
Sidang BP4R berlangsung. Maria di tanyai bermacam-macam pertanyaan tentang kesiapannya menjadi isteri seorang polisi. Dengan tenang Maria menjawab pertanyaan itu bahkan sampai membuat para juri terkagum-kagum di buatnya.
" Saya sangat bangga dengan pekerjaan suami saya. Dan saya berjanji akan mendukung suami saya dengan sekuat tenaga saya. Karena itu juga merupakan pengabdian saya kepada bangsa dan negara. Saya siap menjadi isteri seorang polisi. Dengan segenap cinta saya padanya dan segenap cinta saya kepada Nusa dan bangsa, saya akan melewati segala tantangan dan berada di sisi suami saya. Ini adalah janji dan tekad saya. Mohon dukungan dari kalian semua...." ucap Maria tegas lalu berdiri membungkukan badannya. Tepuk tangan pun membahana di ruangan tersebut. Teman..teman Rama mengacungkan jempol ke arah Rama. Rama pun yang duduk di samping Maria membalas dengan lambaian tangan ke arah sahabat-sahabatnya.
Maria duduk kembali, Rama segera menggenggam tangan Maria dan perlahan berbisik di telinga Maria. " Aku bangga padamu...calon istriku. " bisik Rama lembut. Maria menatap Rama sejenak dan tersenyum.
Acara di ruangan pun terus berlangsung. Kali ini Rama dan Maria mendapat wejangan dari para juri. Menjelang pukul 11.00 baru acara itu selesai. Rama dan Maria segera di sambut oleh sahabat-sahabat Rama yang mengucapkan selamat kepada keduanya.
" Wah....aku jadi iri kepada kalian berdua. Kau tahu Ram ...., rasanya seperti aku yang di sidang. Gugup sekali aku, tegang banget sampai tak berani kencing..." ucap Sigit dengan gaya bicara nya yang kocak. Teman-teman Rama yang lain pun tertawa di buatnya. " Kalau gitu kamu harus cepat-cepat kawin." ucap Budi menimpali.
" Lha...cari calon isteri susah lah. Harus cari yang mengerti dengan tugas kita " ucap Sigit lagi.
" Tumben ...kamu benar Git. " ucap Agung setengah bercanda. " Ih...bro.....jahat benar, emang selama ini aku salah..." ucap Sigit agak ptotes, " Iya deh...aku cuma bercanda. " ucap Agung setengah memelas supaya Sigit tak tersinggung. Sigit tersenyum....., Rama dan Maria ikut tersenyum. " Terima kasih banyak teman-teman atas dukungan kalian ." ucap Rama kemudian memeluk temannya satu persatu. " Aku pamit dulu bro...." ucap Rama lagi, memang Rama tengah mengambil cuti beberapa hari sampai upacara pernikahannya. " Wah ..cepat sekali mau pamit..." ucap Agung mengedipkan matanya setengah menggoda Rama. Rama kembali tersenyum. " Maaf bro, ada hal yang harus kami lakukan sebelum ..." belum sempat Rama melanjutkan kalimatnya handphonenya tiba-tiba berbunyi.....
"Iya ma......" ucap Rama mengangkat panggilan ibunya. " Ram...cepat pulang Yach. Jangan terlalu lama berduaan dengan Maria. Awas ....jika sampai melakukan sesuatu yang...." ucap Maya dengan penuh kekhawatiran. Rama tertawa kecil, " Iya ma ..., Rama tau..." ucap Rama lembut.
" Pokoknya habis ini kamu di pingit...., kamu tak boleh ketemu Maria sampai akad nikah nanti. " ucap Maya lagi. Mendengar semua itu, Rama langsung memijit keningnya. Walau sebenarnya cuma 1 Minggu jaraknya tapi bagi Rama itu serasa sangat lama. " Ma ..sekarang tak zamannya lagi kaya gitu..." ucap Rama coba protes. " Lha...tetap saja kau harus di pingit..." tegas Maya tak mau tau dan langsung menutup handphonenya.
" Ada apa Ram, kok tampak kusut....? " tanya Sigit agak heran. " Ibuku ingin aku menjalani masa dipingit sebelum menikah. " ucap Rama masih memijit kepalanya. Maria tersenyum, di genggamnya tangan Rama dengan lembut. " Tak apa Rama cuma satu Minggu." ucap Maria mencoba menyemangati sang kekasih. " Cuma satu Minggu....? " ucap Rama melotot ke arah sang kekasih hati...., begitu ingin ia protes....seandainya tak di depan teman-temannya mungkin ia sudah menerkam bibir sang kekasih, lalu berbisik...." Apa kamu tak merindukan ku sehingga satu Minggu itu tidak apa-apa... bagimu ? " ucap Rama dengan gelora cinta yang membakar.
