14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
BAB XXXVIII BERPISAH DENGAN RAMA


__ADS_3

" Ah.... aaah ! " Maria berontak sekuat tenaga, tapi ia sama sekali tak berdaya. Kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Fero. Fero dengan brutal masih berusaha mencium paksa Maria. Kerudung Maria terlepas. Rambut Maria yang harum tercium oleh Fero. Fero semakin mabuk di buatnya. Ia sendiri heran mengapa kini gairahnya memuncak padahal selama ini semenjak kematian Anna, Fero hampir tak bercinta dengan siapa pun. Fero sama sekali tak bernafsu dengan wanita. Tapi mengapa dengan Maria, ia merasa keinginan untuk memuaskan nafsunya memuncak, seakan singa sedang tertidur kini mengamuk ingin di tidurkan kembali dengan bersentuhan serta cumbuan. " Ah...., tenanglah manis. Aku akan membuatmu menikmati sesuatu yang sangat nikmat saat bersamaku. " bisik Fero lembut sambil mencari celah di sekitar leher Maria yang di tutupi rambut Maria. Maria merasa bulu kuduknya merinding seketika. Maria semakin takut dan terus berjuang melepaskan diri. Ia tak membiarkan Fero berhasil mendaratkan ciumannya walau itu satu ciuman sekali pun.


" Kamu liar juga, aku suka. " bisik Fero sambil tersenyum, ia merasa tertantang menaklukan Maria. Fero membekuk tangan Maria ke belakang dengan tangan kirinya. Maria masih meronta, namun walau cuma satu tangan Fero membekuknya, tetap tak sanggup Maria melepaskan diri karena kekuatan Fero betul-betul melebihi kekuatannya.


Maria hampir putus asa di buatnya. " Lepaskan aku ! " teriak Maria . " Tenang sayang, aku janji ini tidak sakit dan enak...." ucap Fero menyingkap rambut Maria dengan tangan kanannya. Fero membelai lembut wajah Maria, dan mulai mengambil posisi yang enak untuk mencium bibir Maria. Maria pun mengambil kesempatan itu dengan membenturkan kepalanya ke wajah Fero. Fero pun terluka di buatnya. Dari sudut bibirnya mengeluarkan darah. " Up..sit. Kamu betul-betul kuda yang sangat liar, tak sabar aku ingin menunggangi mu sayang. " ucap Fero menakutkan. Fero kembali mencoba mendaratkan ciumannya. Maria mendekati bahu Fero. Sejenak Fero merasa kan sensasi yang begitu nikmat saat deruan nafas Maria memburu menyapu lehernya. Fero mendesah merasakan sensasi itu. Sayangnya, Maria tak bermaksud mencium Fero, ia malah menggigit bahu fero sekuat tenaga.


Fero kesakitan dan terkejut. Pegangannya pun terlepas. Maria yang terbebas segera berlari cepat sejauh-jauhnya. " Up...sial ia menggigitku. " ucap Fero mengelus pundaknya yang terkena gigitan. Fero tersenyum. " Mengapa aku malah suka di gigit olehnya ? Em...cewek yang sungguh tangguh, ia bisa lepas dariku. Lain kali aku yang menggigitmu. " ucap Fero dalam hati sambil tersenyum kembali.


Sementara itu Maria berlari secepat-cepatnya meninggalkan Fero. Maria begitu ketakutan sehingga tanpa menyadari menabrak Rama dan jatuh ke dalam pelukannya. " Rama..." ucap Maria menatap wajah kekasihnya sebelum jatuh pingsan. " Maria....! " Rama membelai pipi Maria yang dingin. Ia berusaha membangunkan Maria. Rama kemudian mengguncang-guncangkan tubuh Maria. Namun Maria masih tak bergeming. Rama yang mulai cemas segera mengangkat tubuh Maria kembali ke rumah. Di baringkan tubuh Maria di atas ranjang. Rama mengoleskan minyak kayu putih ke kepala Maria dan kaki Maria. Ia juga melap wajah Maria dengan handuk yang telah di rendam air hangat.


" Maria, apa yang terjadi denganmu ? sadarlah sayang....., apa kamu telah mengalami sesuatu yang buruk hingga jadi begini ? Sayang...tolanglah jangan begini..." bisik Rama dengan penuh kekhawatiran. Tiba-tiba Maria membuka matanya dan orang yang pertama kali di lihatnya adalah Rama. Maria menarik Rama dalam pelukannya. Rama membiarkan Maria memeluknya. Setelah puas memeluk Rama, Maria kembali menatap Rama dengan mata yang berkaca-kaca. " Rama...hampir saja aku kehilangan kehormatanku yang sebenarnya ingin kupersembahkan padamu. " ucap Maria dalam hati. Butiran air mata tak terasa menetes. Rama begitu bingung, perlahan di hapus nya air mata Maria dengan lembut. " Apa yang terjadi sayang ..., katakan padaku. " ucap Rama lembut. " Aku takut kehilanganmu. Ram...Ramaku. " ucap Maria lirih kembali memeluk Rama. " Bolehkah aku tidur di pangkuanmu. " ucap Maria lagi. Rama mengangguk dan duduk bersandar di bibir ranjang. Maria merebahkan kepalanya ke pangkuan Rama. Rama membelai rambut Maria dengan lembut dan perlahan-lahan.


