
Ini hari ke tiga dari 14 hari, tinggal 11 hari lagi, apa kabar Maria ? Apa sudah menyusun rencana ?
Di hari pertama Maria gagal menebar pesona, pesona Maria sama sekali tak membekas di hati Rama.
Di hari kedua, malah pesona Rama membuat Maria jatuh cinta.
Dihari ketiga ini, Maria bertekad akan mendekati Rama. Ia masih belum menyerah apa lagi kini ia mencintai Rama.
Nampak Maria berkumpul dengan teman-temannya di sebuah cape . Mereka berempat saling berbincang dan bercanda, mereka saling membicarakan pengalaman lucu selama magang di TK yang ada - ada saja, sesekali pecah tawa di antara kita.
" Ngebayangin enggak ketika aku asyik nyanyi tek kotek-kotek, saat nyanyian selesai ada murid yang nanya : Kok anak ayamnya mati semua ? Mengapa mati anak ayamnya, bu guru ? ........, kalian tahu betapa kagetnya aku, enggak siap dengan pertanyaan itu. Akhirnya ku jawab : Anak ayamnya mati ke patok ular. Dan.....ternyata jawabanku bikin salah satu anak malah nangis : He....kasihan anak ayam bu, kasihan anak ayam bu...., hasilnya aku jadi sibuk membujuk itu anak ." ucap Fatma bercerita sambil di dukung gerakan tangan menirukan anak yang sedang menangis. Maria, Lisa dan Anggipun tertawa. " Lagian kamu sih bilang di patok ayam." ucap Lisa masih sambil tertawa.
" Em......ada lagi yang lucu. Saat aku ngajar beberapa muridku yang laki-laki izin kencing ke belakang, aku memberikan izin. Beberapa lama kemudian izin lagi kencing beberapa murid yang laki-laki. Aku mulai heran kok banyak sekali yang kencing bersamaan, karena curiga aku pun mengikuti mereka, ternyata ........dibelakang mereka bukan kencing di toilet tapi sedang lagi asyik adu kencing di taman belakang. Aduh......jadi nonton lomba kencing aku." ucap Lisa tak mau kalah. Mereka berempat kembali tertawa. " Ha...ha..., kamu harusnya mendampingi jika mereka ada yang kencing." ucap Fatma masih tertawa." Saat itu kebetulan aku cuma sendiri di kelas, guru pendamping lagi tak hadir karena anaknya sedang sakit ." ucap Lisa.Akhirnya yang lain pada manggut-manggut, tiba-tiba pecah lagi tawa di antara mereka.
Tawapun mereda, Maria meminum coffee capocinonya perlahan-lahan " Gimana perkembangan kamu dan Rama ?" tanya Anggi penasaran . " Masih proses. " ucap Maria tersenyum manis sambil menyembunyikan perasaan hatinya. " Apa susah mendekatinya ? nanti ku coba minta nomor Wa nya sama kak Rangga. " tawar Anggi, Maria memaksakan senyumnya lagi. " He...he.., enggak perlu nggi...., masih 11 hari lagi kan." ucap Maria mencoba optimis. " Serius ? " ucap Anggi khawatir . Maria mengangguk " aku mau usaha sendiri dulu. " ucap Maria. " Iya nggi, masa Maria menyerah." ucap Lisa tak percaya Maria akan menyerah. " Iya bukan Maria kalau menyerah." Fatma menimpali.
" Tenang aja aku tak akan menyerah kok. "ucap Maria. " Tapi gimana caranya kamu mendekati Rama tanpa nomor Wa.? " ucap Anggi lagi.
" Aku punya cara kok. " ucap Maria tersenyum meyakinkan. " Syukurlah jika kamu tak apa-apa. Terus terang aku takut jika kamu merasa kesulitan, soalnya ide membuat jatuh cinta itu dari aku. " ucap Anggi yang merasa tak enak. Ia merasa bersalah. " enda papa nggi, aku baik-baik saja." ucap Maria lagi mencoba meyakinkan.
