14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
BAB XX BENDUNGAN AIR MATA YANG BOCOR


__ADS_3

Pukul 22.00 WITA, jam 10 malam. Rama baru pulang ke rumah. Maya begitu heran. " Dari mana Ram ? " ucap Maya penuh selidik. " Rama cuma cari angin ma. " ucap Rama seadanya.


" Cari angin ? Enggak biasanya kamu begitu ? " ucap Maya tak percaya. " Ah...mama, Adel mana ? " ucap Rama mengalihkan pembicaraan. " Masih di kamarmu nunggu kamu bercerita." ucap Maya lagi. Rama menarik napas panjang. Sebenarnya ia sangat lelah, di tambah tidak makan. Rama tidak makan siang dan tidak makan malam, ia betul-betul kehilangan selera untuk makan.


Namun ketika melihat Adel yang ada di kamarnya, hati Rama pun luluh. Adel yang biasa sudah tidur jam 9 malam, di mana bila jam 9 malam Adel akan tertidur dengan sendirinya dan sangat pulas. Tapi kali ini bocah cilik itu rela tidak tidur demi menunggu Rama. Sayup-sayup Rama mendengar Adel yang mencoba membaca buku cerita itu dengan mengeja nya. Tentu saja itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan cerita itu dan Adel tidak akan bisa menikmati ceritanya karena fokus mengeja tulisannya saja, itulah sebabnya Adel sering minta bacakan saja ceritanya oleh Rama.


Rama yang merasa kasihan menghampiri Adel yang duduk di meja belajar. Ia kemudian menggendong Adel ke atas ranjangnya. " Sini kakak bacakan. " ucap Rama lembut. Tanpa di minta Adel kemudian mencium pipi Rama.


" Hadiahnya." bisik Adel, Rama tersenyum. Untuk saat ini bagi Rama, Adel adalah pelipur lara yang paling tepat di tengah hatinya yang di landa gerhana.


" Kakak pikir sudah tak ada buku cerita lagi del. Ibu Marianya kan sudah tidak di sana lagi. " ucap Rama sambil membolak balik buku cerita itu. " Ibu Maria emang enggak ada tapi ia memberi sekolah Adel buku cerita yang banyak. Kalau yang ini punya Adel, ibu Maria yang kasih hadiah buat Adel. " ucap Adel bangga. " Di kasih ibu Maria ? " ucap Rama


menatap Adel dan Adel mengangguk. Rama menatap buku cerita itu. Kemudian perlahan menciumnya. " Maria, andai kau ku temukan mungkin sekarang ini kau sudah ada dalam pelukanku. " ucap Rama dalam hati, matanya mulai berkaca-kaca kembali. Namun air mata itu lagi-lagi tak tumpah. Rama apakah pantang bagi seorang laki-laki menangis ?


Adel yang bingung melihat Rama mencium buku itu dan melihat Rama lama menatap buku tersebut segera mengguncang-guncangkan tubuh Rama. " Kok kakak diam, jadi cerita enggak ? " desak Adel. " Oh....iya, kita mulai yach. Si kancil dan buaya....." Rama mulai bercerita dan Adel mendengarkannya. Saat bercerita kembali bayangan Maria muncul separti saat Rama melihat Maria bercerita, Maria yang tanpa sengaja jatuh ke dalam pelukan Rama dan saat terakhir Rama bertemu Maria di mana Maria menangis dan berkata ia tak pantas bersama Rama. Tiba-tiba air mata Rama tumpah dengan sendirinya. Butiran bening itu berloncatan setetes demi setetes dari matanya. Rama menangis tanpa terisak dan tanpa sadar. Adel semakin heran melihatnya. " Kok kakak nangis ? " ucap Adel kembali mengguncang-guncangkan tubuh Rama. Rama terkejut. " Menangis ? Apa iya aku menangis ? " ucap Rama dalam hati, ia kemudian mengusap matanya dan memang basah bahkan butiran bening itu kembali menetes dengan sendirinya, mungkin bendungan air mata Rama mulai bocor, untung belum pecah.

__ADS_1


Rama kembali merasakan hatinya ngilu tersayat pedih. " sakit sekali. " rintih Rama dalam hati. " Kenapa kakak nangis ? " Adel menatap Rama dan mata mulai berkaca-kaca karena melihat Rama menangis, seakan-akan adel ikut merasakan perasaan Rama yang kini sedih. " Ceritanya sedih Del, buaya menggigit kaki kancil, si kancil kesakitan dan kakak kasihan sama kancil jadi kakak sedih. " ucap Rama berbohong.


Adel yang mempercayai kata-kata Rama akhirnya malah meraung menangis. Rama jadi gelabakan dibuatnya karena raungan Adel tentu saja agak keras. " He...he....he." Adel menangis dengan kencangnya. " Aduh...jadi gini, mengapa aku bilang begitu tadi ? Mengapa aku tidak bilang mataku kelilipan saja ? Tapi mengapa air mata ini mengalir dengan sendirinya tanpa ku sadari ? " ucap Rama setengah menyesalinya.