" Sepertinya telah terjadi sesuatu. Aneh....mengapa aku merasa di jebak tadi ? Sepertinya ada yang sengaja menjauhkan aku dengan Maria. " ucap Rama dalam hati. Ia memang berusaha mengejar seseorang namun ia gagal. Ketika kembali ia mendapati Maria yang seperti ketakutan dan jatuh pingsan. Rama terus membelai rambut Maria dengan lembut. Maria pun tertidur di buatnya. Rama pun tertidur sambil bersandar di ranjang. Tangannya menggenggam tangan ke kasihnya.


Ke esokan paginya. Maria membuka matanya. Ia terkejut melihat Rama yang tidur dengan duduk bersandar di bibir ranjang. Maria menatap wajah kekasihnya yang sangat tampan. " Beruntung sekali aku mendapatkanmu. Rasanya...aku tak sebanding denganmu. " ucap Maria dalam hati. Maria bangun dan bersandar di dada Rama. Ia mendengarkan detak jantung kekasihnya. Maria menongakan kepalanya, di belainya pipi Rama dan bibirnya perlahan-lahan. Saat Maria membelai bibir Rama, tiba-tiba Rama menangkap tangan Maria. Maria kaget bukan kepalang. Rama membuka matanya. Dan mendapati Maria begitu dekat dengannya. " Kamu membangunkan singa yang sedang tertidur. Dan kamu harus bertanggung jawab." ucap Rama membelai bibir Maria. Maria menelan slavinanya sendiri. Perasaannya tiba-tiba gugup. Rama mulai mendekati bibir Maria.

__ADS_1


" Rama...." desah Maria dalam hati. Rama terus mendekat, dan dengan lembut mendaratkan bibirnya ke bibir Maria. Maria memejamkan matanya, entah mengapa ia tak mampu menolaknya. Perlahan-lahan Rama mulai mengemut lembut bibir Maria, Maria semakin terhanyut dalam ciuman itu. " Mengapa aku menyukai ciumannya. Mengapa Rasanya begitu manis? " runtuk Maria dalam hati. Rama terus mencium bibir kekasihnya, seakan-akan tak pernah puas. Ia bahkan sesekali menggigit kecil bibir Maria. Saat ciuman mulai menuntut dan memanas, Maria mundur dan mendorong Rama untuk menghentikan ciumannya. Rama menghentikan ciumannya. Dan mendapati Maria yang tersipu malu karena telah di cium. Rama tersenyum melihat Maria menundukan kepala. " Maafkan aku..... telah menciummu." bisik Rama lembut. " Mau di cium lagi ? " tawar Rama bercanda. Maria mencubit Rama, karena tak tahan di goda kekasihnya. " Aw... " Rama meringis kesakitan.


Mereka berdua pun tertawa bersama. " Kamu jadi pulang hari ini ? " Tanya Maria. " Aku mengkhawatirkanmu. Bagaimana denganmu ? ikut pulang ? " ucap Rama membelai rambut Maria. " Kan sudah janji satu minggu ? " ucap Maria memencet hidung Rama. " Lalu apa yang terjadi kemarin malam...? " ucap Rama penasaran. Maria menelan slavinanya, tak mungkin ia bilang pada Rama kalau ia hampir diperkosa. " Aku takut kehilanganmu. Kamu meninggalkan aku sendiri. Aku takut lalu menyusulmu. " ucap Maria berbohong. " Kalau begitu, ayo pulang bersamaku sayang...." bujuk Rama lagi. " Enggak bisa begitu Ramaku sayang...." ucap Maria berisi keras, Rama menarik napas dalam-dalam dengan kesal. Maria tertawa kecil. " Kamu kalau kesal lucu. " ucap Maria sambil tertawa. Rama begitu geram, dan mendaratkan ciumannya di pipi Maria. Mata Maria membulat indah.


" Ih...Rama, pagi-pagi sudah bikin dosa. Shalat subuhnya telat, kamu malah main cium melulu. " ucap Maria kesal. Rama tertawa kecil.


" Makanya, ayo kita nikah...! Biar halal...." ucap Rama masih tertawa.


Maria tak menjawab. Ia berdiri meninggalkan Rama. Rama pun mengikutinya dari belakang. Setelah shalat subuh, Maria memasak makanan untuk sarapan. Sedangkan Rama bersiap-siap untuk pulang. Ia sudah tampak sangat rapi dan sangat tampan. Rama menatap Maria yang sedang memasak dari belakang. Bau harum masakan tercium oleh Rama. Begitu ingin Rama memeluk Maria dari balakang.