" Oya sudah jam 5 sore , kita pulang yuk. " ajak Fatma sambil menatap jam tangannya. " Oke." ucap mereka bertiga. Mereka berempat pun berdiri dan berjalan menuju kasir, masing-masing mereka pun membayar makan dan minuman mereka. Setelah membayar, mereka segera meninggalkan tempat itu. " Kita berpisah disini. Jumpa lagi nanti. Bye..." Maria melambaikan tangan . Teman -temannya pun membalas lambaian itu. " Hati-hati ya." balas Lisa, Fatma dan Anggi. Mereka pun berpisah. Masing-masing mengendarai motor ke arah yang berbeda karena jalan menuju rumah mereka berbeda.
Maria pun melaju dengan motor kesayangannya sambil menikmati waktu sore hari yang cukup ramai di jalan raya tersebut. Banyak para anak muda yang berkeliaran di jalan raya dengan motornya. Suasana sore hari memang cerah.
Ketika di perempatan jalan nampak para polisi berjaga. Banyak pengendara sepeda motor yang sedang di introgasi para polisi. Rupanya sedang ada razia zebra bagi pengedara bermotor. Apabila terjadi pelanggaran seperti tidak ada SIM atau SIM nya mati, STNK ,pajak mati dan sebagainya maka tentu saja kena denda.
Banyak pengendara yang memang tahu kalau dirinya kurang lengkap SIM, STNK dan pajak memutar haluan. Meraka tak ingin terjaring dan bayar denda. Bahkan ada pengendara yang sampai enggak pake helm, ikut putar haluan karena tak ingin kena razia.
Tapi berbeda dengan Maria. Ia malam tersenyum dan meng khayal bertemu Rama di sana.
Dalam khayalan Maria, Rama mendekatinya.
" Hai.....mana SIM , STNK dan pajak kendaraan anda." ucap Rama tersenyum manis. Maria menatap Rama tanpa berkedip. Ketampanan Rama menyihirnya.
..................
Tatapanmu Rama, menengelamkan hatiku.
Dan tatapaku Rama, tak bisa berpaling darimu.
Kilatan cahaya matamu Rama, menggetarkan jiwaku.
__ADS_1
Senyum manismu Rama, memporak porandakan hatiku.
Padamu Rama, begitu indah Tuhan menciptakanmu.
Dan.....aku pun tersihir ingin selalu menatapmu.
.........................
" Ini pak. " ucap Maria menyerahkan SIM, STNK dan pajak kendaraannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Rama, dan tanpa sengaja SIM, STNK dan pajak kendaraan pun terjatuh ke tanah karena Maria dan Rama saling bertatapan. O....lala..., Rama dan Maria bersamaan berjongkok sehingga kepala mereka saling berbenturan, up.....
" Oh... maaf saya tak sengaja." ucap Maria tersipu malu. " Tak apa-apa, saya juga salah." Rama memungut SIM, STNK dan pajak kendaraan yang terjatuh, tanpa sengaja Maria pun melakukan hal yang sama. Dan........lagi-lagi tangan mereka pun bersentuhan. Aliran listrik pun terjadi. Duh............, Rama dan Maria menjadi salah tingkah. Jantung mereka sama-sama berdebar, apalagi jarak mereka saat ini begitu dekat.
..................
Sentuhan cintamu menghantarkan aliran listrik tekanan tinggi.
Jantungku berdetak berpacu cepat tiada henti.
Meskipun aku harus mati.
Aku tak ingin sentuhan cintamu pergi.
Biarkan aku merasakannya untuk sesaat lagi.
....................
.................
Kalau bolehkah tau ?
Apa maksud hatimu ?
Ingin tau nomor Wa ku ?
Apa....apa denganku ?
.............................
"Kenapa? " ucap Maria penasaran.
" Karena aku ingin lebih mengenalmu ." ucap Rama lembut.
