
Rama dan Maria shalat berjamaah bersama. Sesudah shalat, Rama memimpin membaca wirid dan berdoa. Meskipun bukan jebolan pesantren dan bukan orang yang alim, namun dalam hal ilmu agama Rama cukup bisa diandalkan. Tak beberapa lama azan isya pun berkumandang. Rama dan Maria kembali shalat berjamaah. Maria begitu bahagia, ia sangat merasa yakin Rama adalah imam yang terbaik untuk hidupnya.
Selesai berdoa, Maria mendekati Rama. Ia kemudian bersalaman dan mencium tangan Rama. Rama tersenyum dan merasa bahagia, ia juga merasa yakin Maria adalah isteri yang shalehah untuknya. " Aku ingin semua ini hanya untukku selamanya." ucap Rama dalam hati.
Maria kemudian merapikan bukena, sajadahnya dan sajadah Rama dan meletakannya di dalam lemari. Rama tak lepas-lepasnya menatap Maria. " Mengapa terus menatapku ? " tanya Maria mulai salah tingkah. " Aku masih merindukanmu dan aku takut ini hanya mimpi. " ucap Rama tulus. " Menurutmu apa ini mimpi ?" ucap Maria menghampiri Rama dan mendaratkan satu cubitan di pinggang Rama.
" Au..." Rama meringis kesakitan. Tentu saja itu bukan mimpi, dengan gerak reflek Rama menarik Maria dan memeluknya dari belakang. Kerudung Maria tanpa sengaja tersingkap dan tampaklah leher dan bahu Maria yang putih. Rama menelan slavinanya. Dan perlahan mendekati bahu dan leher itu seperti akan mendaratkan ciuman yang membekas di tempat tersebut. Bukan main gugupnya Maria. Deruan napas Rama nampak memburu dan terasa hangat menyentuh bahu dan leher Maria. " Ram.... jangan Ram. Tunggu halal Ram .... " ucap Maria hati-hati. Rama langsung tak berkutik mendengar kata-kata Maria. Yah..ia harus menghalalkannya dulu.
" Bagaimana kalau besok kita halalkan saja ? " ucap Rama yang memang ingin cepat-cepat hubungan mereka halal. " Lepaskan dulu terkamanmu itu. Baru aku jawab. " ucap Maria lembut, ia tak ingin Rama marah karena penolakannya. Walaupun penolakan itu demi kebaikan mereka berdua, namun perasaan seorang kekasih pastilah sensitif terhadap kekasihnya. Rama menarik napas dalam-dalam entah mengapa nafsu nya sering tak terkendali jika bersama Maria. Beda dengan cewek lain, secantik apa pun cewek lain ia masih bisa mengontrol perasaannya, bahkan ia merasa biasa saja. Saat Melati memeluk pinggang dan bersandar di bahunya, bahkan mengalungkan tangan ke lehernya saat Rama mengangkatnya, Rama dapat mengontrol perasaannya dan merasa biasa saja. Tapi dengan Maria apabila sedikit saja terpancing, nafsunya langsung melejet bagai roket yang terbang ke angkasa. Mungkin itu karena kekuatan cinta, keinginan untuk memiliki jadi sangat besar. Sebenarnya Maria juga merasakan hal yang sama, ia hampir tak bisa mengontrol dirinya jika berdekatan dengan Rama. Namun dirinya telah bertekad bahwa yang menjadi suaminya lah yang berhak atas dirinya. Walau pun ia berharap suaminya kelak adalah Rama.
__ADS_1
Dengan berat hati Rama pun melepaskan pelukan perlahan-lahan. Ada kecewa menyusupi hatinya. " Sekarang apa jawabanmu ? " tanya Rama kemudian. Ia menatap tajam ke arah Maria. Maria begitu gugup, ia tahu bahwa Rama sedang marah dan mungkin akan lebih marah lagi jika mendengar jawaban yang ia berikan. " Aku akan menikah denganmu tapi ...... tidak besok. " ucap Maria agak takut. Tiba-tiba Rama berjalan mendekati Maria. Maria mundur dan akhirnya merapat ke diding namun belum sempat Maria menghindar Rama sudah mengkungkungnya hingga tidak bisa melarikan diri. Jarak mereka begitu dekat. Dan kalau Rama mau , Rama dapat dengan mudah mendaratkan ciumannya di bibir Maria bahkan di tempat mana yang ia suka. Namun Rama hanya menatap mata Maria yang bak bintang kejora.