" Tenang saja Ram, aku akan tinggal di penampungan tenaga sukarela. Di sana akan banyak orang. "ucap Maria menatap Rama. Rama tersenyum mendengarnya. Maria memang berniat demikian karena setelah kejadian itu, ia juga merasa tak aman tinggal sendiri. Ia akan lebih berhati-hati. Di tempat penampungan tenaga sukarela lebih aman karena biasanya di sana berkumpul para pemuda karang taruna dan juga para Mahasiswa yang kebetulan KKN. Tempat itu akan menjadi tempat yang sangat aman bagi Maria.


" Ayo makan..." ajak Maria pada Rama. Maria pun menyajikan makanan di atas meja. Rama menyantap makanan dengan lahapnya. Masakan Maria memang sangat enak.


" Ram..aku sudah menyiapkan bekal di tas ranselmu, juga air minum. " ucap Maria lembut. " Em..perhatian sekali calon isteriku ini." puji Rama sambil tersenyum. Maria tersipu malu mendengarnya. " Jangan-jangan pujianmu gombal. " ucap Maria. " Gombal juga tidak apa-apa kan ? " canda Rama. Maria merengut kesal. " Ih....Rama....." ucap Maria.

__ADS_1


Rama dan Maria menyelesaikan makannya. Rama kemudian membantu Maria membersihkan meja makan. Mereka sudah tampak seperti sepasang suami isteri.


Setelah selesai, Rama pun bersiap-siap berangkat, karena besok ia sudah harus bertugas ( masuk kerja ). Sebenarnya Maria sungguh sedih berpisah dengan Rama. Kenangan indah dan romantis terbayang di pelupuk matanya. Hampir saja air matanya jatuh, namun ia tak ingin membuat khawatir kekasihnya. Begitu juga Rama ia begitu berat meninggalkan Maria. Bahkan hampir tak bisa. Apa lagi setelah kejadian kemaren malam, dimana Rama merasa aneh dan curiga. Ia merasa Maria dalam bahaya. Namun ia tak boleh egois karena ia juga mengeban tugas negara sebagai abdi negara.


Maria mengantar Rama ke depan pintu rumah. Rama memasang sepatu laras dan tas ranselnya. Meski hanya mengenakan baju kaos dan jeket kulit, Rama nampak begitu sangat tampan dan gagah. Rama kembali menatap Maria dengan sendu. Hatinya begitu sakit berpisah dengan orang yang ia cintai. " Jaga dirimu...sayang. " bisik Rama kemudian mengecup kening kekasihnya, lalu memeluknya erat. Maria menyandarkan kepalanya ke dada Rama, pelukan Rama membuatnya menangis di dada kekasihnya tersebut. Isakan kecil nampak terdengar lembut. Mengapa berpisah sementara serasa berpisah berabad-abad lamanya. Begitu dalam cinta mereka berdua. Tak terasa Rama pun menangis tanpa terisak. Maria menongakan kepalanya dan melihat Rama menangis. Mereka saling bertukar menghapus air mata. Maria tersenyum manis.


" Selamat jalan kekasihku. Jaga dirimu. Aku akan selalu merindukanmu di hatiku. Aku mencintaimu. Yakinlah kita berpisah untuk berjumpa kembali. Kalau ada waktu hubungilah aku. Em....." bisik Maria lembut. Rama tersenyum mendengarnya dan mengangguk.


" Sayang...jaga dirimu juga. Cepatlah kembali. Aku ingin kita segera bersama. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku juga akan merindukanmu di hatiku. " bisik Rama pula dengan lembut. Pandangan mata mereka sejenak saling beradu. Rama kembali mendaratkan ciumannya di bibir Maria dan mengemutnya dengan lembut. Maria membiarkannya, entah mengapa ia juga menginginkan ciuman itu. Rama menyudahi ciumannya di bibir Maria dan kembali mendaratkan ciumannya di kening Maria. " Aku pergi. " pamit Rama. " Hati-hati di jalan. " ucap Maria lembut, Rama mengangguk. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju motornya. Rama kemudian menghidupkan mesin motor, sebelum melaju di lambaikannya tangan ke arah Maria. Maria membalas lambaian itu dengan lambayan pula dan senyuman yang paling manis untuk kekasihnya. Rama pun melaju meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih berpisah dengan Maria yang kini jadi kekasihnya.


BERSAMBUNG


Bagaimana kisah selanjutnya ? Ikuti terus cerita ini. Terima kasih sudah setia membacanya.


Mohon maaf untuk teman-teman yang setia membaca karena terlambat update. Semua karena saya sedang sakit beberapa hari yang lalu. Sekarang saya sudah agak baikan dan masa pemulihan. Salam hangat dari saya buat teman-teman sekalian.

__ADS_1


__ADS_2