__ADS_1
Oh......Rama, hati Maria langsung berbunga-bunga mendengar ucapan Rama tersebut. " YEES.....YEES !" Maria melonjak kegirangan tapi .......ternyata itu cuma khayalan bukan kenyataan.
Ya....cuma khayalan, Maria tersenyum. " Kita coba aja, kali aja sesuai kenyataan. " dengan bersemangat Maria pun melaju masuk ke area razia zebra tersebut.
Maria menatap sekeliling mencari sosok Rama. Dan Maria pun melihatnya. Rama nampak berdiri dengan gagahnya, bersama temannya Amir.
Dengan gugup Maria mendekati Rama namun...............ah...... sayang di tengah jalan Maria dihadang seorang polisi yang sudah berumur.
" Mana SIM, STNK dan pajak kendaran anda ." ucap polisi itu. Maria pun langsung kaget. Sejenak Maria menatap Rama, se akan-akan berharap Rama menghampirinya karena ini kesempatan yang ia harapkan untuk mendekati Rama. " Kok bukan kamu yang merazia aku ? Rama........., nangis aku." rintih Maria dalam hati, namun sayang harapan itu tak terwujud karena sebenarnya Rama bukan bagian polisi lalu lintas yang bertugas me razia, Rama adalah polisi yang menangani tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, penculikan dan kasus narkoba. Keberadaan Rama disitu hanya untuk berbincang sebentar dengan salah satu temannya yang bernama Amir yang kebetulan menjadi polisi lalu lintas yang sedang me razia di tempat itu.
Ya ampun.....Maria, kok enggak ke fikir ke arah situ.
" Iya....pak, " Maria jadi salah tingkah. Dengan gugup ia mencoba mencari dompetnya. Namun ketika ia membuka dompetnya ternyata STNK dan pajak kendaraan tak ada cuma SIM yang ada. Maria pun kasak-kusuk mencarinya
" STNK dan pajaknya mana ? kok enggak ada, mana ya......? oh......mama......." Wajah Maria langsung pucat, ia baru ingat kalau Ibu nya kemaren meminjam motornya untuk pergi ke arisan, jadi STNK dan pajak ada pada ibunya. Maria lupa mengambilnya.
" Mana STNK dan pajaknya." tanya polisi itu lagi. " Ketinggalan di rumah pak." ucap Maria lemas tak bertenaga. " Kalau begitu kamu kena tilang." ucap polisi itu yang bagaikan petir terdengar di telinga Maria. " Ha......di tilang......" Maria semakin lemas dan malu karena baru kali ini ia kena tilang.
Duh.....malunya, tak terlukiskan rasa malu yang dialami Maria, ia merasa malu bertemu Rama dalam keadaan seperti itu, kena tilang sebagai orang yang tak sadar akan peraturan.
" Besok ke kantor polisi untuk sidang. Motornya kami sita dulu. Silakan tanda tangan di surat tilang ini ." ucap polisi itu. Dengan terpaksa Maria menanda tangani surat tilang tersebut. Wajah Maria tertunduk malu, tampaknya untuk saat ini ia tak dapat bertemu Rama.
Maria menyerahkan motornya pada polisi tersebut, ia kemudian berjalan dengan gontai menjauh dan duduk di trotoar jalan. Maria akhir nya menelpon adiknya Iqbal, untuk segera menjemputnya.
" Hello, Iqbal di mana kamu ? " ucap Maria ketika telepon tersambung. " Ada apa kak.? Aku lagi di jalan" tanya Iqbal merespon. " Kamu pakai helm kan? " ucap Maria. " Iya kak. kok nanya ?" ucap Iqbal merasa heran dengan pertanyaan kakaknya ." SIM dan surat-surat kendaraan lengkap kamu bawa kan? " ucap Maria lagi. " Iya, memangnya kenapa sih kak? " ucap Iqbal semakin penasaran. " Kalau gitu kamu jemput aku di perempatan jalan dekat Bank BRI." ucap Maria. " La ....kok minta di jemput kak, motor kakak mana.?" ucap Iqbal curiga. " Kakak kena razia. " ucap Maria jujur.