" Mengapa tidak bisa ? Kamu tidak mencintaiku ? kamu tidak ingin menikah denganku ? " ucap Rama pelan namun aura seorang polisi yang sedang meng introgasi betul-betul terlihat. Maria pun berpikir pasti tak ada yang bisa bohong di hadapan Rama.
" Tentu saja aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu adalah impianku. Tapi menikah bukan hanya kita saja tapi berhubungan dengan keluarga besar kita berdua. Kita harus minta restu mereka karena kita tidak besar dengan sendirinya. Terutama ibu kita berdua. Ibu mu yang membesarkanmu, menjagamu hingga kamu dewasa, lalu aku malah merebutmu dengan waktu singkat. Itu tidak benar Ram, biarkan aku mendapatkanmu karena ibumu yang menyerahkanmu padaku dengan restunya. Pernikahan kita akan penuh berkah karena doa-doa orang terdekat kita. Bukankah itu indah ? " ucap Maria dengan segala keberaniannya. " Bagaimana jika mereka tidak merestui kita ? " ucap Rama lagi. " Kita akan memperjuangkannya bersama-sama. Aku akan tunjukan pada mereka kalau aku mencintaimu. Aku akan berjuang untuk restu mereka dengan segenap jiwa ragaku. Aku tak akan menyerah untuk cinta kita. Aku mencintaimu percayalah. Kita harus bersabar sedikit lagi. Buah dari kesabaran itu manis. Kamu tahu aku juga menginginkanmu, bercumbu denganmu. Tapi jika kita lakukan sekarang, bukan pahala yang kita dapatkan tapi dosa. Jika kita telah halal, maka cumbuanmu adalah sebuah kewajiban yang berpahala besar. Ram, di saat malam pertama aku betul-betul ingin mempersembahkan diriku seutuhnya untukmu. Jika kita lakukan sekarang, lalu apa beda malam pertama dengan malam-malam lainnya. Semua akan terasa hambar. Percayalah padaku. Dengan mu saja aku menjaga kehormatanku, apa lagi dengan orang lain. " ucap Maria dengan berani.
" Sekarang pak polisi tidak boleh marah. Senyum...! mana senyum pak polisi, aku paling suka lihat senyum pak polisi. Senyum pak polisi betul-betul membuat wajah bapak semakin tampan. Pak polisi harus tahu dalam 14 hari aku betul-betul berjuang keras untuk cintamu. Pak polisi bagai artis idola sedangkan aku cuma seorang penggemar. Aku masih tak percaya kalau pak polisi mencintaiku. Cubit aku pak polisi, aku juga takut ini hanya mimpi." ucap Maria berusaha membujuk Rama, di serahkannya tangannya untuk di cubit Rama. Rama pun akhirnya tersenyum. Tentu saja senyum itu sangat indah, di cubit nya pipi Maria dengan gemes. " Lain kali ku cium pipimu. Kalau sudah halal nanti, aku bakal langsung memakanmu. Kamu tidak akan bisa menghindar lagi. Kali ini kamu beruntung " bisik Rama mengancam. Maria bergidik ngeri mendengar ancaman itu. Ia di liputi ketegangan. Rama pun akhirnya tertawa kecil.
" Ih...Rama, jangan bikin aku takut..." ucap Maria kemudian memukul bahu Rama. " Sudah ah..., sekarang ibu guru harus siap-siap pergi makan malam di luar, anggap saja kita kencan. " ucap Rama, Maria mengerutkan keningnya. " Di sini enggak ada lestoran atau warung makan di malam hari Ram." ucap Maria heran. " Siapa bilang kita ke lestoran, makan malamnya di tempat pak kepala desa. Dan ingat statusmu adalah nyonya Rama Aditiya Putra ! Aku akan ambil motor dulu dan kamu siap-siap. " ucap Rama.
__ADS_1
" Kamu ganti baju Ram....?" ucap Maria. " Aku baju ini saja. Kalau aku datang kamu sudah siap yach." Rama segera beranjak pergi. Maria mengantarnya sampai ke depan pintu.
" Ram...hati-hati." Maria menatap ke pergian Rama. " Baju apa ya yang cocok untuk ku yach.....? kok aku jadi bingung dan berdebar. " ucap Maria dalam hati. Perasaan gugup datang menghantuinya. Serasa seperti lagu...: LIMA MENIT LAGI. Ini kencan pertama lho........
BERSAMBUNG
Bagaimana kisah selanjutnya? Ikuti ceritanya dan dukung aku yach.....
Terima kasih sudah setia bersama cerita ini
__ADS_1