beda dengan Rama, nampak dokter Aldi yang terduduk di bangku panjang dan menangis pilu. Tak beda dengan Rama, air matanya juga tumpah bak hujan deras. " Mengapa Maria harus bersama dia, mengapa tidak bersamaku saja. Aku akan menjaganya Fi. " ucap dokter Aldi di sela tangisnya, dokter Alfi memeluk dokter Aldi. " sudahlah Di...., Maria sudah tak apa-apa ...." ucap dokter Alfi berusaha menenangkan dokter Aldi. Dokter Aldi masih menangis dalam pelukan dokter Aldi.


Rama dan Dokter Aldi sama-sama sedih dan terpukul hatinya. Cinta mereka berdua begitu besar untuk Maria.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kisah selanjutnya...., jangan lewatkan Yach☺️


Mohon maaf baru update πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2