__ADS_1
" Iya Ram ...cuma satu Minggu. " ucap teman-teman Rama tersenyum menggoda. Rama tambah kesal. " Kalian masa ikut-ikutan...." ucap Rama melotot ke arah teman-temannya yang sedang menggoda. " Aih ..Ram ...sensitif amat sih..." ucap Rangga tersenyum. " Jalani aja bro...., buah penantian itu manis kok....ketika bertemu di hari berbahagia akan ada debaran yang berbeda dan sangat indah. " ucap Rangga lagi menenangkan. " Ram, aku janji akan telephone setiap hari oke. ..." ucap Maria lembut sambil mengusap wajah Rama mesra.
Teman-teman Rama sepontan langsung mendelik iri dan menggoda sepasang calon suami isteri tersebut ..." Wah ..kok aku yang ngerasa rontok hati nih..." ucap Budi mengusap dadanya...." Enak nya kau Rama...,aku juga mau diusap kaya gitu...." ucap Sigit dengan nada sedikit iri. Rama tersenyum...." Nanti juga akan tiba giliranmu kok...." ucap Rama tersenyum, hatinya mulai tenang. Maria memang pandai menenangkan hati Rama.
Tiba-tiba dari arah lain nampak datang Anggi, Lita, dan Fatma...Mereka sengaja datang untuk memberi semangat pada Maria. " Wah...kalian....." Maria memeluk teman-temannya. " Sukses Mar....? " tanya Lisa penasaran. Maria tersenyum dan mengangguk...." Selamat Maria..., kami turut berbahagia..." ucap Lisa kembali memeluk Maria. Fatma dan Anggi ikut memeluk Maria. Mereka berempat berpelukan bersama-sama. Rama dan teman-teman Rama tersenyum melihat itu semua. " Manis sekali...persahabatan mereka..." bisik Agung...." Mereka cantik juga Yach...." ucap Sigit ikut berbisik..." Lha...Sigit...!" ucap Budi dan Agung bersamaan. Rangga dan Rama tertawa kecil. " Lha..kok aku salah. Mereka semua memang cantik kok ...em...yang jomblo bisa nih ...dapat jatah...satu...satu." ucap Sigit lagi sambil mengangkat keningnya. Teman Rama yang jomblo memang ada 3 , mereka adalah Sigit, Budi dan Agung...sedangkan Rangga adalah kakak Anggi yang tentu saja sudah menikah. " Iya nih..., jangan rebutan Yach..." ucap Agung pula....
" Ehem...kalian jangan macam-macam Yach...., Apa lagi sama Anggi..." Serang Rangga melotot...." Tenang bro...., kami seriuslah....tak berani macam-macam..." ucap Sigit. Rama tersenyum saja.
" Oya kenalin ...teman-teman ku....ini Lisa , Fatma...dan Anggi tentunya sama Anggi kalian sudah kenal...." ucap Maria memperkenalkan teman-temannya pada teman-teman Rama. Mereka pun berkenalan sambil menyebut nama masing-masing.
" Mumpung kita bersama ...bagaimana kalian semua ku traktir di warung bakso khuripan...mang Udin" ucap Rama menawarkan. Warung tersebut memang dekat dengan kantor kepolisian. " Benar Ram....asyik dong." sambut Sigit ceria. " Oke bro ....kebetulan nih ...emang lagi laper pas jam istirahat begini...." ucap Agung antusias...., yang lain ikut mengangguk setuju sambil tersenyum kecuali Rangga...." Kalian saja yach...aku harus pulang ke rumah ...tengok isteriku sebentar..." ucap Rangga karena saat ini isterinya memang sedang hamil muda. " Ya Rang..., hati-hati. " ucap Rama tersenyum. " Tolong jaga Anggi Yach....jangan sampai mereka mengganggunya...." ucap Rangga lagi pada Rama. " Lha....Rangga pelit amat sih...." sembur Sigit sambil tertawa kecil. Rangga akhirnya tersenyum....ia hanya bercanda karena ia tahu teman-teman berhati baik dan tulus walau senang bercanda, bahkan Rangga berharap di antara temannya ada yang berjodoh dengan Anggi. Setelah Rangga pergi, merekapun akhirnya tertawa kecil. Anggi tersipu sambil diam-diam menatap Sigit. Tak terduga Sigit berbalik dan mata keduanya pun bertemu....darrr....Sigit dan Anggi langsung gugup bersamaan bahkan Sigit sampai terbatuk-batuk ...." Ukhu...ukhu..." Sigit berpaling agar teman-temannya tak tertular walau batuknya bukan karena penyakit tapi karena rasa gugup yang tiba-tiba.
" Kayanya kamu...kualat bro ..sama Rangga. " ucap yang lain tertawa kecil...." Iya nih...kayanya aku kena batunya...." ucap Sigit lagi setelah batuknya agak reda sambil tersenyum dan melirik ke arah Anggi. Anggi pun salah tingkah di buatnya. Sigit masih merasakan debaran dihatinya namun ia merasa senang menikmatinya. Anggi dan Sigit memang sudah sering bertemu ketika di rumah Rangga namun ..hanya sekedarnya saja. Anggi memang tak pernah ikut campur jika teman- teman Rangga datang ke rumah.