" Sudah...jangan nangis yach, kancilnya pinter ia lolos dari gigitan buaya bahkan bisa menyeberang ke sungai. Lihat nih fhotonya." Rama mencoba membujuk Adel namun Adel sudah terlanjur menangis. Rama sendiri masih tak bisa membendung kesedihannya, air matanya masih saja menetes walau tak sering seperti tadi. Adel yang melihat Rama masih menangis kembali meraung. " kakak masih nangis....." ucap Adel disela tangisannya.


" Tidak , kakak enggak nangis kok Del. " ucap Rama mengelak. Adel kembali meraung.


Raungan Adel membuat Maya masuk ke kamar Rama. " Ada apa Ram ? Kok Adel nangis ? " ucap Maya mendekati Adel dan menghapus air matanya. " Kaki kancil ...digigit buaya...ma, Kakak Rama .....nangis, Adel.... jadi...nangis. " ucap Adel jujur. Sejenak Maya menatap Rama, apa benar Rama menangis ? Rama mencoba tersenyum untuk menutupinya. " Rama tidak menangis ma, Rama cuma butuh istirahat. Tolong mama bujuk Adel ya..." ucap Rama mencoba menghindar, meskipun Maya masih curiga tapi ia pun membiarkannya karena Adel yang masih menangis perlu di bujuk supaya berhenti menangis. Maya menggendong Adel keluar dari kamar Rama sambil mencoba menenangkan Adel. " Adel jangan nangis lagi sayang. Kancilnya tak apa-apa. Ia menghitung buaya yang bersusun seperti jembatan sambil melangkah dan selamat sampai ke seberang. Jadi buayanya kalah sama kancil. " bujuk Maya . Adel mulai menghentikan tangisannya.


Rama menarik napas panjang. Ia merasa lega bisa terbebas dari pertanyaan ibunya. Rama mengunci pintu kamar dan mencoba bercermin. " Mengapa aku menangis dengan sendirinya ? Mengapa hati ini begitu sakit ? " ucap Rama tak mengerti. Rama menghapus sisa-sisa air matanya. Lalu kembali menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan-lahan. Ia kemudian mengganti bajunya, sikat gigi lalu mencoba berbaring dan memejamkan matanya.


" Maria dimana kau ? Aku merindukanmu."


Rama membalik kan badannya. " Besok aku akan mencarimu lagi. Maria aku harus menemukanmu. " ucap Rama bertekad bulat.

__ADS_1


Rama menatap fhoto Maria. " Kau betul-betul membuat aku jadi begini Maria. Aku tak menyangka jatuh cinta itu sakit. Sakit sekali rasanya. Mengapa kamu meninggalkan aku begitu saja tanpa mendengar penjelasanku. Hanya kamu yang membuat aku jatuh cinta dan ini pertama kali aku jatuh cinta. Maria, aku betul-betul ingin kita bisa bersama. Aku tak mengerti Maria mengapa semua jadi begini. " begitu ingin Rama menangis namun ia tak ingin menjatuhkan air mata lagi, ia kembali mencoba menahanya.


Rama kemudian meletakkan fhoto Maria di samping bantalnya. Ia kemudian kembali mencoba menghubungi nomor telepon Maria yang tentu saja masih tak aktif. Sudah tak terhitung mungkin berpuluh-puluh kali Rama menghubungi nomor itu namun hasilnya tetap nihil. Rama mengusap wajahnya dan memijit kepalanya yang tiba-tiba merasa pening. Sambil mencoba memejamkan matanya.


Rama pun tertidur, namun lagi-lagi ia gelisah karena bermimpi buruk. Mimpi yang sama, dimana Rama mengejar Maria yang lari di halaman mesjid. Meskipun Rama memanggil namun Maria tidak berhenti bahkan terus berlari tanpa menoleh. Dan Maria pun terjatuh, saat Rama ingin menolong, Maria malah mengusirnya. " Pergi kau....! " ucap Maria setengah berteriak.


Rama kembali terbangun teriakan Maria terngiang-ngiang di telinganya. " Astagfirullah..." Rama mengusap wajahnya. Hatinya kembali terasa ngilu, Rama mengelus dadanya sendiri.


Rama memeriksa jam tangannya. Pukul 03.00 pagi. Akhirnya Rama pun memutuskan untuk bangun, berwudhu kemudian shalat tahajud mengadu dan memohon pertolongan Tuhan.


" Ya Allah....pertemukan aku dengan Maria. Dekatkan hati kami untuk saling mencintai. Jadikanlah ia jodoh hamba. Hanya kepadaMu ya Allah...hamba memohon pertolongan dan hanya Engkau ya Allah tempat untuk memohon pertolongan. Dengan segenap ketulusan hamba, kabulkanlah doa ini. Amin Ya rabbal'alamin." Rama berdoa di sujud terakhir shalat tahajud nya.


Sesudah shalat tahajud, Rama meneruskan dengan membaca Al-qur'an, sampai azan subuh berkumandang.


Semangat Rama, jangan putus asa. Setelah rasa pahit akan ada rasa manis. Yakinlah....Rama.

__ADS_1


Ceritanya bersambung dulu. Masih tersisa pertanyaan bagaimana caranya Rama bisa bertemu Maria ? Dan apa kabar dengan dokter Aldi ?


Terima kasih banyak telah mendukung cerita ini.


__ADS_2