" Ha....kena razia ? Iya deh nanti iqbal jemput, tunggu ya kak." ucap Iqbal walaupun ia masih penasaran mengapa kakaknya kena razia.
Iqbal pun sampai di tempat razia. Iqbal pun diperiksa polisi, namun karena ia punya surat-surat lengkap, tentu saja ia berhasil lolos dari razia tersebut.
Iqbal segera menemui kakaknya yang sedang duduk di trotoar jalan sambil menelungkupkan kepalanya di depan BANK BRI UNIT.
" Kak, lama nunggunya? Kok, sampai kena tilang. " ucap Iqbal heran. " STNK dan pajak kendaraan sama mama, kemaren mama minjam motor kakak pergi ke arisan dan kakak lupa mengambil kembali. Akhirnya kakak kena tilang., he.....he." ucap Maria hampir menangis. Keinginannya mendekati Rama gagal bahkan kena tilang, motor di sita bayar denda, malu.....lagi. Maria betul-betul mengharap Rama tak melihat kejadian itu. Kalau tidak, mungkin malu Maria bakal segunung.
" Sudah.....dong, senyum......ada Iqbal bakal membonceng kakak. Ayo.....kakak pilih aja mau kemana ?" ucap Iqbal menghibur kakaknya.
" Kakak mau pulang saja. " ucap Maria tak semangat. " La.....kok pulang? enggak seru kalau pulang, Iqbal sudah ngorbanin acara nongkrong sama teman, masa...pulang ? Kasih tip dong......makan bakso kek, nasi goreng kek, sate kek, soto kek." ucap Iqbal senyum-senyum. " huh......Iqbal, itu maunya kamu. Sudah jatuh masa kamu timpain tangga lagi ke kakak. " ucap Maria mencibir sambil tertawa. " Tapi kakak senangkan ada yang nemenin dalam keadaan susah gini." ucap Iqbal lagi sambil mengedipkan matanya. " iya deh, adik ku sayang kakak akan traktir makan bakso, gimana ?" ucap Maria sambil tersenyum. " Oke boss, sippp.... ayo tancap gas." Iqbal menghidupkan mesin motornya, Maria pun naik ke belakang sambil memasang helm. Sejenak Maria menatap Rama yang masih asyik berbincang-bincang dengan Amir. Rama memang sama sekali tak memperhatikan Maria. Maria menatap sendu ke arah Rama.
" Rama.....kapan aku bisa mendekatimu ?Apakah kau akan jatuh cinta padaku ?Adakah jalan kita bisa bersatu ?" ucap Maria dalam hati.
Motorpun melaju meninggalkan tempat razia yang masih berlangsung. " Kak , apa kaka enggak terpikir punya pacar biar nanti ada yang bonceng ?" tanya Iqbal disela deru motornya yang menderu. " Enggak ah.....kan ada kamu." ucap Maria menggoda adiknya. " Enda bisa selamanya kak, sebentar lagi Iqbal mau bonceng pacar. " ucap Iqbal , Maria tertawa lucu. " Mana pacarnya ? Kakak mau seleksi dulu. " ucap Maria ." Wah....kalau kakak yang jadi juri enggak ada yang lulus, Iqbal bakal balas dendam sama kakak. " ucap Iqbal mengancam. " Balas dendam gimana ?" ucap Maria. " Iqbal bakal seleksi ketat pacar kakak." ucap Iqbal, Maria tertawa. " Tapi kakak enggak punya pacar." elak Maria. " Nanti juga punya, awas ya......" ucap Iqbal lagi. " Sudah ah.....bicara terus nanti ketabrak Bal, " ucap Maria menghindari candaan adiknya. " Eh.....kakak kalah." Iqbal tertawa. " Siapa yang kalah." ucap Maria pura-pura kesal.
__ADS_1
Motorpun terus melaju. Maria ....masih ada hari esok, meskipun hari ini gagal lagi. Semangat Maria. Tinggal 11 hari lagi untuk cintamu pak polisi.