Ketika berjalan menuju warung, Rama teringat kenangan saat mengejar Maria...di mana saat mengejar ia gagal karena di hadang sekelompok waria. Ramapun senyum-senyum mengingatnya. " Mengapa senyum-senyum..?." bisik Maria. Ia merasa agak tak enak karena senyum Rama mengundang para cewek-cewek yang berpapasan menatap Rama dengan pandangan mata terpesona. " Em . .cuma teringat kenangan saat mengejar mu. Aku dan Agung gagal karena dihadang para Waria. Em ...cepat sekali kau menghilang saat itu...kalau boleh tau bagaimana kau bisa menghilang saat itu." ucap Rama penasaran. Maria tersenyum, karena ternyata Rama mengingat semua itu.
" oo....saat itu aku mengubah sedikit penampilan dan bersembunyi di warung bakso. Aku memperhatikan kalian sambil makan bakso..." ucap Maria jujur. Rama memencet hidung Maria. " Em...pintar sekali Yach..." ucap Rama gemes.
" Ram...ah, tentu saja lah..." ucap Maria tertawa kecil. Tawa Maria membuat cowok-cowok yang berpapasan melirik Maria dengan pandangan terpesona. Giliran Rama yang merasa tak enak, karena kekasihnya diperhatikan orang lain. Rama segera mendaratkan ciumannya di pipi Maria. Melihat adegan itu..., tentu saja membuat cowok-cowok yang memperhatikan Maria langsung tak berani lagi menatap Maria. Maria menatap Rama yang tiba-tiba menciumnya.
__ADS_1
" Ram...kok ditengah jalan ...mencium ..." bisik Maria agak malu. " Habis...cowok-cowok itu menatapmu." ucap Rama dengan nada cemburu. Maria pun senyum-senyum mendengarnya.
" Em...senyum-senyum..., mau minta tambah yang hot...nanti ku kasih jika kita berduaan. " bisik Rama menggoda. Maria melirik Rama dan cubitan kecil pun mendarat ditangan Rama.
" Duh...kok kena cubit. " protes Rama.
" Habis ....aku punya kekasih yang suka menggigit. " ucap Maria cemberut. Rama tersenyum, senyum Rama kembali mengundang tatapan cewek-cewek. Para cewek-cewek itu tentu saja langsung berbisik-bisik. Maria yang tak tahan balas mencium pipi Rama. Melihat semua itu tentu saja membuat cewek cewek mundur teratur. " Lha ....kok kamu yang cium ..?" ucap Rama heran. " Habis...cewek-cewek itu menatapmu." ucap Maria jujur. Rama kembali tersenyum, ia senang melihat Maria cemburu padanya.
Tak terasa merekapun sampai di warung bakso. Ramapun memesan pesanan untuk mereka semua. Tak beberapa lama pesananpun dihidangkan di atas meja. Merekapun kemudian makan dengan lahapnya penuh keakraban...., canda dan tawa pun terdengar...
" Boleh nambah Ram...." tanya Sigit. " Uuuu...." Budi dan Agung pun mencibir..." Sigit tak jaim di depan para cewek..." ucap Budi tertawa kecil.
" Tak ..apa boleh nambah sepuasnya. " ucap Rama tersenyum. " Tuh...kan. Rezeki tak boleh di tolak ..ya kan Anggi ...?." ucap Sigit menatap Anggi, tangan Sigitpun menggenggam tangan Anggi. " Iya..." jawab Anggi gugup karena Sigit menggenggam tangannya. " Wow ...Sigit tancap gas...langsung pegang tangan." ucap Agung garuk-garuk kepala yang tak gatal. " Ya lah...habis ini kami langsung jadian. " ucap Sigit tersenyum.
" Wah....kamu bisa langsung di sikat Rangga." ucap Budi tertawa kecil. " Tak apa...demi Anggi aku rela...." ucap Sigit percaya diri. Anggi tersenyum malu. " Wah...kayanya diterima nih...cehhhhh....huhuy. " seru Budi. Tawapun meledak diantara mereka.
Rama dan Maria tersenyum bahagia karena tentu saja mereka senang melihat teman-teman mereka ada yang berjodoh.
Setelah acara makan bakso. Rama dan Maria pun memisahkan diri. Rama membonceng Maria dengan motornya. " Mau berbelanja...yank." tanya Rama. " Tak usah...Ram. Kamu sudah banyak kasih aku hadiah hantaran. Itu sudah cukup. " ucap Maria lembut. Rama tersenyum mendengarnya karena ternyata Maria bukan cewek yang matre. " Kalau gitu ku ajak kau ke suatu tempat Yach...." ucap Rama. " Kemana...? " tanya Maria penasaran. " Ini kejutan..." jawab Rama menggenggam tangan Maria yang memeluk mesra pinggangnya dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya memegang gas motor. Maria menyandarkan kepalanya di punggung Rama. Kebahagian menyelimuti keduanya, walau sebenarnya bahaya sedang mengintai. Fero tengah membuntuti Maria dan Rama dari kejauhan.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jumpa lagi. Ikuti terus ceritanya Yach....